Namanya, Rai. Lengkapnya: Raisa Nurhaliza, tapi jelas bukan yang bisa nyanyi sampai bulu kuduk berdiri. Dia cuma penulis cerita cinta, yang cintanya sendiri kandas. Seperti WiFi tetangga, hilang pas lagi sayang-sayangnya.
Semuanya berawal dari satu kata yang mengubah segalanya. "Maaf."
Bukan, bukan “maaf aku selingkuh,” tapi “maaf, kita cocoknya temenan saja.”
Katanya mantannya lagi, "aku butuh waktu buat mikir." Ternyata, "waktu buat mikir" itu adalah kode cowok untuk "aku akan menikahi orang lain dan kamu nggak perlu tahu."
Rai ditinggalkan sama tunangannya. Ditikam sama sahabatnya sendiri. Dia harus menerima itu kayak kue basi yang sudah kadaluarsa sejak zaman Majapahit.
***
Hari itu, Rai duduk di sofa empuk warisan kosan lama yang sudah mulai bau kelembaban dan kenangan kelam. Di tangan kirinya, segelas es kopi susu. Di tangan kanan, sebuah amplop putih gading dengan emboss bunga yang sangat tidak ia pesan.
Ia menatap nama pengirimnya. “Mulky & Meisya.”
Rasanya seperti ditonjok pakai album kenangan. Dari semua hal yang bisa menghancurkan minggu keempat di bulan ini. Cicilan nambah, gaji seret, sinyal lemot. Ditambah undangan mantan menikah jelas juara satu.
“Aku udah siap, kuat, dan ikhlas,” bisik Rai sambil membuka amplopnya dengan cara yang sangat tidak ikhlas. Ia pakai cutter dan air mata.
Desain undangannya minimalis. Tipe-tipe pasangan yang percaya konsep less is more, kecuali kalau ngomongin drama hubungan. Nama mantannya tercetak indah di atas kalimat “Dengan memohon rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami mengundang Anda untuk hadir.”
“Aku nggak pernah minta diundang,” gumam Rai. “Tuhan juga tahu aku nggak akan datang, Mul.”
Ia menaruh undangan itu di meja, lalu menatap langit-langit.
Bukan, bukan karena sedang merenung, tapi karena ada cicak yang jatuh dari plafon dan hampir kena mukanya.
Sudah enam bulan sejak Rai dan Mulky putus. Dia ditinggalkan tanpa penjelasan, hanya pesan WhatsApp.
“Maaf, kita cocoknya temenan aja.”
Sebenarnya, Rai lagi nulis cerita cinta judulnya: “Cinta Dua Kiblat.”
Tokoh utamanya si cowok setia banget. Setia kaya cicilan motor. Rai nulisnya sambil senyum-senyum. Lalu gawainya bunyi. WhatsApp dari sahabatnya.
"Rai, aku harus jujur. Aku udah deket sama Mulky dari sebelum kalian putus. Maaf ya, aku juga kaget."
Kaget? Rai lebih kaget! Kayak baru sadar pas mandi kalau handuk nggak dibawa.
Lalu muncullah adegan dramatis. Rai nangis sambil nge-replay voice note Mulky terakhir.
"Aku harap kamu nemu orang yang lebih baik dari aku."
Lebih baik? Dari kamu? Mau cari di mana? Di pojokan Alfamart juga banyak!
Rai langsung delete kontak dia, tapi, dia catet dulu nomornya di notes. Ini namanya block with benefits. Kalau-kalau dia nyari Rai lagi, tapi kayaknya enggak, deh.
Esoknya, Rai bangun dengan semangat. Namun, semangat buat nangis lagi.
Rai ke dapur, melihat gelas bekas Mulky. Gelas plastik Indomaret. Dia simpan. Kenapa?
Karena Mulky minum dari gelas itu waktu pertama kali bilang, "aku cinta kamu."
Sialnya, dia juga bohong dari gelas itu. Berarti gelasnya toxic, tapi kenangannya estetik.
Rai sadar, ternyata, dia nggak cuma patah hati, tapi juga patah logika.
Karena hari itu, dia pergi ke mini market. Pas tukang parkir bilang, “Hati-hati, Mbak.” Dia jawab, “Hatiku sudah rusak, Mas. Gimana dong?”
Besoknya, Rai mau nekat. Dia bilang ke diri sendiri, “RAI, SUDAH. ENOUGH. YOU DESERVE BETTER.” Namun, suara hati kecilnya membalas. “Iya, tapi chat dia masih ada di archive lho, cek dikit aja.”
Kemudian, dia cek. Dia scroll dan ketawa baca chat lama.
Terus, DIA NANGIS LAGI.
***
Akhirnya, Rai sadar satu hal. Batal nikah itu nggak pernah sesimpel unfollow. Kadang hati masih follow diam-diam, walau akun udah digembok.
Move on itu, nggak bisa instan. Bahkan mie instan aja butuh direbus.
Tiba-tiba gawai-nya berbunyi. Grup WhatsApp bernama “Move On Bareng Yuk” muncul di notifikasi.
Pak Arman (Admin): “Jangan lupa zoom malam ini ya, kita bahas kenapa kita semua masih gagal move on.”
Rai mendesah panjang. “Ikut grup ini aja udah bikin malu, apalagi kalau tahu aku dapet undangan mantan.”
Dia melirik ke amplop. Lalu dengan niat setengah bulat, dia berdiri, mengambil korek, dan membakar ujung undangan itu.
“Bye, masa lalu. Kau nggak bisa nyakitin aku lagi!” Dia hilang akal, undangannya ditaruh di atas rice cooker yang masih menyala.
Dua menit kemudian, alarm asap bunyi. Tetangga teriak. Rai lari keliling rumah sambil bawa panci air.
Move on? Ah, itu fiksi.
Hari ini Rai belum berhasil, tapi minimal, undangannya sudah jadi abu. Sebagian sudah jadi nasi juga.
***
Rai masih bengong di depan layar laptop. Jari-jarinya sudah ngetik dua paragraf curhat, tapi habis itu langsung dihapus. Ditulis lagi, hapus lagi. Dia akui, drama kehidupan nyata jauh lebih ribet daripada plot sinetron.
“Ya Allah, kenapa sih aku nggak dikasih bakat lupa instan aja?” gumamnya. “Kenapa mesti dikasih bakat overthinking?”
Dia menatap gelas kopi sachet yang sudah dingin sejak Subuh. Rasanya kayak hidupnya sekarang, pahit, basi, dan nggak ada yang mau.
HP Rai tiba-tiba bunyi “ting”. Notifikasi dari grup keluarga. Tante-tante rame ngomongin pernikahan sepupu. Rai menelan ludah, lalu mendesah. “Ya ampun, mereka kayak nggak ada topik lain selain pelaminan.”
Dia balas dengan emoji. Itu doang. Supaya nggak ada yang nanya, “Kapan nyusul?” Karena kalau ada, Rai bisa-bisa bikin puisi penuh dendam.
Kapan nyusul?
Kalau bisa nyusul mantan selingkuhanku ke lubang buaya, aku mau.
“Rai, muka kau kayak orang mau ujian skripsi, tapi lupa bawa laptop.” Suara Uli, sahabat sekontrakan, bikin Rai kaget. Tiba-tiba sudah nongol dengan cemilan di tangan.
“Uli, aku baru aja hampir bikin sejarah. Sumpah, tadi tuh hampir aku DM mantan cuma buat bilang, ‘thanks ya, kau berhasil nambahin bab baru di novel aku. Bab Kebodohan’.”
Uli ngakak sampai batuk-batuk. “Gila, kalau beneran kau kirim, itu jadi ending paling epic.”
Rai menghela napas panjang. “Masalahnya, aku bukan mau nulis ending, Li. Aku pengen nulis ulang hidup aku. Kalau bisa, delete bab dia sama sekali.”
“Sayangnya, hidup nggak ada tombol delete.” Uli menyeruput minuman dinginnya santai. “Yang ada tombol next episode. Nah, kau tinggal pencet itu.”
Rai manyun. “Next episode aku isinya apa? Nangis di kosan, makan mie instan, terus nulis cerpen gagal move on?”
Uli lempar bantal. “Bodo amat, yang penting kau masih lucu. Bahkan patah hati kau aja kayak stand-up comedy.”
Rai ketawa tipis, dan untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa patah hatinya nggak seburuk itu. Asal punya penonton yang siap ketawa bareng.