


oleh Icas Sia · 27 Bab
Seorang CEO yang lain daripada yang lain, bisakah Enzo mendapatkan hati Aylin? Enzo Delwyn adalah CEO perusahaan Wyn Group yang berbeda dari CEO pada umumnya. Tingkahnya yang unik dan menjengkelkan membuat ia mempunyai ciri khas tersendiri. Ia mendapat tawaran perjodohan dari seorang kolega yang akrab dengannya. Sementara seorang gadis belia bernama Aylina Pradipta tengah menjalin cinta monyet dengan Devin harus menerima kenyataan pahit nan konyol yang membuatnya terjebak oleh pilihan dan kehendak orang tuanya. Apakah mereka benar-benar ditakdirkan untuk bersama?
Kemeja rapi, jas necis, sepatu hitam mengilap menjadi pekerjaan yang paling didamba sebagian besar manusia.
Laki-laki berperawakan cungkring turun dari mobil. Ribuan karyawan yang sudah menanti sontak berdesakan untuk melihat sang CEO perusahaan Wyn Group.
Enzo Delwyn, semua mata tertuju padanya tanpa luput. Ada mata yang berbinar kagum, ada juga yang tampak penuh haru biru. Tatapan yang cukup beragam untuk menyambut kedatangan laki-laki berperawakan tinggi menjulang itu.
Bukan jas dan kemeja rapi yang menyejukkan mata, melainkan kaos oblong santai berwarna merah menyala. Dengan tidak sinkron Enzo mengenakan celana panjang warna kuning. Pun ia gulung sebatas lutut.
Tampak kaki panjangnya yang dihiasi bulu kecil, yang seolah malu untuk tumbuh.
Tiba-tiba datang laki-laki berjas hitam rapi nan necis menghampiri Enzo. Sekretaris perusahaan Wyn Group, Jayden.
"Bapak yakin pakai sendal jepit saja?" tanya Jayden kepada bosnya. Pasalnya ia sendiri merasa gemas dengan tingkah Enzo yang terlampau cuek soal penampilan.
Enzo nyengir kuda seraya berjalan acuh melintasi ribuan karyawan. Tak peduli dengan pandangan seluruh mata yang enggan beralih darinya. Baru kali ini ia merasa menjadi seorang artis.
"Perasaan menyenangkan macam apa ini?" batin Enzo geli.
Dengan setengah berlari Jayden menyusul Enzo yang berjalan lebih dulu darinya.
"Paling tidak ....” Jayden menghela napas. “Naikkan dulu resleting celana Bapak."
Ucapan Jayden sukses membuat Enzo membeku.
Laki-laki cungkring itu menatap tubuhnya bagian bawah. Terpampang celana boxer berwarna pink terang dengan motif bulan dan bintang.
"Hehe, kelihatan, ya?" Enzo terkekeh. Lalu menaikkan resletingnya dengan santai.
Plak!
Seluruh karyawan di ruangan itu menepuk jidat serentak. Bisa-bisanya mereka memiliki CEO sembrono seperti Enzo.
"Tolong dijaga, ya, Pak. Itu aset masa depan," tukas Jayden dengan wajah sendu ingin menangis.
Ia sebagai laki-laki tulen merasa harga dirinya tercabik melihat perilaku atasannya itu.
Enzo tidak terlalu mendengarkan ucapan Jayden yang selalu bawel. Ketimbang sekretaris perusahaan, Jayden lebih cocok menjadi seorang ibu untuk Enzo.
Soalnya, laki-laki itu selalu melarang dan mencegah Enzo untuk melakukan banyak hal ceroboh. Persis seperti seorang ibu yang melarang anaknya. Sungguh miris!
Laki-laki berperawakan tinggi itu menghentikan langkahnya tepat di depan ruang khusus bertuliskan CEO Wyn Group.
"Astaga!" pekik Enzo mengerjapkan bulu matanya yang selentik bulu mata sapi. Panjang dan hitam alami.
"Ada apa, Pak?" tanya Jayden yang berada di belakang Enzo.
Tanpa menjawab pertanyaan sekretarisnya, Enzo berlari kembali menuju mobil mewah miliknya yang bertengger di parkiran.
Wajahnya yang terbiasa santai pun berubah menjadi kaku dan serius. Melihat pantulan wajahnya sendiri dari cermin mobil, Enzo terkikik geli.
“Ternyata aku setampan ini. Bisa-bisanya seorang Aylin menolakku.”
***
"HAACIWW!"
“Busett! Pelan kenapa, Neng? Cewek kok nggak ada anggun-anggunnya,” celetuk gadis remaja berseragam putih abu-abu kepada gadis bersurai coklat di sampingnya.
“Pasti ada yang ngomongin aku nih.”
“Apa iya sih, Ay?” tanya Sesil gadis yang setia menemani Aylin dari Taman Kanak-Kanak hingga sekarang.
Gadis berwajah bulat yang sering disapa dengan nama panggilan Aylin itu mengangguk singkat. Ia bahkan tidak yakin dengan jawaban ngasal itu. Tapi, Sesil mudah percaya begitu saja.
“Ay, udah ditungguin di gerbang.”
Aylin yang baru saja hendak menyantap tahu bulat yang sempat ia diamkan hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan salah seorang siswa kelas XI.
Tidak seperti biasanya ia dijemput secepat itu. Ia paham betul betapa sibuknya sang ayah. Dengan terpaksa Aylin beranjak dari kursi kantin favoritnya. Berjalan malas menuju gerbang sekolah.
“Selamat siang, Tuan Putri.”
Bukan suara barinton. Sejak kapan suara barinton berubah menjadi bass? Aylin yang kebingungan lantas mendongakkan kepala.
“Hahaha!”
Seketika Aylin ingin menghilang dari planet yang diberi nama bumi. Malu, ia sangat malu sekali. Entah datang dari mana laki-laki berkaos merah mencolok mata yang saat ini menjemput dirinya.
“Cie, Aylin dijemput Pangeran,” ujar siswa kelas XI yang seangkatan dengan Aylin.
“Pangeran norak, ups!” imbuh yang lain meledek Aylin tanpa segan.
Geram dengan ledekan dan cemooh yang berulang. Aylin berjalan cepat menghampiri seorang laki-laki cungkring yang sedang tersenyum lebar di depan pintu mobil. Keren? Norak!
“Pergi!” usir Aylin dengan suara lantang khas remaja seusianya.
Bak bongkahan batu besar, laki-laki yang berdiri tepat di samping Aylin itu tidak bergeser sama sekali.
Bagaimana mungkin bisa bergerak. Tubuh Aylin saja tidak ada seperempatnya dari laki-laki itu.
“Tuan Putri jangan kasar dong sama Pangeran. Hahaha.”
Lagi-lagi ledekan itu menghujani Aylin. Sungguh ia frustasi dengan situasi yang menimpa dirinya saat ini. Ia bahkan tidak kenal sama sekali dengan laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Pangeran oleh teman-temannya. Pangeran norak, catat.
“Kamu siapa?”
Enzo berbinar mendengar suara yang menurutnya sangat merdu. Ya, suara gadis mungil yang membuat jantungnya berdebar kencang.
Ia juga tidak paham bagaimana mungkin ia jatuh hati pada gadis SMA yang lebih pantas menjadi keponakannya. Tapi bukankah cinta itu buta? Kalian mau apa?
Enzo tersenyum cerah. “Aku disuruh ayahmu."
"Apa katanya? Ayah? Dusta apa lagi ini," batin Aylin tidak habis pikir.
Melihat dari penampilan laki-laki itu yang super aneh. Rasanya tidak mungkin laki-laki itu memiliki hubungan dengan perusahaan sang ayah. Aylin menggelengkan kepala tidak percaya.
“Sebenarnya, Om siapa? Penculik?” cecar Aylin sewot.
Jika laki-laki itu seorang penculik anak di bawah umur Aylin tidak ciut. Toh, ayahnya pasti akan menemukan dirinya ke mana pun ia akan dibawa.
Sangat menggemaskan. Entah mengapa gadis mungil itu semakin terlihat menggemaskan saat sedang marah. Mungkin tuduhan Aylin ada benarnya. Enzo memang penculik. Penculik hati.
“Namaku Enzo.”
Melihat tidak ada respon dari gadis di sampingnya, Enzo mencoba melirik Aylin. “Aku, En-zo.”
“Tempat kebun binatang?”
Ya Tuhan, pertanyaan macam apa itu? Seketika Enzo ingin menggulung bocah di sebelahnya dengan tangannya sendiri.
“Enzo bukan Zoo!”
BERSAMBUNG

Icas Sia
45 Pengikut · 2 Novel