Hujan baru saja reda ketika Arga keluar dari sebuah gedung bertingkat di tengah kota. Langkahnya pelan, sementara map cokelat yang sejak tadi ia genggam kini terasa semakin berat.
"Nanti, kami akan menghubungi Anda kembali."
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Sama persis seperti yang ia dengar di lima tempat sebelumnya. Ia menatap langit Jakarta yang masih dipenuhi awan kelabu.
Usianya sudah dua puluh delapan tahun, bukan lagi usia muda yang masih saja mencari pekerjaan. Begitulah kata orang.
Ibunya mulai sering bertanya kapan ia mendapatkan pekerjaan tetap. Ayahnya memang tidak pernah memaksa, tetapi tatapan beliau seolah-olah ingin sekali Arga mendapatkan pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarga. Maklum saja, ayahnya sudah tua dan sering sakit-sakitan.
Ia duduk di halte bus, lalu mengeluarkan ponsel. Melihat pesan dari ibunya.
"Gimana wawancaranya, Ga?"
Ia ingin menjawab. Namun, apa yang harus ia katakan?
"Belum rezeki lagi, Bu."
Kalimat itu sudah terlalu sering ia kirim.
Pada akhirnya ia mengunci layar ponsel tanpa membalas. Di seberang jalan, seorang pria seusianya keluar dari sebuah mobil dengan pakaian rapi. Beberapa orang menyapanya dengan hormat sebelum mereka masuk ke sebuah restoran.
Arga menatap beberapa detik. Di kepalanya timbul banyak pertanyaan. Apa yang sebenarnya membedakan dirinya dengan pria itu? Ia merasa orang lain sangat mudah sekali mendapatkan pekerjaan, sedangkan ia merasakan sebaliknya.
Bus datang. Namun, Arga tidak naik. Ia justru berjalan tanpa tujuan menyusuri trotoar, membiarkan langkahnya membawa ke mana saja. Di sebuah taman kecil, ia berhenti. Ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan masuk. Sebuah pesan yang sudah lama ia tunggu dari seseorang yang hampir dua tahun tidak pernah menghubunginya, sahabat lamanya semasa kuliah.
"Masih hidup, Ga?" tulis Raka.
Membaca pesan dari temannya, Arga tersenyum kecil. Belum sempat ia membalas, pesan berikutnya muncul.
"Besok ada waktu enggak buat ketemuan?"
“Kali ini, lelucon apa lagi yang ingin kau berikan kepadaku, wahai sahabatku?” Arga memandangi layar ponselnya beberapa saat. Entah apa yang membuatnya berpikir lebih lama dari seharusnya.
Sudah terlalu sering ia berharap pada sesuatu yang akhirnya tidak terjadi. Sampai-sampai, setiap ada kabar baik datang, hal pertama yang muncul di kepalanya bukan rasa senang, melainkan rasa curiga.
Ia memasukkan ponselnya ke saku celana. Belum sempat melangkah jauh, rintik hujan yang tadi hanya sesekali turun berubah menjadi deras. Arga spontan berlari kecil sambil menutupi kepala dengan telapak tangan. Beberapa menit kemudian ia sampai di rumah dengan baju yang sudah setengah basah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jawaban itu terdengar dari arah dapur.
"Ada nasi. Kalau belum makan, ambil sendiri."
"Iya, Bu." Arga melepas sepatunya, lalu duduk sebentar. Perutnya sebenarnya lapar. Namun, entah kenapa, ia lebih memilih diam. Pikirannya masih tertinggal pada pesan Raka.
"Aku punya sesuatu yang mungkin bisa mengubah hidup kau."
Kalimat itu terus terngiang. Sudah terlalu banyak harapan yang datang lalu pergi begitu saja. Rasanya aneh jika harus percaya lagi.
"Ngapain bengong?" Suara ibunya membuyarkan lamunan.
"Memangnya tidak lapar? Makan dulu. Nanti keburu masuk angin."
Arga mengangguk pelan. "Iya, Bu. Aku mandi dulu.”
Arga memilih langsung masuk ke kamar. Ia baru saja menutup pintu ketika suara kedua orang tuanya terdengar samar dari ruang tengah. Awalnya ia tidak terlalu memedulikan. Percakapan itu terdengar seperti obrolan biasa setelah makan malam. Namun, tanpa sengaja, telinganya menangkap beberapa potong kalimat.
"Bulan ini uang listrik naik." Terdengar suara ayah yang berbicara pelan.
"Motor juga belum diservis. Tidak bisa dibawa jauh-jauh. Takut mogok di jalan."
Ibu menghela napas panjang. "Nanti pakai tabungan yang tersisa saja."
"Tabungan kita sudah menipis, Bu. Semoga bulan depan ada pemasukan tambahan, ya, Bu," ucap Ayah penuh harap.
Arga menundukkan kepala. Kepalanya terasa begitu berat setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya. Malam yang biasanya berlalu begitu saja, kali ini terasa berjalan lambat, seolah enggan berganti.
Kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya terus berputar di dalam kepalanya.
"Semoga bulan depan ada pemasukan tambahan."
Ia memejamkan mata, mencoba mengusir rasa sesak yang perlahan memenuhi pikirannya. Sebagai anak pertama, seharusnya ia sudah bisa menjadi tempat bergantung, setidaknya meringankan langkah kedua orang tuanya. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Di usianya sekarang, ia masih sibuk mencari pekerjaan tetap.
Arga terjaga sampai pagi. Kelopak matanya terasa perih. Ia tahu, seberat apa pun masalah yang sedang dihadapi, hidup akan terus berjalan. Untuk menenangkan hatinya, ia bergegas untuk salat Subuh. Air wudu menyegarkan wajahnya, seolah membilas sisa-sisa kegelisahan yang semalaman memenuhi pikirannya.
Usai mengucapkan salam, Arga tetap menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat. Perlahan ia meraih tangan ayahnya.
"Maafin Arga ya, Yah." Suaranya lirih. "Sampai sekarang Arga belum bisa bantu perekonomian keluarga kita."
Ayah tersenyum tipis. Telapak tangannya mengusap lembut kepala Arga.
"Nak, jangan terlalu keras sama dirimu sendiri. Kamu harus tetap sabar dan terus berikhtiar. Ada satu ayat di Al-Qur'an yang selalu menenangkan hati Ayah, bunyinya seperti ini: Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā. Yang memiliki arti, Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.”
Mendengar nasihat yang ayah berikan, mata Arga berkaca-kaca dan tidak bisa berkata apa-apa. Pagi itu, Arga seperti mendapat energi baru untuk memulai harinya kembali. Arga menghubungi Raka.
“Ka, hari ini jadi enggak ketemuan?”
“Jadi, jam tujuh gua susul.” Raka langsung membalas pesan Arga. Membaca pesan dari Raka sedikit membuat jantung Arga berdebar. Ia sangat berharap kali ini bisa mendapatkan pekerjaan tetap.
Tepat pada pukul tujuh, Raka datang menjemput Arga. Arga berpamitan kepada ayah dan ibu. Lalu mereka pergi dengan mengendarai motor dan berboncengan. Tak perlu menunggu lama untuk sampai ke tempat kerja. Raka memperlambat laju motornya sebelum berhenti di depan sebuah bangunan bercat krem dengan papan nama bertuliskan Sweety Dream Therapy.
Arga melepas helmnya, lalu menatap papan nama itu beberapa saat.
"Ini tempatnya?" tanyanya.
“Udah, coba aja dulu. Capek kan jadi pengangguran terus?” Raka menarik tangan Arga. Mereka langsung bertemu dengan penanggung jawab tempat terapi tersebut dan mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan.
“Gaji pokok di sini satu juta per bulan, dan untuk makan kami tanggung.” Kalimat penutup yang sangat membuat Arga dan Raka tertarik.
"InsyaAllah kami siap, Pak. Kami akan berusaha bekerja sebaik mungkin," jawab Arga dan Raka berbarengan.
***
"Mulai besok kalian training," ucap Pak Broto tegas.
Arga menelan ludah. “Akhirnya,” batinnya lega.
"Jam berapa, Pak?" potong Raka cepat.
"Pukul delapan tepat," jawab pria itu sembari merapikan berkas. "Jangan terlambat!"
"Baik, Pak!" sahut Arga dan Raka serempak.
Di parkiran, Raka menepuk bahu Arga. "Gimana? Luwes, kan?"
"Makasih banyak, Ka," gumam Arga bersyukur.