


oleh B_imajinasi · 10 Bab
Clara, gadis yatim yang hidup sederhana, difitnah sepupunya karena iri hati. Rumor tentang hubungan terlarang dengan dosennya menghancurkan nama baiknya. Demi menyelamatkan kehormatan keluarga, Clara dipaksa menikah tanpa cinta. Pernikahan itu membuka babak baru dalam hidupnya, penuh luka hati dan pengkhianatan. Namun, di balik semua penderitaan, Clara mulai melihat sisi lain dari pria yang kini menjadi suaminya. Apakah pernikahan tanpa cinta, mampu menemukan cinta sejati yang tak pernah ia duga?
Namaku Clara. Aku bukanlah putri emas yang dimanjakan, apalagi emas murni yang dijaga bak permata.
Aku hanyalah anak yatim yang tinggal di sebuah gubuk kecil bersama Emak, menjalani hidup sederhana seperti ranting tua yang lepas dari pohonnya, terombang-ambing tanpa arah.
"Hmmm ...."
Rasanya aku masih ingin memejamkan mata, tenggelam dalam pelukan bantal guling.
Namun, kenyataan memanggilku untuk bangkit. Aku tak boleh terbuai oleh rasa malas. Aku harus berjuang demi membahagiakan Emak.
Apalagi, sejak bapakku pergi menghadap Yang Maha Kuasa, hanya kami berdua yang saling menguatkan di tengah kerasnya kehidupan.
Selepas aku bangun, aku tak lupa untuk berdoa kepada yang memberi aku napas serta kehidupan yang aku syukuri, kemudian membereskan kamar dan bersiap-siap untuk kuliah.
Walaupun aku dan Emak miskin, pendidikan adalah prioritas bagiku. Kalau bisa Emak harus berhenti bekerja jadi tukang cuci di rumah tetangga yang mulutnya seperti speaker rusak, aku harus berhasil.
Bukan berhasil cari cowok kaya ... eh, bukan itu! Aku harus lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Dengan baju lusuh yang sudah beberapa kali dijahit Emak, aku pamit. Kalau tidak pamit, bisa-bisa Emak marah dan aku disumpahi jadi kodok.
Aku tidak lupa untuk mencium pipi kesayanganku, Emak.
Saat melihat jam tangan kusam di pergelangan kiriku, mataku langsung melebar.
Ternyata sudah pukul 7.20! Dengan langkah terburu-buru, aku berlari sekuat tenaga. Tidak ada waktu untuk santai. Aku harus sampai sebelum dosen brengsek itu datang.
Kakiku yang pendek menerobos kerumunan mahasiswa yang sibuk nongkrong bersama geng masing-masing. Mereka seperti semut yang sedang berburu makanan.
“Brengsek, cewek udik! Main tabrak aja!” teriak seorang cowok yang kutabrak.
Aku masa bodoh. Hinaan dan cercaan seperti itu sudah biasa bagiku. Menjadi orang miskin itu berarti siap jadi bahan ledekan.
Aku tidak peduli dan tidak merasa perlu minta maaf. Kalau aku berhenti untuk minta maaf, pasti aku cuma akan jadi bahan olok-olokan mereka.
Ogah! Orang kaya memang suka seenaknya terhadap mahasiswa seperti aku, yang kuliah berkat beasiswa. Hahaha.
Meskipun napasku sudah hampir habis, aku tetap berlari. Aku harus tiba di kelas sebelum si dosen brengsek datang.
Syukurlah, aku berhasil. Saat pintu kelas kubuka, ternyata si dosen belum datang. Dengan cepat, aku menuju kursi yang tersisa, pojok dekat jendela.
“Lumayan, kalau ketiduran gak bakal kelihatan,” pikirku. Tapi aku tahu diri. Dosen brengsek maut itu tidak bisa diajak bercanda. Kalau nekat macam-macam, bisa-bisa nilai semester ini berakhir tragis.
Beberapa detik kemudian, dosen killer itu datang. Penampilannya rapi dan elegan, sukses membuat para mahasiswi menjerit dalam hati.
Kecuali aku. Kalau mereka sampai mengungkapkan kekagumannya secara langsung, bisa habis riwayat mereka.
Meski galak, si dosen ini tetap jadi idaman. Pernah, di toilet kampus, aku mendengar seorang cewek bilang, “Aku rela hamil anaknya Pak Dosen Maut, biar keturunanku jadi bagus.”
Aku cuma bisa berkata di hati, “Kamu mau sama dia, tapi dia belum tentu mau sama kamu.” Kalau aku ngomong begitu di depan mereka, yakinlah aku bakal di-bully habis-habisan.
Pikiranku buyar ketika si dosen maut memanggil namaku dan menyuruhku presentasi materi kemarin. Gawat! Aku belum baca ulang lagi. Inilah ciri khas si dosen. Selalu saja ada kuis mendadak.
“Saya, Pak?” tanyaku dengan suara bergetar.
Materinya sulit. Rasanya ingin aku mengumpat, tapi takut dosa. Mau tidak mau, aku maju ke depan.
Tatapan tajam dosen maut itu membuatku semakin gugup. Aku melirik catatan yang untungnya kemarin sudah kutulis lengkap. Ini satu-satunya harapanku agar bisa menjawab semua pertanyaannya.
Aku mulai menjelaskan. Baru beberapa kalimat, dia sudah melontarkan pertanyaan. Pertanyaannya satu, tapi jawabannya bercabang ke mana-mana. Aku tetap berusaha menjawab dengan tenang, meski dalam hati aku ingin menangis.
Selama satu jam penuh, aku menjadi sasaran tanya jawab. Rasanya seperti menjadi asisten dosen tanpa dibayar. Tapi, ya sudahlah. Yang penting nilainya bagus.
Setelah selesai, aku kembali duduk. Lega rasanya. Teman sekelasku yang cantik, anak orang kaya, giliran maju.
Kukira dia bakal diperlakukan lebih baik. Ternyata tidak. Si dosen malah semakin galak. Setiap ucapannya dikoreksi habis-habisan.
Ternyata, cantik pun tidak menjamin kebal dari dosen maut. Untung wajahku biasa saja, jadi aku tidak terlalu menarik perhatian.
Saat pelajaran hampir selesai, si dosen maut melontarkan kalimat yang membuat semua mahasiswa terdiam.
“Bagaimana kalian mau lulus ujian kalau otak saja tidak dipakai? Belajar itu pakai otak, bukan untuk gaya-gayaan.”
Selesai jam pelajaran, aku langsung ke kantin. Aku harus membantu Emak di kantin bekerja. Lumayan, uangnya bisa membantu kebutuhan hidupku. Meski begitu, ada resikonya. Aku sering jadi sasaran keisengan anak-anak kampus.
Aku mendekati meja sekelompok junior dan bertanya, “Mau pesan apa?”
Salah satu dari mereka menjawab sambil tertawa, “Pesan kakak senior!”
Aku menghela napas. Mereka hanya buang-buang waktu dengan tawanya yang menyebalkan. Rasanya tangan ini ingin melayang ke wajah mereka, tapi aku memilih diam. Sabar, Clara.
Akhirnya, setelah satu jam penuh, pesanan mereka selesai. Aku menghela napas lega sambil merapikan meja. Baru saja aku berniat kembali ke kelas, suara seseorang menghentikan langkahku.
"Clara," suara itu memanggil, pelan namun jelas, seperti angin yang berbisik di telinga.
Aku menoleh cepat. Seorang laki-laki berdiri di dekat pintu, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Sorot matanya tajam, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di balik itu—entah ragu, entah harapan.
"Ya? Ada apa?" tanyaku, mencoba tetap tenang meski hatiku mendadak berdebar.
Dia melangkah mendekat, napasnya terdengar sedikit berat. "Aku ... perlu bicara sama kamu. Sekarang."
Aku mengerutkan kening. "Bicara soal apa?"
Dia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berucap, "Ini tentang sesuatu yang harus kamu tahu. Sesuatu yang penting."

B_imajinasi
5 Pengikut · 2 Novel