“Apakah ini satu-satunya cara tersisa untuk menyelamatkan perusahaan ini, Papa?” tanya Lizzbeth van de Berg bergetar tipis, mencerminkan keputusasaan yang mendalam di ruang kerja yang dipenuhi aroma kayu mahoni tua dan kertas-kertas arsip keuangan.
Robert van de Berg menatap putri tunggalnya dengan pandangan nanar. Guratan lelah tampak jelas di wajah pria paruh baya itu, memperlihatkan beban berat yang selama berbulan-bulan menumpuk di pundaknya. Kejatuhan pasar saham, utang menumpuk di bank-bank komersial, serta pembatalan sepihak dari para investor utama telah membawa PT Van de Berg Corporation ke ambang kepailitan total.
Tidak ada lagi jalan keluar yang bersih. Semua pintu telah tertutup rapat, menyisakan satu jalan pintas yang sangat terjal dan penuh duri, aliansi strategis melalui jalur pernikahan.
“Hanya itu satu-satunya jalan, Lizzbeth,” jawab Robert dengan suara serak, menghindari tatapan mata putrinya yang menyiratkan luka batin luar biasa. “Van Houten Holding Group adalah satu-satunya entitas korporasi yang memiliki likuiditas cukup besar untuk melunasi seluruh kewajiban kita dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, dan Yohanes van Houten tidak akan memberikan suntikan dana triliunan rupiah tersebut tanpa jaminan mutlak berupa ikatan keluarga.”
Lizzbeth mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih menekan telapak tangan. Nama Yohanes van Houten bukanlah nama asing di telinga para pelaku bisnis di negeri ini. Pria itu dikenal sebagai seorang Presiden Direktur yang memiliki insting tajam bagaikan seekor elang, dingin, tanpa kompromi, dan tidak pernah mengenal kata gagal.
Di dunia korporasi, ia dijuluki sebagai ‘Pangeran Es’ karena ketegasannya yang kerap berujung pada kebangkrutan para pesaing yang berani mencoba menghalangi jalannya. Membayangkan harus menghabiskan sisa hidup terikat dalam satu atap dengan pria berdarah dingin seperti itu membuat bulu kuduk Lizzbeth meremang seketika.
“Pernikahan bukanlah permainan monopoli, Papa,” protes Lizzbeth dengan nada tertahan, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.
“Bagaimana bisa aku menyerahkan masa depanku, kebebasanku, dan seluruh hidupku kepada seorang pria yang bahkan belum pernah aku ajak bicara secara langsung? Ini gila. Ini adalah bentuk penjualan diri secara legal di bawah payung hukum bisnis.”
“Ini bukan penjualan, Lizzbeth. Ini adalah pengorbanan demi warisan kakekmu dan ratusan karyawan yang bergantung pada kelangsungan perusahaan ini,” tegas Robert dengan nada bicara yang mulai meninggi, meski sorot matanya menyiratkan rasa bersalah yang teramat sangat kepada putri semata wayangnya.
“Jika perusahaan ini runtuh, bukan hanya keluarga kita jatuh miskin, tetapi ribuan orang akan kehilangan pekerjaan mereka. Apakah kau sanggup menanggung beban moral itu di atas pundakmu?”
Pertanyaan itu menohok tepat di ulu hati Lizzbeth. Ia terdiam seribu bahasa. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan kecintaan mendalam terhadap perusahaan yang dibangun oleh kakek moyangnya dari nol. Kehancuran Van de Berg Corporation berarti keruntuhan sejarah keluarga besar mereka. Dengan napas berat yang terasa menyesakkan dada, Lizzbeth akhirnya mengangguk pelan, sebuah tanda menyerah yang mengakhiri seluruh perdebatan panjang di sore hari itu.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang mencekam. Proses administrasi dan legalitas pernikahan kilat tersebut diurus oleh tim hukum Van Houten Holding Group dengan efisiensi yang luar biasa mengerikan. Tidak ada pesta megah, tidak ada gaun pengantin putih yang dihiasi permata mewah, dan tidak ada senyum kebahagiaan dari para tamu undangan. Semuanya dilakukan secara tertutup di ruang registrasi sipil kota dengan dihadiri oleh segelintir saksi kunci dari kedua belah pihak.
***
Lizzbeth mengenakan gaun midi sederhana berwarna biru gelap, kontras dengan cuaca mendung di luar jendela gedung administrasi. Di sisi seberangnya, berdiri Yohanes van Houten dalam balutan jas hitam potongan Italia yang elegan, memancarkan aura intimidasi yang begitu pekat. Pria itu tidak tersenyum sama sekali sejak awal prosesi hingga lembar dokumen terakhir ditandatangani. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, seolah-olah apa yang terjadi hari ini hanyalah formalitas administratif biasa yang tidak jauh pentingnya dengan menandatangani surat perjanjian jual beli aset properti komersial.
“Semua dokumen telah beres,” ucap seorang pengacara paruh baya berjas rapi sambil menyerahkan map kulit hitam kepada Yohanes. “Mulai hari ini, integrasi aset tahap pertama antara Van de Berg dan Van Houten resmi diaktifkan.”
Yohanes hanya mengangguk singkat tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Lizzbeth. Ia berdiri tegak, merapikan manset jasnya, lalu melirik sekilas ke arah istri sahnya yang berdiri kaku di sampingnya. Tatapan mata itu sangat dingin, kosong dari segala bentuk emosi manusiawi.
“Mobil sudah menunggu di depan,” ujar Yohanes dengan suara bariton yang berat dan datar. Kalimat itu bukan sebuah ajakan yang ramah, melainkan sebuah instruksi mutlak yang harus dipatuhi tanpa bantahan.
Lizzbeth menelan ludahnya susah payah. Ia mengekor di belakang langkah lebar sang suami keluar dari gedung pencakar langit menuju sebuah limosin hitam berkaca gelap yang terparkir anggun di area khusus VIP. Sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal baru mereka, tidak ada satu patah kata pun yang terucap di antara keduanya. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu beku, seolah-olah oksigen di sekitar mereka telah menipis karena dominasi aura dingin dari sosok pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
Lendutan lampu kota mulai menyala seiring senja yang turun menggantikan siang hari. Mobil mewah tersebut melaju membelah jalanan utama ibu kota menuju kawasan elit tempat berdirinya gedung pencakar langit hunian privat paling eksklusif di kota ini. Penthouse milik Yohanes van Houten terletak di lantai paling atas, menawarkan pemandangan panorama kota yang gemerlap dari ketinggian ratusan meter di atas permukaan tanah.
Ketika pintu lift pribadi terbuka langsung menuju unit penthouse tersebut, Lizzbeth terpaku sejenak mengamati interior ruangan yang luas dengan dominasi warna monokrom, hitam, abu-abu gelap, dan putih bersih. Kesan minimalis modern terpancar sangat kuat, atmosfernya terasa hampa, seperti sebuah museum seni mahal yang tidak berjiwa.
Yohanes melepas jasnya, melemparnya begitu saja ke atas sofa kulit hitam di ruang tamu utama. Ia melangkah mendekati minibar, menuangkan cairan amber jernih ke dalam gelas kristal pendek tanpa menoleh sedikit pun ke arah Lizzbeth yang masih berdiri kaku di dekat pintu masuk dengan koper kecil di sampingnya.