“Cepat sedikit, Wayan! Lantai itu harus sudah mengilap sebelum truk pengangkut datang sepuluh menit lagi!”
Teriakan melengking Pak Broto, manajer operasional dapur, memecah kesunyian subuh yang baru saja merayap. Wayan tersentak. Tangannya yang kasar, kapalan akibat bertahun-tahun bergulat dengan cairan pembersih, semakin sigap menggerakkan alat pel. Aroma tajam pembersih lantai beradu dengan bau amis sisa daging dan sayuran dari produksi kemarin malam, menciptakan atmosfer yang menyesakkan di dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ini.
Wayan tidak membalas. Ia terbiasa dengan bentakan itu. Baginya, suara keras Pak Broto hanyalah bagian dari kebisingan mesin pengolah makanan yang menderu sejak pukul tiga pagi. Ia hanya menunduk, fokus pada lantai keramik putih yang kini tampak kusam oleh jejak kaki para juru masak yang hilir mudik.
Di sudut ruangan, para juru masak sudah sibuk. Mereka mengenakan penutup kepala dan sarung tangan, mengolah potongan ayam serta sayuran dalam skala industri. Uap panas dari alat masak raksasa memenuhi ruangan, membuat udara terasa lembap dan berat.
Wayan menggeser embernya dengan hati-hati agar tidak menghalangi langkah siapa pun. Di tempat ini, ia hanyalah hantu, keberadaannya diakui hanya saat lantai kotor atau baki makanan perlu dibersihkan. Selebihnya, ia tidak lebih berharga daripada selembar kain pel yang ia genggam.
Wayan menarik napas panjang. Pikirannya melayang pada kehidupan di luar dapur. Ia teringat wajah anak-anak di sekolah dasar tempat program ini disalurkan, anak-anak yang sering ia lihat di televisi tampak lebih segar dan bersemangat. Itulah satu-satunya alasan yang membuat pekerjaannya terasa berarti. Meskipun hanya bertugas di bagian sanitasi, ia merasa memiliki andil kecil dalam perubahan nasib mereka.
Subuh ini terasa ganjil. Ada ketegangan yang merambat di udara. Gerak-gerik para staf tampak lebih terburu-buru, dan sesekali mereka saling melirik dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pak Broto sendiri mondar-mandir di depan pintu gudang penyimpanan, sesekali memaki petugas gudang yang dianggap lamban.
Wayan mendekat ke area pembuangan sampah. Sambil menarik kantong plastik besar yang berat, ia mencuri pandang ke arah meja inspeksi. Di sana, seorang staf administrasi sedang menyusun tumpukan baki dengan sangat rapi, memastikan setiap gramasi terlihat pas. Namun, mata Wayan menangkap sesuatu yang ganjil. Sebuah karung besar berisi beras yang seharusnya bermerek premium, kini tampak dipindahkan ke karung polos oleh dua orang pekerja dengan sangat tergesa-gesa di pojok gudang yang temaram.
Wayan terdiam. Ia pura-pura sibuk mengikat kantong sampah, meski matanya tetap awas. Mengapa mereka memindahkan beras itu? tanyanya dalam hati. Namun, ia segera menepis rasa ingin tahu itu. Ia tahu benar, di tempat ini, keingintahuan adalah pintu menuju masalah yang tidak sanggup ia tanggung. Ia hanyalah Wayan, si pembersih lantai yang harus menjaga agar dapur tetap terlihat tertib.
Setelah membuang sampah, Wayan kembali masuk untuk memastikan tidak ada tumpahan minyak di lorong distribusi. Saat melewati meja Pak Broto, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara manajer itu dengan salah satu staf pengadaan.
“Pastikan semua nota disesuaikan dengan harga pasar tertinggi. Jangan sampai ada selisih yang mencolok dalam audit besok,” bisik Pak Broto, suaranya rendah, penuh penekanan.
Staf itu mengangguk, lalu berbisik kembali, “Bagaimana dengan kualitas sayuran yang kemarin kita terima, Pak? Sebagian sudah mulai layu.”
Pak Broto mendengkus, matanya menyapu ruangan sebelum menjawab.
“Siapa yang peduli dengan kualitas sayuran kalau anak-anak itu tetap saja akan menghabiskannya? Yang penting, laporan di atas kertas terlihat sempurna. Urusan perut mereka bukan urusan kita, yang penting anggaran tahun ini terserap habis. Jangan sampai ada yang berani buka suara, atau kalian akan tahu akibatnya.”
Wayan terpaku di balik mesin pendingin besar. Jantungnya berdegup kencang, nyaris terasa hingga ke tenggorokan. Sesuatu yang rapuh di dalam dadanya seolah runtuh. Program yang ia anggap sebagai secercah harapan bagi masa depan anak-anak ternyata hanyalah kedok untuk keserakahan segelintir orang. Ia merasa mual. Aroma masakan yang tadinya ia anggap sebagai aroma pengabdian, kini berubah menjadi bau busuk ketidakjujuran.
Saat ia mencoba menjauh dengan langkah terseret, Pak Broto tiba-tiba menoleh. Matanya yang tajam menangkap bayangan Wayan. Manajer itu menyipitkan mata, lalu berjalan mendekat dengan langkah berat yang membuat Wayan gemetar.
“Eh, Wayan! Sedang apa kamu di sini? Bukannya tadi saya suruh bersihkan area pengemasan?” tanya Pak Broto dengan nada curiga.
Wayan menelan ludah, suaranya tercekat.
“Maaf, Pak. Saya, saya tadi sedang memastikan tidak ada noda di dekat mesin pendingin agar tidak mengundang tikus.”
Pak Broto menatap Wayan dengan intens, seolah ingin membelah isi kepalanya. Wayan menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang pucat. Detik demi detik terasa seperti berabad-abad. Akhirnya, Pak Broto mendengus kasar.
“Lakukan tugasmu dengan benar dan jangan banyak tingkah. Ingat, Wayan, orang seperti kamu harus tahu kapan harus menutup mata dan telinga jika ingin tetap punya pekerjaan.”
***
"Wayan, jangan melamun! Cepat bantu angkut keranjang telur ini ke meja sortir!"
Suara lantang Pak Broto kembali membuyarkan lamunan Wayan. Laki-laki paruh baya itu masih berdiri di posisinya, menatap Wayan dengan sorot mata yang seolah menagih janji agar Wayan tetap menjadi hantu yang patuh.
Wayan segera mengangguk, menyambar keranjang besar yang diletakkan di dekat pintu masuk gudang. Beratnya terasa tidak wajar. Begitu ia mengangkatnya, samar-samar ia mencium aroma menyengat yang tertahan di balik cangkang telur-telur itu. Bau khas telur yang sudah terlalu lama disimpan, atau mungkin, telur yang sudah mulai membusuk.
Wayan mendekap keranjang itu erat-erat, berjalan melewati lorong sempit menuju area meja sortir. Di sepanjang jalan, ia berpapasan dengan dua orang kurir yang baru saja menurunkan muatan dari truk pemasok.
Truk itu tampak tua, dengan bak terbuka yang ditutupi terpal biru kusam. Wayan sengaja melambatkan langkahnya, pura-pura menata tali sepatunya yang longgar agar bisa mencuri dengar pembicaraan di dekat pintu gudang yang terbuka lebar.
"Ini kiriman terakhir untuk minggu ini, Pak. Selebihnya kami tidak bisa menjamin kondisinya kalau Bapak terus meminta harga murah, tapi barang harus kualitas super," ucap sang kurir dengan nada ketus.