


oleh Yuna Izmaya · 19 Bab
Sienna menyimpan luka. Ia melarikan diri ke Wina, berharap bisa memulai hidup baru—jauh dari masa lalu yang kelam, dari lelaki yang pernah membuatnya kehilangan segalanya. Harapan itu sirna saat ia melihat pria asing di stasiun kereta bawah tanah. Tatapan pria itu … sama persis dengan sosok dalam mimpinya selama bertahun-tahun. Sejak malam itu, Sienna mulai mendengar bisikan. Langkah kaki yang tak terlihat. Dan kenangan yang tak seharusnya kembali. Hadirlah Leonhart—pemuda misterius dengan sarkasme menyebalkan dan rahasia lebih gelap dari mata uang kripto. Mereka dipertemukan secara tidak sengaja, tapi semesta punya cara gila untuk menyatukan dua orang yang sama-sama rusak.
Hari itu, kota Wina tampak murung.
Langit kelabu. Udara dingin. Dan tentu saja, aku ketinggalan kereta lagi.
"Aku bersumpah, ini stasiun konspirasi," gumamku sambil memeluk sketchbook dan menuruni tangga panjang stasiun Westbahnhof.
Napas mengembun di udara. Tanganku menggigil. Kaki pegal. Dan mood-ku? Sudah tenggelam bersama sisa-sisa kopi pagi yang tak sempat kuteguk habis.
Sisa penumpang sudah menyingkir. Tak ada suara selain dengungan listrik dan langkah sepatu bootsku yang nyaris tak bersuara.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Di ujung peron yang remang, di balik bayangan pilar beton tua, ada dua sosok. Seorang pria berpakaian rapi berdiri kaku. Yang satunya, lebih mencolok. Jaket hitam, sarung tangan kulit, dan, oh senyum yang tidak bisa disebut ramah.
Senyum yang hanya cocok dipakai oleh penjahat dalam film-film.
Aku mematung. Apa mereka, lagi berantem?
Ternyata tidak.
Pria bersarung tangan menarik sesuatu dari balik mantelnya. Cepat. Nyaris tak terlihat. Dan dalam sepersekian detik, benda itu sudah menusuk perut si pria berdasi.
Darah
Astaga!!
Darah mengalir deras, menodai ubin putih yang baru dibersihkan itu.
Aku langsung menunduk, bersembunyi di balik pilar. Lututku gemetar. Otakku nge-blank. Tapi entah kenapa, tanganku malah bergerak sendiri—mencoret sketsa di halaman kosong.
Gila. Aku pasti sudah gila.
Suara langkah kaki mendekat. Jantungku berdebar kencang.
Langkahnya lambat. Tenang. Seperti predator yang tahu mangsanya tak bisa kabur.
Aku menahan napas.
Lalu, "Hoi!"
Seseorang berteriak dari kejauhan.
Langkah itu berhenti. Lalu terdengar suara berlari menjauh. Suara pintu terbuka. Sunyi.
Aku masih terpaku. Tak berani bergerak. Sampai suara orang lain—mungkin petugas stasiun—membuatku akhirnya bangkit dan lari.
Lari sekencang-kencangnya keluar dari stasiun. Napasku terengah. Sketchbook masih di pelukan. Jantung masih berpacu. Tapi yang paling bikin panik?
Tak ada jejak darah korban, tak ada siapa pun yang melihat.
Saat aku tiba di kantor polisi, mereka menatapku seolah aku baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.
"Anda yakin tidak sedang berhalusinasi, Nona?" Polisi itu menatapku ragu. Atau mungkin lebih ke arah sama sekali tidak percaya!
Aku menatap mereka. Bibirku kaku. Mataku nyaris berair.
"Aku tahu apa yang kulihat. Aku bukan orang gila!"
Tak ada yang percaya. Aku memilih pulang ke apartemenku yang mungil, menggigil di balik jaket sambil memandangi sketsa wajah pembunuh itu.
Dan aku tahu satu hal pasti, aku akan menemukannya.
Apartemenku berada di lantai tiga bangunan tua berwarna krem pucat yang dikelilingi balkon besi berkarat. Tangga menuju ke atas berderit setiap kali diinjak—bunyi yang biasanya bikin aku merasa seperti karakter film noir. Tapi malam ini? Bunyi itu cuma bikin aku tambah paranoid.
Kunci pintu hampir jatuh dari tanganku yang gemetar. Begitu berhasil masuk, aku langsung mengunci pintu, menutup gorden, dan memeriksa ulang semua jendela.
Aku sadar betul betapa gila kelihatannya. Tapi perasaan ini, perasaan diikuti, itu nyata!
Kupeluk sketchbookku erat-erat. Di halaman terakhir, ada gambar wajah lelaki itu—garis rahangnya tajam, mata tajam, dan senyum yang lebih mirip pisau dibanding ramah. Aku bahkan tak sadar menggambarnya sedetail itu. Tapi otakku berhasil merekam semuanya.
Dengan tangan gemetar, aku sobek halaman itu dan menempelkannya di dinding, tepat di samping kalender, di antara catatan laundry dan sketsa karakter chibi buat klien.
"Kalau aku mati besok, tolong mulai selidiki dari sini," gumamku pelan, menatap wajah di sketsa itu. "Tapi please, Tuhan, jangan ambil aku dulu. Aku masih ada cicilan MacBook."
Aku mencoba menenangkan diri dengan membuat cokelat panas, tapi sialnya aku lupa kalau kulkas masih kosong.
Akhirnya aku duduk di lantai, punggung bersandar ke sofa, lampu remang menyala di pojok ruangan, dan hanya suara jam dinding yang terus berdetak.
Aku menyalakan ponsel, mencari berita, apa pun tentang pembunuhan di stasiun. Tapi sama sekali tidak ada.
Aku mulai ragu. Apa mungkin benar aku yang salah lihat?
Atau, mereka terlalu cepat menutupinya?
Saat itulah aku mendengar suara, bukan dari luar, tapi dari dalam kepalaku sendiri.
Suara yang selama ini selalu muncul di saat-saat seperti ini.
"Kalau ikut campur lagi, kamu akan kehilangan kewarasanmu." Suara dari masa lalu. Suara yang selalu berbisik di antara mimpi buruk dan ingatan-ingatan yang terkunci.
Aku menutup mata. Mengatur napas.
"Aku nggak gila," bisikku pada diri sendiri. "Aku cuma, terlalu penasaran."
Dan rasa penasaran, seperti yang sudah berkali-kali kubuktikan, kadang jauh lebih berbahaya daripada rasa takut.
Aku terlelap sekitar pukul dua dini hari, masih dengan sketchbook di pangkuan dan hoodie menutupi kepala. Hidungku dingin. Lampu pojok masih menyala, tapi mataku tak sanggup lagi terbuka.
Dan mimpi itu datang lagi.
Bukan mimpi biasa.
Bukan tentang pembunuhan di stasiun tadi.
Tapi, tentang masa lalu. Aku sudah berusaha keras untuk mengubur dalam-dalam masa lalu itu.
Aku berdiri di tengah sebuah ruangan putih. Terlalu putih. Terlalu sepi. Bau antiseptik menusuk hidungku.
Ada suara. Jeritan. Lalu suara pintu yang dibanting.
Seseorang menangis.
Aku menoleh, dan di sana, di ujung lorong, kulihat diriku sendiri, lebih muda, lebih pucat, berdiri sambil menggenggam foto. Tangannya berdarah.
Di depannya ada tubuh. Tergeletak. Diam. Terlalu diam.
Lalu suara itu datang lagi.
"Lihat apa yang sudah kamu lakukan, Sienna!"
Aku berbalik. Sosok tinggi berjubah hitam berdiri di belakangku. Wajahnya samar, tapi matanya—mata itu—menyerupai milik pria di sketsa yang kulihat di stasiun.
Mata yang sama. Sorot yang sama.
Mata yang menghantui.
"Maaf. Aku nggak, aku nggak bermaksud .…"
"Semua ini karena kamu."
Dia meraihku. Tangan dinginnya mencengkeram lenganku. Darah merembes di sela-sela jari.
Aku berteriak. Tapi tak ada suara yang keluar.
Aku berusaha lari, tapi kaki ini berat, seperti terperangkap dalam lumpur.
"SIENNA!"
Aku terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi punggungku. Jantungku berdebar sekeras drum konser metal. Ruangan apartemen gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan dari jendela.
Aku memandang sekeliling, masih setengah sadar.
Tanganku gemetar saat menyentuh wajahku sendiri, memastikan aku nyata. Bahwa aku di sini. Di Wina. Bukan, di tempat itu.
Aku menyeka air mata yang tanpa sadar jatuh.
"Sudah lama nggak mimpi kayak gini," bisikku pelan, suara nyaris tak terdengar.
Lalu tatapanku jatuh pada sketsa di dinding.
Dia.
Sosok yang kulihat di stasiun, punya mata yang sama seperti pria dalam mimpiku.
Apa mungkin itu hanya kebetulan?
Atau masa lalu yang kupikir sudah selesai, justru baru saja membuka bab baru?
Aku menatap langit-langit kamar apartemen, sejenak kehilangan arah. Butuh waktu beberapa detik untuk meyakinkan diri kalau aku tidak lagi berada di tempat itu—bukan di rumah yang katanya “tempat aman”, tapi ternyata neraka berkedok keluarga.
Kupeluk lututku, menggigil meski selimut menutupi tubuhku. Napas tersengal. Ada sesak yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Sudah bertahun-tahun berlalu. Tapi bekas itu tidak pernah benar-benar hilang.
Aku masih bisa merasakan bau alkohol yang menyengat. Teriakan di balik pintu terkunci. Tangan kasar yang menyeretku keluar dari tempat tidur. Kata-kata kotor yang menusuk lebih tajam dari pukulan.
Dan malam itu—malam di mana aku belajar, tidak semua ibu melindungi anaknya.
Kadang mereka justru ikut membakar luka yang belum sempat sembuh.
Kupaksa diriku berdiri. Menuju kamar mandi. Menyalakan air dingin dan membasuh wajahku.
Bayangan di cermin menatapku balik—mata sembab, rambut berantakan, dan ekspresi seperti orang yang baru saja ditinggal mati. Padahal, sejujurnya, aku lebih merasa ditinggal hidup-hidup.
Aku menyentuh bekas luka samar di bawah tulang selangka. Luka kecil. Tapi selalu terasa ngilu kalau disentuh.
"Aku bukan korban lagi," bisikku pelan, menatap diriku sendiri. "Aku sudah lewati semuanya. Sekarang, aku yang cari jawaban."
Dan pria di stasiun itu—entah kenapa, aku yakin dia ada hubungannya dengan semuanya. Mungkin bukan langsung. Tapi sesuatu di dalam diriku tahu. Aku bisa merasakannya.
Bahwa ini bukan kebetulan.

Yuna Izmaya
0 Pengikut · 1 Novel