Kebahagiaan tampak jelas di wajah sepasang mempelai yang tak henti-hentinya menyambut para tamu yang hadir.
Raka, pria dengan tinggi 170 cm dan sedikit kekar terlihat pada jas pernikahan yang menempel di tubuhnya tampak melekat ketat, mencetak otot lengannya yang kekar. Wajahnya lumayan tampan mencerminkan dia seorang pria dari keluarga berada.
Dia terlalu ramah dengan semua orang, dan tak segan menyambut dengan ciuman pipi kepada para wanita yang mengucapkan selamat kepadanya, seolah menjadi hal yang lumrah.
Dari deretan para tamu yang antri, ada sepasang mata pemuda yang tak senang dengan sikap Raka, dan tatapan prihatin pada wanita cantik dengan gaun warna putih tulang yang berdiri di samping Raka. Namun, wanita itu seolah tak berdaya.
Mempelai wanita itu Anna Rumaisha namanya. Dia terlihat tak terlalu mempedulikan sikap suaminya. Ia menganggap sikap Raka hanya keramahan di momen itu saja.
“Selamat, Anna, semoga berbahagia,” ucap singkat seorang wanita yang tersenyum merentangkan tangannya siap memeluk Anna. Anna seketika membalasnya dengan pelukan hangat.
“Terima kasih, Mbak,” balas Anna. Saat itu dia bertemu pandang sekilas dengan pemuda berusia 18 tahun yang semenjak tadi memperhatikannya, yang berdiri di belakang Mala dan Wijaya. Anna mengacuhkannya dengan kembali berbicara pada sahabatnya itu.
“Kapan datang? Dan tidak akan buru-buru pulang kan?” tanya Anna.
“Kita datang ke sini khusus untukmu, Na, mungkin akan tinggal beberapa hari di sini, sekaligus liburan akhir pekan. Karena aku tidak mau Eldwin sampai bolos sekolah nantinya,” jawab Mala.
“Bolos sekali juga enggak papa kan, Mah?” celetuk pemuda bernama Eldwin. Mala tak membalasnya. Mereka terlalu terburu-buru harus pergi, karena tak enak hati dengan para tamu lain yang masih antri.
Satu jam kemudian Anna sudah terlihat cukup gelisah karena pegal di kakinya, terlalu lama berdiri dengan sepatu hak tinggi. Anna mencoba melepasnya.
“Jangan dilepas di sini, Anna, malu. Kita lepas di kamar saja.” Raka mencegahnya. Dia tanpa memberi aba-aba langsung membopong Anna dan membawanya meninggalkan pelaminan.
“Lepaskan aku, Raka, malu dilihat banyak orang,” tolak Anna.
“Kita sudah menikah kenapa harus malu.” Raka tak mempedulikan ucapan Anna, terus membawanya meninggalkan tempat acara menuju kamar yang telah dipersiapkan pihak hotel.
Pernikahan yang diadakan satu hari di hotel terkenal di Yogyakarta, dan dibuat begitu mewah. Setelah keadaan mulai sepi Anna dan Raka baru berani meninggalkan tempat resepsi untuk beristirahat.
Di koridor hotel mereka berpapasan kembali dengan Mala dan keluarganya saat menuju kamar hotel yang mereka pesan. Mala dan Wijaya hanya senyum-senyum saling pandang melihat keromantisan Anna dan suaminya. Beda dengan Eldwin yang menatap dingin pada sepasang pengantin itu dan berjalan melaluinya begitu saja.
Meskipun berusaha berontak minta dilepaskan, Anna tetap kalah kuat dari Raka, hingga mereka tiba di kamar yang telah dihias indah sebagaimana kamar pengantin.
Anna memandangi ruangan dengan wajah berseri-seri, berjalan ke arah balkon untuk menghirup udara sore menjelang petang itu.
Raka tampak tak sabaran datang langsung memeluk Anna dari belakang dan memberikan sentuhan-sentuhan pada Anna.
“Cukup Raka! Kita lanjutkan nanti, karena aku harus membersihkan diri dan mengganti pakaian ini.” Anna mencoba melepaskan diri.
“Tidak perlu.” Raka menggiring Anna ke tembok. Menatap intens pada bibir Anna.
Situasi itu membuat jantung Anna berdegup kencang. Ketika Raka hampir mendaratkan kecupannya tiba-tiba Anna mendorongnya.
“Tidak sekarang, aku tidak percaya diri dengan tubuh sehabis berkeringat seharian ini. Tunggulah beberapa menit lagi.” Anna berlalu, kembali masuk kamar langsung menuju kamar mandi.
Sebenarnya penolakan Anna barusan karena dia menyadari seseorang di balkon lain melihat ke arah mereka berdua, dan Anna merasa malu hingga menolak keinginan Raka.
Raka berulang Kali memanggil Anna untuk cepat-cepat keluar, membuat Anna menjadi gugup. Gaun pengantin yang sulit untuk dilepaskan membuatnya lebih lama berada di dalam kamar mandi.
Lima belas menit kemudian dia keluar. Raka datang dari balkon langsung duduk di depan meja yang sudah tertata dengan berbagai makanan dan minuman spesial.
“Duduklah, kita makan terlebih dahulu,” ucap Raka. Dia langsung menikmati makanan yang terhidang di hadapannya.
Anna melongo, dia datang dengan terburu-buru dengan perasaan campur aduk karena takut Raka tidak sabaran, dan melihat Raka justru menikmati makanan itu. Anna tak menyinggung hal lainnya. Dia menarik napas lega, lalu duduk di seberang meja di hadapan Raka, setidaknya masih memiliki waktu untuk mempersiapkan hatinya menghadapi malam pertama.
Raka tak banyak bicara, mungkin dia benar-benar lapar hingga menghabiskan makanan di hadapannya. Sementara Anna baru beberapa sendok kemudian mengakhiri dengan meneguk minuman di meja.
“Persiapkan dirimu, aku ke kamar mandi sebentar.” Raka berlalu.
“Iya,” jawab Anna. Mendadak pandangannya menjadi buram dan kepalanya terasa pusing.
***
Anna membuka matanya, menatap ke sekeliling dirinya masih berada di dalam kamar.
‘Ada apa denganku? Apa aku pingsan tadi?’ batin Anna ingin menyentuh kepalanya yang terasa pening, tapi dia terkejut dan baru menyadari tangannya diikat pada sisi ranjang. Anna lebih terkejut lagi saat melihat apa yang tengah Raka lakukan di dalam kamar itu.
Anna memejamkan matanya, menahan sakit. Perbuatan Raka sudah sangat kelewatan dan begitu kejam terhadap dirinya. Anna ingin teriak dan lari, tapi dia tak berdaya. Hampir satu jam Anna menahan sedih dan luka yang tak berdarah malam itu.
‘Apa salahku, Mas? Mengapa kau lakukan ini padaku?’ lirih Anna dengan air mata berlinang.
Raka mendekat, keringat terlihat jelas di wajah pria itu.
“Jangan menangis dan jangan salahkan aku jika melakukan semua ini. Aku seorang pria tak bisa untuk menahannya lebih lama,” bisik pria itu seperti sembilu. Anna hanya menggelengkan kepalanya dan air mata membasahi wajahnya.
“Aku merasa puas hari ini, dan ini untukmu, jika aku membutuhkanmu aku akan datang menemuimu.”
Setelah melempar segepok uang ke tubuh Anna, Raka pergi meninggalkan kamar itu, meninggalkan Anna yang tengah menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Dia tidak rela Raka pergi begitu saja.
Anna ingin mengejarnya, ingin memukulnya sampai Anna menendang meja nakas di sampingnya dengan marah hingga berjatuhan apa yang ada di atasnya, menimbulkan suara yang cukup keras. Anna berharap ada yang datang dan segera melepaskan dirinya.
Beberapa saat kemudian, muncul Eldwin dari balik pintu. Tatapan remaja itu sangat terkejut melihat keadaan Anna.
Anna panik, dia tak berharap pemuda itu yang muncul, tapi dia pun tak bisa mencegah saat pemuda itu masuk dan menghampirinya.
Anna tak bisa menjawab dengan mulut masih tertutup lakban. Dia berharap Eldwin pergi meninggalkan dirinya yang dalam keadaan hanya mengenakan gaun malam cukup tipis.
Eldwin terlihat gugup dan canggung melihat hal itu, dan dia pun lekas tanggap dan buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh Anna. Anna baru bisa bernapas lega setelah lakban dilepaskan.
Wajah Eldwin begitu dekat saat melepaskan ikatan kedua tangan Anna. Aroma parfum pemuda itu pun tercium jelas di hidung Anna. Situasi itu sempat membuat keduanya gugup saling memalingkan wajah.
“Aku akan meminta bantuan,” ucap Eldwin. Pada saat itu datang Mala dan Wijaya masuk kamar sebelum Eldwin beranjak.
“Anna, Eldwin, apa yang terjadi?”
Pertanyaan Mala disertai rasa kaget. Eldwin dan Anna tak mampu menjawab pertanyaan itu. Eldwin sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, sementara Anna tidak tahu bagaimana memberikan penjelasan.
Anna hanya bisa menangis. Mala menghampirinya untuk menenangkan. Melihat tatapan curiga ayah dan ibunya, Eldwin panik dan kebingungan, kedua orang tuanya pasti menyangka dirinya telah berbuat sesuatu pada Anna.
“Aku tidak melakukan apa pun, Mah. Aku datang saat melihat suara keras dari ruangan ini saat...” Eldwin berusaha memberi penjelasan.
“Aku hanya bertanya dan bukan menuduhmu. Sekarang kalian berdua keluar, biar mama yang mengurus Anna!” perintah Mala pada suami dan putranya.
Kejadian malam itu hanya kepada Mala, Anna menceritakannya. Dia meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya dari Eldwin dan Wijaya.