


oleh Lifha az zhafa · 115 Bab
Hidup Rafandra tidak sebaik apa yang orang lihat. Bagi sebagian orang, hidupnya terlalu indah dan berkecukupan. Namun, tanpa mereka sadari, Rafa menyimpan derita yang tidak orang lain tahu. Berawal dari kecelakaan saat ia masih kecil, kini banyak rahasia terungkap. Fakta-fakta keluarga yang semula tersusun rapi membuat Rafa memberontak dan memutuskan tinggal jauh dari keluarganya. yang ternyata mengungkapkan sisi lain dari keluarganya dan fakta-fakta yang tersimpan rapi. Perlahan karakter karakter itu tumbuh dan menjadikan Rafa pribadi yang ditakuti sebagai Mafia kecil. Bagaimana kisah selanjutnya?
Tahun 1997
Bus besar melaju meninggalkan Kota Bandung, setelah mengikuti liburan bersama dengan keluarga besarnya. Tampak wajah ceria menghiasi, sambil bernyanyi dan bercanda, mereka menikmati perjalanan itu dengan penuh tawa sehingga tiba-tiba bus itu mendadak berhenti.
“Ada apa, Parjo?” tanya Rama, ayah dari Rafa.
“Tidak tahu, Kang. Kayaknya mesinnya sedang bermasalah,” jawab Parjo, supir bus itu.
Parjo dan Rama langsung turun untuk mengeceknya bus, hampir satu jam kemudian sang supir memutuskan untuk memanggil bantuan temannya agar membawa keluarganya kembali ke kampung.
“Lebih baik naik bus lainnya, Kang, takutnya kemalaman di sini,” ujar Parjo.
“Okelah.”
Beberapa penumpang turun setelah Rama memberikan arahan agar mereka beristirahat sambil mencari udara segar.
Jalanan itu terasa hening, hanya ada kicauan burung yang menemani insiden bus macet.
Rama meminta istri dan anaknya segera turun, si kecil Rafa yang sedang aktif langsung berlari riang sehingga.
Brukkkkk!!!
Sebuah mobil sedan menerjang tubuh si kecil Rafa membuat tubuh itu melayang. Darah bercucuran, tubuh mungil itu tidak sadarkan diri setelah kejadian naas itu.
“Rafa!!!” teriak Mira—ibunya Rafa.
Rama yang terkejut langsung berlari mengangkat tubuh mungil putranya yang bersimbah darah.
“Rafa, bangun, Nak!” Rama berusaha menepuk pipi putranya agar kesadaran pria kecil itu tetap ada.
“Bawa ke rumah sakit, Pa!” titah Mira dengan deraian air mata melihat tubuh mungil putranya.
Beberapa orang memberhentikan mobil agar membawa Rafa ke rumah sakit. Beruntungnya ada pemilik mobil yang berbaik hati memberikan tumpangan untuk mereka.
Hanya saja tempat itu, tiba-tiba berubah mencekam setelah kejadian naas yang dialami Rafa, tak lama bus pengganti datang membawa penumpang lainnya menuju kampung mereka.
***
Rama dan Mira menunggu di depan ruang UGD di mana Rafa sedang di tangani oleh Dokter. Mira tidak henti menatap pintu ruangan itu yang masih tertutup rapat.
“Duduklah, Mir. Rafa pasti tidak kenapa-kenapa,” ujar Rama berusaha menenangkan istrinya, meskipun tidak bisa dipungkiri jika ia pun khawatir dengan kondisi putra bungsunya.
“Perasaanku tidak enak, Pa. Aku takut terjadi apa-apa dengan Rafa apalagi mobil yang menabraknya tadi benar-benar membuat tubuhnya hancur.” Isak tangis kembali terdengar. Rama menghela napas pelan, ia menarik tubuh istrinya berusaha memberikan ketenangan.
“Berdoa saja, semoga Allah masih melindungi anak kita. Aku akan melakukan apa pun demi kesembuhan dia, Mir!”
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang Dokter laki-laki keluar memanggil orang tua Rafa.
“Gimana keadaan anak kami, Dok?” tanya Mira.
Dokter itu menarik napas berat seakan menyatakan kondisi Rafa yang tidak baik-baik saja.
“Ibu dan Bapak yang sabar ya, tetap tenang. Kondisi Adik Rafa sedang koma saat ini, dia harus segera dioperasi karena ada pendarahan hebat di kepalanya,” ujar Dokter itu menatap kedua orang tua Rafa dengan berat.
“Lakukan apa pun yang terbaik untuk anak kami, Dok. Berapa pun biayanya kami akan usahakan, yang terpenting anak kami selamat!” titah Rama dengan menekan.
“Kami akan usahakan, Pak! Karena keadaan Adik Rafa yang buruk, kemungkinan jika operasinya berhasil, tiga puluh persen kesembuhannya,” balas Dokter itu dengan napas berat.
Operasi besar dilakukan untuk Rafa dengan memakan waktu kurang lebih selama 15 jam. Anak kecil berumur 7 tahun itu, ditangani oleh 3 Dokter secara bergantian dengan didampingi asistennya masing-masing.
Operasi itu berjalan tanpa henti, kecil kemungkinan, tidak menghalangi kepercayaan Rama kalau sang putra akan kembali membaik.
Meskipun dokter mendiagnosa kesembuhannya hanya 30%, tapi Rama dan Mira tidak putus berdoa untuk keselamatan anak mereka.
Bagi orang tua, apa pun caranya akan mereka lakukan untuk kesehatan sang buah hati. Di rumah sakit, tepatnya di Kota Bandung, keadaannya mulai membaik, tapi belum sadarkan diri.
Dokter yang memantau perkembangannya memanggil kedua orang tua Rafa, karena ada hal penting yang harus dibicarakan.
Keadaan Rafa memang terlihat stabil. NNamun, akibat benturan keras membuatnya masih tidak sadarkan diri sampai saat ini.
***
Satu bulan sudah Rafa dirawat di rumah sakit Kota Bandung. Namun, sampai saat ini Rafa belum sadarkan diri. Hanya alat-alat rumah sakit yang menopang kehidupannya.
“Maaf, Pak Rama, sepertinya hidup Adik Rafa sudah tidak ada harapan." Dokter yang menangani Rafa mendesah pelan, secara medis tidak mungkin bisa diselamatkan lagi. Alat-alat yang menempel pada tubuh Rafa seakan hanya menjadi simbol bukan pembantu untuk memulihkan keadaannya.
Sementara Mira hanya bisa menangis meratapi nasib putranya. Tangisannya terdengar menyayat seakan mewakilkan luka hati seorang ibu yang akan kehilangan putranya.
“Hari ini, saya akan bawa putra saya!” ujar Rama lagi dengan menekan.
“Tapi, Pak, untuk membeli alat-alatnya langsung mahal, Pak.” Dokter Indra berusaha menahan, sebagai seorang Dokter ia tidak bisa memberikan harapan lebih pada pasiennya.
“Saya tidak peduli! Berapa pun akan saya bayar jika itu untuk kebaikan putra saya. Secepatnya buat surat rujukan untuk anak saya, jangan membantah!” kata Rama menekan Dokter Indra.
“Baik, Pak. Saya juga akan merekomendasikan Dokter terbaik di kota, Bapak. Semoga Adik Rafa bisa secepatnya sembuh,” jawab Dokter Indra ketakutan melihat kemarahan Rama.
Mata Rama memerah, tatapannya seperti singa yang ingin menerkamnya. Tubuhnya bergetar melihat wajah Rama yang dikuasai emosi.

Lifha az zhafa
139 Pengikut · 13 Novel