


oleh Tya Oline · 26 Bab
Ketika kematian dari orang terkasih, membawa Kusuma pada perputaran roda waktu dan mengharuskannya kembali ke masa lalu untuk mengulangi hal yang sama dan memperbaiki semuanya. Haruskah dia mengorbankan cintanya itu? Namun, keputusan harus tetap diambil. Memilih bertahan dan kehilangan cinta atau kembali ke masa lalu, menyelamatkan sangat kekasih, tetapi dia harus merelakan ingatan dan cinta. Kematian seperti apa yang terjadi pada kekasih Kusuma? Apa hubungan dari semua kejadian dengan kembalinya Kusuma ke masa lalu?
"Mohon maaf, Pak. Kami sudah berusaha dengan maksimal, tetapi kondisi jantung Nona Kusuma yang seperti saat ini sangat berbahaya untuk Nona. Bukan ingin mematahkan semangat Bapak dan keluarga, tetapi satu-satunya cara menyelamatkan Nona Kusuma hanyalah dengan mendapatkan donor."
Sunyi. Walau di sana ada beberapa orang berdiri dengan wajah-wajah resah. Informasi yang disampaikan oleh dokter spesialis penyakit jantung dan dokter bedah beberapa saat sebelumnya, membuat semua membeku sampai akhirnya seorang perawat datang menyadarkan.
"Bagaimana, Suster? Apa putri kami masih bisa diselamatkan?" tanya seorang pria paruh baya yang sedari awal memasuki rumah sakit sudah tampak sangat sedih.
"Kita berdoa saja, Pak. Semoga ada keajaiban seperti yang tadi telah disampaikan dokter." Perawat pun berlalu menjauh dengan tergesa setelah menjawab.
"Ke mana dan siapa yang bersedia mendonorkan jantungnya?" ucap pria dengan rambut yang mulai ditumbuhi uban seolah pada dirinya sendiri.
"Kita berdoa saja, Ma. Semoga putri kita bisa kembali sehat."
Baru saja mereka berhenti saling berbisik, sebuah brankar memasuki Ruang UGD dengan membawa tubuh pria yang tidak lagi utuh, tergolek penuh darah. Semua yang ada di sana berpaling, tidak sanggup melihat keadaan pasien. Dokter dengan cepat memberi pertolongan pada pasien korban kecelakaan di depan mereka.
Ketika semua tengah disibukkan dengan pasien kritis di UGD, seorang suster jaga keluar dari ruang ICU dengan wajah cemas dan tampak terburu. Wanita muda itu langsung menerobos masuk ke ruang UGD.
"Dokter, pasien Kusuma semakin kritis," sela seorang suster di tengah kegentingan ruang penanganan UGD. Tanpa menunggu jawaban, suster tersebut langsung berbalik dan berlari meninggalkan ruangan.
"Dokter Pram, saya akan ke ruangan pasien Kusuma, tolong pastikan pasien ini ditangani dengan baik," ucap dokter pada rekannya.
"Baik, Dokter Willi, silakan." Dokter muda yang dipanggil dengan nama Pram tampak sedikit membungkuk pada seniornya itu.
Sepeninggal Dokter Willi, Dokter Pram tampak keheranan dan menatap pasiennya dengan alis bertaut. Tampak kelopak mata pemuda di brankar itu bergerak, lalu perlahan terbuka walau sayu.
"Dok-ter," bisik pemuda itu dengan gerakan tangannya yang lemah.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Pram, dia mendekatkan telinganya pada pasien.
Dokter muda yang memiliki paras mirip Lee Ik Jung, si dokter tampan di serial drama Korea Hospital Playlist itu tampak tertegun, lalu dia mengangguk.
Setelah beberapa saat, dia kembali berdiri tegap dan menepuk bahu si pasien. Dia pun undur diri untuk memberitahukan permintaan si pasien pada rekannya.
°°°
"Ada apa, Dokter? Apakah keadaan putri kami membaik?" tanya ayah pasien Kusuma saat dia memasuki ruang kerja dokter spesialis tersebut.
"Pak, insyaaAllah Nona Kusuma bisa selamat. Ada seseorang yang suka rela mendonorkan jantung dan korneanya. Kita akan melakukan beberapa tes pada keduanya untuk memastikan kecocokan di antara mereka."
"Alhamdulillah. Baik, Dokter. Terima kasih," sahut ayah pasien.
"Nanti saja setelah Nona Kusuma benar-benar selamat." Senyum mengembang dari bibir tipis dokter Willi, seolah ingin mengatakan pada keluarga pasien bahwa semua akan baik-baik saja.
Dokter berpamitan dan dia langsung meminta beberapa tes dilaksanakan pada kedua pasien. Debar di dada berpacu seolah ingin mengalahkan detak jarum jam. Menunggu keputusan dokter bak menunggu vonis hakim memutuskan hukuman.
Keluarga besar Kusuma hanya mampu diam dan menunduk sembari berdoa dalam hati agar Tuhan memberi yang terbaik untuk putri kesayangan mereka.
Saat semua tengah diam dengan pikiran masing-masing, dari arah ICU, beberapa suster tampak berlarian menuju ruang dokter yang berada tidak jauh dari sana. Terdengar bunyi alat penunjang kesehatan di ruangan khusus itu menjerit.
"Suster, apa itu putri kami?" cecar salah seorang dari keluarga besar Kusuma.
"Bukan, Pak. Itu pasien korban kecelakaan yang kebetulan bersebelahan dengan Nona Kusuma." Seorang suster yang baru datang menjelaskan.
Tampak dokter datang dengan terburu-buru memasuki ruangan. Dokter Pram dan Dokter Willi segera memeriksa, tetapi Dokter Willi langsung berkata, "Pasien telah meninggal, kita harus selesaikan pesan terakhir pasien. Apa keluarga pasien telah diberi tahu tentang wasiat terakhir? Kalau sudah, siapkan operasi sekarang!"
"Sudah, Dok. Mereka sudah menandatangani surat pernyataan," jawab Dokter Pram.
°°°
Wajah-wajah lelah tampak termangu di ruang tunggu yang berada di ruang perawatan Kusuma. Mereka hanya boleh memasuki ruangan secara bergantian.
Malam itu, hanya ada dua kakak laki-laki Kusuma bersama seorang paman mereka. Sementara kedua orang tua Kusuma berada di dalam ruang perawatan menemani putri bungsu mereka.
"Bunda." Bisikan Kusuma sangat lirih, tetapi masih terdengar oleh indra pendengaran sang bunda.
"Suma! Ayah, bangun. Suma kita sudah sadar." Wanita ayu itu mengguncang bahu sang suami setelah memastikan ada gerakan dari tubuh sang putri.
Sang suami terjingkat, pria itu langsung melebarkan mata saat tampak gerakan kepala sang putri. Mereka langsung menghambur dan mendekati ranjang putih di dekat jendela.
"Bunda." Bibir Kusuma bergerak menyebut nama sang bunda walau kedua mata masih tertutup rapat.
"Ayah, panggil dokter. Buruan!" seru wanita yang tampak kembali ceria setelah beberapa saat lalu tampak masih bersedih.
Saking bahagianya, mereka lupa jika di atas ranjang pasien ada bel merah yang bisa digunakan untuk memanggil suster atau dokter jaga.
Ayah Kusuma langsung berlari ke luar dan menuju ruang dokter. Hal itu membuat dua anak lelaki dan pamannya terkejut. Mereka serempak menerobos masuk ke ruangan.
Pemandangan di depan mereka membuat ketiganya menangis haru. Gadis kecil kesayangan mereka, kini sudah membuka mata dan tersenyum manis. Senyuman indah yang selalu mereka rindukan, sejak kecelakaan yang menimpa tiga bulan lalu.
Sebuah kecelakaan yang membuat Kusuma kehilangan penglihatan dan jantungnya bermasalah karena terdapat luka di sana, selama tiga bulan itu pulalah Kusuma bertahan dengan alat penunjang kehidupan yang melekat di beberapa bagian tubuhnya.

Tya Oline
103 Pengikut · 7 Novel