Alena sudah berdiri di depan gedung itu hampir sepuluh menit, bukan karena tidak tahu harus masuk lewat mana, melainkan karena ia sedang mengumpulkan keberanian. Gedung Wijaya Group berdiri megah di hadapannya, menjulang belasan lantai dengan dinding kaca yang memantulkan langit pagi. Orang-orang keluar masuk melalui pintu utama dengan langkah terburu-buru, sebagian mengenakan jas dan membawa laptop atau map.
Alena menatap pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih, rok hitam, dan sepatu yang mulai membuat tumitnya sakit sejak turun dari bus. Ia menarik napas panjang.
"Ini cuma hari pertama kerja."
Ia mengatakannya pelan kepada dirinya sendiri. "Masuk, kerja, pulang. Sesederhana itu."
Setidaknya, begitulah yang ia pikirkan. Ia belum tahu bahwa beberapa menit lagi hidupnya akan kembali bersinggungan dengan seseorang yang selama lima tahun terakhir berusaha ia lupakan.
Alena akhirnya melangkah masuk. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya ketika ia berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi."
Seorang perempuan di balik meja mengangkat wajah. "Ya, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Alena Putri. Hari ini saya mulai bekerja sebagai staf administrasi di divisi keuangan."
Resepsionis memeriksa layar komputer sebelum mengangguk. "Alena Putri. Benar. Anda diminta langsung ke lantai dua puluh satu."
Alena mengangguk. "Terima kasih."
Ia berbalik menuju lift, tetapi resepsionis kembali memanggilnya.
"Mbak Alena."
Alena menoleh.
"Setelah sampai lantai dua puluh satu, langsung ke ruang sekretaris utama. Katanya ada pengarahan dari pihak manajemen."
"Baik."
Alena tersenyum kecil lalu melanjutkan langkah. Ia tidak terlalu memikirkan perkataan itu. Mungkin hanya prosedur biasa untuk karyawan baru.
Setelah beberapa bulan hidup dari pekerjaan serabutan, mendapatkan posisi tetap di perusahaan sebesar Wijaya Group adalah sesuatu yang patut disyukuri. Ia membutuhkan pekerjaan ini. Ada tagihan yang harus dibayar dan kehidupan yang selama beberapa tahun terakhir ia bangun perlahan-lahan setelah meninggalkan masa lalu.
Masa lalu.
Pikiran itu membuat Alena tanpa sadar menyentuh jari manisnya. Tidak ada cincin di sana.
Sudah lima tahun.
"Ding."
Pintu lift terbuka. Alena segera keluar dan bertanya kepada seorang sekretaris mengenai ruangan yang harus ditujunya.
"Ruang Pak Darren ada di ujung koridor. Kalau Anda diminta menemui sekretaris utama, masuk saja ke ruangan sebelah kiri."
"Terima kasih."
Alena berjalan mengikuti arah yang diberikan. Namun, baru beberapa langkah, seorang pria dengan map di tangannya keluar dari sebuah ruangan.
"Anda Alena?"
"Ya."
"Saya Daniel, sekretaris Pak Darren."
Daniel menjabat tangannya sekilas. "Pak Darren ingin bertemu dengan Anda sebelum mulai bekerja."
Alena mengernyit. "Pak Darren?"
"CEO kami."
"Oh."
Alena tersenyum canggung. "Apakah ada masalah?"
Daniel tampak heran. "Masalah?"
"Kenapa saya harus bertemu langsung dengan beliau?"
"Saya kurang tahu. Beliau hanya meminta saya mengantar Anda."
Alena mengangguk pelan. "Baik."
Daniel berjalan lebih dulu. Setiap langkah menuju pintu ruangan itu membuat perasaan Alena semakin aneh.
CEO.
Ia bahkan belum pernah melihat wajah CEO perusahaan ini. Selama proses rekrutmen, ia hanya berhubungan dengan HRD.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat tua.
"Silakan masuk," kata Daniel.
"Pak Darren ada di dalam?"
Daniel mengangguk. "Katanya begitu."
Alena menelan ludah. "Baik."
Daniel pergi meninggalkannya.
Alena berdiri sendirian. Tangannya terangkat untuk mengetuk.
Tok.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk sekali lagi.
"Masuk."
Suara dari dalam membuat tubuh Alena seketika kaku.
Suara itu.
Tidak mungkin.
Ada suara yang mungkin bisa dilupakan manusia, tetapi ada juga suara yang pernah begitu dekat sampai bertahun-tahun pun tidak cukup untuk menghapusnya.
Alena perlahan membuka pintu.
Seorang pria berdiri membelakanginya di depan jendela besar. Jas hitam melekat sempurna di tubuhnya. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel.
"Maaf membuat Anda menunggu."
Pria itu belum berbalik.
Alena tidak menjawab. Jantungnya berdetak terlalu cepat ketika pria itu akhirnya mematikan layar ponselnya dan berbalik. Mata mereka bertemu dan Alena seperti lupa bagaimana caranya bernapas.
Lima tahun sejak terakhir kali ia melihat wajah itu, tetapi ia masih mengenalinya. Rahang tegas, tatapan yang dulu sering membuatnya kesal, dan cara pria itu sedikit memiringkan kepala ketika sedang menatap seseorang. Semuanya masih sama.
Hanya saja Darren terlihat jauh lebih dewasa. Jauh lebih sulit didekati.
Nama pria itu terpampang di meja kerja di belakangnya.
DARREN WIJAYA CEO Wijaya Group.
Mantan suaminya.
Alena mundur satu langkah. Darren juga tidak mengatakan apa-apa. Tatapan mereka bertemu cukup lama sampai akhirnya Alena mengalihkan wajah.
"Anda ..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Darren meletakkan ponselnya di atas meja.
"Alena."
Ia masih mengingat namanya.
Alena menggigit bagian dalam pipinya. "Jadi, kamu."
Darren tidak membantah.
"Ya."
Alena tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena ia tidak tahu harus melakukan apa. Selama lima tahun, ia pernah membayangkan banyak kemungkinan jika suatu hari mereka bertemu lagi. Di pasar, di jalan, atau di sebuah kafe.
Tapi tidak pernah seperti ini.
Tidak pernah di sebuah ruangan CEO dan tidak pernah ketika dirinya datang untuk melamar pekerjaan.
"Aku tidak tahu kamu bekerja di sini," kata Alena.
"Aku pemilik perusahaan ini."
Alena menatapnya.
Tentu saja. Pertanyaan bodoh.
Darren menarik sebuah kursi. "Duduk."
Alena tidak bergerak. "Aku rasa tidak perlu."
"Kita perlu bicara."
"Aku datang ke sini untuk bekerja."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, aku akan menemui bagian HRD."
Alena berbalik. Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika suara Darren kembali terdengar.
"Alena."
Ia berhenti.
"Kenapa kamu datang ke sini?"
Alena perlahan menoleh. "Aku diterima bekerja."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa bertanya?"
Darren terdiam sejenak. "Karena dari semua perusahaan yang ada di kota ini, kenapa harus perusahaan milikku?"
Alena menatapnya tidak percaya. "Aku memilih pekerjaan ini karena aku butuh pekerjaan. Bukan karena kamu."
Darren tidak menjawab.
Alena mengembuskan napas. "Dan sejujurnya, kalau aku tahu CEO-nya kamu, aku tidak akan datang."
Ekspresi Darren berubah sedikit.
"Aku tidak akan mengganggumu," katanya.
"Aku harap begitu."
Alena membuka pintu. Namun, sebelum ia keluar, Darren kembali memanggilnya.
"Alena."
Kali ini suaranya lebih rendah.
"Bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Alena terdiam. Lima tahun, dan dari sekian banyak hal yang bisa dikatakan Darren, ia memilih menanyakan kabarnya.
Alena menatapnya beberapa detik.
"Baik."
Darren mengangguk. "Syukurlah."
Alena keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Pintu tertutup.
Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti di ujung koridor. Tangannya menekan dada. Bukan karena sakit. Jantungnya hanya belum kembali berdetak normal.
Ia menutup mata.
"Kenapa harus dia?"
Di dalam ruangan, Darren masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja ditutup Alena.
Lima tahun.
Ia sudah menunggu lima tahun untuk melihat perempuan itu lagi. Dan sekarang Alena berdiri di hadapannya, tetapi bukan sebagai istrinya. Melainkan sebagai seorang karyawan yang bahkan tidak ingin berada satu ruangan dengannya.
Darren membuka laci mejanya. Di dalamnya tersimpan sebuah benda kecil yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia buang.
Sebuah foto lama.
Foto pernikahan mereka.
Alena tersenyum dalam foto itu, sementara Darren berdiri di sampingnya dengan wajah yang jauh lebih muda. Jarinya menyentuh sisi foto tersebut.
"Kalau saja waktu itu kamu mau mendengarkanku ..."
Darren berhenti.
Ia tidak pernah mengatakan kalimat itu kepada siapa pun, bahkan kepada dirinya sendiri.
Di luar sana, Alena sudah berjalan semakin jauh tanpa mengetahui satu hal.
Pertemuan mereka hari ini bukan kebetulan.
Darren sendiri yang meminta bagian HRD menerima Alena. Bukan karena ia membutuhkan karyawan baru, melainkan karena ia hanya ingin melihat Alena lagi.
Setelah lima tahun, untuk pertama kalinya Darren merasa bahwa keputusan yang mereka buat dulu mungkin belum benar-benar menjadi akhir dari kisah mereka.