Udara malam di ibukota Kerajaan Majapahit terasa pekat, membawa serta aroma dupa yang dibakar di sudut-sudut lorong istana dan bau anyir darah yang sengaja disembunyikan di balik kemegahan tembok batu bata merah. Di dalam sebuah kamar remang-remang berukuran sedang, Wangsa berdiri tegak di dekat jendela kayu jati yang terbuka separuh. Tatapannya tajam menembus kegelapan halaman luar, mengawasi para prajurit pengawal kerajaan yang berlalu-lalang membawa obor dengan langkah teratur.
Di tangannya, sebuah belati kuno berhulu gading digenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Belati itu bukan sekadar senjata biasa; itu adalah satu-satunya peninggalan sang ayah, seorang patih setia yang dituduh berkhianat dan menemui ajal di ujung algojo istana tiga tahun silam.
"Kau tidak seharusnya berada di dekat jendela itu, Wangsa," bisik sebuah suara lembut dan tegas dari arah belakang.
Wangsa menoleh perlahan. Sekar, wanita paruh baya dengan balutan kain batik bermotif lereng dan selendang sutra tua, melangkah mendekat. Wajahnya menyiratkan guratan kecemasan yang mendalam, matanya memantulkan nyala pelita kecil yang berpendar di atas meja kayu mahoni.
"Mata-mata Adipati Wirajaya berkeliaran di luar, Sekar. Mereka mengawasi setiap jengkal tanah tempat kita berpijak," jawab Wangsa dengan suara serak, nyaris berbisik. "Ayahku mati bukan karena ia bersalah, melainkan karena ia mengetahui rahasia busuk tentang siapa yang sebenarnya menjual sandi perang kepada musuh di pesisir utara."
Sekar menghela napas panjang, menghentikan langkahnya tepat dua langkah di hadapan pemuda itu. "Aku tahu kemarahanmu mendidih, Wangsa. Dendam itu sudah mendarah daging di dalam nadimu, tetapi, jika kau bergerak gegabah malam ini, bukan hanya nyawamu yang melayang. Seluruh rahasia yang disimpan ayahmu di dalam kitab kuno itu akan jatuh ke tangan orang yang salah."
"Lantas sampai kapan kita harus menunggu?" potong Wangsa cepat, nada suaranya meninggi dan tertahan. "Menunggu sampai mereka menemukan tempat persembunyian kita? Menunggu sampai naskah kuno itu hancur terbakar bersama seluruh bukti kebenaran?"
"Kita menunggu waktu yang tepat!" Sekar balas menatap tajam, tidak gentar oleh kilatan amarah di mata Wangsa. "Wirajaya tidak sedang melawan kita sendirian. Di belakangnya, ada para petinggi mangkubumi yang ingin membersihkan jejak masa lalu mereka. Salah langkah sedikit saja, kau akan menjadi buronan negara sebelum sempat menginjakkan kaki di pelataran singgasana."
Wangsa terdiam. Dadanya naik turun menahan gemuruh emosi. Ia tahu Sekar benar. Wanita di depannya ini bukan orang sembarangan; Sekar adalah mantan tabib keraton yang memilih membelot demi menegakkan keadilan, orang yang menyelamatkan nyawanya ketika malam eksekusi berdarah itu merenggut keluarganya. Namun, kesabaran Wangsa telah terkikis habis oleh waktu dan penderitaan selama pelarian panjang mereka.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekati pintu kamar. Langkah itu tergesa-gesa, diiringi suara besi bergesekan dengan zirah kulit tanda khas prajurit sandi kerajaan.
Wangsa sigap menyarungkan belatinya. Tangannya meraba gagang pedang panjang yang terselip di balik jubah gelapnya. Sekar mematikan pelita di atas meja dalam sekali embusan, membuat ruangan itu seketika tenggelam dalam gulita pekat. Mereka berdua membeku, menahan napas, mendengarkan setiap decit lantai kayu yang tertekan beban di luar sana.
Tok tok tok.
Tiga ketukan lambat dan berat menggema di daun pintu.
"Siapa di luar?" tanya Sekar dengan suara ditekan agar terdengar tenang, meski jantungnya berdegup kencang.
"Buka pintunya, Tabib Sekar. Ini aku, Ki Ranu," sebuah suara parau terdengar dari balik pintu, terdengar lelah dan terengah-engah.
Wangsa saling berpandangan dengan Sekar. Ki Ranu adalah salah satu telik sandi tua yang masih loyal kepada mendiang ayah Wangsa, seorang pria tua yang jarang sekali datang langsung ke tempat persembunyian kecuali ada marabahaya besar yang mengancam nyawa mereka.
Sekar segera melangkah dan membuka kunci gerendel pintu. Begitu daun pintu terbuka selebar bahu, Ki Ranu langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Wajah pria tua itu pucat pasi, peluh bercucuran di dahinya, dan pakaiannya basah oleh embun malam atau mungkin darah.
"Ada apa, Ki Ranu? Kenapa kau datang kemari dengan cara seperti ini?" desak Sekar sambil buru-buru menutup dan mengunci kembali pintu kamar.
Ki Ranu bersandar pada dinding, mengatur napasnya yang tersengal-sengal sebelum berbicara. "Kita dalam bahaya besar. Wirajaya telah menemukan salinan naskah kuno yang selama ini kita cari, dan dia tahu bahwa kalian berdua berada di ibukota."
Mata Wangsa membelalak lebar. "Bagaimana mungkin? Bukankah naskah itu disembunyikan di reruntuhan candi tua di lereng gunung?"
"Seseorang telah mengkhianati kita dari dalam," jawab Ki Ranu lirih, matanya menatap tajam ke arah Wangsa. "Pasukan pengawal khusus istana kini tengah bergerak menuju ke wilayah ini. Mereka membawa titah langsung dari raja untuk menangkap hidup atau mati siapapun yang mencoba membongkar konspirasi persetujuan dagang gelap dengan kerajaan seberang."
Suasana di dalam kamar mendadak terasa mencekam. Udara malam yang dingin seolah membekukan darah di pembuluh nadi mereka. Belum sempat Wangsa mencerna informasi mengejutkan itu, sebuah suara gemerincing logam dalam jumlah besar terdengar dari kejauhan, disusul oleh teriakan komando yang memecah keheningan malam di lorong-lorong pemukiman.
"Mereka sudah datang," ucap Sekar dengan suara bergetar pelan, dan tekad di matanya tidak luntur sedikit pun.
Wangsa menarik napas dalam-dalam. Segala keraguan di hatinya seketika sirna, digantikan oleh ketenangan dingin seorang pemburu yang siap menghadapi mangsanya. Ia mencabut pedangnya dari sarung, bilah besi itu memantulkan secercah cahaya bulan yang lolos melalui celah jendela.
"Biar kulihat seberapa hebat prajurit Wirajaya yang hendak merenggut nyawa kita," geram Wangsa pelan, melangkah mantap menuju pintu depan.
"Tunggu, Wangsa!" Sekar mencekal lengan pemuda itu. "Jangan bertindak bodoh. Kita harus keluar lewat jalan rahasia di bawah lantai."
Wangsa menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan. "Jalan rahasia hanya untuk pengecut, Sekar. Malam ini, aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa darah patih yang mereka tumpahkan tidak akan pernah hilang begitu saja dari muka bumi."