


oleh RDbanjar · 46 Bab
Bangun dari koma panjang, Neiva Renjani, seorang yatim piatu, menemukan kemampuan supranaturalnya kembali. Tinggal bersama bibinya, ia dihantui kejadian-kejadian aneh. Mulai dari melawan pocong kiriman hingga memecahkan misteri kematian janggal, Neiva tak pernah sendiri. Sesosok kuntilanak kesepian menjadi teman dan sekutunya dalam menghadapi teror. Namun, ancaman baru muncul: kuntilanak merah yang mengerikan mengintai, meninggalkan jejak penyakit dan kematian. Neiva dan temannya harus berpacu melawan waktu untuk mengungkap rahasia di balik teror tersebut sebelum lebih banyak korban berjatuhan. Bisakah mereka menghentikan kuntilanak merah sebelum semuanya terlambat?
Di sebuah rumah sakit kota, seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun tengah terbaring koma selama hampir satu tahun, setelah mengalami kecelakaan hebat yang menewaskan kedua orang tuanya.
Di ruangan serba putih biru itu, yang terdengar hanya suara alat monitor jantung saja. Beberapa jam sekali, para perawat akan memeriksa keadaannya.
Seperti halnya saat ini, di mana seorang perawat datang menjenguk untuk mengganti cairan infus sekaligus mengecek detak jantungnya.
Saat ia tengah memeriksa, kedua mata perempuan yang koma itu pun terbuka dengan perlahan. Melihat itu, si perawat pun segera memanggil dokter. Sesampainya di tempat, dokter itu pun langsung memeriksa keadaan perempuan tersebut.
"Kamu ingat, siapa nama kamu?" tanya sang dokter itu.
Dengan keadaan masih lemah, perempuan itu mengangguk. "Neiva, Neiva Renjani."
Dokter itu pun mengangguk tersenyum, lalu memerintahkan sang perawat untuk menelepon keluarga Neiva selagi dia masih memeriksa.
"Dok," panggil Neiva pelan.
"Ya."
"Sudah berapa lama saya di sini?"
"Kamu sudah melewati masa koma hampir satu tahun," papar dokter itu yang membuat Neiva sangat terkejut.
"Apa, Dok? Satu tahun?" sang Dokter pun mengangguk.
"Lalu, orang tua saya ... bagaimana dengan orang tua saya?" desak Neiva yang membuat dokter itu tersenyum.
"Nanti kamu tanya keluarga kamu saja, ya. Soalnya saya masih ada urusan."
Setelah mengatakan hal tersebut, dokter itu pun keluar ruangan dan meninggalkan Neiva yang masih lemah dengan pertanyaan yang masih belum terjawab.
Tidak adanya teman, Neiva pun terdiam melamun sendiri mengingat insiden kecelakaan yang telah membuatnya mengalami koma. Serpihan-serpihan ingatan itu ia coba kumpulkan lagi, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi sesaat sebelum kecelakaan. Namun, hal itu justru membuat kepalanya menjadi sakit berdenging.
Lalu tidak lama pintu pun terbuka, memperlihatkan sosok Bibi Marni yang datang bersama anak-anaknya. Melihat Neiva yang terduduk memandangnya sayu, sang bibi pun lantas menghampiri dan langsung memeluk erat.
"Syukur kamu udah sadar, Neiva," ucap Bi Marni dengan isakan kecilnya, sedangkan Neiva hanya tersenyum tipis untuk menenangkan bibinya tersebut.
"Iya, Bi. Syukurlah Tuhan masih memberiku kesempatan hidup. Tapi, Bi. Ayah sama ibuku bagaimana? Apakah mereka juga selamat?" lontar Neiva, yang membuat wajah Bibi Marni menjadi lesu. Dengan tersenyum lirih, wanita itu menggelengkan kepalanya. Neiva yang mengerti akan maksud bibinya pun seketika menjadi murung.
"Ayahmu meninggal di tempat, dan sebulan kemudian ibumu menyusul," ungkap Bibi Marni lirih, sembari mengusap-usap lengan dan pundak perempuan Neiva yang tidak bisa menahan air matanya yang saat itu juga lolos dari pertahanannya.
"Kak Neiva jangan sedih, walau enggak ada Paman sama Bibi, tapi seenggaknya masih ada kami yang mau menerima Kakak. Benarkan, Bu?" cetus Mila, anak pertama Bibi Marni yang berdiri di sisi lain sebelah ranjang.
"Iya, nanti Reza temani Kakak main deh kalau lagi bosan," timpal Reza, adiknya Mila yang berusia tujuh tahun.
Mendapat sokongan penyemangat dari keluarga bibinya, isakan Neiva pun berangsur-angsur mereda.
Meskipun terlihat masih berduka, ia tetap berusaha untuk tersenyum dan mencoba menerima semua keadaannya saat ini.
Siang pun berganti sore, sebelum Bibi Marni dan anak-anaknya pulang, ia menyempatkan dulu datang menemui sang dokter. Sedangkan Mila dan Reza tetap berada di ruangan Neiva.
"Mil," panggil Neiva, Mila pun menoleh.
"Ada apa, Kak?"
"Itu, si Lila kenapa diam saja? Wajahnya juga pucat, apakah dia sedang sakit?" tanya Neiva yang membuat Mila tertegun.
"Li-Lila?" tanya balik Mila.
"Iya."
"Di-di mana?"
Neiva pun menunjuk di tempat Reza sedang tertidur di kursi. "Itu, duduk di sebelah Reza. Sudah dari tadi aku perhatikan, dia hanya duduk diam tidak bergeming."
Mendengar itu, Mila pun menolehkan kepalanya ke tempat yang ditunjuk. Terlihat badannya yang menegang serta raut wajah yang kebingungan, karena ia tidak melihat apa-apa.
"Kakak bisa lihat, Lila?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Iya, itu dia duduk di sana," ucapannya terhenti saat ia menyadari sesuatu, segera ia menoleh ke arah Mila yang berwajah sendu.
"Mil, apa maksud kamu kalau aku bisa melihat Lila? Memangnya kamu enggak lihat dia?"
Dengan lirih, Mila menggeleng. "Lila juga udah meninggal, Kak. Lusa acara empat puluh harinya dia," terangnya yang membuat Neiva kembali syok.
"A-apa?! Lalu, itu?" gumamnya yang kembali melihat ke tempat Lila, dan sosok gadis itu tersenyum hambar padanya.
"Mila, kalian lagi tidak bercanda, 'kan?"
"Untuk apa aku bercanda tentang kematian, Kak. Tapi kenyataannya, Lila memang sudah enggak ada," pungkas Mila yang semakin membuat Neiva kebingungan dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Apa mungkin, mata batinku kembali terbuka?"
***
Malam pun tiba, kepulangan Bibi Marni dan keluarganya membuat ruangan istirahat Neiva kembali sepi.
Tidak ada teman mengobrol, membuatnya terdiam sendiri. Ingin tidur tapi tidak bisa karena belum mengantuk. Lalu, ia teringat akan sosok Lila yang ia lihat tadi siang.
Neiva sungguh tidak menyangka jika adik sepupunya itu telah berpulang duluan. Dimatanya, sosok Lila sangat nyata seperti manusia sehingga ia tidak bisa membedakannya.
"Apa benar, mata batinku kembali terbuka? Kalau benar, kenapa aku tidak melihat sosok lainnya?"
Baru juga mengatakan hal itu, suara tangisan yang pilu pun terdengar di telinganya. Neiva mencoba memastikan, apakah itu sungguh suara tangisan manusia atau bukan.
Semakin lama suara tangisan itu mendekat, diiringi dengan lampu yang depan ruangannya yang mati menyala sendiri.
"Hem ... mulut masin, mulut masin," gerutunya sembari menepuk bibirnya pelan.
"Kenapa mulutnya dipukul?" tanya sesosok kuntilanak berambut putih, kulit pucat, bola mata berwarna hitam, dua gigi taring kecil yang berdarah, berdiri tepat di sampingnya.
Neiva yang terkejut akan kemunculannya yang tiba-tiba, dengan spontan langsung memukul hantu tersebut hingga menghilang.
Membuat Neiva langsung melihat sekeliling dengan jantung berdebar-debar, memastikan apakah hantu itu sungguh sudah hilang atau belum. Namun, sesaat kemudian ia kembali muncul lagi sembari memegang pipinya.
"Bagaimana kamu bisa memukulku?" tanya hantu kuntilanak itu dengan suara seraknya.
"Mana kutahu. Aku cuma refleks karena kamu mengagetkanku," jawab Neiva dengan jantung yang berdebar cukup kuat.
Kuntilanak itu pun menatapnya datar dengan kedua bola matanya yang hitam pekat, melayang mendekat berdiri tepat di atas kaki Neiva yang saat itu berada dalam posisi duduk.
Kemudian hantu itu membungkukkan badannya, hingga wajah mereka saling berhadapan. Debaran Neiva pun semakin kencang, bahkan keringat sebesar jagung telah membasahi kepalanya.
"Pantas saja makhluk di luar sana ingin memasuki tempat ini, ternyata auramu sangat berbeda dengan manusia yang lain, hihihi. Bertemanlah denganku, maka aku akan melindungimu dari hal buruk."

RDbanjar
4 Pengikut · 1 Novel