


oleh Putra Menoreh · 73 Bab
“Jangan pulang sampai kau bisa mempelajari beberapa ilmu yang kupesan. Kau juga tidak boleh kemari sebelum mendapatkan calon istri,” pesan kakeknya tegas. Awalnya Manyar Seta menganggap enteng pesan kakeknya. Tapi setelah turun gunung dan menghadapi dunia luar, ia sadar kalau menjalankan pesan kakeknya itu tidak mudah. Perselisihan antar taruna perguruan, pertempuran melawan penjahat, perebutan kekuasaan, penghianatan dan lain-lain. Manyar Seta harus menghadapi semuanya. Dapatkan Manyar Seta menjalankan semua pesan kakeknya? Apa yang ia alami sepanjang petualangannya? Bagaimana perjalanan asmaranya? Simak perjalanan hidup Manyar Seta selengkapnya.
“Chii ... irp!”
“Chii ... irp!”
“Kuakh ...!”
“Nguu ... kh!”
Pagi yang cerah menyelimuti bagian selatan Pegunungan Sewu. Kabut tipis melayang naik seiring dengan datangnya sinar emas matahari pagi yang menyapu pucuk-pucuk pepohonan. Kicauan burung-burung saling bersautan dengan suara-suara binatang hutan lainnya menyemarakkan suasana pagi yang indah itu.
Tiba-tiba ...
Ssrrrt ... bluagh!
Sebuah bayangan melayang jatuh dari atas tebing. Bayangan itu menyentuh tanah, melenting ke udara dan jatuh bergulingan di tanah beberapa kali sebelum berhenti tepat di depan sebuah pohon besar.
Bayangan itu ternyata seorang manusia. Seorang lelaki muda tinggi kurus yang usianya sekitar 15-16 tahun.
“Wuah ..., hampir saja,” desah Manyar Seta sambil tersenyum getir. “Kakek benar-benar keterlaluan. Masa cucunya yang ganteng ini di tendang ke jurang begitu saja,” omelnya panjang pendek.
“Jangan mengomel tak karuan. Cepat pergi sana!”
Sebuah suara keras tiba-tiba terdengar memenuhi tempat itu. Manyar Seta terhenyak kaget sebelum menarik nafas panjang dan memandang ke atas tebing.
“Ya, Kek. Aku pergi. Selamat tinggal!”
“Jangan lupa semua pesanku!”
“Ya, aku paham!” teriak Manyar Seta sambil melesat pergi menjauhi tempat itu.
...
Sebulan kemudian ...
“Hey, Manyar Seta, masih lama selesainya?” teriak salah satu pengawal sambil melambaikan tangannya.“Sabar, sebentar lagi kok.”
“Baguslah. Perutku sudah keroncongan,” kata pengawal itu sambil mengelus perutnya.
“Ck, memangnya apa yang kau kerjakan sejak tadi? Sejak bangun tidur kau hanya duduk di situ saja. Masa begitu saja kau sudah kelaparan?” ejek kawannya sambil menjebirkan bibirnya.
“Cih, ini gara-gara masakannya yang terlalu enak. Sekarang perutku jadi gampang merasa lapar.”
“Eh, kau juga sama ya? Kukira hanya aku saja yang begitu. Semenjak merasakan masakannya Manyar Seta, aku jadi ingin terus makan,” kata pengawal lainnya sambil tersenyum kecil
“Kau benar. Biasanya kita hanya makan makanan standar yang rasanya itu-itu saja. Tapi semenjak Manyar Seta memasak, kita bisa menikmati makanan khas restoran mahal tiap hari.”
“Ah, diamlah. Omongan kalian justru membuat perutku makin keroncongan,” kata pengawal yang tadi berteriak. “Hey, Manyar Seta, masih berapa lama lagi?”
“Sabarlah,” balas Manyar Seta sambil tersenyum kecil. “Kau ingin makanan enak atau tidak? Teriakanmu itu tidak membantuku sama sekali.”
Manyar Seta meraup wortel dari keranjang di dekatnya. Dengan cekatan ia mengupas kulitnya dan mencacahnya kecil-kecil. Ia lalu mengambil daging dari keranjang lainnya, memotongnya kecil-kecil dan meletakkannya di dekat tumpukan cacahan wortel.
Saat sedang bekerja, dua orang perlahan-lahan mendekati Manyar Seta. Seorang lelaki setengah baya yang berpakaian mewah datang bersama seorang gadis cantik yang berpakaian ringkas dengan sebatang pedang tergantung di pinggang rampingnya.
“Manyar Seta, kau masak apa hari ini?” tanya Ki Narpada, lelaki setengah baya itu.
“Sop, Ki. Sop daging sapi,” kata Manyar Seta sambil terseyum tipis.
“Masih lama?” tanya Padma pelan.
“Sebentar lagi kok?”
“Baguslah. Bisa cepat sedikit tidak?”
“Apa Nona sudah merasa lapar?”
“Ya.”
“Kalau begitu sebaiknya Nona duduk saja dulu. Ini tinggal menunggu air mendidih dan memasukkan semua ini ke dalam kuali.”
“Baiklah. Tapi masakannya yang enak seperti biasanya ya?”
“Beres. Nona tenang saja.”
Sambil tersenyum kecil Manyar Seta terus bekerja sambil mengawasi ayah dan anak ini melangkah menjauh.
Sudah beberapa hari ini ia bersama dengan rombongan dagang Bintang Merah pimpinan Ki Narpada. Awalnya ia hanya iseng membaca sebuah pengumuman yang terpampang di dinding kota. Rombongan dagang Ki Narpada membutuhkan seorang juru masak karena juru masak mereka mendadak sakit. Setelah tahu tujuan mereka adalah Kota Banyu Biru, iseng-iseng ia ikut mendaftarkan diri. Tak disangka ia langsung diterima setelah diuji oleh Ki Narpada.
Ia memang ingin pergi ke Kota Banyu Biru. Sebuah kota yang letaknya di pinggir sebuah rawa luas yang berwarna biru cerah yang berada di kaki sebuah bukit. Kakeknya berpesan untuk menemui seseorang di kota itu. Sebuah pesan yang sebenarnya sangat enggan ia lakukan.
Di dekat Kota Banyu Biru juga berdiri sebuah bukit yang menjulang tinggi. Di atas bukit itu berdiri sebuah perguruan besar yang namanya sempat terkenal di seantero selatan kerajaan. Namanya Perguruan Mega Mendung. Kakeknya juga berpesan supaya ia bisa menuntut ilmu di perguruan itu.
“Masakan selesai!” teriak Manyar Seta sambil melambaikan sendok sayurnya tinggi-tinggi.
“Akhirnya!” teriak pengawal yang tadi mengeluh kelaparan. “Ayo cepat berbaris. Siapa cepat dia dapat. Siapa lambat jangan ngomel kalau tidak kebagian.”
“Hey, antri yang rapi,” kata Manyar Seta sambil tertawa kecil. “Kalian tenang saja. Semua pasti kebagian.”
“Mana bagianku?” tanya Padma yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan Panji sambil mengacungkan tangannya.
“Eh, Nona. Kau tidak usah ikut antri. Nanti bagianmu akan kuantar sendiri.”
“Aku butuhnya sekarang. Aku lapar.”
“Sudahlah, Manyar Seta. Kasih saja. Kita sekarang berada di pinggir hutan. Tidak perlu formalitas begitu,” kata Ki Narpada sambil tersenyum lebar melihat ulah anaknya.
“Baiklah.”
Dengan cepat Manyar Seta membagikan masakannya kepada semua anggota rombongan. Ia juga mengambil bagiannya dan duduk bersama mereka di atas rerumputan hutan.
“Wirun, siapa yang bertugas jaga pagi ini?” tanya Ki Narpada pada pengawal yang tadi mengeluh kelaparan.
Ki Narpada memang tidak membeda-bedakan anak buahnya. Saat dalam perjalanan, ia akan makan bersama dengan menu yang sama dengan anak buahnya.
“Kelompok 2, Ki.”
“Apa mereka sudah mendapatkan jatah makan?”
“Sudah, Ki. Tadi kulihat Tukul sudah membawa jatah makan mereka ke sana.”
“Baguslah. Kita sudah mulai memasuki wilayah Sima Lodra. Tidak ada salahnya kalau kita waspada.”
“Baik, Ki.”
“Eh, memangnya siapa Sima Lodra itu?” tanya Manyar Seta pelan sambil menyikut pengawal yang makan di dekatnya.
“Kau tidak tahu?” tanya pengawal itu heran.
“Tidak. Aku kan bukan orang dari daerah sini.”
“Pantas.”
“Sima Lodra itu pemimpin perampok yang menguasai wilayah sekitar sini,” kata pengawal lainnya yang duduk di sebelah Panji.
“Perampok? Apakah mereka berbahaya?”
“Bukan berbahaya lagi. Mereka perampok ganas yang suka membantai habis semua korbannya. Tak ada satu pun yang dibiarkan hidup.”
Panji menghentikan makannya dengan alis berkerut. Selama sebulan terakhir ini ia telah beberapa kali melihat perampokan. Saat pertama kali melihat aksi mereka, ia sempat syok karena para perampok itu membantai hampai semua orang di sebuah desa tanpa membedakan permpuan, anak kecil dan orang tua. Ia yang sangat marah akhirnya ganti membantai habis semua perampok itu. Tapi setelah melihat yang kedua, ia akhirnya paham.
Dunia sekarang sedang kacau. Hukum yang berlaku hanyalah hukum rimba. Siapa yang kuat akan memakan yang lemah.
“Kenapa berhenti? Apa kau takut?” tanya pengawal itu sambil tersenyum.
“Jangan khawatir. Kita punya 20 orang pengawal dan juga Ki Narpada dan Nona Padma. Walaupun masih muda, Nona Padma adalah murid Perguruan Mega Mendung. Ia bisa mengalahkan 5 orang perampok sekaligus.”
“Manyar Seta, kau tenang saja. Kalaupun ada perampok, kami akan menjamin keselamatanmu,” kata Wirun sambil mengangkat sendoknya.
Manyar Seta hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya.
Rombongan dagang Ki Narpada memang termasuk rombongan dagang yang cukup besar dan kuat. Mereka membawa 10 kereta kuda, 5 orang tukang angkut dan 20 orang pengawal. Kawanan perampok biasa tidak akan berani menyerang rombongan sekuat ini.
Dziiing!
Suiii ...it!
Sebuah suara panah sendaren tiba-tiba mengaung di udara mengejutkan orang-orang yang sedang makan. Dengan cepat mereka membuang apa yang mereka pegang dan berdiri tegak sambil memandang ke arah suara panah sendaren itu.
“Ada apa?” tanya Ki Narpada pada seorang pengawal yang tiba-tiba berlarian mendekat dengan wajah tersengal-sengal.
“Ada perampok, Ki. Ada banyak perampok yang mendekati tempat ini,” kata pengawal itu dengan wajah pucat.
“Perampok? Berapa jumlah mereka?”
“Banyak, Ki. Mereka setidaknya 2 kali lipat jumlah kita.”
Belum sempat Ki Narpada memberikan responnya, tiba-tiba muncul banyak orang dari balik semak-semak belukar dan mengepung mereka.

Putra Menoreh
4 Pengikut · 1 Novel