Terima kasih sudah mampir di karya terbaru author.
Bantu rate 5, share dan komen, ya ...
_______________
"Ja-jadi yang harus saya rawat adalah suami Ibu?" Suara itu bergetar, halus namun menyimpan keraguan yang nyata. Aku mendengar langkah kakinya yang ragu-ragu di atas lantai marmer ruang tamu kami yang dingin.
Rumi, nama wanita itu, menatap Nita dengan mata yang membelalak kecil. Jika ingatanku tidak meleset—dan memoriku belakangan ini memang sering mengkhianatiku—wanita ini adalah orang ke-13 yang Nita seret ke rumah ini dalam kurun waktu tiga bulan. Sebuah angka sial bagi sebagian orang, tapi bagiku, itu hanyalah angka yang mewakili kegagalan Nita sebagai seorang istri. Atau mungkin, itu adalah angka yang mewakili keberhasilannya dalam membuang tanggung jawab.
Namaku Denis Mahardika. Dahulu, nama itu adalah sinonim dari otoritas diangkasa. Sebagai CEO Mahardika Air, aku terbiasa mengendalikan ratusan jadwal penerbangan, ribuan nyawa penumpang, dan jutaan dolar aset perusahaan. Aku adalah raja di atas awan. Namun kini, raja itu telah jatuh, sayapnya patah dalam kecelakaan mobil tiga bulan lalu yang merenggut fungsi kakiku dan, menurut diagnosis publik, kemampuanku untuk bersuara.
Wanita-wanita sebelumnya selalu paling lama bertahan seminggu. Ada yang mundur karena tidak tahan dengan sifat temperamental-ku, ada yang lari karena merasa aku hanyalah seonggok daging tak berguna yang merepotkan, dan ada pula yang dipecat Nita karena alasan yang tidak pernah jelas. Namun, saat aku memutar kursi roda secara perlahan dari balik pilar besar di ruang tengah, ada sesuatu yang berbeda dari Rumi. Dia tidak memakai riasan tebal seperti perawat-perawat sebelumnya yang lebih mirip model gagal. Rumi mengenakan kemeja katun sederhana yang rapi dan celana kain. Wajahnya polos, namun ada ketegasan di garis rahangnya yang tersembunyi dibalik sikap tunduknya.
Belum sempat aku membedah lebih dalam keanehan apa yang kurasakan, Nita—istri pilihan Mamaku yang ambisius—menyadari kehadiranku. "Iya, itu dia yang di kursi roda."
Nita menjawab pertanyaan Rumi dengan nada datar, seolah sedang menunjuk sebuah furnitur antik yang rusak dan berdebu. Nita melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi klik-klak yang memekakkan telinga dikesunyian rumah ini. Dia mendorong kursi rodaku mendekat ke arah Rumi.
"Mulai hari ini, dia yang akan merawat kamu, Mas!" seru Nita. Dia tidak menatap mataku. Dia menatap layar ponselnya, mungkin sedang membalas pesan dari kolega sosialitanya atau selingkuhannya—aku tidak tahu dan, sejujurnya, aku tidak peduli lagi. "Namanya Rumi. Dia punya sertifikat perawatan lansia dan pasien pasca-trauma. Jadi diatahu apa yang harus dilakukan."
Aku menatap Rumi. Dia cantik dalam cara yang sangat bersahaja. Ada aura keibuan yang terpancar, tetapu ada juga kesedihan yang dalam di matanya. Aku ingin berteriak, "Nita, kenapa tidak kau saja yang merawatku?"
Sepertinya aku akan langsung tahu jawabannya. Nita terlalu berharga untuk mengotori tangannya dengan urusan kotor seperti mengganti pakaianku atau menyuapiku.
"Bapak bisu! Kecelakaan tiga bulan yang lalu telah membuatnya seperti mayat hidup," ungkap Nita tanpa perasaan. Kata-katanya tajam seperti sembilu, sengaja diucapkan di depanku seolah aku tidak punya perasaan atau telinga untuk mendengar. Perawat baru itu, Rumi, mengangguk berkali-kali. Dia tampak sedikit terkesiapmendengar istilah 'mayat hidup', namun dia segera menunduk kembali, menunjukkan kepatuhan yang hampir tidak wajar.
Nita segera mengantarku dan Rumi menuju kamar utama di lantai bawah. Kamar yang kini menjadi penjaraku. Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti kami. Hanya suara roda kursi roda yang berdecit pelan di atas karpet bulu. Nita terus berjalan di depan, langkahnya terburu-buru, seolah dia ingin segera menyelesaikan tugas ini dan pergi keluar mencari udara segar yang tidak berbau obat-obatan. "Mas, namanya Rumi. Aku harap kali ini kamu cocok dirawat sama dia! Aku ada janji makan siang dengan Mama," ucap Nita singkat saat kami sampai di depan pintu kamar. Dia bahkan tidak masuk ke dalam.
Sungguh rasanya aku ingin mengutuk Nita menjadi batu. Kami baru menikah setengah tahun, sebuah pernikahan kontrak yang didasari kepentingan bisnis keluarga. Aku belum pernah menyentuhnya, dan dia pun tampak merasa jijik untuk menyentuhku sejak kecelakaan itu. Tindakan Nita terhadapku sebagai suaminya... apakah pantas?
Di kamar yang hening ini, aku menggerutu dalam hati. Dia memperlakukanku seperti barang cacat yang harus segera disembunyikan dari pandangan tamu.
Ceklek! Pintu kamar ditutup rapat oleh Nita dari luar. Kini, hanya tersisa aku dan wanita bernama Rumi ini di dalam ruangan yang luas tetapi terasa sesak. Aku tidak berniatmembuang waktu. Aku emutar kursi roda, menghadap sepenuhnya ke arah Rumi yang masih berdiri kaku di dekat pintu. Aku menyelisik penampilannya dari ujung kaki sampai kepala. Dia memakai sepatu kets putih yang bersih namun sudah tua. Tangannyasaling bertautan di depan perut, jemarinya tampak gemetar kecil.
Deg! Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Perasaan deja vu yang sangat kuat menghantamku. Aku merasa pernah melihatnya. Bukan di rumah ini, bukan di majalah, tapi di suatu tempat yang sangat krusial dalam hidupku. Tapi di mana?
Memoriku yang eror akibat benturan keras saat kecelakaan itu membuat fragmen-fragmen ingatan berhamburan seperti kepingan puzzle yang hilang.
"Apa kita saling kenal?" tanyaku dengan nada dingin. Suaraku terdengar serak, jarang digunakan selama berminggu-minggu di depan orang-orang rumah.
Rumi tersentak hebat. Bahunya melonjak dan dia hampir menjatuhkan tas kecilyang dibawanya. Matanya membelalak lebar menatapku. "Ba-bapak bisa bicara?"
Aku mendengus sinis. "Ya, saya bisa bicara seperti yang kamu lihat dan dengar. Namun, tidak semua orang tahu saya sudah jauh lebih baik kondisinya. Jika hal ini sampai bocor, terutama pada Nita atau siapa pun di rumah ini, kamu adalah orang pertama yang akan saya cari dan saya pastikan hidupmu tidak akan tenang." Aku sengaja menekan suaraku agar terdengar mengancam. Aku butuh sekutu, atau setidaknya seseorang yang bisa kutekan agar tetap bungkam.
Rumi semakin menundukkan kepala, wajahnya ditekuk sedemikian rupa hingga dagunya menyentuh dada. Dia tampak seperti kura-kura yang ingin bersembunyi di balikcangkangnya. Apakah aku semenyeramkan itu? Ataukah dia menyimpan ketakutan lain?
"Sekarang jawab pertanyaan saya yang tadi!" seruku, tidak sabar dengan kebisuannya.
"Ma-maaf! Yang mana, Pak?" tanyanya tanpa berani mengangkat pandangan. Suaranya hampir tenggelam oleh desis AC di ruangan ini.
"Shit!" Aku mengumpat pelan. "Terlihat cerdas tapi ternyata pelupa! Saya tanya, sebelumnya apakah kita pernah bertemu? Apakah kita sudah saling kenal?"
Rumi terdiam sejenak. Aku memperhatikan ada jeda yang terlalu lama sebelum dia menjawab. Jemarinya meremas kain kemejanya sendiri.
"Ti-tidak, Pak! Saya baru kali pertama bertemu dengan Anda." Jawaban itu keluar begitu cepat setelah jeda yang mencurigakan. Aku tidak puas. Ada sesuatu dalam nada suaranya yang tidak sinkron dengan ekspresinya. Jika ini pertemuan pertama, mengapa dia tampak begitu tertekan? Mengapa sorot matanya seolah-olah melihat hantu saat menatapku tadi? Apakah dia bagian dari 20% ingatan yang hilang itu? Dokter bilang kondisiku sudah 80% pulih, tapi bagian yang hilang itu selalu terasa seperti lubang hitam yang menghisap kewarasanku.
"A-apa tugas pertama saya, Pak?" tanya Rumi polos, mencoba mengalihkan pembicaraan setelah aku terdiam cukup lama memperhatikannya. Aku memutar tuas kursi roda, melajukannya perlahan mendekat ke arahnya. Jarak kami kini hanya tersisa satu meter. Aku bisa mencium aroma sabun mandi bayi yang samar dari tubuhnya—begitu berbeda dengan parfum mahal Nita yang menusuk hidung. Kursi roda aku hentikan tepat di depan kakinya. Aku menengadah, menatapnya dengan pandangan menantang sekaligus menyelidik.
"Mandikan saya!" ucapku pendek.
"A-apa? Mandikan Bapak?"
Satu kata untuk Denis?