


oleh Vene · 84 Bab
Merah Lembayung seharusnya mati dalam kecelakaan bus. Namun, ia justru terbangun dalam tubuh Merah Aldarast, seorang mahasiswi pendiam yang hidupnya terus ditekan oleh keluarga besar Kalingga. Nama besar itu tidak memberinya kehangatan, hanya tuntutan dan perbandingan tanpa akhir. Kini jiwa di tubuh itu bukan lagi gadis yang sama. Merah tidak mencari belas kasihan dan tidak mengejar pengakuan. Ia hanya ingin hidup dengan caranya sendiri. Ketika masa lalu dan rahasia keluarga mulai bergerak, mampukah ia bertahan tanpa membuka siapa dirinya sebenarnya?
Merah mengembuskan napas panjang. Ada rasa lega yang membuncah di dadanya saat jemarinya melepaskan jarum terakhir dari kain sutra di hadapannya. Gaun pengantin pesanan klien prioritasnya akhirnya rampung, siap dikirim untuk hari bahagia pemesannya lusa depan.
"Nona Merah?"
Suara pintu yang terbuka pelan memecah keheningan. Lisa, asisten setianya, muncul dari balik pintu. Hanya Lisa yang diizinkan masuk ke ruang jahit khusus ini, tempat Merah menumpahkan seluruh imajinasinya tanpa gangguan.
"Ada apa, Lis?" tanya Merah tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari manekin. Ia masih sibuk mengagumi setiap detail lekukan kain hasil karyanya.
"Di luar ada wartawan dari Majalah XY. Mereka ingin mewawancarai Anda sekarang," lapor Lisa.
Merah akhirnya berbalik badan. Senyum tipis terukir di wajahnya. Wartawan itu akhirnya datang juga setelah ia menunggu konfirmasi selama seminggu penuh. "Suruh mereka menunggu sebentar," ucapnya singkat. Ia tidak boleh terlihat biasa saja; wawancara ini penting untuk citra butiknya.
"Baik, Nona Merah."
"Eh, Lisa, tunggu dulu!" panggil Merah saat Lisa hampir menutup pintu.
Lisa kembali menoleh. "Ya, Nona? Ada hal lain lagi?"
"Siapkan camilan dan minuman untuk mereka. Dan satu lagi, tolong rekam seluruh proses wawancara nanti pakai ponselku, ya?" pinta Merah.
"Siap, Nona," jawab Lisa lalu bergegas pergi.
Setelah Lisa keluar, Merah mengunci pintu ruang jahitnya rapat-rapat. Ia melangkah menuju sebuah cermin besar yang terpasang di dinding. Dengan sekali dorongan, cermin itu bergeser, menyingkap sebuah ruang rahasia di baliknya.
Di dalam ruangan kedap itu, tersimpan dua gaun mahakarya yang belum pernah ia tunjukkan pada dunia—bahkan tidak untuk peragaan busana bergengsi mana pun.
Merah mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di dagunya, menimbang-nimbang pilihan. "Ah, yang ini saja," gumamnya.
Pilihannya jatuh pada gaun merah marun tanpa lengan berkerah tinggi. Bagian dadanya dihiasi aplikasi bunga dengan detail tekstur yang begitu kaya. Roknya terbuat dari bahan tule bertumpuk yang mengembang indah, menggunakan potongan high-low—pendek di bagian depan untuk memamerkan kakinya yang jenjang, namun panjang menjuntai di bagian belakang.
Usai berganti pakaian, Merah mematut diri di depan cermin, memutar tubuhnya perlahan. "Merah, kamu memang anggun sekali," pujinya pada diri sendiri.
Merah melangkah keluar dengan dagu terangkat, namun tetap tersenyum ramah saat menemui tamu di ruang tunggu. "Maaf, sudah membuat Anda menunggu lama," ucapnya seraya duduk dengan gerakan anggun.
"Sama sekali tidak masalah," sahut wartawan itu sambil menyiapkan alat rekamnya. "Menunggu desainer secantik Anda bukanlah kerugian bagi saya. Saya sangat senang akhirnya bisa berhadapan langsung dengan Merah Lembayung."
Merah terkekeh pelan, sedikit menutupi bibirnya dengan punggung tangan. "Anda terlalu berlebihan memuji saya."
"Baik, bisa kita mulai wawancaranya?"
"Tentu saja," ujar Merah.
Wawancara mengalir dengan santai. Wartawan itu mulai menggali masa lalu Merah, mulai dari awal karier hingga latar belakang pribadinya yang jarang diketahui publik.
"Wow, saya benar-benar tidak menyangka Anda berasal dari panti asuhan," ucap sang wartawan dengan nada kagum yang tulus.
Merah tersenyum simpul, ada binar haru yang ia tahan. "Siapa yang menyangka seorang yatim piatu dari panti asuhan kecil bisa sampai di titik ini? Ini semua berkat kerja keras dan doa dari Ibu Panti juga."
"Lalu, Nona Merah, ada satu hal yang menarik. Mengapa banyak desainer senior yang namanya lebih besar dari Anda tidak menganggap Anda musuh? Mereka justru sering mengajak Anda berkolaborasi di panggung internasional."
"Hmm, mungkin karena mereka menilai desain saya cukup unik. Selain itu, saya orangnya cukup terbuka dengan pendapat orang lain," jawab Merah rendah hati. Meski sudah punya nama besar, ia tetap tahu cara menghormati senior maupun junior di industrinya.
"Apa ada keinginan Anda yang belum tercapai?" tanya wartawan itu lagi.
Sorot mata Merah berubah serius namun lembut. "Saya ingin mendirikan sekolah seni untuk anak-anak jalanan. Mereka yang punya bakat tapi terhalang biaya, yang nasibnya sama seperti saya dulu."
"Keinginan yang sangat mulia," puji sang wartawan.
Merah hanya membalasnya dengan kekehan kecil.
"Oh ya, Nona Merah, apa Anda sudah dengar kabar bahwa Anda masuk dalam kandidat kategori desainer terhebat tahun ini?"
Mata Merah membelalak. Ia benar-benar terkejut. "Saya serius tidak tahu tentang itu. Terima kasih banyak informasinya."
"Sama-sama. Acara penghargaannya akan diadakan lusa depan. Sepertinya saya baru saja memberi tahu Anda berita besar hari ini," canda wartawan itu.
Merah tertawa kecil. "Benar. Sepertinya saya juga harus menyiapkan gaun kilat untuk acara itu sekarang juga."
Wawancara ditutup dengan sesi foto bersama. Mereka berdiri dan berpose dalam dua gaya. Setelah itu, Merah berswafoto mandiri sebanyak tiga kali untuk keperluan majalah.
Setelah wartawan itu pamit, Merah menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di sofa.
"Nona Merah," panggil Lisa kembali.
"Langsung saja, Lis. Ada apa lagi?" tanya Merah tanpa membuka mata.
"Ini ada undangan dari Komite Fashion. Anda diundang ke acara penghargaan." Lisa menyerahkan amplop mewah yang baru saja tiba melalui pos.
Merah menerima amplop itu tanpa minat untuk membaca isinya karena sudah tahu dari wartawan tadi. "Pulanglah, Lis. Ini sudah waktunya jam kerja kamu selesai."
"Nona sendiri bagaimana?"
"Aku akan menginap di sini saja. Kunci saja butiknya dari luar," sahut Merah. Pikirannya sudah melayang ke meja gambar; ia ingin segera mendesain gaun baru untuk acara penghargaan tersebut.
"Nona, saya harap Anda tidak lembur lagi. Tolong jaga kesehatan Anda," pesan Lisa dengan nada khawatir.
Merah tersenyum tipis. "Tenang saja, Lis. Aku cuma mau menggambar sketsa. Besok pagi baru aku jahit."
Malam semakin larut.
Merah sibuk menggoreskan pensil di atas kertas, namun berkali-kali ia meremas kertas itu dan membuangnya ke lantai. Ia belum puas. Rambutnya sudah berantakan karena ia sering mengacaknya setiap kali idenya buntu.
Kruyuuuk.
Merah memegang perutnya. "Pakai acara berisik segala lagi," gerutunya.
Ia berjalan menuju dapur kecil di sudut butik. Ia membuka kulkas, kosong. Ia memeriksa rak-rak di atas kompor, juga tidak ada apa-apa. "Jadi ceritanya aku harus keluar malam-malam begini? Ck."
Dengan malas, ia menyambar jaket dan keluar lewat pintu belakang. Tujuannya adalah minimarket yang berjarak sekitar seratus meter dari butiknya. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat keributan di jalan remang-remang yang ia lewati.
"Eh, orang asing! Mana uangmu? Kalau mau lewat sini harus bayar!"
Merah menghentikan langkah. Ia paling benci melihat pemandangan seperti ini. Ada dua orang pria yang ia kenal sedang memalak seorang pria asing. Tanpa rasa takut, Merah mendekat. "Bang Sopo, Bang Jarwo. Butuh uang berapa sih sampai harus malak orang asing?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah dua preman itu.
"Eh ... Mbak Merah?" Bang Jarwo seketika layu.
Pria asing yang dipalak itu melongo heran melihat dua preman yang tadinya garang mendadak berbicara dengan nada rendah di depan wanita ini.
Dulu, saat Merah baru membuka butiknya, ia pernah dimintai uang keamanan oleh mereka. Bukannya takut, Merah justru menghajar mereka berdua sampai babak belur. Bahkan, seluruh gerombolan preman di wilayah itu ia 'bersihkan' saat mereka mencoba menuntut balas.
Sejak saat itu, Merah adalah sosok yang paling mereka segani.
"Butuh berapa, Bang?" tanya Merah sekali lagi dengan penekanan.
"Seratus ribu, Mbak Merah ... buat beli bakso di tempat Mang Udin," jawab Bang Sopo dengan wajah polos.
Merah mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menyerahkannya ke tangan Jarwo. "Cukup, kan?"
"Cukup, Mbak! Cukup banget! Kalau begitu, saya dan Sopo pergi dulu ya!" Jarwo langsung menarik Sopo pergi secepat kilat.
Merah menoleh ke arah pria yang baru diselamatkannya. "Tidak usah bilang terima kasih," ucapnya dingin. Ia menyelipkan sejumlah uang ke tangan pria itu. "Untuk beli Betadine."
Merah langsung melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban.
"Terima kasih, Tante!" seru pria asing itu keras.
Seruan itu membuat Merah spontan berbalik. Namun, pemuda itu sudah menghilang dari pandangan.

Vene
3 Pengikut · 3 Novel