“Nek, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Anginnya mulai terasa sangat menusuk,” ujar Anita sambil mengeratkan pelukan pada kardigan rajutnya.
Nenek tidak segera menjawab. Wanita tua itu masih melangkah pelan, matanya menyapu deretan lapak yang tampak lebih mirip gudang barang rongsokan daripada tempat berjualan. Mereka berada di pinggiran kota yang hampir terlupakan, di mana sebuah pasar malam dadakan baru saja digelar.
Tidak ada lampu warna-warni yang meriah, tidak ada suara tawa riang anak-anak atau dentuman musik yang lazim ditemukan di pasar malam pada umumnya. Yang ada hanyalah deretan tenda usang yang berdiri bisu, diterangi oleh lampu bohlam kuning yang berkedip-kedip, seolah-olah sedang sekarat.
“Tanggung, Anita. Nenek merasa ada sesuatu di sini. Sesuatu yang sudah lama tidak Nenek lihat,” jawab Nenek dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh suara gesekan kain tenda yang tertiup angin kencang.
Anita menghela napas panjang. Kakinya sudah terasa pegal karena sedari tadi mengikuti langkah Nenek yang tampak begitu yakin, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka cari. Suasana di tempat ini begitu ganjil. Udara terasa berat, penuh dengan aroma tanah basah dan bau tembaga yang samar, seperti sesuatu yang berkarat, atau mungkin, darah yang sudah mengering.
Tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua. Penjual-penjual di sana pun tidak menawarkan dagangan mereka. Mereka hanya duduk diam di balik meja kayu yang tampak sudah dimakan rayap, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
“Tempat ini menyeramkan, Nek,” bisik Anita, mencoba menjaga agar suaranya tidak bergetar. “Kenapa pasar ini tidak ramai? Lihat, bahkan tidak ada satu pun orang selain kita.”
Nenek berhenti melangkah, kemudian menoleh ke arah cucunya. Cahaya lampu yang redup membuat garis-garis keriput di wajah Nenek tampak lebih dalam dan mencekam. “Pasar ini hanya muncul untuk mereka yang memang ditakdirkan untuk menemukannya, Anita. Jangan terlalu banyak bertanya. Cukup ikuti langkah Nenek.”
Anita kembali terdiam. Ia tidak ingin berdebat, rasa cemas dalam dadanya semakin membesar. Ia mencoba memperhatikan sekeliling dengan lebih saksama. Di salah satu lapak, ia melihat tumpukan perkakas tua yang sudah tidak berbentuk. Di lapak lain, ada deretan botol-botol kaca yang berisi cairan keruh, tampak seperti spesimen biologis yang diawetkan. Semuanya terasa tidak wajar. Semuanya terasa seperti peninggalan dari masa yang seharusnya sudah terkubur.
“Lihat itu,” tunjuk Nenek ke arah pojok paling gelap di ujung barisan tenda.
Di sana, terdapat sebuah tenda yang tampak lebih kecil dan lebih kumuh dibandingkan yang lain. Kain penutupnya sudah compang-camping, tertutup debu tebal yang menutupi warna aslinya. Di atas meja kayu yang tidak rata, tergeletak berbagai macam benda antik yang tampak berserakan tanpa aturan. Ada jam saku yang jarumnya tidak bergerak, sisir perak yang tampak ternoda, dan beberapa figurin keramik yang tampak pecah di beberapa bagian.
Anita mengikuti Nenek mendekati lapak tersebut. Saat mereka semakin dekat, Anita merasakan sensasi dingin yang merambat dari telapak kakinya hingga ke tengkuk. Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seolah-olah ada puluhan pasang mata yang sedang memperhatikannya dari kegelapan di balik kain tenda tersebut, meskipun ia tidak bisa melihat siapa pun di sana selain seorang penjual pria tua yang duduk membungkuk.
Pria itu mengenakan jubah hitam yang terlihat berat dan kotor. Wajahnya tertutup bayangan topi lebar, Anita bisa menangkap kilatan cahaya dari bola matanya yang tampak tidak wajar saat pria itu mengangkat wajahnya sedikit. Penjual itu tidak menyapa. Ia hanya diam, seolah sedang menunggu sesuatu yang sudah lama dinantikan.
Nenek mulai memilah-milah barang di atas meja dengan tangan yang gemetar. Ia mengabaikan jam saku dan sisir perak itu, fokus mencari sesuatu yang tertimbun jauh di bawah tumpukan kain tua. Anita berdiri di sampingnya, berusaha menjaga jarak dari sang penjual. Tatapan pria tua itu membuat Anita merasa tidak nyaman, seperti sedang dibedah, seperti ada rahasia di dalam pikirannya yang sedang diintip oleh orang asing itu.
“Apa yang sebenarnya kita cari, Nek?” tanya Anita lagi, kali ini suaranya lebih lirih, nyaris seperti embusan napas.
“Sesuatu yang akan menjadi saksi,” jawab Nenek singkat, tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan barang antik tersebut.
Tiba-tiba, tangan Nenek terhenti. Ia menarik sesuatu dari balik kain sutra yang sudah kusam. Anita terpaku. Di antara tumpukan debu dan barang rongsokan itu, muncul sebuah boneka porselen yang luar biasa cantik. Wajahnya halus dengan rona merah muda alami di pipinya, gaunnya terbuat dari sutra berwarna biru tua yang masih tampak berkilau meskipun di tempat yang sangat minim cahaya, dan matanya, sepasang mata kaca berwarna biru bening, tampak menatap tajam ke arah Anita.
Anita merasakan hatinya berdegup kencang. Ada rasa ketertarikan yang sangat kuat, seperti magnet yang menarik jiwanya. Ia tidak bisa memalingkan pandangannya dari boneka itu. Boneka itu begitu sempurna, begitu anggun, dan begitu, hidup.
“Ini,” gumam Nenek dengan nada suara yang terdengar seperti ketakutan sekaligus kekaguman.
Nenek memberikan boneka itu kepada Anita. Saat jemari Anita menyentuh porselen dingin itu, ia merasakan sengatan listrik kecil yang menjalar hingga ke nadinya. Ia menelan ludah, dadanya sesak oleh emosi yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah boneka itu telah memilihnya, dan ia telah menerima tawaran itu tanpa sadar.
“Terima kasih,” bisik Anita, hampir tanpa sadar.
Penjual tua itu tiba-tiba mengeluarkan suara tawa yang kering dan parau. “Barang yang dibawa pulang dari pasar ini tidak bisa dikembalikan, Nak. Ingat itu. Sekali kau membawanya, kau tidak akan pernah benar-benar memilikinya.”
Anita terlonjak kaget mendengar suara pria itu yang terdengar seperti gesekan kertas ampelas. Ia ingin bertanya apa maksud perkataan itu, Nenek sudah menarik tangannya untuk segera pergi. Mereka melangkah cepat meninggalkan lapak tersebut, tanpa sempat menanyakan harga atau mengucapkan salam perpisahan.
Anita terus mendekap boneka itu di dadanya selama perjalanan pulang. Di dalam mobil, ia tidak bisa berhenti menatap wajah boneka itu yang tampak begitu tenang di bawah temaram lampu jalanan. Tiba-tiba, sebuah perasaan aneh menyeruak. Saat mobil melintasi jalanan yang gelap dan sunyi, Anita merasa seolah-olah cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam mobil memantul dengan cara yang berbeda di mata boneka itu.