Aroma kopi Arabika yang baru saja diseduh Arini memenuhi ruang makan yang tenang itu. Di balik jendela besar rumah bergaya modern minimalis di kawasan Jakarta Selatan ini, matahari pagi baru saja mengintip, menyinari debu-debu halus yang menari di udara.
Arini menyesap kopinya perlahan, matanya menatap kosong ke arah taman kecil di belakang rumah yang tertata sangat rapi, persis seperti kehidupannya tujuh tahun terakhir.
Tujuh tahun Arini membangun mahligai bersama Satria. Bagi siapapun yang melihat, kehidupan mereka adalah cetak biru dari sebuah kebahagiaan.
Satria adalah pria yang mapan, mapan secara finansial dan matang secara emosional. Ia bukan tipe suami yang gemar keluyuran malam atau lupa memberi kabar.
Satria adalah pria yang masih sempat mengecup kening Arini setiap kali hendak berangkat ke kantor, dan selalu ingat membawa bunga setiap tanggal pernikahan mereka.
"Pagi, Sayang." Suara bariton itu memecah lamunan Arini.
Satria muncul dengan kemeja biru langit yang sudah disetrika licin oleh Arini. Pria itu tampak segar, aroma sabun maskulin yang khas menguar darinya. Ia segera duduk di kursi favoritnya, menyambar koran digital di tablet sembari menanti sarapan.
"Pagi, Mas. Ini rotinya," jawab Arini lembut, meletakkan sepiring roti panggang dengan selai avokad di depan suaminya.
Satria tersenyum, jenis senyum yang dulu membuat Arini jatuh cinta setengah mati. "Terima kasih, Arin. Hari ini aku ada rapat di luar kota, kemungkinan pulang agak malam. Kamu tidak perlu menungguku makan malam, ya?"
"Luar kota lagi, Mas? Bukankah minggu lalu sudah?" Arini bertanya, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar seperti sedang menginterogasi.
Satria terkekeh kecil, lalu mengusap punggung tangan Arini di atas meja.
“Proyek di Bandung sedang masuk tahap krusial, Rin. Kamu tahu sendiri, kan? Kalau ini tembus, kita bisa liburan ke Swiss akhir tahun nanti."
Arini hanya mengangguk kecil. Swiss. Sebuah janji yang indah. Namun, entah mengapa, belakangan ini janji-janji Satria terasa seperti tumpukan pasir yang mudah tertiup angin, indah dipandang, tapi terasa kosong di genggaman.
Setelah Satria berangkat, Arini mulai melakukan rutinitasnya. Sebagai seorang penulis lepas dan ibu rumah tangga, ia memiliki banyak waktu di rumah.
Ia mulai membereskan pakaian kotor Satria yang diletakkan begitu saja di keranjang cucian. Saat itulah, keraguan yang selama ini ia tekan dalam-dalam mulai menemukan celah untuk keluar.
Arini mengambil jas yang dikenakan Satria kemarin. Saat ia hendak memeriksa saku, kebiasaan lama untuk memastikan tidak ada struk atau uang kertas yang ikut tercuci, ujung jarinya menyentuh selembar kertas kecil yang kaku.
Ia menariknya keluar. Sebuah struk belanja dari sebuah pusat perbelanjaan kelas atas. Arini mengerutkan kening. Satria jarang sekali belanja sendirian, apalagi untuk barang-barang kecil. Namun, mata Arini membelalak saat membaca daftar item yang tertera di sana.
1 Set Lingerie Silk - Rose Pink.
1 Botol Parfum - Midnight Jasmine.
Darah Arini seolah berhenti mengalir. Ia meraba lehernya sendiri. Ia tidak pernah memakai warna merah muda, ia membencinya, dan parfum yang ia gunakan selama bertahun-tahun adalah aroma jeruk yang segar, bukan melati yang berat dan menggoda.
"Ini bukan untukku," bisiknya pada keheningan kamar.
Arini mencoba menenangkan diri. Mungkin saja itu kado untuknya yang belum sempat diberikan? Mungkin Satria ingin memberi kejutan? Namun, logikanya menolak. Struk itu bertanggal tiga hari yang lalu. Jika itu kado, seharusnya sudah ada di meja riasnya sekarang.
Dengan tangan gemetar, Arini mendekatkan jas Satria ke hidungnya. Ia menghirup dalam-dalam.
Di sela-sela aroma maskulin yang biasa ia kenali, ada jejak wangi lain yang tertinggal. Tipis, tapi nyata.
Wangi floral yang manis dan sedikit menyengat, persis seperti deskripsi parfum pada struk tersebut.
Arini terduduk di tepi ranjang yang luas itu. Ranajang yang selama ini ia pikir adalah tempat paling aman di dunia. Tiba-tiba saja, kamar ini terasa asing. Setiap sudut rumah yang ia dekorasi dengan kasih sayang seolah mulai menertawakannya.
Pikirannya melayang pada kejanggalan-kejanggalan lain yang sebelumnya ia abaikan dengan dalih "percaya pada suami". Satria yang kini lebih sering mengunci ponselnya dengan kata sandi baru.
Satria yang terkadang menerima telepon di balkon dengan suara berbisik. Satria yang frekuensi "rapat luar kotanya" meningkat drastis dalam tiga bulan terakhir.
Selama ini, Arini memilih untuk menjadi istri yang suportif. Ia tidak ingin menjadi wanita yang paranoid dan mengekang. Namun, struk belanja dan aroma asing ini adalah bukti fisik yang tidak bisa ia nafikan.
"Tidak, Arin. Jangan berpikiran buruk dulu," bisiknya menguatkan diri. Namun, hatinya sudah terluka.
Sebuah retakan kecil telah muncul pada cermin kebahagiaannya, dan ia tahu, sekali cermin itu retak, bayangan di dalamnya tidak akan pernah terlihat sama lagi.
Arini berdiri, matanya menatap tajam ke arah struk di tangannya. Ia tidak akan menangis sekarang. Ia harus memastikan satu hal, apakah suaminya adalah pria paling setia yang sedang menyiapkan kejutan, ataukah ia adalah pembohong paling ulung yang pernah ia temui.
Ia menyimpan struk itu di dalam laci terkunci. Hari ini, Arini tidak melanjutkan tulisannya. Ia hanya duduk diam di ruang tengah, menatap pintu depan, menanti kepulangan Satria dengan perasaan yang mulai mendingin.
Di luar, langit Jakarta mulai mendung, seolah tahu bahwa badai besar akan segera datang menerjang rumah yang tampak sempurna itu.
Semua keindahan ini, ternyata hanyalah kesempurnaan yang semu, dan Arini baru saja menyentuh bagian permukaannya yang rapuh.