Malam itu, ballroom hotel dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul di dinding kaca. Musik instrumental mengalun lembut, bercampur dengan suara percakapan para pebisnis yang sesekali diselingi tawa kecil, dan denting gelas.
Bagaskara berdiri di dekat meja panjang yang dipenuhi hidangan, mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih tanpa dasi. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Di tangannya terdapat segelas air mineral yang sejak tadi tidak banyak disentuh.
"Pak Bagas, sebentar lagi acara utama dimulai."
Bagaskara menoleh. "Presentasinya sudah siap?"
"Sudah. Semua data juga sudah diperiksa."
"Bagus!" Pria itu kembali menghadap ke arah panggung.
Malam ini seharusnya sederhana. Datang, lalu bertemu beberapa rekan bisnis. Membicarakan kerja sama, kemudian menandatangani kesepakatan jika semua berjalan sesuai rencana. Setelah itu pulang.
Tidak ada yang istimewa. Setidaknya, itulah yang Bagaskara pikirkan sebelum pandangannya bergerak melewati kerumunan.
Lalu, semuanya berhenti.
Bukan langkahnya, atau alunan suara musik. Bukan pula percakapan orang-orang di sekitarnya. Hanya dirinya yang mendadak seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak.
Di seberang ballroom, seorang perempuan baru saja memasuki ruangan. Rambutnya tergerai melewati bahu. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru tua yang sederhana, tetapi membuat sosoknya terlihat anggun.
Wajah itu tidak banyak berubah. Wajah yang selama bertahun-tahun berusaha Bagaskara kubur dalam-dalam.
Angel.
Jari-jarinya yang memegang gelas seketika mengencang. Dadanya sesak. Bagaskara mengedip sekali, dua kali. Seolah-olah dengan begitu perempuan itu akan menghilang. Namun, Angel tetap berada di sana.
Nyata.
Bukan bayangan, atau kenangan. Bukan seseorang yang hanya hadir ketika malam terlalu sepi, dan pikirannya terlalu lelah untuk melawan masa lalu.
"Pak Bagas?" Suara rekannya terdengar dari samping. Bagaskara tidak menjawab. "Pak Bagas? Anda tidak apa-apa?"
Bagaskara menarik napas pelan. "Tidak apa-apa."
Bahkan dirinya sendiri tahu jawaban itu bohong. Tatapannya kembali mencari perempuan tersebut. Angel sedang berbicara dengan seorang pria di dekat meja registrasi. Ia tersenyum kecil.
Senyum yang dahulu sangat dikenalnya, yang dulu selalu muncul ketika Bagaskara berhasil membuatnya kesal. Senyum yang pernah ia lihat setiap pagi, dan pernah membuat rumah kecil mereka terasa seperti tempat paling nyaman di dunia.
Kenangan itu datang tanpa izin.
"Mas, kopinya jangan diminum kalau sudah dingin." Suara Angel dari masa lalu terlintas begitu jelas. Bagaskara memejamkan mata sesaat.
Jangan!
Ia sudah bertahun-tahun membangun dinding untuk melupakan semuanya.
Tidak mungkin satu pertemuan menghancurkan seluruh pertahanannya. Namun, ketika membuka mata, Angel masih di sana, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bagaskara menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ingin ia akui.
Ia ternyata tidak pernah benar-benar melupakan perempuan itu. Ia hanya belajar hidup tanpa kehadirannya.
"Pak Bagas, ada Pak Herman." Bagaskara menoleh ketika seorang staf mendekat. "Beliau ingin bertemu."
"Suruh tunggu."
"Baik."
Bagaskara kembali melihat Angel. Perempuan itu sekarang berjalan ke arah panggung. Langkahnya tenang. Tidak terburu-buru. Tidak sedikit pun terlihat seperti seseorang yang baru saja menghidupkan kembali luka lama dalam dada seorang pria.
Bagaskara menelan ludah. Apakah Angel sudah melihatnya? Pertanyaan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Kemudian, perempuan itu berhenti. Kepalanya perlahan menoleh. Mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik, tetapi bagi Bagaskara, waktu terasa berhenti.
Mata Angel membesar sedikit. Senyumnya menghilang. Wajah yang semula tenang berubah menjadi kaku. Jelas sekali perempuan itu mengenalinya.
Tentu saja!
Bagaimana mungkin Angel tidak mengenalinya?
Mereka pernah menghabiskan bertahun-tahun bersama. Pernah berbagi mimpi, dan bertengkar hanya karena hal-hal kecil. Pernah saling berjanji, dan pernah saling mencintai dengan cara yang membuat perpisahan mereka terasa seperti kehilangan separuh hidup.
Angel mengalihkan pandangan lebih dahulu. Bagaskara tidak tahu mengapa hal sederhana itu terasa menyakitkan.
"Jadi, dia benar-benar datang." Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari belakang.
Bagaskara menoleh. Seorang rekan bisnis berdiri sambil tersenyum. "Siapa?" tanya Bagaskara datar.
Pria itu menunjuk samar ke arah Angel. "Angel. Bukankah Anda mengenalnya?" Bagaskara diam. "Sepertinya Anda mengenalnya cukup dekat. Teman?"
"Sudah lama." Bagaskara menatap Angel lagi. Teman. Satu kata itu terasa terlalu sederhana untuk menggambarkan semuanya. "Mantan kenalan," jawab Bagaskara akhirnya.
Rekannya tertawa kecil. "Mantan kenalan?"
Bagaskara tidak menjawab. Ia tidak ingin membicarakan Angel. Tidak di tempat ini, atau di hadapan orang lain. Terlebih lagi, ia tidak ingin mengakui bahwa kemunculan perempuan itu membuat seluruh bagian dirinya yang selama ini ia anggap sudah mati kembali bergerak.
Di atas panggung, pembawa acara mulai memberikan sambutan. Lampu ballroom sedikit diredupkan. Para tamu mulai mengambil tempat.
Bagaskara seharusnya memperhatikan acara. Namun, pandangannya kembali menemukan Angel. Perempuan itu duduk beberapa baris di depan. Punggungnya tegak. Tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Ia terlihat jauh lebih dewasa sekarang, lebih tenang, dan kuat.
Bagaskara bertanya-tanya, seperti apa kehidupan Angel selama bertahun-tahun ini. Apakah ia bahagia? Apakah ia pernah menikah, ataukah ada seseorang yang kini menunggunya pulang?
Pertanyaan terakhir membuat rahangnya mengeras.
Kenapa ia harus peduli? Bukankah dulu Angel yang memilih pergi? Dirinya sudah menerima kenyataan itu!
Bukankah ia sudah berulang kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semuanya telah selesai? Lalu, mengapa sekarang hanya dengan melihat perempuan itu dari kejauhan, dadanya terasa sesak?
Bagaskara mengembuskan napas panjang. "Tenang," bisiknya kepada diri sendiri. Namun, hatinya menjawab lain.
Tidak ada yang tenang ketika perempuan yang selama ini berusaha dilupakan tiba-tiba berdiri beberapa meter darinya.
Tidak ketika satu tatapan mampu mengembalikan begitu banyak kenangan, dan ketika sebagian kecil dari dirinya ternyata masih menunggu jawaban dari perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Acara berlangsung hampir satu jam. Ketika tepuk tangan terdengar memenuhi ballroom, Bagaskara berdiri. Ia berniat pergi sebelum Angel meninggalkan tempat itu. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri. Namun, ketika baru beberapa langkah berjalan, suara perempuan itu terdengar dari belakang.
"Bagaskara."
Langkahnya berhenti. Seluruh tubuhnya menegang. Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar namanya dipanggil dengan suara merdu itu.
Bagaskara perlahan berbalik. Angel berdiri beberapa langkah darinya. Tatapan mereka kembali bertemu.
Kali ini tidak ada kerumunan yang bisa menjadi penghalang. Tidak ada jarak yang cukup untuk menyembunyikan perasaan. Hanya mereka. Dua orang yang pernah saling mencintai. Dua orang yang pernah saling kehilangan, dan satu masa lalu yang ternyata belum benar-benar selesai.
Angel menarik napas. "Sudah lama."
Bagaskara menatapnya dalam-dalam. "Terlalu lama."
Angel terdiam. Bagaskara pun demikian. Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang kembali bernyanyi.
Melodi lama.
Melodi yang selama bertahun-tahun ia paksa untuk berhenti. Melodi rindu yang ternyata tidak pernah benar-benar hilang.