Tenang-tenang! Mencari pekerjaan memang bukanlah hal mudah, tapi juga tidak sesulit itu. Kuncinya hanya sabar. Seperti apa yang aku lakukan beberapa tahun lalu, ya lebih tepatnya 5 tahun lalu. Saat itu usiaku 20 tahun.
Sejujurnya, saat baru lulus aku ingin sekali kuliah jurusan psikologi, tetapi dunia saat itu tidak berpihak padaku, hingga setelah lulus aku langsung mencari pekerjaan. Namun, lagi-lagi hidup tak berjalan mulus untukku. Saat usiaku menginjak 20 tahun, aku baru mendapat pekerjaan saat teman-temanku yang lain langsung mendapat pekerjaan tepat setelah lulus.
2 tahun menganggur, bukanlah masalah serius. Hanya saja terkadang ucapan orang yang membuat semuanya menjadi terlalu serius.
Sekarang, aku sudah tidak perlu mendengarkan ocehan orang lagi tentang masalah pekerjaan. Sudah 5 tahun aku bekerja di sebuah kafe yang setiap hari pengunjungnya tak main-main. Kafe tempatku bekerja memang sangat populer.
BREW & BLOOM memiliki berbagai macam kopi, roti, pastry, dessert, dan minuman non kopi. Dengan menu andalannya kopi dan roti yang setiap hari selalu mencetak penjualan paling banyak.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Tunggu, sepertinya aku baru saja mendengar suara getaran. Ah, benar. Itu sepertinya berasal dari handphone yang sebelumnya aku letakkan di coffee bar. Segera kusandarkan pel'an pada salah satu meja. Sesampainya di depan meja kasir, aku langsung mengambil handphone yang layarnya terus menyala. Dapat aku lihat panggilan masuk dari Nadia. Kutekan gambar gagang telepon bewarna hijau itu.
"Hallo, Nad."
"Kamu sudah di rumah? Sudah mau tidur ya?"
"Masih di kafe, ini baru selesai ngepel. Kenapa?"
"Sudah aku duga. Padahal ini sudah jam 11 lho, Na. Bekerja sampai larut malam kayak gitu selama 5 tahun gak membuat kamu naik jabatan jadi manajer, bahkan gaji saja cuma naik 300.000, apa gak keterlaluan sistemnya?!"
Tentu saja aku hanya bisa tersenyum mendengar ocehan Nadia yang sebenarnya kekesalan itu mewakili isi hatiku.
"Walau cuma 300.000, bukannya bagus ya? Sekarang gajiku bukan lagi dua juta tapi dua juta tiga ratus."
Helaan napas panjang pun terdengar dari seberang sana. Aku tahu Nadia sefrustasi itu untuk seseorang yang tahu betapa bekerja kerasnya aku 5 tahun belakangan. Namun, aku bisa apa? Mendapat pekerjaan saja dan bertahan hingga saat ini sudah sangat bersyukur. Memangnya aku boleh berharap lebih?
"Aku berharap tahun ini isi kepala pemiliknya sedikit terbuka, biar karyawan kayak kamu yang sudah lama ada kenaikan gaji yang sepadan dengan kerja keras yang selama ini kamu lakukan."
"Aamiin."
"Benar, gak ada hal lain selain sabar, menunggu, dan ikhlas saja."
"Ngomong-ngomong, kamu ada apa telepon aku jam segini?"
"Gak ada apa-apa, cuma mau ngecek saja apa dugaan aku benar kalau kamu masih di kafe."
"Jangan terlalu membenci pemiliknya, Nad."
"Masih belum muncul juga dia sekali pun setelah 2 tahun menghilang?" Dengan nada terdengar sedikit kesal.
"Iya."
"Bagaimana bisa pemilik kafe dengan 10 cabang menghilang gitu saja. Gak ada tanggung jawabnya sama sekali tuh orang. Enak banget menyerahkan semua pekerjaan sama karyawannya."
"Sudah, Nad. Gak baik ngomongin orang sampai segitunya."
"Oke, aku berhenti ngomongin manusia satu itu."
"Harus sih, karena sudah saatnya aku pulang. Kalau ngobrol terus, kapan aku menyelesaikan kerjaan yang tinggal sedikit lagi?"
"Iyaaa. Kalau gitu, semangat pejuang pencari uang!"
"Mm."
Setelah menyelesaikan semua, di mana kafe sudah rapi dan bersih, tentu aku langsung bergegas pulang. Masih di dalam kafe, aku mengecek kembali barang-barangku, takut ada yang tertinggal.
Brukk.
Apaan tuh?! Hampir saja jantungku melompat keluar dari tempatnya. Aku melihat sekeliling di mana tidak ada sesuatu yang terjatuh. Tunggu, suaranya sih dari luar. Dengan langkah ragu, jantung yang detakkannya sudah menggila, aku melangkah ke arah pintu dengan rasa takut yang kian nyata.
Walau orang jahat lebih menakutkan, tapi hantu juga tidak kalah menyeramkan. Tidak langsung keluar, aku melihat ke arah luar dengan berdiri di depan pintu.
Dari jendela, dapat aku lihat ada seorang lelaki terduduk dengan bersandar pada dinding kafe. Siapa lelaki itu? Orang jahat atau bukan? Apa aku hampiri? Bagaimana pun juga aku harus keluar untuk pulang.
Kupegang knop pintu, mempersiapakan diri. Menghela napas panjang, lalu membuka pintu dengan ketegangan yang ada.
Kututup pintu dengan pelan, menghampiri orang itu yang tengah duduk di atas lantai. Seorang pria dengan jaket kulit hitam, celana jeans hitam, kepala yang menunduk yang dari samping terlihat cukup tampan.
"Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"
Kepala itu terangkat, dan mata kami pun bertemu. Sontak aku terdiam sejenak. Memandangi wajah yang sempurna itu. Sangat-sangat tampan! Wajahnya seperti karakter pria dari drama Korea, atau manhwa Korea. Terasa seperti tidak nyata.
"Saya ...." Tiba-tiba ucapannya terhenti, seperti menahan sakit.
"Masnya gakpapa?"
Perhatianku pun jatuh pada salah satu tangannya yang sebelumnya terus menyentuh bagian perut. Telapak tangannya sudah penuh darah, begitu pun jaketnya yang terlihat seperti ada cairan kental. Dadaku sontak terasa sesak, tanganku gemetar saat melihat darah itu.
Aku yang melihat itu pun seketika panik, dan cemas. Memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan kebingungan yang ada. Mendadak aku mengingat sesuatu!
Berjongkok di hadapan pria itu, menaruh tas yang sebelumnya aku pakai di lantai, membuka sweater merah yang tengah aku pakai, melilitkannya pada perut pria itu. Mengikatnya sedikit kencang, agar menekan bagian yang terluka. Bahaya jika darahnya terus keluar.
Pintar, bukan? Iyalah. Lulusan drama Korea yang hampir setiap hari maraton.
Aku pun teringat rumah sakit di perempatan yang tak jauh dari kafe. Kupakai kembali tas, lalu menatap pria itu yang matanya seperti siap terpejam kapan saja.
"Saya akan bawa Masnya ke rumah sakit."
Aruna, apa kamu tidak melupakan sesuatu? Ah, benar. hampir lupa jika aku perlu memesan taksi online, karena jam segini taksi offline sudah tidak ada yang lewat. Dengan cepat, aku mengeluarkan handphone, memesan taksi online.
Untungnya aku dapat yang jaraknya hanya 10 menit. Sembari menunggu, aku semakin dibuat cemas dengan kondisi pria di hadapanku. Wajahnya sudah pucat pasih.
Entah apa yang terjadi dengan pria itu sampai terluka seperti itu. Apa dia habis dirampok? Tiba-tiba mata itu terpejam, dan seketika aku semakin panik. Kalau dari drama yang aku tonton, pasien yang terluka dengan mengeluarkan banyak darah, jangan sampai tidur karena tidurnya sama saja dengan kehilangan kesadaran, dan itu berbahaya.
"Mas!" panggilku, mencoba membuatnya tetap tersadar.
Mata itu kembali terbuka.
Apa yang harus aku katakan? Apa harus bicara.. random?
"Masnya tampan," kataku sambil memamerkan deretan gigi rapi yang untungnya masih putih ini.
Sebenarnya, sedikit malu. Biasanya aku hanya dalam hati mengagumi para pria tampan, tapi kali ini aku benar-benar mengungkapkannya.
Pria itu hanya menatapku dalam diam.