Namaku Aliana Saputri Wijaya. Usiaku kini 34 tahun dan aku akan menceritakan kisahku ketika sedang bekerja di sebuah perusahaan penyedia aneka macam pakaian dan aneka macam pernak-pernik secara daring lebih dari lima tahun yang lalu. Perusahaanku menjual pakaian, sepatu, dan sebagainya yang berhubungan dengan tren pakaian.
Di sanalah aku bertemu dengan Eka Ganendra, yang bekerja di divisi yang berbeda denganku. Aku tidak memperhatikannya saat pertama kali melihatnya. Barulah setelah beberapa saat aku menyadari kehadirannya dan jatuh cinta kepadanya.
Dia adalah pria bertubuh tinggi, jauh lebih tinggi daripada diriku yang mungkin hanya setinggi ketiak dia saja. Tapi bukan itu yang penting, bagiku yang penting dia itu manis sekali! Yah, namanya juga cinta buta, walaupun bagi orang lain mungkin dia biasa-biasa saja, tapi bagiku yang sedang jatuh cinta ini, dia adalah pria paling manis di kantor. Ada gila-gilanya memang aku waktu itu.
Ketika aku berhenti dari pekerjaanku aku berani mendekatinya duluan. Aku sengaja mencari pembicaraan tentang pekerjaanku sebelumnya sebagai bahan obrolan.
Aku lalu mengirimnya pesan teks.
[Liana] Halo Mas, perkenalkan aku Liana dari bagian admin sosial media.
Aku merasa deg-degan menunggu balasan darinya saat itu! Dan ketika dia akhirnya membalasnya....
[Eka] Ya,halo juga Liana. Gimana, Kak?
Dengan hati masih berdebar aku segera membalas pesannya.
[Liana] Mas, aku mau tanya soal yang pemberhentian kerja. Di divisi Mas apa banyak yang diberhentikan? Soalnya aku termasuk salah satunya yang berhenti 😭
Ya, itulah bahan obrolan yang aku pilih, tentang pekerjaan. Biasa lah, mau pendekatan kan harus mencoba menggunakan segala cara.
[Eka] Iya, Liana. Banyak yang diberhentikan. Aku ikut sedih kalau benar kamu ikut berhenti.
Aku langsung tersenyum-senyum sendiri. Wah, mantap juga strategiku waktu itu untuk bisa menghubunginya.
Setela itu aku dan dia mulai intens bertukar pesan. Sampai akhirnya, dia mengajakku nonton bioskop bareng!
Wah! Rasanya mau loncat menyundul langit saat itu! Aku jelas langsung mengiyakan ajakannya.
Malam hari di hari yang ditentukan, aku lalu dijemputnya. Dan kami menonton film tentang zombie dari Korea yang sangat populer. Aku benar-benar senang dan terhanyut dengan film itu sampai aku mempublikasikan karcis film itu di akun media sosialku (agak norak sih, tapi itu kan beberapa tahun yang lalu!).
Aku dan dia semakin intens berhubungan baik secara pesan teks maupun bertemu langsung. Aku juga pernah memberikannya buku yang aku tulis sendiri kepadanya, karena waktu itu aku pernah menerbitkan sebuah buku di penerbitan besar di Indonesia.
Dan bodohnya (atau karena bucin kali ya, lebih tepatnya), aku pernah memberikan hadiah ulang tahun kepadanya, berupa beberapa komik detektif populer dari volume pertama hingga kelima karena dia pernah bilang dia suka komik itu dan sulit menemukan volume paling awal. Astaga, orang kalau lagi jatuh cinta benar-benar bisa berusaha keras, ya.
Beberapa kali aku dan dia bertemu dan kami melakukan perjalanan wisata bersama. Dia pernah mengunjungi rumahku dan mengajakku menyambangi salah satu obyek wisata hutan pinus yang populer.
Di sana, kami benar-benar bersenang-senang! Dia mengambil beberapa fotoku, yang jelas kemudian aku unggah di media sosialku. Waktu itu aku sama sekali tidak memikirkan hal lainnya, yang penting aku bisa menghabiskan waktu bersamanya. Kami juga banyak mengobrol waktu itu dan menghabiskan banyak waktu dengan sepuasnya menikmati pemandangan alam dan sekitarnya.
Kami sering berwisata bersama. Ke pusat perbelanjaan, ke area wisata, dan sebagainya. Kami juga pernah menyambangi kebun stroberi dan di sana dia kembali mengambil fotoku. Jelas, langsung aku unggah di media sosialku, dong. Siapa sih yang enggak suka difoto sama gebetan?
Dia dan aku beberapa kali bertukar informasi tentang diri kami masing-masing. Dia mengatakan bahwa sebelumnya dia pernah mengalami hubungan cinta yang menyedihkan karena mantannya beda agama dengannya. Sepertinya dia masih berkubang dalam kenangan buruk itu. Tapi aku pikir itu akan menghilang seiring berlalunya waktu.
Aku benar-benar bahagia saat bersamanya, rasanya seakan semua beban terangkat dari pundakku. Aku tidak memikirkan akan bagaimana ke depannya. Aku bahkan tidak memikirkan status hubungan kami waktu itu. Mungkin karena aku terlalu fokus pada kenyataan bahwa yang penting aku bisa menjalani waktu bersama orang yang kucintai.
Kebahagiaanku adalah saat menghabiskan waktu bersamanya atau bertukar pesan dengannya saat kami berada di rumah atau kos masing-masing.
Lagipula, di salah satu kunjungan kaki di tempat wisata, saat kami sedang memandangi pegunungan d depan kami, dia pernah berkata,
"Eh, gimana kalau kita tinggal di sana?"
Waktu itu aku tidak terlalu memikirkan perkataannya. Aku tidak menganggap serius kata-katanya karena mungkin bagiku itu hanya angan-angannya belaka. Aku tidak begitu berpikir bahwa itu adalah hal yang benar-benar diinginkannya. Pokoknya waktu itu aku menanggapinya secara biasa saja. Lagipula, dia tidak pernah menegaskan status hubungan kami secara jelas. Dia tidak pernah secara jelas memintaku menjadi kekasihnya atau ingin hubungan kami lebih dari sekadar teman.
Aku juga tidak pernah bertanya tentang status hubungan kami. Lagipula, masa aku sih yang meminta hubungan kami lebih dari teman? Iya kan? Kan aku yang jatuh cinta duluan kepadanya. Kalau dia tidak menyebutkan status hubungan kami, masa iya aku yang mengejarnya lagi?
Mungkin, saat itu adalah salah satu pemantik dari apa yang terjadi kemudian. Satu hal yang jelas, saat itu aku tidak menyadari bahwa hidupku akan berubah total karena dia.
Sayangnya, itu bukan perubahan yang baik.