Pukul tujuh pagi, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar sederhana itu, menimpa wajah cantik seorang perempuan bernama Olla Viola. Ia menguap kecil, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengucek mata.
Hari ini bukan hari biasa. Olla mendapat job besar menyanyi di acara ulang tahun salah satu pengusaha kaya.
Olla tersenyum kecil. Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi. Air dingin membasuh wajahnya, menghapus sisa kantuk yang menempel.
Selesai mandi dan berdandan sederhana, Olla menatap ruang tamu kecil yang sepi. Tak ada suara siapa pun.
Biasanya, Aloy suaminya sudah bangun duluan, menyiapkan sarapan ringan, lalu dengan semangat mengantar Olla manggung, tapi kali ini sepi.
"Kemana dia pagi-pagi gini?" gumamnya pelan.
Ia berkeliling mencari, kamar kosong, dapur juga. Hanya aroma sisa kopi di gelas yang masih menggantung di meja makan.
"Biasanya udah rapi, nyiapin mobil buat anter aku," pikirnya heran. Namun, Olla tak mau berburuk sangka. Ia menyiapkan sarapannya sendiri, sepotong roti dan segelas susu.
"Ya udahlah, mungkin dia ada urusan," ucap Olla mencoba menenangkan hatinya sendiri.
Selesai sarapan, Olla mengambil helm, lalu keluar rumah. Kali ini, ia harus naik sepeda motor kesayangannya, kendaraan yang masih atas nama dirinya sendiri.
Angin pagi menyapa lembut wajahnya saat motor melaju di jalanan menuju tempat acara. Dalam hati, ada rasa aneh. Seperti firasat tak enak yang sulit dijelaskan.
Setengah jam kemudian, Olla tiba di lokasi. Sebuah taman luas yang disulap menjadi panggung megah dengan lampu-lampu warna-warni.
Spanduk besar bertuliskan: "Ulang Tahun Sultan Pak Surya - 50 tahun.
Beberapa kru terlihat sibuk menata alat musik dan mengecek sound system. Olla duduk sejenak di kursi backstage. Perutnya mulai terasa tidak nyaman, mungkin karena terlalu banyak minum susu tadi. Ia pun berdiri dan mencari arah toilet.
Lorong menuju toilet cukup sepi. Samar-samar, Olla mendengar suara dari salah satu bilik toilet wanita. Suara itu seperti desahan tertahan bercampur tawa kecil.
Olla spontan berhenti di depan pintu bilik itu, mendengarkan tanpa sengaja. "Ngapain sih orang di dalam?" batinnya. "Aneh banget, kayak bukan cuma buang air." Ia menggeleng pelan. "Ah, mungkin cuma orang lagi main hape," pikirnya menenangkan diri.
Olla masuk ke bilik lain untuk menuntaskan hajatnya. Namun, suara itu masih terdengar membuatnya tak tenang.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari toilet dan membasuh tangan. Saat itulah, dari pantulan cermin, ia melihat seorang wanita berambut panjang keluar dari bilik yang tadi. Wajah itu sangat familiar.
"Niar?" gumam Olla dalam hati.
Sahabatnya sesama penyanyi, perempuan yang sering manggung bersamanya di berbagai acara.
Tak lama kemudian, Niar menatapnya lewat cermin sambil tersenyum manis. "Halo, Olla!" sapanya riang.
"Eh, hai, Niar! Kamu udah dari tadi?" tanya Olla ramah.
Niar mengangguk. "Iya, tapi tadi aku kebelet banget, hehe."
Olla mengangguk sambil mengelap tangannya. Namun, sesuatu terasa janggal. Tatapan Niar tampak sedikit gugup, dan aroma parfum maskulin samar-samar masih tercium di udara, bukan aroma perempuan.
"Apa mungkin suara yang tadi itu," batin Olla mulai gelisah.
Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Musik pembuka menggema, para tamu undangan mulai berdatangan dengan pakaian mewah.
Olla duduk di kursi tunggu di dekat panggung, menunggu gilirannya tampil. Dari kejauhan, ia melihat seseorang berjalan tergesa dari arah toilet. Langkahnya cepat, wajahnya sebagian tertutup topi dan masker.
Jantung Olla seketika berdebar keras. "Kok kayak Mas Aloy," gumamnya pelan.
Ia mencoba memastikan, tapi pria itu keburu keluar dari area acara dan naik ke mobil hitam, mobil yang sama dengan yang ada di rumah.
Hatinya bergetar hebat. "Kok dia bisa di sini?" pikirnya. "Kenapa barusan Niar juga keluar dari toilet itu?"
Olla buru-buru menepis pikiran buruknya. Ia tak mau menuduh tanpa bukti, ia harus tetap profesional. Acara belum dimulai, wajahnya harus tetap tersenyum di depan penonton.
***
Sementara kejadian sebenarnya baru saja terjadi.
Pagi tadi, Aloy bangun lebih dulu dari Olla. Ia sudah lama menjalin hubungan rahasia dengan Niar, wanita yang membuatnya merasa lebih nyaman meski sebenarnya semua itu hanya permainan nafsu dan kelicikan.
Saat Olla masih tertidur, Aloy mengirim pesan singkat pada Niar.
"Aku jemput jam tujuh. Kita ke lokasi bareng."
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Aloy pergi dari rumah membawa mobil milik Olla. Ia menjemput Niar di rumahnya, dan lima menit kemudian, Olla pun terbangun.
Sesampainya Aloy di lokasi, tempat itu masih sepi. Kru baru datang setengah.
Aloy memandang Niar lalu tersenyum licik. "Masih lama acaranya. Kita punya waktu, sayang," bisiknya.
Niar sempat ragu. "Gila kamu, Mas. Kalau istrimu tahu, gimana?"
Aloy malah tertawa pelan. "Nggak bakal."
Hingga akhirnya, godaan itu menang. Mereka berdua menuju toilet wanita di area belakang panggung, tempat yang sepi dan jarang dilalui orang pagi-pagi, dan bersamaan dengan itu, Olla baru saja sampai di lokasi.
Aloy mengunci pintu kamar mandi. Ia mulai bercinta dengan Niar, bercumbu dan memainkan adegan panas.
Desahan demi desahan memenuhi ruangan kamar mandi. Hingga Aloy menumpahkan lahar panas, permainan selesai. Mereka kembali mengenakan pakaiannya.
Mereka tak menyadari bahwa Olla berada di tempat tersebut.
***
Sore hari acara selesai. Olla tampil dengan sangat memukau. Suaranya merdu, tepuk tangan penonton bergemuruh. Ia bahkan mendapat pujian langsung dari pembawa acara. Namun, di balik itu, hatinya tidak tenang. Bayangan wajah Aloy yang keluar dari toilet terus mengganggu pikirannya.
"Mirip banget, masa cuma kebetulan?" pikirnya dalam hati saat perjalanan pulang.
Sampai di rumah, mobil milik Olla sudah terparkir rapi di halaman. Ia membuka pintu, menemukan Aloy sedang rebahan santai di ruang tamu sambil menonton TV.
"Mas," panggil Olla pelan.
Aloy menoleh malas. "Hm? Udah pulang?"
"Udah, Mas. Oh iya, tadi aku kayak lihat kamu di acara panggung."
Aloy spontan duduk, matanya tajam. "Hah?"
"Aku lihat dari jauh. Kamu keluar dari toilet pas aku mau manggung."
"Jangan ngarang deh, La. Mungkin cuma mirip," potong Aloy cepat.
"Mirip banget. Lagian, kamu tadi kemana, biasanya anter aku manggung, tapi ...."
"Cukup! Aku tadi ada urusan sama temenku, bukan di situ!"
"Urusan apa?"
Aloy mengembuskan napas kasar. "Kamu mulai curiga sama aku, ya?"
"Bukan gitu, Mas. Tadi aku juga lihat Niar di sana."
"Udah cukup!" bentak Aloy, suaranya keras.
Olla terdiam.
Aloy berdiri, menatapnya dengan wajah penuh emosi. "Jangan cuma karena hal sepele, kamu nuduh macem-macem."
Olla menunduk, hatinya mulai perih. "Aku nggak nuduh, Mas. Aku cuma."
"Udah diam. Aku mau tidur," potong Aloy lagi, lalu berjalan masuk ke kamar, meninggalkan Olla sendirian di ruang tamu dengan mata yang mulai basah.
Televisi menyala tanpa suara, hanya cahaya yang menyoroti wajahnya yang muram.
"Kenapa suamiku sekarang berubah? Apa salahku?"