


oleh Nurlia Soleha · 12 Bab
Dalam kisah Lestari, menjadi wanita kedua bukanlah sebuah takdir, melainkan pilihan. Lestari yang sedang dirundung duka karena miskin harta, mana bisa menolak Rey yang datang menawarkan kesenangan dunia? Namun, tidak ada yang instan di dunia ini, selalu ada harga yang pantas untuk sebuah kesenangan. Dan Lestari telah memutuskan meskipun pada akhirnya harus menerima banyak ujian serta hinaan sebagai pelakor sebab telah menyakiti hati seorang istri lumpuh dari Rey, dengan menjadi wanita kedua dalam pernikahan mereka. Benarkah Lestari hanya sedang terdesak dan akan ada masa bagi Lestari memilih mengikuti hati nuraninya meskipun harus kembali tak memiliki apa-apa?
"Bapakmu di kampung masuk rumah sakit, cepat kirim uang atau bapakmu akan meninggal hanya karena anaknya tak mampu membelikan dia obat!"
Seorang gadis berusia 21 tahun sedang kalut karena baru saja menerima pesan suara dari kerabatnya. Pikirannya kini bercabang, antara pekerjaan, perut yang lapar, dan memikirkan keadaan sang ayah yang konon sedang sakit keras di kampung halaman.
Brukkk
Gadis melamun yang merupakan pekerja kebersihan di sebuah bar itu terjatuh karena tertabrak seseorang. Lestari namanya, dia yang masih memegang ponsel segera bangun meskipun sakit di kepalanya karena terantuk dinding cukup terasa nyeri, sementara orang yang telah menabraknya hanya terduduk lemas di lantai.
"Mabuk rupanya," gumam Lestari setelah mendekat dan mencium bau alkohol yang menyeruak dari sosok lelaki yang telah menabraknya.
"Aku ingin, tapi aku tak bisa. Aku tak tega." Lelaki itu bergumam pada dirinya sendiri.
Lestari memilih bangkit, dia akan menghubungi bagian security supaya bisa membantu sang lelaki keluar dari tempat ini.
"Jangan pergi, aku membutuhkanmu!" cegah lelaki bernama Rey itu dengan nada lesu.
"Saya akan hubungi security dan mereka akan membantumu."
"Tidak perlu, kemarilah, aku hanya butuh pelukan." Rey merangkul Lestari yang kebingungan.
Melihat lelaki dengan pakaian yang terlihat mahal, jam tangan mewah, juga dompet serta ponsel yang menyembul di saku dada jasnya, Lestari merasa memiliki kesempatan. Lestari akhirnya menerima pelukan itu karena dia butuh uang.
"Mau bermalam denganku?" lirih Rey sembari menatap manik mata Lestari yang juga menatapnya sayu.
Lestari menggeleng. "Tidak, aku hanya butuh uangmu untuk bapakku berobat. Sorry!"
Anjani menarik dompet lelaki itu lalu berlari secepat kilat hendak kabur. Dalam pikirannya, dompet itu berisi banyak uang, kartu ATM, serta pundi-pundi harta lainnya yang bisa Lestari manfaatkan. Namun, Rey memanggilnya dan mengatakan jika dompet itu kosong tak berisi.
"Tidak mungkin!" ucap Lestari seraya membuka dompet tersebut.
Dan benar saja, dompet itu kosong dan Lestari hanya bisa menelan saliva menahan rasa malu dan kecewa. Dia butuh uang! Segera!
"Mau uang?" tanya Rey dengan tawa yang mengerikan.
"Mau tidak?" tanyanya lagi dan Lestari mengangguk, merasa senang karena memiliki harapan, akan tetapi juga takut karena merasa diintimidasi oleh tatapan lelaki mabuk di hadapannya.
"Shame on You!" teriak Rey seraya bangkit dan memeluk Lestari lalu menggendongnya ala bridal style keluar dari bar tempatnya bekerja.
Lestari meronta-ronta, dia merasa takut, pikirannya buruk. Namun, Lestari juga butuh uang. Dia hanya bisa berharap semoga lelaki ini bisa memberikan harga yang pantas untuk keperawanannya, sebab yang Lestari pikirkan adalah bahwa Rey akan melakukan perbuatan tak senonoh dengan memberikan imbalan yang setimpal.
"Namaku Rey, aku tidak sungguh-sungguh mabuk!" kata Rey saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apa? Kamu mempermainkan aku, huh?" balas Lestari murka dan dia hendak keluar dari mobil Rey.
"Aku sudah mengikutimu satu minggu ini dan kurasa kamu memang yang paling pantas menjadi pendampingku." Lestari menaikkan sebelah alisnya dan mengurungkan niatnya.
"Apa maksudmu?" tanya Anjani.
"Kamu Lestari, gadis miskin yang bahkan bapakmu sakit saja tak mampu membelikan dia obat. Gadis miskin yang setiap hari bekerja siang dan malam tapi gajimu tak cukup bahkan untuk sekedar memberi warna di bibirmu sehingga selalu terlihat pucat. Lestari, gadis yang nekat mencuri padahal dia bisa saja menjual tubuhnya yang cantik dan molek ini pada lelaki hidung belang."
Lestari terperangah mendengar semua pemaparan lelaki di hadapannya. Rey tahu segalanya tentang dia, bahkan tentang dirinya yang tidak berani menjual diri meskipun bekerja di sebuah bar di mana begitu banyak perempuan seusia dirinya yang menjajakkan diri.
Lestari akhirnya hanya bisa termenung, pikirannya buntu. Harga dirinya terasa jatuh lalu diinjak-injak dengan kejam. Rey, lelaki yang mengaku sudah mengikuti Lestari selama satu minggu itu sama sekali tak memberikan kontribusi apa pun atas apa yang dideritanya selama ini, selain hinaan dan cacian yang hanya membuat sakit hati.
"Untuk apa kamu mengikutiku?" tanya Lestari dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mengikutimu, aku hanya sedang mencari wanita yang tepat. Dan kurasa itu adalah kamu." Lestari tersenyum miring mendengar jawaban klise yang Rey lontarkan.
"Bullshit! Kalau ingin mencari wanita yang tepat, carilah di pesantren, bukan di bar seperti ini!"
"No, no! Itu terlalu berat. Aku mencari wanita yang membutuhkanku, butuh hartaku dan itu adalah kamu."
Lagi, Lestari merasa bingung dengan ucapan Rey yang berbelit-belit.
"Mengapa demikian?"
"Karena aku butuh partner yang bisa saling menguntungkan. Wanita yang butuh kesenangan, harta, berapa pun nominalnya. Dan aku butuh wanita perawan dan cantik yang mau kujadikan ... istri kedua."
"Sudah kuduga," gumamnya tapi masih bisa terdengar jelas oleh Rey.
"Bagaimana bisa kamu meyakini jika aku ini perawan sementara tempatku bekerja adalah di sebuah bar yang kamu tahu ... kejam."
"Kita akan mencobanya!" balas Rey seraya melajukan mobilnya sementara Lestari seketika membeku di tempat duduknya.
***
"Aku sudah dapat uangnya, semoga cukup untuk membeli obat dan biaya hidup Bapak dan Ibu beberapa bulan kedepan."
Esoknya, Lestari mengirim pesan pada kerabatnya setelah mentransfer uang sebanyak dua puluh juta ke rekening orang tuanya. Dia lalu menghubungi dua orang yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, memberi tahu jika dia telah mengirim uang supaya tidak dikorupsi oleh kerabatnya yang biasa bertugas mencairkan uang ke Br*link yang jaraknya cukup jauh dari kampung tempat Lestari dulu tinggal.
"Kamu dapat uang sebanyak itu dari mana, Neng? Kamu minjam sama siapa?" tanya sang ibu dengan nada cemas.
"Aku bekerja, Bu, dan baru saja mendapat kontrak," jawab Lestari dengan berat hati.
"Bekerja apa sampai mendapat uang dua puluh juta sedangkan kamu baru dikontrak? Jangan buat Ibu khawatir, Neng, kamu anak perempuan. Kami tidak minta kamu berkorban demi kami yang bahkan tidak mampu menyekolahkanmu hingga universitas."
Lestari memejamkan matanya sembari menelan saliva, sementara Rey yang ada di sampingnya menyimak obrolan itu dengan seksama, mencoba menyelami apa yang dialami gadis yang baru saja dia perawani.
"Aku ... aku akan menikah, Bu. Do'akan aku dan semoga Bapak cepat sembuh supaya bisa menjadi wali di pernikahanku."
"Owalah ... siapa lelaki itu, Neng? Rupanya kamu bukan baru dikontrak, tapi dilamar." Ratih, ibu dari Anjani itu terdengar sumeringah.
"I-iya, Bu, dia lelaki baik dan dia juga yang telah memberi Tari uang sebanyak itu. Tapi, ada kabar kurang baik dan Ibu jangan beri tahu siapa pun termasuk Bapak, ya!" ujar Lestari ragu.
"Kenapa, Neng?"
"Aku akan menjadi istri kedua," jawab Lestari membuat Ratih memegang dadanya karena tiba-tiba terasa sesak.

Nurlia Soleha
0 Pengikut · 1 Novel