Di depan pintu kamar 201, Widya berdiri dengan perasaan berkecamuk. Sebagai gadis yang tumbuh besar dengan didikan ketat di kampung, masuk ke kamar hotel berdua dengan pria—meskipun itu tunangannya sendiri—terasa tabu bak melanggar prinsipnya sendiri.
"Apa aku berlebihan?" gumamnya pelan. Ia menarik napas panjang dan masuk.
Di dalam, kelopak mawar merah bertebaran menuju ke sebuah meja kecil yang tertata apik. Andre menyambutnya dengan segelas minuman dan pelukan yang terasa terlalu intim.
"Malam ini kamu cantik sekali, Sayang." Andre mulai membelai helai rambut Widya lalu turun ke pundaknya yang terbuka. Widya menegang saat Andre mulai menariknya lebih dekat.
"Selamat ya, atas kemenanganmu," bisiknya di persis di telinga Widya.
Andre mencoba melenyapkan jarak di antara bibir mereka.
Deg.
Hati Widya mencelos. Ia tahu, jika momen ini diteruskan, mereka tak akan berhenti hanya pada sebuah ciuman.
Saat napas Andre mulai menyapu wajahnya, ia refleks mendorong dada pria itu dengan kuat.
"Maaf Ndre, tapi kita belum halal."
Wajah Andre yang semula lembut kini mengeras. "Wid, kita sudah tunangan! Sampai kapan kamu mau sekolot ini? Kita hidup di zaman modern, jangan kampungan, dong!"
"Tapi Ndre—"
"Sudahlah!" Andre menyambar kunci mobilnya dengan kasar. "Malam ini seharusnya jadi momen perayaan yang bahagia, tapi kamu malah merusaknya!"
Andre pergi membanting pintu, meninggalkan Widya yang mematung dengan tatapan gamang.
-
Sepanjang malam di rumahnya, Widya tidak bisa tidur. Ia terus memandang ponsel dan trofi penghargaan yang baru saja ia dapatkan siang tadi.
Di mana semua orang bertepuk tangan meriah menyambut kemenangannya, tak terkecuali tunangannya yang ada di barisan paling depan dengan raut wajah yang paling bahagia melihat dirinya meraih penghargaan itu.
Ia menjadi merasa sangat bersalah saat mengingat kembali wajah kecewa Andre di kamar hotel tadi.
Puluhan pesan telah ia kirim, tapi berakhir hanya dengan centang satu.
Rasa tak enak hati terus menghujamnya sepanjang malam. Ia merasa menjadi wanita paling membosankan di dunia.
"Apa memang aku terlalu kolot?"
Tanpa pikir panjang, Widya memutuskan mendatangi apartemen Andre. Ia ingin meminta maaf secara langsung. Ia ingin memperbaiki segalanya.
Dengan tangan gemetar, Widya mengeluarkan kartu akses cadangan yang masih ia simpan. Di sepanjang lorong menuju pintu, ia membayangkan akan menemukan Andre tertidur lelap atau mungkin duduk sendirian, menyesali pertengkaran mereka.
Pintu terbuka.
Pemandangan di ruang tamu seketika meremukkan hatinya. Sebuah kaus pria tergeletak sembarangan di dekat sofa, dan sehelai bra merah, jelas bukan miliknya.
Widya tercengang.
Langkahnya terasa berat saat mendekati kamar. Pintu yang setengah terbuka itu memperlihatkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Di atas ranjang yang seharusnya kelak menjadi tempat suci mereka, Andre justru tengah bercumbu dengan wanita lain.
Suara tawa dan bisikan mesra terdengar samar dari dalam.
“Kamu menggemaskan sekali, Sayang.”
Widya membeku.
Sayang?
Kata itu—yang selama ini ia kira sebagai panggilan istimewa—kini meluncur begitu mudah dari bibir tunangannya untuk orang lain.
“Tapi aku tidak ada apa-apanya dibanding tunanganmu.” Suara perempuan itu terdengar ragu, namun manja.
“Tunangan? Perempuan kolot itu? Jangan konyol. Kamu jauh lebih luar biasa darinya.”
Tawa mereka menyatu. Tawa yang menghantam telinga Widya seperti tamparan.
Dengan sisa keberanian yang entah datang dari mana, Widya mendorong pintu hingga terbuka sepenuhnya.
“Andre?!”
Keduanya tersentak. Saat itulah wajah perempuan itu terlihat jelas.
Lita. Asistennya sendiri.
Perempuan itu langsung menarik selimut menutupi tubuh bugilnya yang murahan.
"Lita, kamu—"
Andre berdiri tanpa rasa bersalah. "Jangan salahkan aku ataupun Lita! Introspeksi diri! Kenapa aku bisa cari kenyamanan di tempat lain."
Widya mundur satu langkah. Seluruh kekuatannya lenyap seketika. Rasa bersalah yang tadi menghantuinya, kini menjadi mual yang hebat.
Dengan gerakan kasar, Widya menarik cincin putih yang setahun terakhir melingkar di jarinya, lalu melemparkannya tepat ke wajah Andre.
“Kita selesai!”
Ia beralih pada Lita. Tatapannya jelas penuh rasa kecewa yang sangat dalam.
“Dan kamu, Lita … tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa gadis yang aku besarkan, akan tumbuh menjadi wanita serendah ini.”
Lima tahun bekerja bersama, berbagi hari dan mimpi, ternyata tak cukup untuk mengenal hati seseorang. Widya menganggapnya seperti adik sendiri, memberi kepercayaan, memberi ruang. Nyatanya, semua itu tak berarti apa-apa.
“Jangan merasa paling hebat!” balas Lita tajam, matanya menyala tajam. “Jangan merasa paling berjasa atas hidupku! Kalau bukan karena Mas Andre, aku sudah lama berhenti kerja sama kamu!”
Widya terpaku. Tak pernah ia bayangkan kalimat sekasar itu keluar dari mulut orang yang sudah ia percaya.
“Apa kamu pikir kamu wanita paling benar? Terhormat?” lanjut Lita tanpa ragu. “Tidak! Kamu cuma manusia yang haus pujian dan merasa tak pernah salah!”
Plak. Widya tak bisa lagi menahan amarahnya.
“Apa-apaan kamu!” Andre mendorong bahunya kasar, berdiri membela perempuan itu.
Di detik itulah Widya benar-benar mengerti. Cinta yang selama ini ia banggakan ternyata tak pernah sekuat yang diucapkan.
Ia berbalik hendak pergi, tapi matanya menangkap sebuah gelas di meja. Tanpa ragu, ia meraihnya dan menyiramkan isinya ke wajah Andre.
“Sial!” Andre mengangkat tangan, nyaris memukulnya.
Widya tak bergeming. Tatapannya tajam, tak lagi menyimpan air mata.
“Dasar wanita arogan! Tidak akan ada laki-laki yang tahan dengan perempuan kasar dan membosankan seperti kamu!”
Widya tersenyum tipis. “Lebih baik aku sendiri, daripada hidup dengan laki-laki tak tahu diri dan pezinah seperti kamu.”
Ia melangkah pergi, tak peduli pada ancaman yang masih berteriak di belakangnya.
“Jangan pernah menghubungiku lagi!”
Suara itu makin samar seiring langkahnya menjauh dari tempat yang malam itu, terasa paling kotor dalam hidupnya.
Begitu keluar gedung, barulah ia sadar seluruh tenaganya terkuras habis. Kakinya terasa ringan seperti kapas. Ia bahkan tak ingat bagaimana bisa sampai ke parkiran, bagaimana tangannya mampu menyetir menembus jalanan Jakarta yang tak pernah tidur.
Dan sialnya, malam itu belum selesai mengujinya.
Saat mobilnya berhenti di depan butik yang sekaligus rumahnya, di bawah lampu jalan yang temaram, dua pria bertubuh kekar sedang memasang sebuah papan besar di pagar besinya.
Tulisan di papan itu terasa lebih nyaring daripada jeritan hatinya sendiri.
"TANAH DAN BANGUNAN INI DISITA OLEH BANK."
-