


oleh Dina0505 · 63 Bab
Maisaroh, adalah gadis lulusan SMA dengan penampilan sederhana asal Rawa Rontek. Nekat bekerja ke luar negeri, demi mengubah perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Diiming-imingi kerja dengan gaji besar di negeri orang, tetapi malah terjebak dengan mafia perdagangan manusia. Saroh dengan segenap jiwa raganya mati-matian menyelamatkan diri dan teman-temannya. Lantas, bagaimana nasib Saroh dan teman-temannya? Yuk, simak perjuangan Saroh dan teman-temannya untuk bisa melepaskan diri dari kejaran para mafia.
Udara pagi di Desa Rawa Rontek terasa segar, meskipun aroma tanah basah dan bau pupuk kandang sesekali menyusup dari ladang belakang rumah.
Rumah kayu itu berdiri sederhana, dengan dinding anyaman bambu yang mulai lapuk dimakan usia. Di sudut dapur yang hanya disekat tirai goni, asap mengepul dari tungku tanah liat, di mana Jumiati tengah membalik tempe goreng dengan tangan terlatih.
"Roh, bangunin adikmu, ya. Jangan lupa bantu Ibu bungkus nasi kuningnya," panggil Jumiati sambil mengipas api.
Saroh muncul dari kamar, rambutnya masih berantakan dan mata setengah terbuka. Dengan baju daster lusuh warna hijau daun, ia melangkah pelan.
"Iya, Bu." Suaranya serak baru bangun. Ia berjalan ke kamar adiknya yang masih terlelap.
Tak lama, suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Jumiati menyeka keringat di kening dengan ujung kerudung. Ia melongok ke luar, melihat sosok perempuan dengan setelan blouse batik dan rok span turun dari motor bebek.
"Assalamualaikum!" sapanya ceria.
"Waalaikumsalam. Eh, Bu Safitri. Masuk, Bu." Jumiati buru-buru menyambut, membetulkan kerudungnya yang miring. "Maaf rumahnya berantakan."
"Namanya juga rumah, Bu Jum. Kalau rapi terus, saya malah curiga nggak ada orangnya," canda Bu Safitri sambil tersenyum. Ia duduk di kursi bambu yang mulai goyah. Matanya menyapu ruangan, melihat sarapan yang masih setengah dibungkus.
"Ada perlu apa, Bu?" tanya Jumiati, setengah gugup.
Safitri menyandarkan tubuhnya, menata tas kecil di pangkuannya. "Saya langsung ke maksud aja, ya, Bu. Saya ada tawaran kerja buat Saroh. Di luar negeri."
Jumiati terdiam. Suara kayu di tungku berderak, dan hanya itu yang terdengar selama beberapa detik.
"Kerja?" gumam Jumiati, mencoba mencerna.
Safitri mengangguk, matanya menyipit seolah tengah menyusun strategi. "Iya, Bu. Saya lagi butuh satu orang lagi buat diberangkatin bulan depan. Dan saya kepikiran Saroh. Anak itu rajin, kalem, nggak neko-neko. Cocok."
Jumiati menelan ludah. "Luar negeri itu jauh, Bu."
Safitri terkekeh pelan. "Memang jauh, Bu, tapi rezekinya juga jauh lebih besar. Gajinya bisa dua juta per minggu, bahkan lebih kalau kerjanya bagus. Daripada cuma bantu jualan keliling, pulangnya cuma dapat lima belas ribu."
Hening lagi. Jumiati menunduk, memainkan ujung sarungnya yang mulai usang. "Saya ... saya nggak tahu, Bu. Ini bukan keputusan mudah. Saroh itu anak pertama. Kalau dia pergi, siapa yang bantu saya?"
Safitri mencondongkan badan, suaranya menurun, lembut. "Justru karena dia anak sulung, Bu. Dia harus punya masa depan. Kita ini hidup miskin terus kalau nggak berani ambil kesempatan."
Mata Jumiati tampak bimbang. "Nanti saya tanya dulu sama anak saya, Bu. Saya nggak bisa mutusin sendiri."
"Boleh. Tapi jangan kelamaan mikir, ya, Bu. Posisinya terbatas. Kalau lewat dari minggu ini, saya harus cari orang lain," kata Safitri, sambil membuka tasnya dan mengeluarkan selembar brosur bergambar perempuan tersenyum dengan latar belakang gedung tinggi.
"Roh, ke sini, Nak!" panggil Jumiati.
Langkah Saroh terdengar dari dalam. Ia muncul dengan rambut dicepol asal-asalan dan wajah masih lelah. Matanya menatap bingung pada tamu yang duduk di ruang tengah.
"Bu Safitri mau bicara sama kamu," kata Jumiati sambil mengusap punggung anaknya.
Safitri tersenyum ramah. "Saroh, kamu sehat, kan?"
Saroh mengangguk pelan. "Alhamdulillah, sehat, Bu."
"Kamu pengen bantu Ibu terus di sini, atau pengen bantu dari jauh tapi hasilnya lebih besar?" tanya Safitri sambil menatap tajam tapi hangat.
Saroh mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Safitri menyodorkan brosur ke Saroh. "Ini. Kerja di luar negeri. Gajinya lumayan. Nanti saya urus semua. Paspor, pelatihan, penginapan, sampai berangkat."
Saroh membaca pelan brosur itu, matanya bergerak dari gambar ke tulisan. Tangannya bergetar sedikit.
"Saya hanya lulusan SMA, Bu. Bahasa Inggris aja nggak bisa. Kerja apa saya di sana?" tanya Saroh polos, dengan nada rendah.
Safitri tersenyum meyakinkan. "Tenang. Nggak harus pinter. Yang penting mau kerja, patuh, dan belajar. Nanti ada pelatihannya. Kamu bakal diajarin semua sebelum berangkat."
Saroh menatap ibunya. Matanya meminta petunjuk, seolah berkata, 'Apa yang harus aku lakukan, Bu?'
Jumiati menarik napas panjang. Suaranya bergetar saat berkata, "Saroh, kamu tahu Ibu nggak pernah maksa kamu. Tapi kalau kamu mau mungkin ini jalan rezekimu."
Saroh menunduk. Lama. Kedua tangannya menggenggam brosur erat-erat, seolah menggenggam takdir yang belum ia mengerti.
"Aku takut, Bu," bisiknya. "Takut nggak bisa. Takut ditipu. Takut nggak pulang-pulang."
Jumiati menahan air mata. Ia meraih tangan anaknya dan menggenggamnya kuat. "Ibu juga takut, Nak, tapi kalau kamu mau coba, Ibu izinkan. Demi masa depanmu, dan masa depan adik-adikmu."
Saroh terdiam, dia memperhatikan wajah sang ibu dan dua adiknya yang masih butuh banyak biaya untuk sekolah. Hatinya, menciut. Ada keinginan untuk membantu sang ibu. Namun, ada juga rasa takut yang menggerogoti hatinya.
Saat umur Saroh dua tahun, sang ayah yang merupakan seorang petani di desa tempat dia tinggal telah meninggal karena sakit. Semenjak itu pula, Ibu menjadi tulang punggung keluarga bekerja siang malam demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Sementara Saroh sebagai anak tertua, membantu Ibu bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah. Saroh bekerja apa saja, mulai dari buruh cuci-gosok, penjual gorengan, ataupun cuci piring di warteg.
Saroh mengangkat wajahnya. "Ibu yakin?"
"Ibu nggak pernah yakin sepenuhnya tentang apa pun sejak Bapak kamu meninggal. Tapi Ibu yakin, kamu anak baik. Dan anak baik akan dijaga Allah, di mana pun dia berada."
Bu Safitri bangkit, mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. "Kalau sudah sepakat, ini formulir pendaftaran. Tanda tangan aja dulu. Kita masih bisa batalkan sebelum tanggal keberangkatan."
"Kasih saya waktu untuk berpikir, Bu. Saya akan pikirkan dulu tawaran Ibu." Saroh mengambil formulir pendaftaran yang diberikan Safitri padanya.
"Jangan terlalu lama berpikir, kesempatan tidak datang dua kali." Safitri mengusap pelan punggung tangan Maisaroh, mencoba meyakinkan gadis belia itu.
Saroh mengangguk pelan. Selanjutnya, Safitri pergi meninggalkan rumah Saroh.
Pada sore hari, Saroh duduk di belakang rumah, memandangi sawah yang mulai menguning. Langit jingga menyelimuti desa, dan suara jangkrik mulai berdendang. Di pangkuannya, masih ada formulir yang diberikan Safitri.
Saroh mengamati formulir itu dan menengadahkan wajah ke langit luas. Mencari jawaban untuk membuat keputusan.
Adik bungsunya, Wulan, datang membawa dua cangkir teh.
"Kak Saroh, beneran mau ke luar negeri?" tanyanya polos.
Saroh tersenyum tipis. "Iya kayaknya begitu, tapi Kakak masih ragu, kalau Kakak pergi, siapa yang jagain Ibu dan kalian?" Saroh mendengkus pelan.
"Kalau memang itu terbaik buat Kakak, kenapa nggak? Aku dengar, kalau bekerja di luar negeri kita digaji besar," ungkap Wulan sembari membayangkan betapa senangnya bekerja di luar negeri.
"Ibu juga mendukung kalau kamu memang udah mantap untuk berangkat jadi TKW." Tiba-tiba Jumiati datang menimbrung.
Saroh tersenyum simpul. Dia berpikir kembali untuk membuat keputusan yang tepat dari tawaran kerja yang diberikan Safitri padanya.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel