Semilir angin malam terasa menusuk sampai ke tulang-tulang. Hawa dingin menerpa wajah cantik milik Shaffa Aurellia Putri yang saat ini berusia empat belas tahun, duduk di bangku kelas dua SMP. Matanya terpejam beberapa detik, suasana mencekam mengiringi langkah demi langkah yang tergesa-gesa. Ia baru saja pulang dari rumah sahabatnya.
Kaki Shaffa terus melangkah di tengah keheningan malam dan tetap berusaha tenang, tetapi ketenangan itu runtuh ketika dirinya melewati sebuah bangunan kosong. Takut dan cemas membelenggu, karena bangunan tersebut sangat jauh dari pemukiman warga.
"Argh! Ampun, ampuni saya, Tuan!" jerit suara seorang pria.
"Tolong, lepaskan saya. Jangan bunuh saya, Tuan!"
"Ampuni saya, tolong ... sakit ... ini sakit sekali."
"Jangan, jangan. Hentikan, cukup. Saya mohon, jangan sakiti saya lagi ...."
"Semakin kamu menjerit, semakin aku suka menyiksamu," ucap pria itu.
"Ampun, Tuan," sahut korban dengan suara yang hampir habis.
"Teruslah menjerit, menangis, maupun berteriak. Aku suka itu, tapi percuma saja ... tidak akan ada yang mendengar," kekeh pria tersebut.
"Lebih baik kamu bunuh saya!" jerit pria itu kembali meskipun suaranya hampir habis karena rasa sakit.
"Tentu saja aku akan membunuhmu, tapi dengan perlahan, karena terlalu mudah jika membunuh secara langsung. Bukankah kamu harus merasakan siksaan dulu? Ah, bukan merasakan, tetapi menikmatinya."
"Tidak! Bunuh saja saya, jangan siksa seperti ini, saya mohon!"
Jeritan dan tangisan histeris terdengar dari dalam bangunan itu, membuat Shaffa tambah ketakutan. Meskipun begitu, ia tak langsung pergi, malah mendekat ke asal suara karena rasa penasaran mendominasi saat ini. Dia langsung membekap mulut dengan kedua tangan, berusaha menahan teriakan yang siap keluar saat netranya menangkap adegan mengerikan.
Seorang pria melakukan pembunuhan secara brutal dengan mengeluarkan isi perut dan mencongkel kedua bola mata korbannya, rasa mual mulai menjalar di tubuh Shaffa, tatkala pria pembunuh tersebut mengeluarkan jantung korbannya. Gadis itu tak bisa menahan rasa takut dan cemas, tubuhnya bergetar hebat, tanpa sengaja menginjak ranting pohon sehingga menimbulkan suara. Hal tersebut, tentu saja terdengar oleh si pembunuh yang merasa terganggu kesenangannya.
"Siapa?" tanya si pria pembunuh dengan nada dingin.
"Keluar sekarang, sebelum pisauku menancap di tubuhmu! Kamu ingin menjadi korban selanjutnya 'kan?!" ancamnya dengan suara lantang.
Shaffa tidak mungkin menunjukkan dirinya di saat itu juga, dia tidak mau mati sia-sia. Masih ingin hidup dengan lebih baik dan ... balas dendam, mungkin.
"Oh, kamu masih tidak mau keluar?!"
"Sepertinya kamu sangat berani! Cepat keluar, sebelum kesabaranku habis!" bentak si pria pembunuh tersebut.
"Jangan bersuara, Shaffa. Kamu tidak boleh bersuara. Tuhan, lindungi aku. Aku mohon," bisiknya.
Shaffa meneguk ludah dengan kasar. Tubuhnya makin gemetaran, sangat panik. Kejadian yang baru saja ia lihat, terlalu mengguncang jiwanya. Gadis itu melangkah mundur secara perlahan saat mendengar langkah kaki yang mendekat.
"Sedang apa kamu berada di sini, hm?"
"Tidak lari, ya?"
Gadis itu langsung berlari begitu saja meninggalkan sosok pria yang hanya tertawa sinis melihat kepergiannya.
"Mau kabur, hm? Kamu tidak akan bisa melakukannya," desis pria itu.
Shaffa mengembuskan napas kasar, menggembungkan pipi karena kesal, merasa takdir Tuhan tidak pernah berpihak kepadanya, karena kesulitan selalu datang menghampiri. Sedari kecil ia tidak pernah mendapat kasih sayang orang tuanya, terutama sang ayah. Selalu mendapat perundungan di sekolah, tetangga sekitar sering melempar cemoohan, dan masih banyak lagi. Matanya menyapu sekeliling dengan langkah ringan.
Saat tengah menikmati malam setelah kabur dari pembunuh itu, tiba-tiba langkah Shaffa terhenti. Berdiri kaku dengan jantung yang bertalu lebih cepat dari biasanya. Syaraf dan otot tubuh miliknya seolah mati, mulutnya bungkam ketika sosok pria yang berdiri tak jauh dari sana menatap tajam ke arahnya. Langkah Shaffa mundur perlahan, lalu berlari.
"Ibu!" jerit Shaffa saat pria tersebut berhasil menangkapnya.
"Mau kabur ke mana, hm?" ucap pria pembunuh itu.
Shaffa menggeleng keras. "Tidak, saya mohon jangan sakiti saya. Saya tidak akan melaporkan kamu, tolong lepaskan saya. Percaya, pada saya. Saya tidak akan berbicara apa-apa," sahut Shaffa.
"Aku tidak pernah berbaik hati pada korbanku. Nikmati saja hukuman dariku. Kamu pasti akan ketagihan." Seringai mengerikan tercetak jelas di wajah pria tersebut.
"Tidak, saya mohon lepaskan! Saya tidak akan berbicara macam-macam pada siapa pun. Lepaskan saya," mohon Shaffa dengan air mata yang mengalir deras.
"Jalani hukumanmu dulu, baru aku lepaskan. Teruslah memohon, karena aku menyukai raut wajah dan jeritanmu, Sayang!" kata pria pembunuh itu dengan penuh penekanan di akhir kalimat.
Mata Shaffa melotot saat sebuah benda kecil dan tajam berusaha menembus kulitnya. Detik itu juga tubuh Shaffa langsung kehilangan kesadaran, dengan enteng pria itu menggendong ke sebuah bangunan kosong di dekat sana. Memanfaatkan waktu dengan sangat baik, pria pembunuh tersebut memperkosa Shaffa berkali-kali, saat sadar pun dia terus memacu hingga puas, lalu meninggalkan gadis itu tanpa belas kasihan.
Mereka tidak saling mengenal, tetapi Shaffa akan terus mengingat wajah pemerkosanya.
"Hukuman yang sangat ringan," gumam pria itu, lalu melenggang pergi dari sana setelah puas.
***
Shaffa memberanikan diri untuk membuka mata, berharap jika yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk. Namun, sedetik kemudian menangis terisak, meraung-raung dengan hati yang hancur berkeping-keping. Dunia seolah runtuh, hidup seakan tak berarti lagi. Setelah puas menangis, ia pun bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali. Shaffa harus segera pulang ke rumah, sebelum ibunya murka.
Gadis itu terus menoleh ke belakang dengan perasaan takut dan cemas, seakan ada seseorang mengikuti. Langkahnya semakin cepat.
"Apa yang akan aku ceritakan pada ibu?" tanya Shaffa kepada dirinya sendiri.
"Tidak, Shaffa. Kamu harus merahasiakan ini, jangan sampai ada yang tahu. Kamu harus menyimpan rapat-rapat, kalau sampai ada yang tahu, mereka akan menyakitimu!" tegasnya.
"Mereka bukan orang-orang baik yang mengerti perasaan dan keadaan kamu. Mereka adalah segelintir orang bodoh yang tak memiliki hati nurani! Tetap diam, jangan berbicara!" tambah Shaffa dengan wajah cemas.
"Ya, benar. Jangan sampai ada yang tahu." Gadis itu terus saja mengajak diri sendiri berbincang seolah ada dua orang di sana.