

Kanaya meninggalkan Ibrahim, memilih menikah dengan Romi, meski pernikahan mereka tak direstui orang tua Romi. Sindi, menghasut ibu Romi untuk mencurigai Kanaya mandul. Kanaya dan Romi menjalani pemeriksaan dokter. Hasilnya, Romi yang bermasalah. Mereka berniat menyembunyikan hasil tes. Romi capek dan putus asa terapi. Sindi memanfaatkan kesempatan, mengaku hamil anak Romi. Kanaya menyampaikan kejujuran yang dirahasiakan. Romi marah, Kanaya serba salah. Kanaya menyerah dan mencari tempat pelampiasan, menghibur diri sendiri dengan berbagai kegiatan. Kehadiran Ibrahim, sang mantan, menawarkan kehidupan yang lebih indah. Pesona Ibrahim mampu memikat hati Kanaya yang hampa akan kasih sayang dan kehangatan. Bagaimana kelanjutan dari rumah tangga Romi-Kanaya?
“Baru pulang, Mas? Semalam tidur di mana?” Suara Kanaya lirih, nyaris tenggelam dalam keheningan pagi yang terasa berat.
Romi tidak menjawab. Matanya kosong, pandangannya lurus ke depan, seolah-olah tak ada siapa pun di hadapannya. Ia melepas sepatu dengan gerakan lamban, lalu melangkah melewati Kanaya tanpa sepatah kata pun. Hawa dingin seketika menjalari ruangan, bukan karena udara, tapi karena sikap Romi yang membeku.
Kanaya menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan gemuruh di dadanya. Tapi diam tak bisa lagi jadi bahasa yang menenangkan. Ia melangkah maju, mencoba mengejar sisa-sisa kasih yang dulu begitu hangat.
“Mas. ” Suaranya bergetar, "Sampai kapan kamu akan terus diam seperti ini? Kalau ada yang salah padaku, tolong katakan. Aku bukan orang asing, aku istrimu.”
Matanya mulai berkaca-kaca. Ada luka yang sudah terlalu lama disimpan, tapi kini menuntut untuk diakui.
“Aku capek. Mau istirahat.” Ucapan Romi terdengar datar, tanpa nada, tanpa empati. Ia berjalan melewati Kanaya seolah tak ada beban, seolah di rumah itu tak pernah ada cinta yang dulu mereka perjuangkan bersama.
Kanaya menunduk. Tak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan. Ia hanya berdiri kaku, menatap lantai yang dingin, sama dinginnya dengan suasana rumah mereka belakangan ini.
Rasanya seperti menjadi tamu di rumah sendiri. Sunyi. Sepi. Dingin. Seperti salju yang tak pernah mencair di daerah kutub.
Ia berjalan pelan menuju sofa, duduk perlahan. Tangannya meremas ujung baju yang dikenakannya, matanya menerawang jauh ke masa lalu.
Dulu ….
Ya, dulu Romi adalah satu-satunya alasan ia bisa bertahan. Satu-satunya orang yang membuat hatinya tenang saat badai datang menghantam. Yang menggenggam tangannya erat, sambil berkata, "Kita bisa lewati semua ini, asal kita bersama."
Tapi sekarang? Yang tersisa hanya kenangan. Dan kenangan, bagaimanapun indahnya, tak pernah cukup untuk menghangatkan hati yang kesepian.
Air matanya jatuh, perlahan. Bukan karena marah. Bukan pula karena benci. Tapi karena rindu—rindu pada seseorang yang kini masih ada, tapi rasanya sudah jauh. Terlalu jauh.
“Ya Allah,” bisiknya lirih, "Apa yang harus aku lakukan? Aku lelah, tapi aku belum ingin menyerah. Aku masih ingin memperbaiki semuanya, kalau memang masih bisa diperbaiki.”
Ponsel Kanaya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Notifikasi dari media sosial masuk, menampilkan tag nama yang tak asing. Ia tak berniat membukanya, tapi ada sesuatu dalam hati kecilnya yang mendesak untuk tahu.
Dan saat layar terbuka, dunia seolah berhenti berputar. Satu foto. Hanya satu. Tapi cukup untuk merobek seluruh kepercayaan yang tersisa.
"Romi bersama Shindi?" Kanaya kaget bak disambar petir di siang hari.
Wanita yang selama ini terus mengitari rumah tangga mereka seperti bayangan gelap. Wanita yang dulu pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Romi, bahkan setelah Romi menikah.
Sekarang, wanita itu berdiri di samping Romi, tersenyum manis di depan kamera. Tangan mereka terlalu dekat. Terlalu akrab. Terlalu menyakitkan untuk hanya disebut "kebetulan."
Jantung Kanaya berdegup kencang, bukan karena marah, tapi karena patah.
Tanpa pikir panjang, ia bangkit dan berjalan cepat menuju kamar. Napasnya tak teratur, tapi langkahnya pasti. Hatinya genting, tapi tekadnya bulat.
Pintu kamar terbuka.
Romi masih terbaring di atas ranjang, punggungnya menghadap ke pintu, seolah dunia luar tak penting baginya.
“Mas.” Suara Kanaya gemetar, tapi cukup tegas untuk membuat Romi menoleh. “Apa maksudnya ini?” Ia menunjukkan layar ponsel. Gambar itu masih terpampang jelas, menyilaukan.
Romi menatap foto itu sekilas, lalu kembali membuang pandang. “Itu cuma foto biasa.”
“Biasa?” Kanaya mengulang kata itu pelan, seolah mencicipi getirnya.
“Mas bilang ini biasa? Setelah semua yang kita lalui bersama, semua luka yang kubalut sendirian, sekarang Mas bilang ini biasa?”
Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi ia menahan air mata itu sekuat mungkin. Ia tak ingin air matanya menjadi pembenaran untuk pengkhianatan.
“Mas pernah bilang, aku ini rumah. Tapi kenapa sekarang Mas malah mencari kenyamanan di luar? Apa aku sudah tak layak lagi jadi tempat pulang?”
Romi terdiam. Tak ada kata, tak ada pembelaan. Dan di balik diam itu, Kanaya tahu hatinya mulai kalah.
Tapi ia belum menyerah.
“Kalau memang hatimu sudah tak lagi untukku, katakan. Jangan biarkan aku terus bertahan sendirian di rumah yang dinginnya Mas ciptakan sendiri.”
“Kamu jahat, Mas! Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku?” Kanaya menatap Romi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan luka.
“Aku sudah berusaha ikhlas menerima semua kekuranganmu, bahkan menutupinya dari keluargamu. Sampai detik ini pun, aku masih rela membiarkan mereka mengira akulah penyebab kita belum punya keturunan, padahal aku tahu kebenarannya.”
Namun, belum sempat ia melanjutkan, Romi membentak keras, “Ahh, diam!”
Kanaya tersentak. Tapi bukannya mundur, ia justru semakin berdiri tegak di tengah luka yang menganga. “Kenapa? Kamu nggak adil, Mas. Aku mati-matian membelamu, mengorbankan harga diriku demi menjaga namamu tetap baik di mata mereka. Tapi ini ... ini balasanmu padaku?”
“Kalau begini terus, lama-lama aku nggak kuat, Mas,” ucap Kanaya lirih, suaranya penuh luka yang tak bisa lagi disembunyikan.
“Kamu sudah begitu jauh berubah, sampai aku tak lagi mengenali dirimu yang dulu. Padahal, di saat-saat seperti ini, seharusnya kita saling menggenggam lebih erat, jadi satu tim untuk menghadapi semua ini bersama. Bukannya saling menjauh.” Ia menghela napas panjang, menahan sesak di dada.
“Aku paham kalau kamu lelah, jenuh, bahkan mungkin putus asa karena harus menjalani serangkaian terapi yang melelahkan. Tapi selama ini aku selalu ada, Mas. Aku nggak pernah pergi. Aku berusaha jadi bahumu saat kamu letih. Tapi justru sekarang, kamu menjauhiku, seakan akulah musuhmu. Padahal aku ini, dari awal sampai hari ini, tetap ingin jadi teman seperjalananmu.”
“Persetan dengan terapi! Aku sudah capek menjalaninya, tapi hasilnya nihil! Aku capek!” teriak Romi, suaranya pecah di ujung amarah. Namun, yang terdengar oleh Kanaya hanyalah jeritan dari jiwa yang kelelahan.
Romi merunduk, memegangi kepalanya, seakan tak sanggup lagi menanggung beban harapan yang terus-menerus gagal terpenuhi.
Di saat itu, meski luka di hati Kanaya belum sembuh, meski kata-kata Romi sebelumnya masih membekas tajam, rasa sakit itu perlahan luluh—ditelan iba yang tak bisa ia tolak. Ada cinta yang belum padam. Ada kepedihan suaminya yang tak sanggup ia abaikan.
Ia mendekat, tak dengan kemarahan, tapi dengan hati seorang istri yang masih ingin menggenggam tangan pasangannya, meski dunia seolah tak lagi berpihak pada mereka. Namun, seakan usahanya sia-sia, sampai kapan Kanaya, mampu bertahan?

Titian
7 Pengikut · 2 Novel