Hujan turun tanpa jeda. Butiran air menghantam kaca depan mobil seperti ribuan jari yang mengetuk dengan gelisah. Jalan tol yang biasanya terang berubah menjadi lorong panjang berwarna kelabu.
Cahaya lampu kendaraan memantul di aspal basah, menciptakan bayangan yang berpendar lalu menghilang secepat kilatan petir.
Alea Pramesti duduk di kursi penumpang. Jemarinya menggenggam secangkir kopi yang sudah kehilangan uap hangatnya.
"Mas, pelankan sedikit," pintanya lirih.
Suaminya, Rendra, tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Tenang. Kita hampir sampai."
Suara wiper bergerak berulang kali. Alea memandangi hujan yang seolah menelan seluruh dunia di luar mobil.
"Aku tidak enak perasaan."
Rendra melirik sekilas. "Karena hujan?"
"Bukan."
"Lalu?"
Alea mengembuskan napas pelan. "Aku merasa seperti malam ini akan mengambil sesuatu dari kita."
Rendra terkekeh kecil. "Kamu terlalu banyak menonton film thriller."
Alea ikut tersenyum, tetapi kegelisahan di dadanya tidak ikut memudar.
Di kejauhan, sebuah truk kontainer melaju dari arah berlawanan. Lampu sorotnya menyilaukan mata. Petir menyambar. Untuk sesaat, seluruh jalan berubah putih.
Kemudian, brak!
Sebuah mobil hitam meluncur dari jalur sebelah, kehilangan kendali akibat genangan air. Ban berdecit keras. Rendra refleks membanting setir.
"Alea! Pegangan!"
Semua terjadi dalam hitungan detik. Mobil mereka berputar. Suara logam saling menghantam memekakkan telinga. Kaca depan pecah menjadi ribuan serpihan. Sabuk pengaman menekan dada Alea begitu kuat hingga napasnya tercekat. Tubuhnya terlempar ke samping.
Brak!
Benturan terakhir membuat dunia seakan berhenti bergerak dan sunyi. Hanya suara hujan yang menetes.
Darah mengalir dari pelipis Rendra, menetes perlahan ke setir yang telah penyok.
"A-Alea." Suara itu begitu lemah.
Alea membuka mata dengan susah payah. Kepalanya berdenyut hebat.
"Mas." Ia mencoba meraih tangan suaminya. Tangannya gemetar. "Dengarkan aku. Kita keluar."
Tangan Rendra tak lagi membalas genggamannya. Kepalanya terkulai. Mata yang tadi masih menatap kini kehilangan cahaya.
"Mas?" ulang Alea.
Tidak ada jawaban.
"Mas!"
Alea memanggil sekali lagi. Suaranya berubah parau. "Mas, jangan bercanda!" Ia mengguncang bahu suaminya. Sekali, dua kali, tiga kali.
"Mas! Bangun!"
Tak ada gerakan. Hanya hujan yang terus mengguyur bangkai mobil. Di kejauhan terdengar suara klakson panjang. Orang-orang mulai berlari mendekat.
"Panggil ambulans! Ada korban, sopirnya terjepit! Yang perempuan masih bernapas!"
Alea masih mengguncang tubuh Rendra. "Bangun!"
Teriakannya pecah. Air mata bercampur darah mengalir di wajahnya. "Aku takut."
Seorang petugas penyelamat membuka pintu mobil menggunakan alat hidraulik. Logam berderit keras. "Bu! Tolong menjauh!"
Alea menoleh cepat. "Itu suami saya!"
"Kami akan menolong beliau."
"Tolong bangunkan dia!"
Petugas itu terdiam sesaat. Tatapannya berubah muram ketika ia memeriksa denyut nadi Rendra. Kemudian, ia menggeleng pelan.
Alea melihat gerakan kecil itu. Dunianya runtuh.
"Tidak," bisiknya, nyaris tak terdengar.
Petugas itu menundukkan kepala.
"Tidak!"
Kesadaran Alea perlahan menghilang.
Gelap.
Bip.
Bip.
Bip.
Suara monitor jantung terdengar teratur. Aroma antiseptik memenuhi udara. Lampu putih ruang perawatan terasa menyilaukan. Perlahan, kelopak mata Alea bergerak. Samar-samar terdengar bisikan.
"Dia sadar. Dokter, pasien membuka mata."
Seorang dokter perempuan mendekat bersama dua perawat. "Bu Alea?"
Tidak ada jawaban.
Dokter itu membungkukkan tubuhnya sedikit. "Bu Alea, bisa mendengar saya?"
Tatapan Alea kosong. Matanya menyapu langit-langit ruangan. Dinding putih, infus, monitor jantung, dan selang oksigen. Ia mengernyit.
"Lihat respons pupilnya," ujar dokter itu kepada salah seorang perawat.
Perawat tersebut mengangguk sambil mencatat.
"Tekanan darah stabil, napas juga baik."
Dokter itu tersenyum tipis. "Syukurlah."
Alea justru mengangkat tangan perlahan. Ia memandangi kulitnya cukup lama. Menyentuh nadi di pergelangan. Lalu, menekan dadanya sendiri.
Wajahnya berubah bingung. "Mustahil!"
Dokter itu mendekat. "Apa yang Ibu rasakan?"
Alea menoleh perlahan. Tatapannya begitu kosong hingga membuat bulu kuduk perawat berdiri.
"Boleh saya bertanya?"
"Tentu."
Alea melirik ke sekeliling ruangan. "Kenapa kalian merawat mayat?"
Ruangan mendadak sunyi. Para perawat saling berpandangan.
Dokter itu mengernyit, seolah mengira dirinya salah dengar. "Maaf?"
Alea kembali menatap dokter tersebut. "Kenapa kalian merawat mayat?"
Dokter menarik napas. "Ibu selamat dari kecelakaan."
Alea langsung menggeleng. "Tidak!"
"Ibu masih hidup."
"Itu tidak mungkin!"
Dokter menunjuk perlahan ke arah monitor jantung. "Ibu bisa berbicara. Jantung Ibu juga berdetak normal."
Alea menatap layar monitor itu dengan tatapan kosong. "Mayat juga bisa berbicara kalau hanya di kepala kalian."
Perawat menelan ludah. Dokter tetap menjaga nada bicaranya. "Dengarkan saya, jantung Ibu berdetak normal."
"Itu bukan jantung."
"Lalu?"
Alea mengalihkan pandangan ke arah monitor. "Hanya suara yang belum sempat berhenti."
Dokter mulai mencatat sesuatu di lembar observasi. "Baik. Sekarang, apa Ibu tahu nama Ibu?"
Alea menatap kosong ke arah jendela. "Hentikan memanggil nama itu."
Dokter berhenti menulis. "Nama apa? Itu nama saya."
Alea menarik napas panjang. "Bukan!"
Dokter memandangnya dengan hati-hati. "Lalu, siapa Anda?"
Alea menggeleng perlahan. "Saya sudah tidak ada."
Pintu ruang perawatan terbuka. Seorang polisi masuk bersama seorang pria paruh baya yang wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Alea." Pria itu melangkah cepat mendekati ranjang. "Ayah di sini."
Alea memandangnya tanpa ekspresi. "Maaf."
Pria itu berhenti. "Untuk apa?"
Alea menatap wajahnya. "Anak Bapak sudah meninggal."
Pria itu membeku. Air matanya jatuh begitu saja.
Dokter segera memberi isyarat agar ia tidak memaksa berbicara.
Polisi itu memperhatikan semua kejadian tersebut dalam diam. Sesekali, pandangannya beralih kepada Alea, lalu kembali pada berkas medis yang baru ditulis dokter.
Di bagian catatan awal hanya ada satu kalimat.
Pasien menunjukkan delusi kuat bahwa dirinya telah meninggal. Dugaan awal, Sindrom Cotard.
Polisi itu menutup berkas perlahan. Tatapannya beralih kepada Alea. Entah mengapa, firasat buruk muncul begitu saja.
Kecelakaan itu terasa terlalu rapi dan terlalu banyak kejanggalan yang belum terjawab. Sementara di luar rumah sakit, hujan masih turun membasahi malam.
Di dalam sebuah mobil hitam yang terparkir jauh dari pintu utama, seseorang mengenakan sarung tangan kulit menatap jendela ruang rawat Alea.
Pria itu menyalakan sebuah ponsel. Suara di seberang terdengar datar.
"Korban perempuan selamat?"
"Ya."
"Ingatannya?"
Pria itu menatap jendela ruang rawat Alea. "Belum bisa dipastikan."
Suara di seberang kembali terdengar. "Hapus semua jejak."
Pria itu terdiam sesaat. "Kalau dia mulai mengingat?"
Suara di telepon terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Kalau begitu, pastikan dia dianggap gila sebelum sempat mengatakan kebenaran."
Sambungan telepon terputus. Pria itu menurunkan ponselnya. Kemudian, ia menoleh sekali lagi ke arah jendela ruang rawat Alea.
Mesin mobil menyala perlahan. Mobil hitam itu menghilang ditelan hujan, meninggalkan malam yang baru saja merenggut segalanya, dan menyisakan sebuah rahasia yang baru mulai bangkit.