Sore itu, rumah itu terlihat lengang. Udara yang masuk dari jendela terbuka membuat gorden bergoyang pelan, seakan menyambut langkah Jill yang baru saja memasuki teras rumah Heonji. Pintu depan terbuka lebar, padahal ia tahu betul Heonji tidak pernah ceroboh meninggalkan pintu tanpa ditutup.
Hatinya sempat diliputi rasa ragu. "Kenapa pintunya terbuka lebar begini? Bukannya jam segini orang tuanya Heonji pada kerja, ya?" pikirnya. Namun, rasa penasaran lebih kuat daripada rasa takut. Ia melangkah masuk perlahan, tumit sepatunya beradu dengan lantai keramik, menimbulkan suara hentakan kecil yang terdengar jelas di ruangan sepi itu.
Matanya langsung tertuju pada sebuah benda pipih di atas meja ruang tamu, sebuah ponsel. Jill mengenali betul ponsel itu. Ponsel yang selalu menempel di tangan Heonji, bahkan lebih melekat daripada dirinya sebagai kekasih.
Dengan tangan gemetar, Jill mengambil benda itu. Ada keraguan di benaknya. “Membuka atau tidak?”
Seolah alam semesta merestui rasa penasarannya, layar ponsel itu menyala tanpa terkunci. Seketika, layar menampilkan deretan notifikasi pesan, dan di sanalah, matanya tertuju pada sebuah pesan terbaru yang menyala terang.
"Sayang, aku kangen. Malam ini ketemu lagi, ya?"
Nama kontak itu adalah Hewoon.
Jill tercekat. Dada seakan diremas sesuatu yang kasar. Kata ‘Sayang' itu seperti pisau yang menancap dalam, mengiris perlahan harga dirinya sebagai kekasih resmi.
"Siapa Hewoon?" gumamnya lirih.
Jari-jarinya bergetar, membuka chat yang lebih dalam. Deretan percakapan terpampang jelas, penuh rayuan, emotikon hati, dan janji temu. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, dan yang paling menyakitkan lagi, Heonji membalas dengan nada yang sama. Mesra, manja, penuh janji seakan Jill tak pernah ada di hidupnya.
Air mata Jill menggenang, tapi ia berusaha menahannya. "Ini beneran? Aku nggak mimpi, kan?" batinnya bergetar.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Heonji keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia terkejut mendapati Jill sudah ada di ruang tamu.
"Eh, kamu sudah datang? Kok, nggak ngabarin dulu?" tanyanya santai, tapi detik berikutnya, ekspresinya berubah saat matanya jatuh pada ponsel di tangan Jill.
"Sayang.” Suara Jill pecah, gemetar. "Hewoon itu siapa? Kok kamu chat dengan kata ‘Sayang'? Terus, kamu pernah ketemu sama dia juga, ya?"
Heonji spontan menegang. Seketika wajahnya memucat, tapi dengan cepat ia menutupi kegugupannya dengan nada keras.
"Kamu kenapa, sih? Kalau ke sini pasti ribut soal ponsel terus. Kamu tuh lancang banget buka-buka ponsel orang!" bentaknya, berusaha menguasai keadaan.
Jill menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, sorotnya tajam. "Lho, aku kan pacar kamu, Yang. Wajar kan kalau aku ngecek ponsel kamu, atau justru kamu marah karena ketahuan chatting sama cewek lain?"
Heonji menghela napas kasar, meletakkan handuk di kursi. "Jill, kamu itu keterlaluan. Privasi orang harusnya kamu hargai. Aku capek, kalau terus-terusan dicurigai. Itu cuma teman chat, kok bisa langsung ribut kayak gini?"
"Teman chat?" Jill menahan tawanya yang getir.
"Teman chat apa coba yang manggil Sayang pakai emotikon love, ngajak ketemuan berkali-kali? Jangan bodohi aku, Nji. Aku masih waras!"
Suasana ruangan mendadak berat. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar, berdentang seperti memecah keheningan yang mencekam.
Heonji mencoba mendekat, wajahnya dipaksa tenang, meski matanya berkedip gelisah. "Sayang, dengar aku dulu. Kamu terburu-buru ngambil kesimpulan. Kamu kan tahu aku nggak mungkin macam-macam."
Jill mundur selangkah, menjauh. "Nggak mungkin macam-macam? Bukti ada di depan mata aku, Nji! Chat itu jelas! Apa kamu mau bilang kalau aku salah baca?"
"Ya ampun, Jill!" Heonji mulai meninggikan suara. "Kamu itu benar-benar ribet. Makanya aku malas cerita apa-apa sama kamu. Kamu gampang banget emosi!"
Air mata Jill akhirnya jatuh juga. Tangannya masih menggenggam ponsel itu erat, seakan benda itu adalah saksi pengkhianatan yang nyata. "Aku ini pacar kamu, Nji. Aku yang selalu ada buat kamu, aku yang percaya sama kamu, tapi kenapa, kenapa harus ada Hewoon di antara kita?"
Keheningan sejenak, lalu Heonji mengalihkan pandangan. Bibirnya bergetar. Namun, tak ada kata yang keluar.
Dalam hati kecilnya, Jill masih berharap jawaban jujur. Harapan tipis bahwa semua ini hanya salah paham. Namun, tatapan menghindar dari Heonji justru membunuh sisa-sisa keyakinan itu.
Suasana makin menegang, udara di ruangan seperti ikut menekan dada Jill.
"Heonji." Suaranya nyaris berbisik. "Kalau kamu sungguh cinta sama aku, kenapa kamu tega bikin aku seolah nggak ada artinya?”
Heonji terdiam. Wajahnya sulit dibaca. Antara rasa bersalah dan ego yang tak ingin runtuh.
Lalu dengan suara dingin, ia berucap, "Aku nggak suka kamu jadi kayak gini, Jill. Kalau kamu terus nuduh aku tanpa bukti yang jelas, lebih baik kamu jangan datang lagi ke rumah ini."
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar telinga Jill.
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pandangannya kabur karena air mata. Tangan yang menggenggam ponsel itu akhirnya melemas. Ia meletakkannya kembali ke meja dengan suara gebrakan kecil.
Jill menatapnya sekali lagi, tatapan penuh luka. "Bukti? Chat mesra itu apa kalau bukan bukti? Nji, kamu bukan cuma nyakitin aku. Kamu udah rusak rasa percaya yang selama ini aku kasih tanpa pamrih."
Langkah Jill perlahan bergerak menuju pintu. Hatinya remuk, tubuhnya gemetar. Namun, gengsinya memaksanya tetap tegak, walau air matanya deras mengalir.
Sementara Heonji berdiri mematung di ruang tamu, terjebak di antara rasa bersalah dan keangkuhan yang ia pelihara.
***
Udara malam menusuk kulit ketika Jill akhirnya tiba di rumahnya. Rumah sederhana itu berdiri di pinggir jalan kecil, bercat putih. Namun, mulai kusam dimakan waktu. Di dalamnya, hanya ada Jill dan kakak perempuannya, Myeong, yang bekerja di sebuah perusahaan asing.
Hidup mereka jauh dari kata mudah sejak kedua orang tua meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu. Sejak itu, dua bersaudara itu terpaksa berdiri di atas kaki sendiri, saling menopang satu sama lain.
Myeong, dengan pendidikan tinggi dan bahasa asing yang lancar, berhasil mendapat pekerjaan tetap. Sementara Jill, yang hanya lulusan SMA, bekerja seadanya di sebuah toko.
Penghasilannya tidak seberapa, tapi cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Myeong selalu berusaha menutupi kekurangan itu dengan gajinya, meski sering ia menasihati Jill untuk tak terlalu bergantung pada siapa pun, terutama lelaki.
Jill justru menggantungkan hatinya pada Heonji. Hubungan itu sudah berjalan cukup lama hampir tiga tahun, dengan kebiasaan yang nyaris menjadi rutinitas.
Setiap hari Minggu, Jill pasti menyempatkan diri berkunjung ke rumah Heonji, karena hanya hari itu ia libur kerja. Sebagai gantinya, minggu berikutnya giliran Heonji yang datang ke rumah Jill. Begitulah cara mereka menjaga hubungan, sesederhana itu.
Sore ini, segalanya hancur. Jill membuka pintu kamarnya perlahan, masuk tanpa suara. Ia melemparkan tas kecilnya ke lantai sebelum tubuhnya jatuh terhempas di atas kasur. Tangisnya pecah seketika, tak mampu ia bendung lagi. Bantal yang dipeluknya basah dalam hitungan menit.
"Kamu jahat, Nji." Suaranya parau, tersendat-sendat di sela isak tangis. "Ternyata selama ini kamu menduakan aku."
Rasa sesak mencekik dadanya. Perasaan dikhianati itu begitu nyata, menusuk hingga ke tulang, dan malam itu, Jill hanya bisa menangis sendirian, merasakan bagaimana dunia seolah runtuh di sekelilingnya.