“Letakkan koper itu di dekat sudut lemari saja, Di. Jangan di tengah jalan, bikin sempit ruangan!” ujar suara serak Bu Darmi memecah keheningan ruang keluarga, langsung menyambut kedatangan mereka sore itu dengan nada penuh interupsi.
Rani menarik napas panjang, berusaha menepis rasa penat setelah berjam-jam membereskan rumah demi menyambut kepindahan ibu mertuanya. Berdasarkan alasan kesehatan pascaoperasi kecil bulan lalu, Bu Darmi, atau yang akrab disapa Bu Dar, akhirnya resmi boyongan tinggal bersama Rani dan Aldi. Koper besar berwarna cokelat tua dan dua kardus mi instan kini resmi menjadi pemandangan baru di sudut ruang tamu minimalis mereka.
Sebagai seorang istri, Rani tentu menyambut keputusan suaminya dengan lapang dada. Bagaimanapun, merawat orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar dalam sebuah ikatan pernikahan. Namun, ada getar aneh di dalam dadanya sejak perempuan paruh baya itu melangkah melewati ambang pintu.
Pandangan mata Bu Darmi menyapu setiap jengkal dinding, perabotan, hingga lantai keramik putih dengan tatapan menilai, seolah tengah menginspeksi markas musuh yang baru saja ia taklukkan.
“Ibu istirahat dulu ya, biar Rani buatkan teh hangat,” ucap Rani ramah seraya tersenyum simpul, mencoba mencairkan suasana kaku yang tercipta sejak mobil sewaan menurunkan barang-barang bawaan tadi.
Bu Darmi tidak langsung menjawab. Ia melepas selendang batik yang melingkar di pundaknya, lalu meletakkannya begitu saja di atas sofa kain kesayangan Rani tanpa alas atau rasa sungkan.
“Teh manisnya jangan terlalu pekat, Rani. Gula pasir di rumah ini boros sekali kulihat dari tadi. Aldi itu punya riwayat keturunan gula darah tinggi, jadi kamu harus lebih ketat menjaga asupannya. Jangan dibiasakan memanjakan suami dengan makanan dan minuman manis yang berlebihan.”
Pernyataan itu meluncur begitu saja tanpa nada bersalah, menusuk telinga Rani yang baru saja hendak melangkah menuju dapur. Aldi, suaminya, hanya berdehem kecil sembari melonggarkan dasi kantor, tampak serba salah menghadapi situasi yang mulai terasa panas di antara dua perempuan penting dalam hidupnya.
“Iya, Bu. Nanti Rani kurangi takarannya,” balas Rani pendek, menelan ludah yang terasa kelu.
Matahari perlahan tenggelam, menyisakan bias jingga di balik jendela kaca ruang tamu. Hari pertama kepindahan Bu Darmi ternyata menjadi babak pembuka dari serangkaian rutinitas baru yang menguras mental. Di dalam dapur yang ukurannya tidak terlalu besar, Rani mondar-mandir menyiapkan makan malam kesukaan suaminya. Hari ini ia memasak sup ayam hangat dan tempe goreng tepung kesukaan Aldi.
Belum sempat piring-piring saji tertata rapi di atas meja makan kayu jati, Bu Darmi sudah melangkah masuk ke area dapur dengan langkah gontai dan pasti. Perempuan sepuh itu mengendus-endus udara, lalu mengerutkan keningnya dalam-dalam.
“Kamu pakai minyak goreng apa ini, Rani? Kok aromanya tajam sekali? Minyak curah ya?” selidik Bu Darmi langsung tanpa basa-basi, jemarinya menunjuk botol plastik transparan di dekat kompor.
***
"Bukan, Bu. Itu minyak kemasan kok, merek biasa yang biasa Rani pakai," jawab Rani sopan sambil berusaha tetap tersenyum ramah.
"Duh, minyak kemasan zaman sekarang itu banyak yang palsu dan jernihnya buatan. Di kampung, ibu selalu pakai minyak kelapa murni buatan sendiri. Jauh lebih sehat untuk pencernaan. Kalau pakai minyak seperti ini terus, pantas saja Aldi sering mengeluh masuk angin akhir-akhir ini," kritik Bu Darmi panjang lebar sambil membuka tutup panci sup tanpa izin. "Astaga, Rani! Kenapa wortelnya dipotong sebesar itu? Mau kasih makan kuda? Potong yang kecil-kecil biar gampang dicerna lambung suami!"
Rani tertegun sejenak. Selama dua tahun menikah dengan Aldi, suaminya tidak pernah sekalipun protes mengenai ukuran potongan wortel ataupun merek minyak yang ia gunakan. Bahkan, Aldi selalu memuji masakan rumahan buatan Rani setiap kali mereka makan bersama. Namun, di hadapan sang ibu, masakan Rani mendadak berubah menjadi sederet kesalahan fatal yang tidak bisa ditoleransi.
Aldi yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tersampir di lehernya, mendekati area dapur karena mendengar suara ibunya yang cukup nyaring. "Ada apa ini, Bu? Kok kelihatannya serius banget?" tanya Aldi sambil merangkul pundak ibunya dengan penuh kelembutan.
"Ini loh, Di, istrimu masak, tapi persiapannya kurang teliti. Kalau kamu terus-terusan dibeginikan, kesehatan lambungmu bisa terancam. Ibu kan cuma mau yang terbaik buat anak ibu satu-satunya ini," adu Bu Darmi dengan nada manja yang langsung melunakkan ekspresi wajah Aldi.
Aldi menatap Rani sejenak, lalu tersenyum tipis berusaha menengahi. "Udah ya, Bu. Rani kan sudah capek masak seharian. Nanti pelan-pelan Rani sesuaikan sama standar masakan ibu, ya?" ucap Aldi kepada ibunya, lalu beralih menatap Rani dengan lirikan mata yang menyiratkan permohonan agar istrinya itu tidak melawan atau mendebat.
***
Rani hanya bisa mengangguk pasrah. Di dalam hatinya, sebuah ganjalan kecil mulai tumbuh, mengakar perlahan dan mengubah kenyamanan rumah yang selama ini ia impikan menjadi sebuah ruang tamu penuh sorot mata pengawasan.
Malam semakin larut, jarum pendek jam dinding kayu di ruang keluarga telah menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Suasana rumah terasa jauh lebih senyap dari biasanya, menyisakan suara dengungan kecil dari lemari es di sudut dapur.
Rani merebahkan diri di atas ranjang empuk kamar utama di samping Aldi yang sudah terlelap lebih dulu karena kelelahan seharian bekerja di kantor. Pikirannya melayang ke mana-mana, menerawang pada koper-koper besar yang masih tertutup rapat di ruang tamu dan deretan standar hidup tinggi yang dibawa sang mertua bersama kedatangannya hari ini. Rasanya baru kemarin ia dan Aldi menikmati kebebasan menata rumah tangga berdua tanpa intervensi siapa pun, kini setiap langkah geraknya seolah dihitung dan ditimbang.
Rani membalikkan tubuhnya menghadap sisi seberang, mencoba memejamkan mata untuk menjemput tidur yang kian terasa mahal. Namun, kegelisahan di dalam dadanya membuat saraf-saraf tubuhnya tetap terjaga.
Di tengah sunyinya malam yang merayap, sebuah derit halus dari pintu kamar tamu terdengar memecah keheningan. Bunyi engsel tua yang bergesekan pelan itu terdengar sangat nyaring di telinga Rani yang peka. Langkah kaki tua yang diseret malas di atas lantai keramik mendekati area lorong kamar tidur utama, lalu berhenti tepat di depan daun pintu kamar mereka yang memang sengaja tidak ditutup rapat oleh Aldi tadi sore agar sirkulasi udara kamar lebih lancar.