


oleh Rini Andriani · 5 Bab
Prasetya Wiguna, terkejut saat mengetahui akan dijodohkan dengan seorang gadis desa pilihan kakeknya. Pada awalnya Pras sempat menolak perjodohan itu, akan tetapi karena ancaman dari Sang kakek yang akan mencabut hak warisan, dengan terpaksa Pras menerimanya. Namun Pras tidak kehabisan ide, diam-diam tanpa sepengetahuan kakeknya, ia membuat perjanjian kontrak dengan gadis itu. Seiring berjalan waktu rasa itu berubah, Pras mulai mempertanyakan apakah Mutia adalah belenggu yang ia benci, atau justru cahaya yang selama ini ia cari? Di tengah perbedaan cinta keduanya harus menghadapi ujian besar. Mampukah dua hati yang awalnya saling menolak dipersatukan? Ataukah konflik akan meruntuhkan segalanya?
Pagi ini di kediaman keluarga Darmawan Wiguna, dengan lantang terdengar suara sang sepuh pemilik rumah mewah itu sedang mengoceh, sebetulnya penghuni lain dari rumah itu sudah bisa menebak, jika setiap ocehan yang keluar di pagi ini semuanya itu ditujukan untuk pewaris tunggal kebanggaan yang sampai detik ini belum mau menikah itu. Akan tetapi setiap kali ocehan itu dilayangkan sepertinya sang cucu kesayangannya itu selalu mengabaikan.
“Kamu itu bagaimana Pras, apa tidak ada pikiran sama sekali untuk cari pacar yang benar, lalu serius untuk kamu ajak menikah? Mau tunggu apa lagi? Tunggu aku mati ya?” tutur Darmawan kesal.
Prasetya mendengus. “Namanya juga belum ketemu jodoh yang pas, Kek. Masa iya aku mau asal comot perempuan di jalanan, terus aku bawa pulang lalu aku nikahin anak orang sembarangan. Aduh, Kakek ini sepertinya masih nggak paham dengan keadaannya."
“Alasan! Itu hanya alasan kamu saja, Pras? Pokoknya kakek nggak mau tau, cari calon istri, atau kakek yang akan siapkan calon istri untuk kamu. Kakek kasih waktu satu minggu!”
Mata Pras membulat sempurna. “Apa Kek, satu Minggu? Yang benar saja Kek. Ini ceritanya Kakek beri waktu untuk mencari istri atau jatuh tempo untuk bayar utang sih?”
“Kakek tidak mau tau! Jika kamu membantah, maka dengan tegas kamu akan kakek keluarkan dari daftar ahli waris, dan memberikan hak itu kepada ahli waris yang lain!”
Prasetya tertawa terbahak. “Memang siapa ahli waris Kakek? Bukannya cuma aku satu-satunya cucu Kakek? Apa Kakek tidak kasihan jika aku sampai dicoret dari ahli waris, terus hidup miskin di luar sana. Lalu harta Kakek yang banyak ini, akan dihibahkan begitu saja untuk negara? Lagian juga negara kita sudah kaya Kek, tidak perlu Kakek kasih bantuan harta."
“Diam! Menurut atau kakek akan mogok makan dan minum obat, nih!"
Hem.
Kalau sudah begitu ancaman kakek, Prasetya pasti akan mundur teratur. Kakek ini jika sudah mengancam pasti akan dilakukan. Mogok makan, mogok apa saja. Sampai beneran sakit dan diopname segala.
Pram mendengus, pusing memikirkan permintaan kakek. Bukan dia tidak bisa mencari pacar, tapi dia tidak pandai memilih wanita yang baik dan tepat. Itu sebabnya dia terkenal playboy. Banyak pacar, satu dua hari putus. Lalu cari lagi putus lagi. Begitulah seterusnya.
Lagi pula, Pras selalu berpendapat jika wanita itu sangat merepotkan. Cengeng dan banyak permintaan. Pernah bahkan dia berniat untuk tidak usah menikah saja selamanya.
Satu minggu telah berlalu, janjinya pada kakek telah terlewati. Meskipun sudah berusaha memilih wanita, tapi dia tetap tidak dapat menentukan pilihan. Hingga suatu malam, saat dia baru saja pulang dari kantor.
“Pras, sini dulu!” panggil kakek.
Pras patuh, berjalan menghampiri kakek di ruangan tengah dan duduk di sampingnya.
“Ada hal penting yang ingin kakek bicarakan.”
Sepertinya Pras sudah bisa menebak hal penting apa yang akan dibicarakan oleh kakeknya itu, sebelum Darmawan sempat berkata, Pras sudah terlebih dahulu bersuara.
“Aduh Kek, Pras belum menemukan wanita yang cocok. Maaf ya Kek. Sepertinya Pras minta waktu lagi. Janji deh, dalam satu minggu ke depan, Pras segera mungkin akan mendapatkan seorang calon istri yang cantik, shaleha, baik hati, persis seperti impian Kakek. Jika perlu Pras akan memesan secara khusus istri impian itu," tutur Pras sambil menaik turunkan alisnya, untuk merayu serta meyakinkan sang kakek.
“Ah, tidak perlu lagi, bukankah sudah cukup selama ini kakek memberikan waktu, sekarang waktumu sudah habis, jangan mencari alasan lagi. Lagian juga kamu tidak perlu lagi susah payah untuk mencari pendamping hidup.”
Pras mendongak. “Benar Kek? Ya ampun Kakek ini sangat pengertian sekali. Tau saja kalau aku ini paling susah jika disuruh menentukan pilihan.” Pras sudah sumringah dan terlihat begitu senang.
“Karena kakek tau, jika itu adalah kekuranganmu. Sebab itu kakek tidak akan menuntutmu lagi untuk mencari calon istri. Jadi semua ini jadi urusan kakek saja. kamu cukup duduk manis dan ikuti semua keinginan kakek. Kakek yang akan pilihkan istri untuk kamu.”
"Hah? A— Apa?" Manik hitam Pras membulat, seakan-akan saja ingin keluar dari peredarannya karena terkejut.
Pikirannya langsung tidak enak. Sepertinya kali ini ada sesuatu yang patut dicurigai.
"Mutia, buruan ke sini!" Terdengar Darmawan memanggil seseorang, yang ternyata sejak tadi sudah berdiri mengamati mereka dari lantai dua rumah mewah itu.
Dan benar saja, belum sempat rasa khawatir Pras berkurang, dia mendengar langkah kaki yang turun dari ujung tangga. Saat menoleh, dia melihat seseorang dengan pakaian yang aneh berjalan menghampiri mereka.
Tubuhnya berbalut baju syar'i dengan sebuah cadar di wajahnya. Sekujur tubuh gadis itu tidak ada yang terlihat Kecuali matanya saja. Darmawan tersenyum menatap ke arah seseorang yang bernama Mutia itu.
"Oh, Astaghfirullah! Si ... siapa dia, Kek?" Pras langsung bertanya ekspresi wajahnya terlihat tegang.
Kakek tersenyum. "Sini Nak."
Kakek menyapa gadis itu dan melambaikan tangannya. Sebelum Gadis itu mendekat, terlebih dahulu ia mengambil nampan berisi teh hangat dan cemilan yang sejak tadi sudah diletakkan di atas meja.
Kemudian ia menaruh teh dan cemilan itu di atas meja, yang persis berada di hadapan Kakek Darmawan dan Prasetya.
"Ayo duduk dulu, kakek akan kenalkan kamu sama cucu kakek."
Gadis itu mengangguk dan duduk di ujung sofa. Dia menunduk, untuk menjaga pandangannya.
"Pras, dia ini cucu teman kakek. Namanya Mutia. Jebolan pondok pesantren. Dia ini gadis pilihan kakek, untuk jadi Istri kamu." Darmawan mengenalkan sosok gadis yang ada dihadapan mereka itu.
Duar!
Pras tersentak hebat. "A-apa?"
Saat ini Pras merasa seolah-olah saja tubuhnya ini seperti disambar petir yang berkekuatan besar, yang dengan seketika membuat seluruh sendi dan otot ditubuhnya menjadi lemas bahkan kepalanya juga mendadak berdenyut. Dia kaget bukan main.
"Jadi, Kakek mau menjodohkan aku dengan wanita ini?" Mata Pras membulat sempurna. Sambil ibu jarinya menunjuk ke arah gadis yang dimaksud.
"Eh, ya iya. Kan sudah jadi perjanjian kita. Jika kamu harus mau, ingat jangan sampai kakek marah dan menendang kamu dari rumah ini."
Pras terbengong. Yang menjadi masalah bukan karena perjodohannya. Tapi yang Pras pikirkan adalah bisa-bisanya kakek menjodohkan dia dengan wanita seperti ninja begitu? Mana namanya udik banget. Ya ampun, Mutia?
Prasetya mendesah kesal.
"Dia baru saja datang dari kampung tadi pagi, kampungnya juga sangat jauh, bukan perkara mudah untuknya datang ke sini, semua itu Mutia lakukan karena permintaan kakek."
'Ya ampun!! Jadi dia dari kampung? Oh My God! Pantas saja gaya pakaiannya seperti ninja begini,' batin Pras berkata.
Pras sampai hampir saja terserang sesak napas dan jantungan, gara-gara memikirkan keputusan kakeknya.
"Mutia, ini lah Pras, cucu kakek yang kakek ceritakan padamu. Semoga setelah kalian menikah, kamu bisa membimbing Pras agar bisa menjadi imam yang baik nantinya."
Pras, semakin geleng kepala. Bisa-bisanya kakek malah mengatakan kalau wanita itu disuruh membimbing dirinya. Bukankah itu terbalik? Benar-benar menjatuhkan harga diri cucunya sendiri di hadapan wanita ninja ini.
"Mutia, lebih baik sekarang kamu istirahat di kamar. Kakek pikir kamu pasti sangat capek karena sudah melakukan perjalanan jauh.”
Gadis ninja itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
Ternyata belum juga sempat Pras membuka suara, kakek sudah meminta gadis itu untuk kembali ke kamarnya. Sepertinya kakek ingin berbicara empat mata pada dirinya.
Setelah gadis itu pergi, kakek menatap Pras. "Bagaimana menurutmu pilihan kakek, Pras? Dia itu bukan hanya saleha dan pintar tapi sangat cantik."
"Sangat cantik apaan! Mukanya saja tidak kelihatan begitu. Memang kakek tahu wajahnya seperti apa?" kesal Prasetya.
Mendengar celotehan kesal yang keluar dari mulut cucu kesayangannya itu, Darmawan hanya tersenyum hangat.

Rini Andriani
1 Pengikut · 1 Novel