Kadang aku bertanya-tanya, apa sebenarnya dosa seorang perempuan yang belum menikah? Kenapa status itu seolah menjadi ukuran keberhasilan hidup? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku ketika aku menutup pintu rumah sedikit lebih keras dari biasanya. Kalau aku bertahan lima menit lagi di dalam, mungkin aku benar-benar akan membalas semua ucapan Ibu. Bukan karena aku ingin durhaka, tetapi karena setiap hari rasanya aku harus mempertahankan diri dari kalimat-kalimat yang sama.
"Kalau saja kamu seperti Nina."
Selalu Nina.
Adikku yang usianya lebih muda sebelas tahun itu sudah menikah, sudah punya anak kembar, dan otomatis menjadi anak kesayangan di rumah. Aku tidak membenci Nina. Sedikit pun tidak. Dia tidak pernah meminta dibanding-bandingkan denganku. Justru dia sering mencandaiku. Masalahnya, orang tuaku terlalu bangga karena akhirnya punya cucu. Sejak saat itu, semua pencapaianku seolah menguap begitu saja.
Aku pernah menjadi reporter televisi nasional. Aku meliput bencana, politik, sampai konflik sosial. Aku pernah berdiri berjam-jam di tengah hujan demi siaran langsung. Aku pernah tidur hanya dua jam karena mengejar deadline. Semua itu dulu membuat orang tuaku bangga.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti. Aku memilih membangun media online sendiri. Penghasilannya memang belum sebesar dulu, tetapi cukup. Bahkan lebih dari cukup untuk membayar semua kebutuhanku tanpa meminta uang kepada siapa pun.
Sayangnya, bekerja dari rumah dianggap sama dengan menganggur.
Pagi tadi aku sudah membantu memasak, mencuci piring, menyapu lantai, lalu kembali ke kamar untuk menyelesaikan artikel yang harus tayang sore ini. Belum sempat duduk lama, Ibu kembali membahas Nina yang akan datang membawa anak-anaknya.
"Nanti kalau Nina datang, jangan lupa bantu jaga anaknya."
Aku mengangguk.
"Lihat tuh. Usianya jauh di bawahmu, tapi hidupnya sudah lengkap."
Aku tetap diam.
"Kalau dulu kamu nggak terlalu pilih-pilih laki-laki, sekarang Ibu sudah punya cucu dari kamu juga."
Kalimat terakhir itulah yang membuatku akhirnya memilih keluar dari rumah.
Aku tahu kalau aku menjawab, pertengkaran pasti tak terhindarkan. Daripada menyesal, lebih baik aku pergi.
Aku berjalan tanpa tujuan sampai menemukan halte yang cukup sepi. Tempat itu sering menjadi pelarianku setiap kali rumah terasa terlalu sesak. Aku duduk di bangku paling ujung, mengeluarkan sebungkus rokok dari tas, lalu menyalakannya.
Isapan pertama selalu berhasil membuat pikiranku sedikit lebih tenang.
"Sialan," gumamku pelan sambil mengembuskan asap ke udara. "Memangnya kenapa kalau belum menikah?"
Tak ada yang menjawab.
Aku tertawa kecil pada diriku sendiri.
"Semuanya Nina. Apa-apa Nina. Cuma karena dia menikah duluan dan kasih cucu kembar. Aku juga kerja, tahu. Aku juga punya deadline. Aku juga masak buat semua orang. Tetap saja yang dilihat cuma statusku."
Aku tidak sadar suaraku semakin keras. Rasanya semua unek-unek yang selama ini kutahan tumpah begitu saja.
"Bu Alea?"
Aku tersentak sampai rokok di tanganku hampir jatuh.
Cepat-cepat kubuang puntungnya ke tanah lalu kuinjak hingga padam. Refleks. Mau bagaimanapun juga, kalau yang memanggilku "Bu Alea", berarti kemungkinan besar dia mantan muridku. Harga diriku sebagai guru mendadak muncul begitu saja.
Aku menoleh ke arah belakang sekat halte. Seorang laki-laki berdiri beberapa meter dariku. Tinggi. Tubuhnya tegap.
Baju koko putih sederhana yang dipakainya tidak bermerek mencolok, tetapi pas di tubuhnya. Wajahnya bersih dengan janggut tipis yang rapi. Tatapannya teduh, tetapi aku benar-benar tidak mengenalinya.
"Bu Alea, kan?"
"Maaf, siapa, ya?"
Dia tersenyum sopan. "Saya Yusuf, Bu. Dulu murid Ibu di bimbel."
Aku mengerutkan dahi. Tetap tidak ingat.
"Saya Yusuf yang Ibu panggil Ucup."
Aku spontan menepuk dahiku. "Ya ampun! Ucup?"
Dia mengangguk sambil tertawa kecil.
"Tolong jangan salahkan aku kalau lupa. Kamu berubah total!"
Dulu Yusuf kecil, kurus, dan nyaris tak pernah bicara kecuali ditanya. Sekarang dia jauh lebih tinggi dariku. Bahunya bidang, posturnya tegap, bahkan wajahnya terlihat jauh lebih dewasa daripada usianya.
"Kamu rajin olahraga, ya?"
"Kalau ada waktu, saya suka ke gym."
"Pantesan. Aku sampai nggak kenal."
Dia duduk di bangku lain dengan jarak yang cukup jauh dariku. Sikapnya membuatku nyaman. Tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terkesan menjaga jarak berlebihan.
"Kamu kuliah di mana habis bimbel?" tanyaku.
"Kairo."
Aku mengangguk kagum. "Pakai beasiswa?"
"Iya."
"Dari dulu memang pintar. Aku dulu malah heran, ngapain anak sepintar kamu ikut bimbel."
Dia hanya tersenyum malu.
Saat itulah aku sadar matanya sempat memerhatikanku beberapa detik sebelum merogoh saku celananya.
"Bu, ini." Dia menyodorkan sapu tangan.
Aku menatapnya bingung. "Ada apa?"
"Air matanya."
Refleks tanganku menyentuh pipi. Basah.
Astaga. Aku bahkan tidak sadar kalau ternyata aku menangis sedari tadi.
"Maaf," kataku pelan sambil menerima sapu tangan itu. "Malu juga ketahuan murid sendiri."
"Tidak apa-apa." Nada suaranya begitu tenang hingga membuatku merasa tidak sedang dihakimi.
"Orang sedih memang wajar menangis."
Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuat dadaku semakin sesak.
Sudah lama tidak ada yang membiarkanku menjadi lemah.
Semua orang hanya menyuruhku bersabar, mengalah, atau segera menikah agar masalah selesai.
"Kamu sendiri kenapa ada di sini?" tanyaku, berusaha mengalihkan suasana.
Senyumnya perlahan memudar. "Ayah saya meninggal kemarin"
Aku langsung terdiam. Dia mengatakannya dengan tenang, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan.
"Ibu saya meninggal tiga tahun lalu. Sekarang saya sudah tidak punya orang tua lagi."
Dadaku langsung dipenuhi rasa bersalah.
Aku baru saja mengeluhkan orang tuaku kepada seseorang yang bahkan tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu orang tuanya.
"Aku turut berduka."
"Terima kasih."
"Ini kamu baru dari pemakaman?"
"Saya belum siap pulang ke rumah. Rasanya terlalu sepi."
Aku mengangguk pelan. Aku mengerti rasa sepi. Bedanya, rumahku ramai, tetapi membuatku sesak. Sedangkan rumah Yusuf kosong dan membuatnya kehilangan.
“Ah, aku terlalu keras mengomel, ya. Untung cuma kamu yang di sini. Entahlah, Cup.”
Aku menelan ludah, dan kemudian mengalirlah semuanya. Aku menceritakan semuanya yang terjadi di rumah dan judgement orang tua tentang usiaku.
“Iya, saya paham. Orang tua di sini masih terpatok pada usia dan tradisi. Kalau boleh tahu usia Ibu sekarang berapa? Bukan apa-apa, hanya untuk memastikan tingkat kecemasan orang tua Ibu saja,” kata Yusuf.
“37. Parah, kan?”
Yusuf terkekeh. “Saya biasa hidup di luar dan hidup bersama banyak orang dari berbagai bangsa. Usia segitu bukan hal yang tabu. Aku juga kagum Ibu bisa membuat web online sendiri. Santai saja, Bu,” kata Yusuf.
“Ya, tapi dianggap tak bekerja. Saya santai saja, sih, meski kadang mengomel keluar rumah seperti ini, hehe.” Aku terkekeh.
“Ibu tidak santai,” kata Yusuf tiba-tiba.
“Maksudmu?”
“Ibu tertekan. Maaf, Bu. Ada lingkaran hitam di sekitar mata, rambut tak disisir rapi, badan kurus, kulit kering tak terawat, dan bau tembakau yang melekat. Artinya, Ibu tak merokok saat ini saja,” analisa Yusuf.
“Ah, kau ini. Mungkin saja aku selalu menutupi semua, tapi aku memang berantakan. Saat kau kira keluarga adalah support system utama kita, dan ternyata justru yang menjatuhkan, pasti sangat menyesakkan,” balasku.
“Ibu hanya butuh pendengar. Tak butuh penghakiman. Saya di sini sementara sebelum balik ke
Kairo. Saya bisa menjadi teman Ibu. Boleh saya masukkan nomor saya di ponsel Ibu?” tanya Yusuf.
Aku terkejut, tak menyangka akan kebaikan hati Yusuf. Seperti dihipnotis, aku mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memberikannya kepada Yusuf.
Yusuf menyimpan nomor ponselnya di sana. “Ibu bisa kirim pesan atau telepon juga tak apa. Ibu hanya butuh pendengar yang asing seperti saya. Jika orang yang mengenal Ibu, Ibu akan merasa terbebani karena akan terasa terhakimi. Jangan sungkan. Saya bukan siswa Ibu lagi. Kalau mau, kita bisa berbicara tak formal. Aku panggil kamu Alea saja,” urai Yusuf.
Aku tak bisa berkata apa pun. Aku bingung akan penerimaan Yusuf.