


oleh Melisa Pratiwi · 24 Bab
Setelah kematian ibundanya, rupanya Lea harus kembali menelan kepahitan hidupnya yang baru. Di dalam kamar lama yang kotor nan lusuh, ia melenguh kesal nan menatap. "Aku harap semua ini hanyalah mimpi buruk saja!" Namun kenyataan tidak semudah harapan. "Sial!" Lea mengumpat, menyadarinya. Kemudian ia mendengar adanya suara ketukan pintu dari luar. "Arghh. Kenapa bocah ini hobi sekali mengangguku!" Dari suaranya yang kecil mudah bagi Lea untuk mengenali siapakah dia.
Lea berdiri menatap wajah yang sedang menunggu jawabnya. Tak sengaja bibirnya mendesis, padahal seharusnya ia tak melakukan hal sekejam itu terhadap Lani, nama gadis kecil berusia tujuh tahun yang baru saja menawarkan bantuan padanya.
"Maaf, aku tidak butuh bantuan darimu Lani. Silakan pergi saja!" tolak Lea.
Mata bulat yang semula tampak berbinar, mendadak lesu. Harapan Lani tawaran bantuan darinya akan diterima, tapi tingginya sekat yang Lea buat tidak mudah diruntuhkan.
"Kenapa begitu Kak? Aku bisa kok memberikan bantuan, lagi pula kamar Kakak kan kotor sekali. Huh! Mama memang jahat! Kenapa dia memberikan kamar sekotor ini padamu Kak,” gerutu Lani.
Ternyata ia cukup pintar menilai, wajahnya yang polos hanya sekedar topeng lucu yang menutupi kedewasaannya, mengundang tatapan Lea mengarah padanya.
"Jadi kamu sudah tahu kalau Mama kamu itu jahat?” tanya Lea, seraya melipat kedua tangannya. Sengaja pula meninggikan suaranya, agar terdengar ke telinga seseorang.
"Hei! Jaga ucapanmu Lea! Berani sekali kau mengompori Lani!" seru Hani datang, menatap Lea sinis.
Tepat sasaran. Lea tersenyum malas, upayanya menjebak ternyata berhasil,
"Memangnya aku api? Enak saja mengataiku kompor," balasnya.
"Mama, hentikan! Ini bukan salah Kak Lea. Memang tadi Lani sendiri yang bilang, kalau Mama itu sangat jahat.” Lani memberikan pembelaan, lebih tepatnya memang dialah yang sudah memulai.
Kecap bibir Hani, tidak mampu menerima. Meskipun Lani, anaknya sendiri telah mengatakan penyebabnya.
"Lani, bukankah sekarang waktunya les piano? Turunlah sayang, segeralah berangkat sebelum terlambat.” Hani menepuk lembut bahu kecil Lani mencari cara agar Lani pergi. Masih ada banyak kata yang harus ia luapkan kepada Lea di sini.
"Oh, benar. Aku hampir saja lupa. Mama, Lani berangkat dulu ya. Kakak Lea, dah. Sampai ketemu lagi nanti siang ya," pamit Lani melambaikan tangannya,
Lea mengangguk malas, ia berusaha untuk tidak bersikap jahat terhadap Lani.
Melihat Lani sudah pergi, Hani mulai melepaskan topeng memperlihatkan wajah aslinya. "Jaga sikapmu Lea! Ingat! Di sini kamu hanya menumpang!" ancam Hani marah.
"Benarkah? Lalu sebutan apa yang pantas untukmu Hani! Kau datang merusak rumah tangga Mama! Hingga akhirnya Papa dan Mama harus bercerai!" balas Lea berani, tapi masih ada lagi,
"Ah, aku tahu. Bagaimana dengan benalu? Bukankah itu sangat cocok untukmu???"
Hani nyaris melayangkan tangannya, tapi ia teringat dengan janjinya sendiri.
"Terserah apa katamu! Saranku simpan tenagamu untuk kamar spesial dariku Lea!" seringai Hani sambil melirik ke arah kamar Lea, kemudian mengambil langkah menjauh dari sana.
Ya, Hani memilih pergi sebelum memberikan pelajaran untuk Lea anak sambungnya. Padahal biasanya ia akan memberikan balasan ataupun kalimat cacian terlebih dahulu.
"Ada apa dengannya?" kata Lea merasa aneh. "Padahal aku sangat menantikan momen bertengkar ini dari tadi! Huh." Lea mulai menggerutu.
Niat hati ingin melampiaskan perasaan kesalnya ternyata tidak dapat tersalurkan. Alhasil ia harus membuang niatannya itu dan bergegas membersihkan kamar.
Baru saja membuka pintu kamar Lea menyadari sesuatu. Sepertinya Hani merancang sebaik mungkin, buktinya ada kemoceng dan alat bersih-bersih yang tergeletak di atas ranjang.
Hela napas panjang sebagai awalan. Lalu, Lea lekas bergerak dari ruang di sudut kamarnya. Gerak cepat dan sangat teliti, dari menyapu lantai dan membersihkan bagian atap. Lea menyisir semuanya secara hati-hati.
"Nasib baik, aku sering melihat Bibi membersihkan kamar. Kalau tidak bisa mati kutu aku,” gumam Lea, pengalaman sekedar melihat saja rupanya berguna juga.
Peluh keringat yang tidak terhitung lagi banyaknya tidak Lea rasa, wajah yang kotor termasuk pakaiannya tidak dihiraukan. Lea ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini, sebelum tenaganya habis kelelahan.
"Hah, akhirnya selesai juga!” ucap Lea lega mengusap peluh keringatnya.
Dua jam berlalu, kini kamar kotor telah berubah bersih dan rapi. Ranjang tidur yang semula bulat, kini terbalut sempurna dengan sprei bermotif awan. Motif yang paling Lea suka semenjak Ana, sang Ibunda tiada.
Kaca jendela yang bersih memperlihatkan langit biru yang berawan. Lea tersenyum manis, berandai-andai gambaran wajah Ana ada di sana.
"Mama, apa dirimu tahu? Mulai hari ini aku resmi menjadi anaknya Hani. Semua ini terjadi atas permintaan Papa. Kesal rasanya, aku sama sekali tidak bisa menolaknya, Mama sendiri juga tahu kan?? Dari dulu, Papa tidak pernah mengizinkan aku mempunyai tabungan sepeserpun. Dan sekarang senjatanya sungguh berhasil membuatku bertekuk lutut."
Lea bergumam lagi, setelah meluapkan kekesalannya matanya terpejam beberapa saat. Atau lebih tepatnya terpejam lama, sebab rasa lelahnya mengantarkan dirinya ke alam mimpi.
Di lantai bawah, Hani duduk di atas sofa dengan satu kaki memangku kaki kirinya. Ia menikmati waktu libur ini dengan menonton televisi. Hingga suara kaki seseorang datang, membuat kelopak matanya berkerut heran.
"Apa aku memiliki janji bertemu dengan seseorang?” kata Hani memikirkan.
"Hai Sayang, ibu datang." Suara sapa Bora datang memberikan kejutan di pagi ini. Hani yang melihatnya langsung tersenyum lebar dan menyambut Bora dengan pelukan manja.
"Ah, ternyata Ibu ya yang datang. Kupikir siapa tadi,” seru Hani gembira.
Bora mengusap punggung putrinya semata wayangnya. Bibirnya juga tersenyum,
"Ibu sengaja tidak mengabarimu lebih dulu. Oh ya, di mana Lani?" tanya Bora sangat rindu terhadap cucunya yang sangat menggemaskan. Tapi ia malah lupa, di hari minggu cucunya memiliki segudang aktivitas les yang menyebabkan mereka belum bisa bertemu.
"Ibu terlambat. Sudah 2 jam Lani pergi, mungkin sekarang dia sudah pindah tempat les," jawab Hani.
Sontak bibir Bora tersenyum masam, ia juga melepaskan pelukannya.
"Kenapa kamu suka sekali menyiksa putri kecil kesayanganku Hani! Padahal ini hari libur. Apa kamu tidak rela memberikan waktu bebas untuk Lani? Anak sekecil itu harus bergelut dengan sejuta kegiatan belajarnya setiap hari.”
Setelah mengutarakan kekecewaannya Bora pun duduk di sofa. Usianya yang tidak lagi muda membuat kakinya tidak tahan berdiri lama-lama.
Meskipun yang dikatakan Bora benar adanya, Hani hanya membalasnya dengan senyuman kakunya saja. Sebab menjawab atau memberikan alasan hanya akan memperpanjang obrolan ini. Apalagi Hani kenal betul watak Bora seperti apa, lebih baik ia segera mengganti topik pembahasan mereka.
"Ibu mau kopi susu? Hani buatkan dulu ya.” Hani menawarkan, lalu berdiri.
"Kenapa harus kamu yang membuatkan kopi susu untukku? Ke mana pelayanmu?" tanya Bora, biasanya akan ada pelayan yang datang menyambut dan menawarinya minuman. Mengapa sekarang Hani harus membuatnya sendiri? Seharusnya Hani memberikan jawaban, tapi dia malah memperlihatkan gelagat yang tidak dimengerti Bora.
"Apa Ibu tahu?? Hari ini Lea resmi menjadi anak angkatku. Setelah pengadilan mengabulkan permohonan kami,” ujar Hani. Penjelasan singkatnya sontak dibalas Bora dengan mata melebar tidak percaya.
"Kalian sungguh melakukannya? Ibu kira kamu hanya bercanda saja, Hani!” seru Bora sedikit tak percaya.
"Tentu saja aku melakukannya Ibu. Bahkan sekarang anak itu sudah ada di lantai atas!” balas Hani yakin.
"Apa kau berencana menggunakan Lea sebagai pelayanmu yang baru?" tanya Bora mulai paham mengapa putrinya tidak kunjung mencari pelayan.
"Wah ibuku sangat hebat!” kata Hani.
Bukannya menjawab, si Hani malah memberikan kalimat pujian.
"Apa suamimu akan setuju? Ibu tahu walaupun dia menikah denganmu, tapi bukankah dia sangat menyayangi Lea?" tanya Bora sangat masuk akal, Hani pun sepakat, namun ia memiliki jurus andalan.
"Apa Ibu lupa? Putri kecil ibu ini sangat pintar merayu. Jadi tidak usah khawatir!" ucap Hani percaya diri. Sambil membayangkan keberhasilannya membuat suaminya mengabulkan permintaannya seperti yang sudah terjadi.
"Hari ini aku akan membiarkan Lea untuk beristirahat sebentar! Karena tugas yang sesungguhnya sudah menanti," seringai Hani lagi.
"Baguslah, Ibu tidak sabar menunggu kabar baik darimu Hani.” Bora juga menyeringai.

Melisa Pratiwi
0 Pengikut · 1 Novel