“Elia, aku serius dalam hubungan ini,” katanya dengan suara pelan di tengah deru angin malam.
“Aku tahu, tapi seperti yang kukatakan terakhir kali, aku tidak mengharapkan memiliki kekasih. Aku tertipu oleh harapanku sendiri,” balasku.
“Kau masih belum memberiku kejelasan. Aku butuh penjelasan. Kau menggantungku,” katanya lagi, masih dengan nada suara pelan.
Aku hanya menghela napas. Bagiku, sudah tidak ada gunanya jika terus menjelaskan hal yang sama.
Ia pun beranjak dari duduknya, lalu menatapku lekat-lekat sejenak.
Tanpa aba-aba, ia mendekatkan wajahnya padaku. Wajah kami hampir bersentuhan. Tangannya menghalangi kiriku dan kananku, membuatku tidak dapat lagi bergerak.
Aku sontak memalingkan wajah ke samping. “Apa yang kau lakukan?” ucapku dengan nada lemas. Aku sangat kecewa.
Seluruh tubuhku seolah mati rasa karena tidak menyangka laki-laki itu bisa berbuat hal seperti itu kepadaku.
Menyadari hal itu, ia pun kembali berdiri sambil mendengkus pelan. Aku menatap wajahnya yang tampak sangat kesal.
Setelah itu ia tidak berkata apa pun lagi. Ia berbalik dan pergi dengan langkah yang tampak sedikit kesal. Aku tidak tahu apakah karena ia sangat kecewa padaku atau merasa gagal pada dirinya sendiri.
Aku menatap punggungnya menjauh. Napasku masih tersengal, merasa tidak nyaman sekaligus sangat kecewa padanya.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku. “Elia, apa kalian sudah jadian?” tanyanya sambil menghampiri. Ia adalah Sisil, salah satu temanku.
Dari wajahnya, aku menebak ia sudah melihat adeganku bersama laki-laki itu.
“Sudah, tapi aku merasa sudah salah menilainya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya,” jawabku, berusaha terlihat biasa saja.
“Salah menilai bagaimana?” tanyanya lagi.
“Padanya saja aku gagal menjelaskan. Bagaimana padamu?” jawabku datar.
Aku pun beranjak dari sana, meninggalkan Sisil tanpa menoleh. Pikiranku sudah terlalu kalut sehingga aku tidak lagi peduli pada siapa pun yang ada di sekitarku.
Malam itu aku berada di sebuah taman kota. Belum jauh aku melangkah pulang, tiba-tiba aku dicegat dua perempuan. Hanya dengan sekali pandang, aku tahu bahwa sepertinya mereka telah menyaksikan seluruh kejadian di taman tadi, sama seperti Sisil yang juga berada di sekitar sana.
“Hai. Bukankah kau cewek yang suka memberi harapan palsu pada para cowok itu?” tanya salah satunya dengan nada meremehkan.
Aku tidak menjawab. Aku hanya berusaha mencari jalan untuk melewati mereka.
“Hei, tunggu dulu,” kata yang satunya sambil berdiri menghalangiku.
“Kau tahu, bukan? Dia itu anak tunggal pewaris perusahaan terbesar di kota ini. Apa kau tidak takut orang tuanya menuntut balik?” tanyanya, juga dengan nada meremehkan.
“Minggirlah! Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawabku singkat dan cepat.
Setelah mengatakan itu, aku lanjut berjalan menabrak mereka. Pikiranku malam itu campur aduk. Aku merasa dirugikan, tetapi juga merasa bersalah.
———
Setibanya di rumah kontrakanku, aku membaringkan tubuh di kasur. Pikiranku masih tidak bisa tenang sama sekali.
Aku benar-benar merasa dirugikan. Namun, dalam arus umum hubungan seperti ini, dialah yang kerap dipandang sebagai pihak yang menderita.
Aku sudah pernah menjelaskan bahwa aku menerimanya karena terlalu berharap memiliki seorang teman. Namun, sepertinya perkataanku itu tidak dapat dipahami orang-orang seperti mereka.
Tiba-tiba, lampu di ruanganku berkedip-kedip beberapa kali. Aku tidak menghiraukannya karena mengira itu hanyalah masalah tagihan listrik yang belum kubayar bulan ini.
Blep!
Kamarku pun gelap seketika. Aku menghela napas, lalu mencoba meraih ponselku di samping bantal.
Sudah berkali-kali aku merabanya, tetapi tetap tidak kutemukan. Aku meraba lagi, lalu merasakan tekstur selimut yang semula lembut malah berubah menjadi butiran-butiran kecil.
Aku menggenggamnya erat, berharap merasakan gumpalan kain yang biasa. Namun, benda itu justru mengalir lewat sela-sela jariku, berjatuhan halus. Aku terperanjat. Selimut itu seolah telah berganti menjadi butiran pasir yang lembut.
Tiba-tiba terdengar deru angin kencang dari belakang. Aku sontak menoleh. Seketika, pasir menerpa wajahku hingga mataku sulit terbuka.
Saat aku berhasil membersihkan debu itu dan membuka mata, alangkah terkejutnya aku. Kini aku mendapati diriku berada di hamparan pasir yang luas. Matahari menyengat kulit tepat di atas kepalaku.
“Apa yang terjadi?” ujarku bertanya-tanya dalam kebingungan.
Aku menatap sekeliling. Sejauh mata memandang, hanya tampak gurun pasir.
“Bukankah tadi aku masih ada di kamar?” gumamku pelan.
Jantungku berdetak kencang, bulu kudukku merinding tanpa henti.
“Tenang dulu. Tenang. Aku harus tenang. Aku tadi ada di kamar bersiap tidur, pasti ini hanya mimpi. Iya, ini hanya mimpi,” gumamku lagi, berusaha menguatkan diri sendiri.
Tidak lama kemudian, terdengar suara derap kuda dari kejauhan.
“Hia!” Terdengar suara seseorang memacunya. Suaranya lembut dan sedikit melengking, lebih mirip suara perempuan.
Tidak lama berselang, orang itu pun tampak dari balik bukit. Memang benar, ia adalah seorang perempuan.
Penampilannya sangat gagah. Ia memakai perlengkapan menunggang kuda yang lengkap, tetapi menurutku gayanya terlihat agak kuno.
Aku masih mengira itu semua hanya mimpi. Tiba-tiba matanya menatapku, lalu ia memacu kudanya dengan cepat menuju ke arahku.
“Naiklah,” ucapnya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya berkedip-kedip menatapnya, seolah belum benar-benar sadar.
“Ayo, cepatlah!” ajaknya lagi. Lalu ia menarikku dengan kuat hingga aku tersentak dan terduduk di punggung kuda tepat di belakangnya.
Saat sudah berada di atas punggung kuda, ia sengaja memacu kudanya kencang. Aku pun sontak berpegangan erat padanya.
“Kenapa kau bisa berada di sini?” tanyanya sambil memacu kuda lebih kencang.
“Aku tidak tahu,” jawabku tanpa berpikir panjang sebab laju kuda yang begitu kencang membuatku khawatir terjatuh.
Tidak lama kemudian, tampaklah sebuah pemukiman di hadapan sana. Bangunan-bangunannya menyerupai hunian zaman dahulu, dengan dinding yang terbuat dari kayu.
Ia pun melambatkan laju kudanya. Tanah yang sebelumnya serba berpasir, kini di area pemukiman itu berganti menjadi hamparan rumput hijau di sepanjang jalan.
Aku hanya diam di belakangnya sepanjang perjalanan, hingga akhirnya ia pun berhenti di sebuah rumah yang tampak cukup besar dibandingkan rumah-rumah lain di sekitarnya.
“Turunlah,” perintahnya.
“Kau turunlah duluan saja,” sahutku. Aku merasa sungkan sebab jika aku turun sekarang aku harus memegang pundaknya.
“Jika aku turun duluan, kau bisa jatuh karena kuda ini hanya menurut padaku,” jawabnya.
Mendengar itu, aku pun langsung mengerti. “Baiklah,” jawabku cepat, tidak ingin merepotkannya terlalu lama.
Setelah aku turun dari kuda, kakiku terasa kaku dan kram. Aku pun langsung duduk di tanah untuk memulihkan kondisiku.
“Kau baru pertama kali naik kuda, ya?” tanyanya sambil turun dari punggung kuda dengan perlahan.
Ia mengikat kuda itu di kandang yang tersedia di depan rumah itu. Baru setelah itu ia kembali menghampiriku.
Bersambung.