


oleh atika · 30 Bab
"Jangan jadi milik siapa pun dulu, ya," pinta Chitrabaahu Ryuga--lelaki yang kini menjadi salah satu target dalam misi terakhirku dibantu oleh Kama Affandra. Data di hadapanku tertulis bahwa Ryuga mengalami amnesia akibat kecelakaan saat berada di luar negeri. Ternyata banyak hal terjadi selama delapan tahun di hidupnya. "Baik, Nona Hikaru." Setiap ia menyebut nama belakangku, aku selalu menyangkal bahwa ia telah melupakanku. Aku yakin dia masih mengingatku. "Pilihannya kamu atau dia yang mati," tutur Kama. "Akankah tanganku sanggup melepaskan sebuah peluru ke arah pria yang mulai menggoyahkan misinya? Mampukah diriku melupakan semua hal tentang Ryu?"
“Berarti beneran dihapus ya?” tanya Kama mendesak mitranya untuk mengaku.
"Kita fokus pada misi terakhir saya saja,” tekan Ray.
"Saya sama sekali tidak tertarik dengan latar hidup kamu jadi ga usah kepo dengan latar belakang saya. Bukan hal yang penting,” imbuhnya menahan amarah. Ia tak suka jika ada yang mengusik privasinya.
"Saya mau lanjut latihan. Jam tujuh malam file-nya harus sudah masuk ke email saya," suruh Ray seraya pergi terlebih dahulu tanpa menghabiskan makan siangnya. Tiba-tiba perutnya langsung terasa kenyang karena amarah yang tetiba memuncak di kepalanya. Ia menjadi ragu apakah dirinya akan kuat bertahan dengan rekan semenyebalkan Kama Affandra.
"Mana bisa, Ray! Masa aku harus lembur gitu!" teriak Kama tak terima. Ia mencoba meminta keringanan karena setelah makan siang, ia juga melakukan latihan yang sama seperti Ray yang tampak marah kepadanya.
"Jam 9, deh, Ray!" rengek Kama yang masih duduk bangkunya. Ray memilih membalas dengan lambaian tangan secara cepat tanda ia menolak tawaran tersebut.
Tangan kiri Kama terkepal lalu memukul pelan meja di depannya agar tak merasakan sakit. Terdengar desisan tatkala atensinya menangkap tubuh Ray menjauh. “Ternyata sama menyebalkannya,” keluhnya.
Kaki gadis yang lebih tua setahun darinya itu terus melangkah keluar dari kantin setelah meletakan alat makan di meja yang sudah bertumpuk benda berbahan alumunium yang kotor. Ia akan berlatih menembak hingga sore hari bersama para pembunuh yang lain. Ada sekitar lima puluh orang yang berada dilatih oleh Yardan di daerah Lampu. Jangkauan bosnya bahkan sudah memenuhi wilayah selatan.
Selesai berlatih Ray memutuskan untuk langsung pulang ke apartemen yang sudah disewa Yardan. Kini ia tidak tinggal di rumah ayah maupun ibunya lagi. Semenjak ia menjadi yatim piatu, Yardan langsung mengambil hak asuhnya dan melatihnya menjadi pembunuh di usianya yang ke delapan belas tahun.
Dengan terpaksa ia harus pindah sekolah dari kota Mranggi yang berada di kawasan Lampu Timur menuju daerah Selatan. Kini ia akan menjalankan misinya di kota Sora. Beruntung ia sudah memiliki bekal sehingga Yardan hanya cukup memoles sedikit hingga ia langsung mendapatkan misi pertamanya dan berhasil diselesaikan dengan cepat. Seketika ia mengingat pujian yang dilontarkan pria itu kepadanya.
“Aku cukup terkesan dengan kemampuanmu, Ray,” puji Yardan membuatnya seketika merindukan kedua orang tuanya.
Selama menjadi pembunuh tentu saja Ray harus menggunakan identitas palsu. Namun, di misi terakhirnya setelah ia berpikir matang-matang dan ia pun memutuskan akan menggunakan identitas aslinya sebagai Rayline Hikaru. Sekarang tujuan utamanya setelah bergabung dalam organisasi pembunuh bernama Necro yang diketuai oleh Yardan dan menjalani kehidupan di perkotaan Lampu adalah membayar hutang budinya kepada bapak sambungnya dengan selalu menyelesaikan misi yang diperintahkan dengan cepat dan tanpa meninggalkan kesalahan sedikit pun.
Karena Ray tak pernah mengecewakan dalam setiap misi yang telah ia selesaikan membuat Yardan memberikan hadiah kepadanya berupa berlibur bersama. Salah satunya berlibur ke pantai yang terhampar di provinsi berjuluk “Sai Bumi Ruwa Jurai”. Ray cukup menikmati liburan tersebut untuk menenangkan jiwanya.
Ray telah membaca email masuk dari Kama yang berisi penjelasan detail mengenai dua target dari analisis yang dilakukan oleh Kama. Ia tersenyum kecil melihat hasil pekerjaan mitranya. Ray pun memutuskan untuk menghubungi pria itu.
"Ada apa, Nona Hikaru?"
Seketika senyum tipis mendarat di wajah Ray teringat seseorang yang telah lama ia tak jumpa. "Saya mau kamu bunuh sekretaris Ryuga. Saya bakal gantiin posisi itu," jawabnya seraya meraih dua foto pemberian Yardan.
"Sekarang?" tanya Kama kaget. Tanpa sadar bola matanya langsung terbuka lebar begitupun mulut yang baru selesai menelan bakso siap makan yang ia beli di supermarket. Seketika suasananya menjadi buruk menghadapi rekan barunya.
"Kepalaku masih nyut-nyutan, loh, Ray. Nyari data target hanya dalam dua jam udah keajaiban bagiku," celotehnya berharap rekan kerjanya berbaik hati kepadanya.
"Besok aja, ya," tambahnya memohon.
Ray tak peduli terhadap penderitaan yang dikeluhkan Kama. "Ya kalo bisa sekarang kenapa harus besok," balasnya menolak. Atensinya pun beralih meraih data di layar laptopnya.
"Aku kalo sekarang ga bisa, Rayline!" tuntutnya lalu terdengar helaan panjang darinya.
"Padahal malam-malam gini gampang buat kamu menyelinap ke rumah sekretaris Ryuga," bujuk Ray.
Amarah Kama tak dapat dielakkan mendengar desakan gadis di sambungan telpon dengannya. "Aku harus jelasin sebanyak apa, sih, Ray. Kalo-"
"Jam 10 berangkat. Saya mau besok dengar perusahaan Ryuga mengumumkan perekrutan karyawan baru," potong Ray tegas terhadap perintahnya kepada Kama.
Terdengar helaan pelan keluar dari labium Kama. "Oke, perintah diterima. Terimakasih," pungkas Kama mengalah. Ia pun langsung memutuskan panggilan sepihak.
Ray tersenyum puas karena rekannya memilih untuk menuruti perintahnya. Ia anggap pria itu memiliki jiwa loyalitas yang tinggi. Sekarang ia akan menunggu kabar baik dari rekannya.
Di data hadapan Ray tertulis bahwa Ryuga menjadi pemilik salah perusahaan tersukses di kota Sora yaitu di bidang arsitektur bernama Space Sora Arsitek. Perusahaan itu merupakan hasil kerja keras Tia–wanita yang ia temui langsung dua kali waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Kini perusahaan itu kini dipegang oleh Ryuga sebagai pewaris tunggal perusahaan tersebut. Perlahan ingatannya berkelana pada sepotong momen bersama Ryu.
“Hari ini sekolahmu pembagian rapot juga, ‘kan?” tanya Ray dan mendapat anggukan dari Ryu yang seperti biasa berkunjung ke kedai Naomi-bundanya setiap hari.
“Lihat dong nilai punyamu,” pinta Ray sembari menunjukkan puppy eyes di wajahnya.
Manik mata Ryu menatap sekilas gadis di depannya. “Lihat punyamu juga kalo gitu," balasnya beralih menatap makanan di hadapannya.
Seketika ekspresi gadis itu berubah menjadi suram. “Ga mau, lah. Ntar kamu ledekin,” tolak Ray mengurungkan keinginannya karena pria itu pernah meledeknya pada semester sebelumnya. Seketika ia trauma meski hanya ledekan kecil tapi sedikit menampar hati mungilnya.
Ryu pun memilih menyomot kentang goreng di depannya lalu berucap, “Ya udah.” Ia pun melahap kentang seraya kembali memfokuskan atensinya pada sahabatnya. Ia juga tidak tertarik terhadap nilai gadis di depannya.
Ray turut memakan cemilan di depannya lalu bertanya, “Cita-citamu masih mau jadi arsitek?”
Ray tersenyum kecil melihat kesuksesan pria yang awalnya ia anggap sebagai sahabatnya yang kini berhasil meraih cita-cita sebagai arsitek dan meneruskan bisnis yang dirintis oleh Tia.
Sementara cita-citanya kini terkubur dan berakhir sebagai seorang pembunuh. Ingatannya mulai berpindah saat Cici-teman sebangkunya berkunjung ke rumahnya.
“Eh ini pacarmu udah datang, nih,” goda Cici nyengir saat melihat Ray sudah berkacak pinggang padanya.
Ray berdecak setelah melihat nama penelpon di layar ponselnya setelah dikembalikan oleh Cici. Ia pun mendekatkan ponsel ke telinga kanannya. "Ada apa?" tanyanya to the point.
"Baiklah, baiklah," jawab Ryu disertai kekehan. Ia merasa terhibur mendengar godaan yang dilayangkan Cici kepada Ray.
"Kalo ga ada yang penting, aku tutup nih," ancamnya seraya memakan sesendok puding.
Cici yang memperhatikan teman sebangkunya yang sedang mencoba masakannya lalu bertanya, "Gimana? Enak?" Ia mengucapkannya tanpa terdengar suara cemprengnya.
Terasa seperti letupan nikmat di mulut Ray. Ia pun menganggukan kepala dan kembali menyendokkan puding kenyal itu ke mulut membuat Cici tersenyum senang.
"Ada hal penting yang mau aku omongin tapi harus langsung ungkapinnya," terang Ryu.
Terdengar desisan dari mulut Ray lalu berucap, "Omong kosong."
Ryu tersenyum kecil mendengar respon Ray. "Tunggu aja. Aku mau jalan dulu sama nyokap," timpalnya jujur.
"Selamat liburan buat kalian berdua ya," imbuhnya.
“Iya, selamat berlibur juga,” sahut Ray masih menikmati puding di depannya.
"Ryuga, selamat berlibur!" timpal Cici membuat Ryu terkekeh.
Ternyata di hari itu terjadi insiden penembakan yang menyebabkan Ryu mengalami amnesia. Ternyata banyak hal terjadi selama delapan tahun hidup Ryu. Begitupun di hidupnya yang mengalami banyak perubahan.
"Aku pikir masa kita sudah habis, Ryu.”

atika
2 Pengikut · 1 Novel