"Cukup-cukupin, Arini. Istri yang salehah itu harus pintar memutar otak, bukan cuma pintar menuntut."
Suara bariton milik Prasetya memecah keheningan dapur yang pengap. Tangannya yang bersih, tanpa noda kasar sedikit pun, bergerak meletakkan selembar uang berwarna biru ke atas permukaan meja makan kayu yang mulai lapuk. Lembaran uang lima puluh ribu rupiah itu tampak sangat kontras dengan permukaan meja yang kusam.
Arini yang sedang memindahkan sayur bening bayam ke dalam mangkuk keramik retak, menghentikan gerakannya sejenak. Matanya tertuju pada uang tersebut. Napasnya mendadak terasa berat, seolah pasokan oksigen di dapur ukuran tiga kali tiga meter itu mendadak menguap.
"Mas, lima puluh ribu ini untuk satu minggu?" tanya Arini dengan suara sepelan mungkin, berusaha keras menahan getaran di pita suaranya agar tidak terdengar seperti sebuah protes yang lancang di telinga suaminya.
Prasetya merapikan kerah kemeja kerjanya yang licin hasil setrikaan Arini hingga larut malam. Ia menatap Arini dengan pandangan teduh, jenis tatapan yang selalu berhasil membuat orang luar memujinya sebagai suami yang sabar dan penuh pengertian. Namun, bagi Arini, tatapan itu tak ubahnya jeruji besi yang mengurungnya selama tiga tahun pernikahan mereka.
"Zaman sekarang, kalau kita punya rasa syukur, uang segitu sudah lebih dari cukup," sahut Prasetya tenang, sambil melangkah mendekati meja makan untuk menikmati sarapannya.
"Beras kita masih ada dua liter di gentong. Minyak goreng juga masih ada sisa sebotol kecil. Kamu tinggal beli tempe, tahu, atau sesekali telur di tukang sayur keliling. Jangan biasakan hidup boros, Rin. Ingat, di luar sana banyak orang yang jangankan memegang uang lima puluh ribu, untuk makan sekali sehari saja mereka harus mengais tempat sampah."
Arini menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang kian menghimpit dadanya. Ia ingin sekali berteriak, mengingatkan suaminya bahwa harga kebutuhan pokok di pasar terus melonjak setiap pekan.
Gas elpiji tiga kilogram sudah naik harga, belum lagi keperluan Dio, anak lelaki mereka yang baru menginjak usia dua tahun.
Susu formula Dio sudah hampir habis, dan popok sekali pakainya hanya tersisa dua lembar di dalam lemari. Namun, Arini tahu betul watak suaminya. Sekali saja ia membantah dengan nada tinggi, Prasetya akan langsung mengeluarkan dalil-dalil agama tentang kewajiban istri untuk patuh dan bersyukur, lalu mendiamkannya selama berhari-hari seperti orang asing.
"Mas, keperluan Dio—"
"Dio itu anak kita, dia harus dididik hidup mandiri dan sederhana sejak kecil," potong Prasetya cepat, nadanya masih tetap datar dan stabil, seolah sedang memberikan ceramah di mimbar masjid.
"Jangan dimanjakan dengan segala sesuatu yang serbamahal. Anak zaman sekarang terlalu sering dicekoki susu formula mahal, makanya otaknya jadi lembek. Kasih saja air tajin kalau susunya habis, itu jauh lebih sehat dan alami. Zaman dulu kita juga dibesarkan dengan cara seperti itu, kan?"
Arini mengepalkan kedua tangannya di balik kain celemek yang ia kenakan. Kulit jarinya yang kasar karena terlalu sering mencuci pakaian tanpa mesin cuci terasa bergesekan.
Air tajin? Untuk anak kandungnya sendiri yang sedang dalam masa pertumbuhan? Sementara Arini tahu, dari cerita-cerita yang sesekall didengarnya, Prasetya selalu memastikan penampilannya di kantor tampak prima dan berkelas.
Kemeja bermerek, sepatu kulit yang selalu mengilap, dan parfum yang aromanya tertinggal di ruangan berjam-jam setelah suaminya pergi.
Prasetya menyuap nasi dengan sayur bayam buatan Arini tanpa ekspresi. Setelah menghabiskan setengah piring, ia meneguk air putih hingga kandas, lalu bangkit dari kursi kayu. Ia melirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Saya berangkat dulu. Ingat pesan saya tadi, Arini. Kunci kebahagiaan rumah tangga itu ada pada qanaah, merasa cukup dengan apa yang ada. Jangan biarkan penyakit hati dan sifat kufur nikmat merusak pahala kamu sebagai seorang istri," ucap Prasetya sambil mengulurkan tangan kanan.
Dengan sisa-sisa ketabahan yang kian menipis, Arini menyambut tangan itu, mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
Sesaat setelah pintu depan tertutup rapat dan suara deru sepeda motor Prasetya menjauh dari halaman rumah kontrakan mereka, pertahanan Arini runtuh. Air matanya menetes satu demi satu, membasahi pipinya yang kian tirus.
***
Ia menatap selembar uang lima puluh ribu rupiah di atas meja. Uang itu seolah sedang menertawakan kemalangannya. Bagaimana mungkin uang sebesar ini bisa menghidupi tiga nyawa selama tujuh hari ke depan? Untuk membeli telur satu kilogram saja harganya sudah menghabiskan lebih dari setengah dari total uang tersebut. Belum lagi bawang merah, bawang putih, cabai, dan garam yang harganya juga tidak pernah mau bersahabat dengan dompetnya.
Arini berjalan gontai menuju kamar tidur mereka yang sempit. Di atas kasur busa tanpa ranjang, Dio masih tertidur lelap dengan jempol mungil yang mengulum di mulutnya.
Arini berlutut di samping kasur, mengusap rambut halus anaknya dengan lembut. Kesedihan mendalam menyergap hatinya. Mengapa pernikahannya harus menjadi penjara kelaparan seperti ini? Di awal pernikahan, Prasetya berjanji akan mencukupi segala kebutuhannya, tetapi lambat laun, nafkah yang diberikan justru semakin menyusut hingga ke titik yang tidak masuk akal.
Suara ketukan pintu depan yang tergesa-gesa membuyarkan lamunan pilu Arini. Ia bergegas menghapus air matanya, merapikan rambutnya yang dicepol asal-asalan, lalu melangkah menuju ruang tamu.
Jantungnya berdebar agak kencang. Ia tahu betul ritme ketukan pintu seperti ini. Ini bukan ketukan pintu dari tetangga ramah yang ingin sekadar menyapa.
Arini membuka pintu kayu yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di balik pintu, berdiri seorang lelaki paruh baya dengan jaket jins kumal dan helm yang masih terpasang di kepala. Wajahnya tampak ketus, matanya langsung menghujam tajam ke arah Arini begitu pintu terbuka.
"Selamat pagi, Bu Arini. Maaf mengganggu waktunya," ujar lelaki itu dengan nada suara yang sengaja ditekan, terdengar berat dan penuh tuntutan.
"Saya ke sini cuma mau menagih janji Ibu minggu lalu. Cicilan panci dan penanak nasi serbaguna yang Ibu ambil dua bulan lalu sudah menunggak dua minggu. Hari ini harus bayar, Bu. Saya tidak mau dengar alasan apa-apa lagi."
Arini menelan ludah secara paksa.