


oleh Dina0505 · 97 Bab
Aluna, seorang gadis kutu buku yang gemar menulis cerita fiksi dalam sebuah blog, dinyatakan hilang usai mendapatkan penghargaan dari sekolahnya. Sang ibu yang bernama Angela mencoba menghubungi pihak sekolah untuk melaporkan tentang putrinya yang hilang, tapi pihak sekolah menyatakan bahwa Aluna telah pulang sejak jam sekolah berakhir. Angela berusaha menghubungi pihak kepolisian untuk mengusut kasus hilangnya putrinya. Namun, pihak berwajib terkesan lambat dalam mengusut kasus hilangnya Aluna. Di saat bersamaan sang mantan suami, Alexander hadir kembali setelah sekian lama meninggalkan mereka. Lalu apa tujuan Alexander kembali dalam hidupnya? Akankah ada titik terang yang didapat Angela tentang anaknya?
Pagi itu seperti biasa, Aluna berpamitan pada sang ibu untuk pergi ke sekolah. Aluna Valencia bersekolah di sebuah SMU favorit dan merupakan salah satu siswi terbaik juga berbakat di sekolahnya. Pada suatu hari, Aluna terpilih oleh pihak sekolah untuk ikut dalam kompetisi menulis.
"Lun, aku dengar kamu ikut kompetisi menulis tahun ini ya?" tanya Shifa yang merupakan sahabat Aluna.
"Ga kok, aku ga ikutan. Soalnya aku lagi persiapan buat ujian semester," ujar Aluna pada sahabatnya.
"Tapi Lun, nama kamu udah masuk sebagai penulis terbaik di sekolah. Itu loh Lun cerita horor yang pernah kamu tulis di blog milikmu beberapa bulan lalu," jelas Shifa kembali.
"Kok bisa sih? Aku ga pernah mendaftar sama sekali. Jangan-jangan ada yang plagiat tulisanku nih." Aluna berpikir keras, hanya ada dua kemungkinan kalau bukan karyanya diplagiat, pasti ada yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan dengan menggunakan nama dan karya yang dia miliki.
"Masa sih Lun, tapi itu semua nama dan karyanya memang asli punya kamu. Masa kamu ga tahu sih. Kamu lupa atau bagaimana?" tanya Shifa kembali.
"Aku yang melakukan semua itu!" Dari kejauhan seorang pemuda dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter mendekati mereka dan mengakui kalau semua itu perbuatannya.
"Jamie?" ucap Aluna dan Shifa bersamaan. Mereka terperanjat dengan kehadiran Jamie yang tiba-tiba.
"Maaf Lun, aku ga bermaksud lancang mengambil karya kamu. Aku cuma mau mempublikasikan tulisan kamu yang selama ini kamu buat di blog. Aku lihat tulisan kamu menarik, jadi sewaktu aku dapat info ada kompetisi menulis di sekolah yang melibatkan antar siswa di seluruh Indonesia, aku coba untuk mempublikasikan karyamu. Makanya kamu bisa terpilih sebagai penulis terbaik di seluruh sekolah di kota kita," jelas Jamie secara detail.
Jamie adalah salah satu sahabat Luna. Dia merupakan cowok favorit di sekolah mereka. Betapa tidak, tubuh atletis dengan wajah blasteran dan tinggi yang proporsional membuat gadis-gadis seisinya meleleh melihat ketampanannya. Terlebih lagi, Jamie Oliver merupakan cover boy di sekolah mereka tentu saja ia menjadi siswa istimewa incaran kaum hawa.
Bertolak belakang dengan Aluna, seorang gadis culun yang tidak populer hanya selalu berteman dengan buku-buku, dan merupakan penulis cerbung di Blogger.
"Kenapa kamu bersikap lancang seperti itu. Sama sajakan artinya kamu mencuri karyaku? Kamu ga permisi sama sekali sama aku buat melakukan semua itu!" cecar Aluna merasa kesal pada Jamie. Ia merasa Jamie telah mencuri karyanya.
"Lun, jangan salah paham. Aku ga bermaksud mencuri karya kamu. Aku cuma pengen membuat kejutan buat kamu, karena ...." Pemuda enam belas tahun itu menjeda ucapannya sambil menatap Aluna. Ia merasa ragu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Karena apa?" desak Aluna pada lelaki itu dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Karena aku menyukaimu. Sejak pertama kali kamu masuk ke sekolah ini, aku sudah menyukaimu," tukas Jamie padanya lagi.
"Jangan membuatku tertawa dengan leluconmu itu Jamie. Bukannya selama ini, kamu selalu membullyku? Kamu dan teman-temanmu yang sombong dan elit itu selalu menertawakan aku dan mengatakan aku itu gadis culun dan tidak pantas berada di sekolah ini?" Aluna tertawa sumbang mendengar pernyataan Jamie padanya. Pernyataan pemuda itu seakan menggelikan di telinganya.
"Memang aku suka mengerjaimu dan selalu membuatmu terpojok, tapi itu semua aku lakukan demi mendapatkan perhatianmu. Aku pikir kamu sama dengan yang lainnya, ternyata aku salah, kamu berbeda Luna. Kamu tidak seperti gadis lainnya," ujar Jamie sambil menatap netra kecoklatan milik Aluna. Ia berusaha mengatakan kejujuran dalam hatinya.
"Itu tidak mungkin. Bukannya selama ini kamu dekat dengan Livia? Aku lihat gadis itu menyukaimu dan ia tidak suka jika ada gadis lain yang mendekatimu," ujar Aluna lagi.
Aluna masih bisa mengingat kejadian beberapa waktu lalu, ketika salah satu temannya yang bernama Mita pernah menyatakan cinta pada Jamie.
Livia Alehandra yang mengetahui hal itu langsung marah besar. Livia bersama teman-teman satu gank-nya langsung mencari keberadaan Mita, lalu membawa gadis itu ke toilet sekolah dan mereka melempari kotoran beserta air kotor kepada gadis itu hingga Mita benar-benar terlihat sangat buruk.
Semenjak kejadian itu, Mita sangat malu untuk pergi ke sekolah dan memutuskan keluar dari sekolah favorit itu. Tentu saja, Aluna yang masih mengingat jelas hal naas itu tidak ingin sampai terjadi pada dirinya.
Tujuan utamanya ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan prestasi, bukan bernasib sial seperti Mita.
"Livia hanya temanku. Dia sahabatku dari sejak kami SD. Papanya adalah relasi bisnis papaku jadi sejak kecil kami selalu bersama, tentu saja Livia sangat dekat denganku," jelas Jamie pada Aluna. Gadis itu hanya diam tak menjawab perkataan Jamie lagi.
'Jadi itu sebabnya mereka begitu dekat? Tapi kenapa Livia seakan-akan merasa mereka itu pasangan? Hmm, sudahlah itu bukan urusanku. Memangnya Jamie ini siapanya aku? Ga penting banget juga,' monolog Aluna dalam hatinya.
"Lun, kamu baik-baik aja kan?" Jamie melambaikan tangannya sejajar ke wajah Aluna. Gadis itu terkesiap dan termundur.
"Oh iya udah kalau begitu," sahut Aluna padanya.
"Apanya yang iya Lun?" Jamie merasa heran dengan sikap Aluna.
"Ya, aku maafin kamu karena udah mengambil karyaku diam-diam dan aku mau mengucapkan terimakasih karena kamu udah buat karyaku jadi karya terbaik di seluruh sekolah," imbuh gadis berwajah mungil itu sambil menatap ke arah Jamie.
"Terus pernyataan cinta aku gimana?" tagih pemuda itu merasa semakin penasaran.
"Belajar dulu yang benar, jangan memikirkan perasaan. Tunjukkan kalau kamu bisa mengalahkanku di bidang sains," tantang gadis itu pada Jamie, kemudian berlalu meninggalkannya.
"Jadi kamu menantangku?" ucap Jamie merasa tertantang pada gadis berkacamata tebal itu. Aluna menoleh ke belakang sambil tersenyum.
Dia tahu persis Jamie tidak akan sanggup, secara pelajaran sains adalah mata pelajaran yang paling dibenci lelaki itu karena cukup menguras pikiran dan pastinya sangat membosankan bagi Jamie.
"Okay, demi kamu aku bakal melakukan semuanya. Termasuk belajar sains pelajaran yang paling aku benci!" teriak pemuda itu padanya lagi. Shifa dan Aluna mendengar dengan jelas ucapan lelaki itu, bahkan seluruh siswa di sekolah dapat mendengar jelas ucapannya.
"Lun, kayaknya dia serius sama kamu," tutur Shifa padanya.
"Ga mungkin Shifa, dia ga bakal betah belajar sains. Ngerjain tugas sekolah aja malas apalagi belajar sains. Aku ga yakin dia bertahan," tukas Aluna yakin pada pendiriannya.
"Tapi kalau dia serius gimana?" tanya gadis itu lagi. Aluna hanya dia tak menjawab. Ia yakin lelaki itu tidak serius dengan ucapannya.
Di sisi lain, ada seorang gadis yang menatap penuh amarah pada Aluna. Dia menggeram dan mengepalkan erat tangannya. Merasa kesal melihat Jamie yang baru saja menyatakan perasaannya pada Aluna.
'Awas aja kamu Luna, berani mendekati Jamie. Gue bakal bikin kamu menyesal,' gerutu Livia dalam hatinya. Ia benar-benar tidak suka jika ada seorang gadis pun yang mendekati Jamie. Lantas bagaimana ceritanya kalau Jamie sendiri yang mulai menyukai Aluna?

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel