


oleh Sarah Jihan · 15 Bab
Hanya karena tidak terima istrinya bermain cinta dengan mantan kekasihnya, Morgan sampai harus meminta izin untuk menikah lagi. Namun keputusannya itu malah hanya menjadikan sebuah penyesalan. Karena di hari pernikahan dirinya dan Carolline, ia baru menyadari betapa pentingnya Guinneviere dalam hidupnya. Nasi sudah menjadi bubur, Morgan tidak bisa menolak pernikahan yang ada di hadapannya. Apakah hubungan Morgan dan Guine akan baik-baik saja setelah ia menikahi Carolline?
Para tamu pernikahan kebingungan, karena menunggu Morgan yang tak kunjung datang ke altar pernikahannya. Bahkan calon mempelai wanita dari Morgan, sudah mengalami tremor dan guncangan yang hebat akibat sama sekali tak melihat batang hidung Morgan.
“Ke mana perginya Morgan? Ini sudah hampir jam 12 siang, dan dia sama sekali belum datang,” gumam Carolline, yang tak lain adalah calon istri kedua dari Morgan.
Ya, jika Carolline yang akan menjadi calon istri kedua, pastinya ada wanita yang sudah menjadi istri pertamanya.
Guinneviere, sang istri pertama Morgan, sejak tadi juga sudah menunggu kedatangan Morgan ke aula. Ia merasa sangat cemas, karena Morgan yang tak kunjung datang.
Walaupun hatinya sangatlah hancur, tetapi lebih hancur lagi jika Morgan tidak kunjung datang. Itu sama saja menginjak-injak harga dirinya, dan mempermalukannya di hadapan para saksi dan tamu yang hadir.
“Ke mana Morgan? Ini sudah lewat dari batas jam yang ditentukan,” batin Guine, yang juga sudah tidak sabar menunggu kedatangan Morgan ke hadapannya.
Sejenak Guine mengedarkan pandangannya ke segala arah, berusaha untuk melihat keberadaan Morgan. Namun, ia tetap tidak menemukan Morgan di mana pun juga.
Suasana menjadi tegang, karena semua orang juga menunggu kedatangan Morgan. Kedua orang tua Morgan, kedua orang tua Carolline, bahkan kedua orang tua dari mantan istri Morgan yang pertama pun turut menunggu kedatangan Morgan.
“Bagaimana? Ini sudah lebih dari 1 jam. Sebentar lagi juga akan ada pemberkatan lainnya,” ujar sang Pendeta.
Carolline memandangnya dengan sendu. “Mohon kesediaannya menunggu sebentar lagi. Mungkin dia akan tiba dalam sepuluh menit,” ujarnya, yang meminta kelonggaran waktu.
Melihat situasi ini, membuat Guine merasa lelah. Sudah banyak effort yang ia lakukan, untuk mempersiapkan dirinya tentang pernikahan kedua suaminya itu. Namun nyatanya, Morgan sama sekali tak kunjung datang ke pernikahannya sendiri.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus memeriksa keberadaannya!" batin Guine, yang tidak tenang saat ini.
Guine menoleh ke arah wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. “Ibu, aku permisi sebentar. Aku harus ke toilet sebentar,” pamitnya.
“Mau ibu antar?” tawarnya.
“Tidak perlu, Bu. Tolong tunggu sebentar, aku akan kembali sebentar lagi,” tolak Guine, yang lalu segera pergi dari aula untuk menuju ke arah toilet.
Langkahnya sangat berat, kakinya lemas, ia tidak tahu keputusan yang ia ambil ini ternyata sangat berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya. Beberapa kali ia menghela napasnya panjang, saking menyesalnya karena ia sudah memberikan izin kepada Morgan, untuk memadu cintanya dengan wanita lain.
“Kalau bukan karena kesalahanku, aku juga tidak akan pernah mengizinkan Morgan untuk menikah dengan wanita lain,” batin Guine, yang berusaha menguatkan langkahnya untuk menuju ke arah toilet gedung ini.
Guine berhasil keluar dari perkumpulan orang yang menyesakkannya. Ia sangat sesak, ketika ia berada di dalam lingkaran orang-orang yang akam berbahagia dengan pernikahan ini. Sementara hanya dia yang tidak sepenuhnya bahagia.
"Aku tidak tahu, apakah keputusan ini akan membuat diriku menggila?" batin Guine, yang masih berusaha untuk melangkah ke arah toilet.
Sayup-sayup terdengar suara isak tangis seseorang dari toilet pria, yang berada di sebelah toilet wanita. Di sana hanya terdapat dua toilet, dengan masing-masing diperuntukkan untuk wanita dan pria.
Langkah kaki Guine terhenti, sesaat setelah mendengar isak tangis seorang pria. Tubuhnya dipaksa kuat, karena mungkin saja ia akan berhadapan dengan orang lain setelah ini. Ia tidak ingin dilihat menyedihkan karena suaminya menikah dengan wanita lain.
"Siapa yang menangis di dalam?" batin Guine yang mencoba untuk mendengar lagi suara tangisan tersebut.
Karena merasa penasaran, Guine pun segera mendekat ke arah pintu toilet pria tersebut. Isak tangis tersebut terdengar tidak asing di telinganya, sehingga membuatnya merasa sangat yakin dengan orang yang ia sangka.
“Morgan,” ujar Guine dengan tegas.
Sejenak pria itu menghentikan isak tangisnya, kemudian hanya hening yang terjadi di sana.
Beberapa saat kemudian, terlihat pintu toilet pria terbuka lebar. Ternyata memang benar, ada Morgan di dalam toilet tersebut. Kaki Guine mendadak lemas, ketika ia melihat Morgan yang saat ini berdiri di hadapannya, dengan wajah yang penuh dengan derai air mata.
“Morgan ... kau kenap—”
Belum sempat Guine menyelesaikan ucapannya, Morgan sudah menarik lengan tangan Guine untuk masuk ke dalam toilet tersebut. Setelah memastikan Guine sudah berada bersamanya, ia pun mengunci pintu toilet, dan memandang dalam ke arah Guine.
Ada penyesalan di hati mereka, saat hari di mana pernikahan akan berlangsung. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindarinya. Nasi sudah menjadi bubur, mereka tidak bisa melakukan apa pun lagi untuk menghindari pernikahan ini.
"Kenapa kau ada di sini? Seharusnya kau sudah berada di dalam sejak tadi. Mereka semua sudah menunggu kedatanganmu," ujar Guine dengan lembut.
Dari jarak yang sedekat ini, Guine sangat merasakan Morgan yang tertekan dengan keadaan. Namun, tugasnya hanyalah memberikan support untuk Morgan, agar Morgan bisa menjalani jalan yang sejak awal sudah ia ambil.
“Maafkan aku, Guine. Aku sepertinya ... tidak bisa melanjutkan pernikahanku dengan Carolline,” ujar Morgan, membuat Guine mendadak lemas mendengarnya.
Sekujur tubuhnya terasa sangat lemas, karena ia merasakan perasaan senang ketika mendengar ucapan Morgan itu. Namun, untuk menebus semua dosa yang sudah ia lakukan, Guine harus membiarkan Morgan melakukan hal yang sudah mereka sepakati sejak awal.
“Kamu harus kuat, Morgan. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Tolong, kuatlah demi diriku,” pinta Guine.
Walaupun Guine merasa sangat patah hati dengan adanya pernikahan ini, tetapi ia harus bersikap kuat di hadapan Morgan. Ia tidak bisa membiarkan Morgan melihat kelemahan dirinya, walaupun dia sudah paham Morgan pastinya sudah tahu tanpa harus diberi tahu.
Morgan tiba-tiba saja memeluk Guine, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa, Guine. Sebuah kesalahan jika aku memutuskan menikah dengan orang lain, hanya karena merasa kecewa denganmu. Aku tidak bisa melakukan ini,” tolaknya.
Sekuat apa pun Morgan menolaknya, tidak akan ada yang bisa menghentikan upacara pernikahan antara dirinya dan juga Carolline. Semua ini harus berjalan dengan semestinya, dan tidak bisa dibatalkan sepihak.
“Yang akan kau nikahi adalah seorang wanita yang baik. Dia memiliki keluarga. Bagaimana tanggapan mereka jika kau secara sepihak tidak mau meneruskan pernikahan ini? Bagaimana perasaan wanita itu, dan juga keluarganya? Apa kau akan mengorbankan banyak perasaan orang lain, dibandingkan perasaanmu sendiri?” ujar Guine, yang masih harus bersikap bijaksana di hadapan Morgan yang sedang goyah ini.
Pernikahan Morgan dan Carolline memang sebuah kesalahan. Hanya karena merasa kecewa dan tidak bisa menyentuh Guine untuk melakukan hubungan intim, Morgan sampai harus memutuskan untuk menikah kembali.
Berat hati Guine ketika pertama kali mendengar permintaan Morgan, yang hendak memadu cintanya. Namun, Guine menyadari tentang kesalahannya, yang sudah bermain cinta dengan mantan kekasihnya setelah menikah beberapa bulan dengan Morgan.
Sungguh rumit kisah mereka.

Sarah Jihan
0 Pengikut · 1 Novel