Langit di atas Desa Lembah Aruna biasanya damai. Namun malam itu, angin berdesir dengan nada yang tidak biasa, seolah membawa pesan yang tidak ingin didengar siapa pun.
Arka berdiri di tepi bukit, menatap langit yang tiba-tiba berdenyut seperti jantung yang hidup.
“Langitnya bergerak,” gumamnya pelan.
Di belakangnya, seorang gadis berambut pendek bernama Lira menyilangkan tangan. “Bukan bergerak, Arka. Itu retakan.”
Arka mengernyit. “Retakan?”
Belum sempat Lira menjawab, cahaya terang membelah langit. Garis api menyapu kegelapan, diikuti suara gemuruh yang mengguncang tanah.
DUAARR!
Tanah bergetar hebat. Burung-burung berhamburan dari pepohonan. Dari kejauhan, terlihat sebuah benda bercahaya jatuh menembus hutan di luar desa.
“Itu jatuh di Hutan Veyra,” kata Lira cepat. “Kita harus pergi.”
“Pergi?” Arka menoleh tajam. “Orang-orang di desa—”
“Mereka akan berlindung,” potong Lira. “Kalau itu benar seperti yang aku pikirkan, kita tidak punya banyak waktu.”
Arka terdiam. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar, seolah memanggilnya ke arah benda jatuh itu.
Apa ini? Kenapa aku merasa harus ke sana?
“Arka!” Lira menyentuh lengannya. “Kau dengar aku?”
Ia mengangguk pelan. “Kita ke sana.”
Tanpa menunggu lagi, mereka berlari menuruni bukit, menembus jalan tanah menuju hutan yang kini diselimuti cahaya redup kehijauan.
Hutan Veyra tidak pernah ramah bagi manusia. Pohon-pohonnya tinggi dan rapat, akarnya menjalar seperti ular, dan kabut tipis menggantung di antara batang-batang tua. Namun, malam itu, sesuatu telah berubah.
Cahaya dari langit yang jatuh memancar dari dalam hutan, membuat bayangan bergerak aneh di antara pepohonan.
“Ini tidak wajar,” bisik Lira. “Aku pernah ke sini siang hari. Tidak pernah seperti ini.”
Arka tidak menjawab. Ia terus berjalan, matanya tertuju ke depan.
“Arka,” panggil Lira lagi, “kau terlalu cepat.”
“Aku tidak tahu kenapa,” sahut Arka tanpa menoleh. “Seolah ada yang menarikku.”
Lira mendecak pelan. “Itu justru alasan kita harus hati-hati.”
Tiba-tiba, langkah Arka terhenti.
Di hadapan mereka, tanah terbelah membentuk kawah besar. Di tengahnya, sebuah benda bercahaya biru berdenyut perlahan, seperti makhluk hidup.
“Itu .…” Napas Lira tertahan.
Arka melangkah mendekat, meski rasa takut merayap di dadanya.
“Jangan dekat-dekat!” Lira menahan lengannya. “Kita tidak tahu apa itu.”
Suara lain muncul di dalam kepala Arka.
Datanglah.
Ia membeku.
“Lira, kau dengar itu?”
“Apa?”
“Suara itu memanggilku.”
Lira menggeleng cepat. “Tidak ada suara apa pun. Arka, mundur.”
Kaki Arka justru bergerak maju.
Datanglah dan kau milikku.
Tangannya terulur tanpa sadar.
“Arka, berhenti!” Lira menariknya kuat, tetapi tiba-tiba cahaya dari benda itu meledak lebih terang.
Angin berputar kencang. Tanah di sekitar mereka bergetar.
Dari dalam cahaya, sebuah simbol muncul—lingkaran dengan garis-garis rumit yang terus berubah.
“Apa itu?” Lira berbisik, matanya membelalak.
Arka tidak menjawab. Ia merasa tubuhnya panas, seperti terbakar dari dalam.
“Arka!” Lira mengguncangnya. “Jawab aku!”
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Perang.” Suaranya gemetar. “Api, kota runtuh dan seseorang—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki terdengar dari balik pepohonan.
“Kita tidak sendirian,” bisik Lira cepat.
Beberapa sosok berjubah hitam muncul dari kegelapan, wajah mereka tertutup topeng logam.
“Sial,” Lira mendesis. “Mereka sudah sampai.”
“Siapa mereka?” tanya Arka.
“Pemburu Bintang.”
Salah satu dari mereka melangkah maju. Suaranya berat dan dingin. “Menjauh dari artefak itu.”
Arka menegang. “Artefak?”
“Benda itu bukan untuk manusia biasa,” lanjut pria itu. “Serahkan pada kami, dan kalian bisa pergi.”
Lira tertawa pendek. “Sejak kapan kalian memberi pilihan?”
Pria itu tidak menjawab, tetapi mengangkat tangannya. Dalam sekejap, dua orang di belakangnya menghunus senjata bercahaya.
“Arka,” bisik Lira, “kita harus mundur.”
Arka tetap berdiri di tempat.
Kenapa aku tidak bisa bergerak?
“Arka!” Lira mendesak. “Sekarang!”
Pria berjubah itu melangkah lebih dekat. “Anak itu, dia yang dipilih.”
Jantung Arka berdegup kencang. “Dipilih?”
“Menarik,” lanjut pria itu. “Sepertinya artefak sudah meresponsmu.”
Lira maju satu langkah, berdiri di depan Arka. “Kalau kalian ingin menyentuhnya, kalian harus melewatiku dulu.”
Pria itu tertawa pelan. “Keberanian yang sia-sia.”
Dalam sekejap, salah satu pemburu menyerang.
“Arka, tiarap!” teriak Lira.
Arka refleks merunduk saat kilatan cahaya melintas di atas kepalanya. Lira bergerak cepat, menghindari serangan berikutnya.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Arka.
“Menjaga kita tetap hidup!” balas Lira sambil menghindar.
Satu pemburu lagi maju, mengapit mereka.
“Kalian tidak akan keluar dari sini,” katanya dingin.
Arka menelan ludah. Aku tidak bisa hanya diam.
Ia menatap kembali ke arah benda bercahaya itu.
Kalau ini memang memanggilku dan apa yang harus kulakukan?
“Arka!” Lira kembali berteriak, terdesak oleh dua lawan sekaligus.
Tanpa berpikir panjang, Arka berlari menuju pusat kawah.
“Berhenti!” teriak pria berjubah. Namun, sudah terlambat.
Tangan Arka menyentuh permukaan benda itu.
Sejenak, dunia menjadi sunyi.
Lalu cahaya meledak.
Semua pemburu terpental. Lira terlempar beberapa meter dan jatuh keras.
“Arka!” Suaranya panik.
Di tengah cahaya, Arka melayang, matanya terbuka dan kosong.
Simbol tadi berputar di sekelilingnya.
“Akhirnya,” bisik suara yang sama di dalam kepalanya. “Kau datang.”
“Siapa kau?” Arka mencoba berbicara, tetapi suaranya terasa jauh.
“Aku adalah awal dan akhir.”
Arka menggertakkan gigi. “Aku tidak mengerti!”
“Kau akan mengerti,” jawab suara itu. “Ketika dunia mulai runtuh.”
Tiba-tiba, gambaran lain muncul di benaknya—pasukan besar bertempur, naga terbang di langit, dan bintang-bintang jatuh satu per satu.
“Tidak.” Arka berbisik.
“Ini takdir.” Suara itu menegaskan. “Kau adalah kuncinya.”
Cahaya perlahan meredup.
Tubuh Arka jatuh ke tanah.
“Arka!” Lira berlari menghampirinya. “Bangun! Tolong jawab aku!”
Arka membuka mata perlahan.
“Aku masih hidup?”
Lira hampir menangis. “Tentu saja! Jangan lakukan itu lagi!”
Arka mencoba duduk, tetapi tubuhnya masih lemah.
“Lira, mereka—”
Ia menoleh.
Para pemburu telah menghilang.
Hanya jejak kaki dan tanah yang hangus tersisa.
“Mereka mundur,” kata Lira pelan. “Untuk sekarang.”
Arka menatap tangannya. Ada simbol samar yang bersinar di kulitnya.
“Apa ini?”
Lira menatapnya dengan wajah serius. “Masalah besar.”
Arka menelan ludah. “Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Perang besar kehancuran dan aku ada di tengahnya.”
Lira terdiam sejenak. “Kalau begitu, kita tidak punya pilihan.”
“Maksudmu?”
“Kita harus mencari tahu apa itu,” katanya tegas. “Sebelum orang lain menemukannya duluan.”
Arka menatap kembali ke kawah yang kini mulai gelap.
Apa sebenarnya yang telah kupicu?
Angin malam kembali berembus, tetapi kali ini membawa rasa dingin yang berbeda, pertanda bahwa sesuatu yang besar telah dimulai, dan di kejauhan, di balik bayangan hutan, sepasang mata mengamati mereka dalam diam.
“Dia benar-benar yang dipilih,” bisik suara itu. “Permainan baru saja dimulai.”
Langit yang retak perlahan menutup dan bukan berarti bahaya telah berakhir.
Justru, semuanya baru saja dimulai.