


oleh Ratu Gibah · 100 Bab
10 tahun Geraldo hidup dalam kebutaan. Dan setelah menjalani operasi transplantasi kornea dari seorang pendonor, pemuda itu merasa hidupnya berubah. Geraldo mulai melihat makhluk-makhluk tak kasat mata yang mengintai di sekitarnya. Suara-suara aneh, bayangan gelap, dan sosok menyeramkan terus menghantui hari-harinya. Ketika ia mencoba mencari tahu asal-usul pendonornya, rahasia kelam mulai terkuak. Geraldo harus menghadapi dunia gaib yang kini menjadi bagian dari hidupnya.
"Apa, Dok? Saya buta? Tidak, tidak mungkin!" teriak Geraldo, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan dan ketakutan yang mendalam.
Ia mencoba membuka matanya dengan keras, berusaha mengusir kegelapan yang menutup seluruh penglihatannya. Namun, semakin keras ia berusaha, semakin terasa kegelapan itu meresap dalam pikirannya. Tidak ada cahaya. Hanya gelap, tanpa batas, tanpa harapan.
"Mas Al, sabar ya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati mata Mas Al, agar bisa melihat kembali," jawab dokter dengan nada menenangkan.
Dokter berusaha memberikan harapan meski ia tahu, saat itu tidak ada kepastian yang bisa dijanjikan.
Geraldo terdiam, matanya yang kosong hanya menatap ruang yang tidak bisa ia lihat. Rasanya dunia begitu luas dan terbuka, tapi ia tidak bisa merasakan apa pun. Hanya keheningan yang menyelimuti. Hatinya penuh kekhawatiran yang tak terucapkan.
‘Kecelakaan itu … sudah mengubah segalanya,’ batinnya, mengingat kejadian yang telah membawa hidupnya ke titik ini.
Saat mobil yang ia kendarai dengan Gita, tantenya, terguling ke jurang setelah kehilangan kendali, bayangan gelap masih terus menghantuinya.
Sebelum semuanya gelap, ia sempat melihat sesuatu yang aneh, sebuah kepala tanpa tubuh yang melayang di udara, wajah yang tersenyum mengerikan, seolah mengejeknya dalam kesendirian.
Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kegelapan menyelimutinya sepenuhnya.
Geraldo memutar otaknya, mencoba mengingat kejadian tersebut. Namun, hanya kekosongan yang ada. Kegelapan yang menguasai dunia visualnya, seakan menuntut semuanya menghilang.
"Tante saya mana, Dok?" tanyanya, suaranya bergetar penuh kekhawatiran yang mendalam.
"Nona Gita ada di ruang sebelah, dia masih belum pulih sepenuhnya," jawab dokter dengan nada lembut, mencoba memberi tahu tapi juga menunjukkan keprihatinannya.
Geraldo mengangguk lemah. Dengan hati yang cemas, ia menunggu kedatangan tantenya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka perlahan. Gita masuk, wajahnya terlihat lelah, matanya merah seperti baru saja menangis. Ia duduk di sisi ranjang Geraldo dengan hati yang penuh kasih sayang.
"Aldo …," panggil Gita lembut.
Geraldo hanya bisa menanggapi dengan suara pelan, tak mampu mengucapkan apa-apa. Tangannya meraba-raba di udara seolah mencari kehadiran Gita, meski ia tidak bisa melihat apa-apa.
"Ini tante, Al." Gita berkata, mencoba menenangkan keponakannya yang mulai cemas dengan situasi yang baru saja ia alami.
"Tante ... semuanya gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa," kata Geraldo, nada suaranya penuh kepasrahan.
"Apakah itu berarti saya akan buta selamanya?" lanjut Geraldo.
Gita menghela napas, hati kecilnya teriris mendengar kata-kata itu. Namun, ia berusaha kuat untuk tetap tegar demi Geraldo. Dengan lembut ia mengusap kepala keponakannya.
"Kamu sabar ya, Al. Kita akan berusaha sebaik mungkin untuk sembuh," hiburnya.
Geraldo hanya mengangguk lemah, sementara hatinya kosong. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya ada ketakutan yang membelenggu pikirannya.
Namun, sekelebat ingatan tentang kecelakaan itu kembali muncul dalam pikirannya, seolah melawan segala upaya untuk melupakan.
Ingatannya terfokus pada detik-detik terakhir sebelum mobil mereka jatuh ke jurang, sebuah senyuman mengerikan yang dilihatnya sebelum kegelapan menyelimuti.
"Al, kamu bisa tenang, ya. Semua akan baik-baik saja," ujar Gita, berusaha memberikan kenyamanan meski hatinya juga terluka.
Pagi itu, setelah beberapa hari terbaring di rumah sakit, Geraldo merasa tubuhnya lebih segar meskipun matanya masih terbalut perban.
Ia bangkit dari tempat tidur, perlahan meraba meja di sampingnya, mencari tongkat yang selalu menemaninya.
"Ayo mandi, Al, setelah itu kita sarapan. Tante buatkan omelette kesukaan kamu," kata Gita dengan nada yang lebih ceria, mencoba membawa semangat meski suasana masih penuh kecemasan.
"Baik, Tante," jawab Geraldo pelan, meskipun perasaan bingung dan cemas masih menyelimuti hatinya. Ia meraba-raba tongkat di tangannya, mengandalkannya untuk berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Geraldo mencoba untuk membersihkan dirinya, meskipun hati dan pikirannya merasa kacau.
Semua terasa tidak nyata, seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Setiap kali pemuda itu mencoba meraih sesuatu, hanya ada kekosongan. Kegelapan yang semakin mengaburkan segala sesuatu.
Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara. Suara yang lembut, tapi sangat jelas.
"Aldo ...."
Suara itu terdengar begitu dekat, seperti seseorang yang berdiri di sampingnya, memanggil-manggil namanya dengan suara yang penuh kelembutan.
Geraldo berhenti sejenak, terhenyak oleh suara itu. 'Siapa yang memanggilku? Kenapa aku merasa ada yang tidak beres?' batinnya, merasa bingung dan takut.
Namun, ketika ia berbalik, ia tidak melihat siapa pun. Hanya ada kesunyian yang aneh. Pemuda itu menggoyangkan kepalanya, mencoba menghilangkan perasaan aneh itu, dan melanjutkan mandi dengan terburu-buru.
"Al, kamu berbicara dengan siapa?" Suara Gita terdengar dari luar kamar mandi.
"Tidak ada, Tante. Aku hanya mengingat lagu yang suka aku nyanyikan," jawab Geraldo, berusaha menyembunyikan perasaan aneh yang mengganggunya.
"Oh, baiklah kalau begitu," kata Gita yang tak curiga.
Setelah mandi, Geraldo berjalan keluar dan menuju meja makan, di mana sarapan omelette sudah menunggunya.
Gita tersenyum padanya, meskipun ada kekhawatiran yang tersembunyi di balik matanya.
Namun, sebelum pemuda itu sempat duduk, ponsel Gita berdering, membuatnya berhenti sejenak.
"Dokter Rio?" Gita melihat layar ponselnya dan segera menjawab panggilan itu.
"Selamat pagi, Nona Gita. Maaf mengganggu, apakah Anda bisa ke Rumah Sakit Pelita sekarang? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Anda dan keponakan Anda."
"Tentu, Dok, kami akan segera ke sana setelah sarapan," jawab Gita, suaranya terdengar sedikit cemas.
Setelah sarapan, mereka berdua menuju Rumah Sakit Pelita, dengan perasaan yang tidak menentu. Di ruang praktek Dokter Rio, mereka duduk menunggu dengan cemas.
"Mas Al," kata Dokter Rio setelah beberapa saat.
"Saya ingin memberitahukan Anda sesuatu. Ada seorang laki-laki yang mendonorkan kornea matanya, dan kami ingin menawarkan Anda kesempatan untuk menerimanya. Saya yakin ini bisa membantu Anda untuk melihat kembali."
Geraldo terkejut mendengar tawaran itu. Ada rasa takut dan harapan yang bercampur dalam hatinya.
"Biaya tindakan medisnya tidak besar, hanya untuk biaya operasional saja," lanjut dokter.
Gita tersenyum lega. "Kami siap, Dok, jika itu bisa membantu Al melihat lagi."
"Baiklah, silakan Anda berdua menunggu sebentar. Saya akan menyiapkan segala sesuatunya," jawab dokter, meninggalkan mereka untuk mempersiapkan prosedur.
Geraldo menatap tantenya, harapan baru muncul di dalam matanya, meski sedikit cemas. Mereka berdua menunggu, harapan kecil tumbuh di hati mereka.
Akhirnya, setelah prosedur dilakukan, dokter melepas perban dari mata Geraldo. "Cobalah membuka mata sekarang, Mas Al."
Geraldo membuka matanya perlahan. Dunia masih buram, tapi sedikit demi sedikit, bentuk-bentuk samar mulai muncul.
Ia merasakan kehadiran seseorang yang tidak bisa ia lihat. Hatinya berdebar, merasa sesuatu yang aneh sedang terjadi.
Kemudian Geraldo menyapu pandangannya ke sekeliling, dia mengerutkan keningnya saat manik matanya menelisik ke arah sudut tembok ruangan itu.
Geraldo melihat sosok wanita sedang berdiri menatapnya. Namun, Geraldo tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita tersebut, karena penglihatannya sedikit kabur.
Seketika Geraldo dibuat tercengang, manakala sosok wanita tersebut bergerak mendekat, lebih dekat lagi, lagi ... dan ….
"Aaaaa ....!"
Geraldo berteriak histeris, melihat kepala wanita itu berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang, sehingga wajahnya nampak searah dengan punggungnya.
Lantas, ia tersenyum menyeringai. Dari mulutnya, darah yang berbau anyir menetes. Geraldo gelagapan.
Namun, saat ia membuang muka ke samping, kepala itu muncul lagi. Kepala yang ingin ia lupakan dan buang jauh-jauh di ingatannya itu, menampakkan dirinya lagi.
Sambil mengeluarkan darah dan belatung dari rongga mulutnya, ia tersenyum menyeringai pada Geraldo.
"Jangan bawa akuuu!"

Ratu Gibah
72 Pengikut · 7 Novel