


oleh Iday Iis · 47 Bab
Di bawah guyuran hujan yang sama, dua jiwa yang hancur bertemu tanpa sengaja. Selia, yang baru saja merasakan pahitnya cinta tak terbalas, dan Zilkaf, cowok misterius yang menyembunyikan tangisnya di balik riuh tetesan air. Bagi Selia, Zilkaf adalah pelarian sekaligus harapan baru. Namun, semakin ia mencoba mendekat, semakin ia menyadari bahwa Zilkaf tidak benar-benar ada di sana. Cowok itu hadir secara fisik, tetapi jiwanya masih tertinggal di sebuah tempat yang ia sebut "masa lalu". Saat rahasia mulai terungkap lewat goresan kuas yang enggan digerakkan, Selia dihadapkan pada satu pertanyaan menyakitkan. Mampukah ia menyembuhkan seseorang yang bahkan tidak ingin diselamatkan?
Selia mengatupkan bibirnya, menahan getaran yang memaksa untuk keluar. Rasa sakit yang asing itu sungguh tidak bisa dia tahan. Dia memegang dadanya dengan erat, menekan rasa sesak yang mencuak.
Kristal-kristal kecil tiba-tiba jatuh menghujani bumi, membasahi tubuh kecil yang terbalut kemeja biru itu. Selia berjalan pelan, menikmati tetes demi tetes bulir pembawa kenangan. Rasa sesak yang selama ini dia pendam—rasa sakit karena cinta tak terbalas—dia curahkan jua kala itu. Dia tersenyum, mengikhlaskan wajahnya menjadi sasaran empuk bulir air yang jatuh.
Dia tidak peduli dengan tatapan asing orang-orang. Tidak ada gunanya merasa malu di saat seperti ini. Rasa sakitnya jauh lebih menyebalkan daripada rasa malu itu sendiri. Langkah kakinya membawa Selia menuju taman. Entah kenapa, kakinya seolah menuntun ke sana. Ketika melihat sebuah kursi kayu, dia berhenti sejenak, lalu mendudukkan tubuhnya.
Ditatapnya sekeliling. Tidak ada orang yang berlalu-lalang. Wajar saja, karena siapa orang bodoh yang mau duduk di taman saat hujan lebat seperti ini selain dirinya?
Tiba-tiba matanya terpaku. Dia menatap satu sosok yang duduk di kursi berseberangan. Ternyata masih ada manusia bodoh seperti dirinya di dunia ini. Sosok itu adalah seorang laki-laki. Dia terlihat terisak, mungkin sama terluka dengan dirinya. Selia memerhatikan laki-laki itu dengan lekat; dia mengenali seragam sekolah yang dikenakan laki-laki tersebut.
Mungkin sadar sedang diperhatikan, laki-laki itu mengalihkan pandangannya kepada Selia. Hal itu membuat Selia sedikit terperanjat. Mereka saling tatap untuk beberapa saat. Jika saja dia tidak sedang patah hati, mungkin Selia akan menyukai suasana itu. Laki-laki itu terlihat sangat tampan, bahkan dengan rambut basah kuyup pun dia terlihat indah.
Ketika laki-laki itu memalingkan wajah, Selia merasakan sedikit kecewa. Dan saat laki-laki itu bangkit meninggalkan taman, Selia merasakan sesak di dadanya. Rasa sesak yang sama seperti sebelumnya, namun kali ini diikuti perasaan gelisah.
Selia berdiri, tangan kanannya memegang dada dengan erat mencoba mencari sosok tadi. Namun, malang, laki-laki itu tidak ada di mana pun. Untuk menenangkan kegelisahan di hatinya, Selia meyakinkan diri bahwa laki-laki tadi hanyalah ilusi—hanya khayalan yang diciptakan alam bawah sadarnya.
Ketika hujan agak reda, Selia memutuskan pulang. Pulang ke rumah di mana tidak ada seorang pun yang menunggu kedatangannya. Dia melangkah dengan susah payah; tubuhnya menggigil kedinginan dan jari-jarinya keriput karena terlalu lama terkena air.
Dari kejauhan, dia melihat seorang laki-laki sudah menunggu. Laki-laki itu bernama Kalfar, satu-satunya orang yang mau menemaninya. Di saat orang tuanya tiada dan meninggalkannya selamanya, hanya Kalfar yang selalu hadir sebagai penyelamat.
"Kenapa kamu basah kuyup begini?" tanyanya khawatir. "Jangan kekanakan begitu deh," sambungnya.
Selia hanya tersenyum tipis. Dia berterima kasih karena dikhawatirkan, tetapi itu terasa sia-sia. Rasa khawatir Kalfar tidak bisa menghilangkan sakit hatinya. Selia mendudukkan tubuhnya yang basah di kursi teras rumah, menatap Kalfar yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk yang baru diambil dari kamar Selia. Kalfar memang sudah biasa di sana; dia tahu di mana letak barang-barang milik gadis itu.
Ditatapnya laki-laki berwajah tampan dengan tatapan tajam itu. Andai saja orang yang dia cintai adalah Kalfar, mungkin dia tidak akan sesakit ini.
"Kenapa kamu menatapku sampai segitunya?" ujar Kalfar, merasa risih.
Selia tersenyum tipis. "Kamu mau jadi pacarku?"
Pertanyaan itu membuat Kalfar membulatkan mata. "Kamu melantur apa, sih?" Kalfar tidak menganggap serius ucapan Selia.
Selia mengalihkan pandangan ke arah halaman. Langit terlihat cerah lagi, seolah dunia tidak peduli dengan kesedihannya.
"Aku serius, kamu mau tidak jadi pacarku?" ulang Selia. Dia hanya ingin melupakan rasa sakitnya dengan memulai hubungan baru, meskipun bersama sahabatnya sendiri.
Kalfar diam, menatap Selia dengan aneh. "Jangan bicara yang tidak-tidak. Ganti baju dulu sebelum masuk angin," ujarnya. Dia benar-benar tidak berpikir bahwa Selia sedang serius.
Selia tersenyum getir. Dia ditolak lagi.
Di sekolah.
Selia duduk sambil membenamkan kepala di atas meja. Dia malas memulai pelajaran. Dilihatnya jam tangan menunjukkan pukul 07.25. Dia menghela napas, berharap guru yang mengajar hari ini sakit perut atau demam agar tidak bisa masuk. Namun sia-sia. Tak lama setelah bel berbunyi, seorang guru memasuki kelas dengan senyum ramah. Di belakangnya, ada seseorang yang mengikutinya—seseorang yang membuat mata Selia yang awalnya layu kini membelalak terkejut.
Cowok yang ditemuinya kemarin kini berdiri di depan kelas dengan wajah datar. Selia berusaha menutupi wajah dengan telapak tangan, takut laki-laki itu mengingatnya. Namun, ketika mata mereka bertemu, reaksi cowok itu biasa saja. Dia tidak mengingat apa pun tentang Selia. Hal itu membuat Selia sedikit kecewa.
"Anak-anak, kita kedatangan murid baru dari SMA 02," ujar Bu Nina, wali kelas sekaligus guru Bahasa Indonesia. "Zilkaf, silakan perkenalkan diri."
"Saya Zilkaf Morenov dari SMA 02. Salam kenal semuanya," ujarnya datar.
Tipe seperti itulah yang disukai banyak siswi. Selia mendengar teman-temannya berbisik kagum. Zilkaf terlihat seperti pangeran yang datang ke tempat kumuh. Laki-laki itu berjalan melewati Selia tanpa menoleh sedikit pun dan duduk di kursi paling belakang.
Selia menahan napas ketika Zilkaf melewatinya. Jantungnya berdegup cepat. Dia mengenali perasaan itu dan mengulum senyum karena tingkahnya sendiri.
Saat istirahat, banyak siswi yang datang hanya untuk melihat siswa pindahan itu. Dia sudah seperti selebritas. Selia pun diam-diam memerhatikan Zilkaf lewat sudut matanya. Cowok itu terlihat melamun dengan tangan di bawah dagu dan tatapan kosong. Namun bagi Selia, Zilkaf tetap terlihat tampan.
Malam hari, di rumah Selia.
Kalfar sedang duduk menonton drama percintaan sambil mengunyah camilan yang disiapkan Selia. Ketika Selia duduk di sofa depannya, Kalfar menatap sekilas.
"Aku dengar ada anak pindahan di kelasmu. Siapa namanya?"
Selia tersenyum tulus. Wajah Zilkaf seketika memenuhi kepalanya. "Iya, namanya Zilkaf Morenov. Dia itu cowok tampan banget!" seru Selia semangat.
Kalfar menatapnya aneh. "Jangan bilang kamu naksir dia." Selia mengangguk mantap.
"Hah!" Kalfar menghela napas panjang. Dia tidak menyangka perasaan gadis itu berubah secepat ini. Baru kemarin Selia terlihat patah hati dan mengajak Kalfar berpacaran, tetapi sekarang sudah jatuh hati lagi pada orang baru.
"Kok dia pindah saat semester genap, sih? Apa dia dikeluarkan dari sekolah lamanya?" tanya Kalfar, yang langsung dihadiahi bantal terbang oleh Selia.
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Mungkin ada masalah lain," bela Selia.
Sebenarnya Selia juga merasa aneh. Jarang ada yang pindah saat hampir kenaikan kelas. Dia mengaitkan hal itu pada kejadian di taman. "Mungkin masalah yang membuatnya pindah sama dengan alasan dia menangis di taman kemarin?" batin Selia.
Besoknya, di kelas.
Selia datang kepagian karena tidak sabar ingin melihat Zilkaf. Jantungnya tak henti berdetak kencang saat mendengar langkah kaki mendekat. Selia seketika lupa cara bernapas melihat Zilkaf muncul di depan pintu.
Mata mereka kembali bertemu. Selia menghirup napas dalam, memberanikan diri untuk menyapa. Dia tidak ingin keduluan cewek lain. Selia merasa dirinya cukup cantik untuk cowok seperti Zilkaf. Dia mengangkat tangannya dengan canggung.
"Hai!" panggilnya.
Zilkaf memberikan anggukan dan senyum tipis, lalu berjalan menuju tempat duduknya. Senyum itu sudah cukup membuat hati Selia mencair. Namun, Zilkaf berjalan memutar. Padahal kursinya sejajar dengan Selia, tetapi dia sengaja tidak melewati jalan di samping Selia. Gadis itu merasa sedikit kecewa.
Hari-hari berikutnya, Selia melakukan hal yang sama dan mendapat respons yang sama. Sebulan berlalu, tetapi Selia tidak menyerah. Dia ingin dirinyalah satu-satunya yang boleh menatap Zilkaf dengan penuh cinta.
Takdir sepertinya berpihak. Mereka satu kelompok dalam pelajaran seni di mana tugasnya adalah melukis. Di antara beberapa tema, Zilkaf menyarankan tema "Kesendirian".
Sebelum mulai, Zilkaf menatap kuasnya dengan nanar. Dia terlihat enggan, tetapi terpaksa melakukannya. Tingkah Zilkaf itu tertangkap oleh mata Selia, membuatnya bertanya-tanya, kenapa Zilkaf menunjukkan ekspresi seperti itu?

Iday Iis
9 Pengikut · 4 Novel