Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan hampir sepuluh jam dari kota, melewati jalur tanah yang basah dan penuh genangan.
Mobil tua yang disediakan puskesmas kabupaten harus ia parkir di tepi sungai, karena jalan menuju Desa Mayangkara terlalu sempit untuk dilalui kendaraan.
Raka, seorang dokter muda berusia 26 tahun, ditugaskan untuk mengabdi di desa Mayangkara selama setahun. Meski hatinya berdebar, ia berusaha menguatkan diri. Surat penugasan dari dinas kesehatan masih tersimpan rapi di dalam tas kulit cokelat yang disandang di bahunya.
'Mayangkara,' gumamnya lirih. Nama desa itu terdengar indah. Namun, sejak awal beberapa orang memperingatkannya. Konon desa ini bukan sekadar terpencil, juga menyimpan rahasia kelam.
Begitu memasuki gerbang kayu sederhana yang menjadi penanda desa, Raka merasakan hawa dingin menusuk kulit. Mendung. Matahari tertutup awan kelabu sehingga enggan bertahta di singgasananya.
Beberapa orang desa menatapnya dari kejauhan, dengan sorot mata seolah penuh curiga. Tak ada senyum, tak ada sapaan.
Hanya tatapan hening yang membuat langkah Raka semakin berat dan heran. Akan tetapi tidak sedikit juga yang melemparkan senyum ramah kepada Raka.
“Selamat datang, Dokter," Suara berat seorang pria tua tiba-tiba terdengar dari samping jalan. Dari balik kabut, muncullah sosok pria dengan ikat kepala batik lurik.
Rambutnya sudah mulai dipenuhi uban, wajahnya nampak teduh sekaligus misterius. Raka sedikit kaget, lalu menunduk sopan.
“Salam kenal, Pak. Saya Raka Wisesa, dokter yang ditugaskan di sini," Raka mengulurkan tangannya untuk memberikan salam hormat.
Pria tua itu mengangguk pelan dan menyunggingkan senyumnya pada wajahnya yang cukup kaku sembari membalas uluran tangan Raka.
“Kami sudah menunggu. Perkenalkan saya Respati, kepala desa Mayangkara ini. Semoga kamu betah tinggal di desa terpencil ini, Dok," kata pria yang usianya lebih dari setengah abad.
"Aamiin, Pak. Desa Mayangkara juga sangat indah, sejuk, dan tenang. Beda jauh dengan perkotaan yang bising dengan kendaraan," balas Raka. Respati terdiam sambil menghela napas, lalu menatap serius pada dokter muda itu.
"Desa Mayangkara memang indah dan belum banyak dipoles oleh hiruk pikuk kota. Anggap desa ini seperti rumahmu sendiri, warga adalah keluargamu!" ujar Respati.
"Tetapi ingatlah satu hal, Dok! Jangan pernah keluar rumah setelah magrib. Itu aturan di Desa Mayangkara!" tegas Respati.
Raka terkesiap, dia memang pernah mendengar mitos dari rekannya bahwa ada peraturan aneh di desa tersebut.
"Saya baru tahu aturan itu, Pak Respati. Tetapi bagaimana jika ada warga yang sakit dan butuh pertolongan? Sebagai dokter, saya wajib menangani pasien secepatnya," balas Raka lagi. Respati menghela napasnya.
"Siapapun yang tinggal di desa ini, harus ikuti aturan, Dok. Kalau sampai melanggar maka--" Perkataan Respati pun terputus. Ada rasa takut yang mulai menyelimuti hati Raka.
"Maka apa, Pak?" Raka merasa penasaran sekaligus cemas.
"Ah sudahlah, ngeri juga kalau diceritakan. Yang pasti jangan pernah langgar peraturan itu kalau tidak ingin terima akibatnya yang sangat mengerikan," jawab Respati.
"Kalaupun ada yang sakit, sebaiknya ditangani saat hari masih sore. Aku tak menjamin keselamatan jika hal buruk itu sampai terjadi," pungkas Respati.
Sebelum pamit, dia sempat mengajak Raka untuk berkunjung ke balai desa besok pagi supaya dapat berkenalan dengan warga lebih dekat.
Raka pun menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih lanjut. Namun, pria paruh baya itu sudah berjalan meninggalkannya.
Raka tinggal di sebuah rumah kosong yang memang dihibahkan Respati untuk tempat tinggal dokter yang bertugas di desa itu.
Rumah yang ditempati Raka sebagai dokter desa berdiri tidak jauh dari balai desa Mayangkara. Dari luar, bangunannya tampak sederhana.
Dengan dua kamar yang tersedia, berdinding papan kayu yang mulai pudar dimakan waktu Dengan atap seng yang berkilau ketika terkena cahaya matahari.
Begitu Raka memasuki pekarangan, ada nuansa teduh yang menenangkan. Pohon mangga tua tumbuh di samping rumah, memberi rindang dan suara dedaunan yang berdesir tiap kali angin sore lewat.
Bagian dalam rumah jauh lebih nyaman dari perkiraan. Lantainya sudah dilapisi keramik putih sederhana, membuat ruangan terasa bersih dan rapi.
Ada ruang tamu kecil dengan kursi kayu beralas rotan, rak buku kosong yang kelak bisa diisi, serta jendela besar yang menghadap ke sawah.
Pemandangan hijau yang menyejukkan mata setiap pagi. Dapur terletak di bagian belakang, meski peralatannya sederhana, cukup lengkap untuk seorang lajang.
Yang membuat rumah itu terasa istimewa adalah ketenangan yang menyelimutinya. Walau desa Mayangkara menyimpan mitos dan cerita gaib yang sering diceritakan warga, rumah ini seakan menjadi pengecualian.
Aura rumah itu tidak menakutkan, justru hangat, seakan sudah menunggu penghuni barunya untuk menetap.
Bagi Raka, rumah ini cukup nyaman untuk dijadikan tempat istirahat sekaligus ruang berpikir setelah seharian mengabdi pada warga desa.
Waktu pun berlalu. Saat senja merayap di Desa Mayangkara, Raka berdiri di teras rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Dia akan melewati malam pertamanya di desa itu.
Langit berubah jingga keunguan, dan suara adzan Magrib menggema dari surau kecil di tengah desa. Suara itu terasa syahdu. Namun, ada sesuatu yang berbeda malam itu, sesuatu yang membuat bulu kuduknya perlahan berdiri.
Tak lama setelah adzan usai, terdengar suara tetabuhan dari arah balai desa. Irama kendang dan kentongan dipukul berulang-ulang, ritmis namun sarat makna.
Raka memperhatikan, suara itu tidak sekadar panggilan. Ada nuansa peringatan di dalamnya, seakan setiap dentuman membawa pesan rahasia yang sudah diwariskan turun-temurun.
Dari jendela, ia melihat para penduduk bergerak cepat menutup pintu rumah, mengunci jendela, bahkan menghalangi celah dengan kain tebal. Desa yang semula ramai seketika sunyi, hanya tersisa suara tetabuhan yang perlahan menjauh lalu berhenti.
Perasaan Raka campur aduk. Sebagai dokter, ia terbiasa berpikir logis, mencari penjelasan ilmiah.
Namun, suasana ini membuat dadanya sesak oleh rasa asing yang sulit ia uraikan. Ada penasaran yang membuncah, ada juga ketegangan yang menusuk.
'Ya Tuhan, apa sebenarnya yang ditakuti warga? Mengapa semua orang begitu patuh, seolah ke luar rumah selepas senja adalah dosa besar?' gumamnya.
Hatinya diliputi rasa ingin tahu juga diselubungi kegelisahan yang dingin. Perasaan bahwa ada sesuatu di luar sana, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar, sedang menunggu dalam kegelapan.
Dan ketika adzan berhenti bergema, senja benar-benar ditelan malam. Sunyi itu terasa berat, seperti selimut tak kasatmata yang menekan desa, membuat Raka sadar bahwa malam di Mayangkara bukanlah malam biasa.
Tiba-tiba ponsel Raka pun berdering.