"Tidak bisa! Kau tidak boleh melamar sebagai satpam!"
"Benar! Wajahmu sangat cantik! Seharusnya kau melamar sebagai trainee saja di sini!"
Dua orang satpam berseragam biru gelap berdiri tegak di depan pintu masuk sebuah gedung tinggi nan megah, di mana tulisan TLM Entertainment terpampang mencolok di atas lobi kaca. Keduanya menatap heran, nyaris bingung, pada seorang gadis yang berdiri di hadapan mereka.
Gadis itu, muda, menawan, berambut panjang kecokelatan yang diikat setengah acak, tampak mencolok bukan karena kecantikannya semata, melainkan karena keberanian dan keteguhan yang terpancar dari sorot matanya. Di tangannya tergenggam erat sebuah map cokelat yang sudah sedikit kusut di sudut-sudutnya.
“Memangnya kenapa?” tanyanya, suaranya datar dan tajam. “Di lowongan pekerjaan juga tidak ada batasan gender. Kenapa saya tidak boleh melamar sebagai satpam? Saya juga juara bela diri tingkat sekolah dan kabupaten.” Ia mengangkat map cokelat itu dengan percaya diri. “Ada di dalam sini semua sertifikat saya! Saya akan tunjukkan jika tidak percaya!”
Dengan cepat, gadis itu mulai membuka tali kancing mapnya, jari-jarinya cekatan. Namun, sedikit gemetar karena emosi yang ditahan.
“Maksud kami bukan seperti itu, Nona. Kami bukan meragukan keahlianmu. Maksud kami, terlalu sayang jika wanita cantik seperti dirimu menjadi satpam.”
“Benar! Kenapa tidak mencoba mendaftar sebagai trainee saja? Nona masih muda. Siapa tahu bisa debut menjadi idol.”
Gadis itu menyipitkan mata, napasnya mulai memburu. Ia menutup mapnya dengan keras, lalu mendesah kasar.
“Omong kosong! Aku memakai heels saja tidak bisa! Memakai rok saja malas. Menjadi idol? Hanya mimpi!” katanya, geram. Ia menyodok-nyodok isi mapnya dan menarik selembar kertas tanpa memperhatikan isinya. “Eh? Bukan yang ini! Tapi—”
Ia segera mengganti kertas itu dengan yang lain, lalu menyodorkan lembar sertifikat di hadapan kedua satpam yang kini terlihat kikuk.
“Lihat! Kalau kalian tidak mengizinkanku mendaftar menjadi satpam, bagaimana jika aku mendaftar sebagai teknisi kelistrikan saja di sini? Masih ada lowongan untuk teknisi kelistrikan tidak?”
Salah satu satpam, yang lebih tua dan tampak berwibawa, menggeleng pelan. “Maaf, Nona. Sayangnya posisi yang tersedia hanya untuk satpam dan trainee idol.”
Nada tenang itu hanya menyulut api di dalam dada gadis tersebut. Ia mencengkeram mapnya makin erat.
“Lagi pula, itu salah Nona sendiri!” timpal satpam yang lebih muda, setengah tertawa. Namun, mencoba sopan. “Kenapa Nona malah memiliki keterampilan seperti seorang laki-laki. Dengan wajah cantik seperti itu, tidak ada yang akan membiarkan Nona menjalani tugas berat seperti menjadi satpam atau teknisi.”
Gadis itu terpaku. Matanya melebar sejenak, lalu mengecil seiring amarahnya menggelegak. Suasana menjadi sunyi, hanya suara kendaraan dari jalan raya yang mengisi celah-celah keheningan yang mencekam.
“Kalian semua benar!” teriaknya akhirnya, lantang, penuh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. “Dunia tidak adil! Dunia meresahkan! Kenapa semuanya harus berdasarkan gender? Menjadi teknisi, diutamakan laki-laki. Menjadi satpam juga diutamakan laki-laki. Padahal chef juga kebanyakan laki-laki. Jadi apa yang bisa perempuan lakukan?”
Ia melangkah maju setengah meter, menatap tajam kedua pria itu, nyaris membuat mereka mundur selangkah.
“Perempuan yang tidak bisa bersikap anggun seperti diriku harus melamar kerja sebagai apa?!”
"Ada apa ini, ribut-ribut?" tanya seorang pria dengan suara datar tapi tegas. Langkah kakinya terdengar mantap menyusuri lantai marmer lobi. Penampilannya begitu mencolok. Celana panjang biru tua membalut kakinya yang jenjang dan proporsional, dengan setiap langkah terasa seperti irama yang diputar dalam slow motion.
Satpam yang tadi sempat berbicara keras kini menegang seketika. Keduanya sontak berdiri tegak dan menundukkan kepala dalam-dalam.
"Tu-Tuan Kaelen!" Salah satu dari mereka berbisik penuh rasa segan.
Kamila, yang masih memegang map cokelatnya, memutar tubuh ke arah sumber suara. Suasana yang awalnya panas karena adu argumen, kini berubah hening oleh kehadiran pria itu. Seolah udara pun ikut berhenti bergerak.
Tatapan mereka bertemu. Mata cokelat Kamila menatap langsung ke mata biru laut milik pria itu. Pandangan mereka terikat dalam sekejap yang terasa begitu panjang. Pria itu memandangi Kamila seolah sedang melihat bayangan dari masa yang telah lama tenggelam.
Rambutnya rapi, belah tengah, bergelombang lembut dengan warna biru laut yang anehnya terasa alami di bawah cahaya lampu lobi. Matanya lebih mirip pantulan cahaya dari permukaan air laut yang tenang, dalam, berkilau, dan menyimpan rahasia.
Bibirnya yang merah alami bergerak pelan, gumaman lirih lolos begitu saja. “Ka–Kamila."
Kamila mengangkat satu alis, bingung. “Ya, dengan saya di sini. Kamila Renata Wiranegara. Ada apa? Apa kita saling mengenal?”
Pria itu terlihat terpukul sejenak, seperti jantungnya mendadak kehilangan irama. Ia melangkah sedikit lebih dekat, menyisakan jarak yang cukup untuk menandakan urgensi, tapi tidak melewati batas pribadi.
"I-ini aku," katanya akhirnya, suara yang dalam. Namun, sedikit gemetar. "Kaelen Nathanael Rafaelino. Kau masih ingat denganku? Kita dulu sekolah di sekolah menengah kejuruan yang sama."
Kamila membelalakkan mata. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menatap pria di hadapannya seperti sedang melihat penampakan dari masa silam.
"Kau adalah anak ibu kantin penjual gorengan di sekolah itu?" tanyanya polos.
Wajah tampan pria itu berubah masam seketika. "Aku mantanmu, bodoh!" jawab Kaelen dengan nada kesal yang dibuat setenang mungkin.
"Oh! Starboy sekolah." Kamila mengangguk penuh keyakinan, seperti baru berhasil memecahkan teka-teki yang rumit.
"Apa?" Kaelen berkedip. "Starboy?"