“Kau yakin ingin melepaskan semuanya di Jakarta demi sebuah kamera tua dan angan-angan kosong di Eropa, Maya?”
Suara ibunya terdengar bergetar di ujung sambungan telepon, disusul dengung interferensi yang memekakkan telinga dari seberang benua.
Maya menarik napas dalam-dalam, mencengkeram gagang koper kulit usang miliknya erat-erat di tengah riuh rendah suasana Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di sekitarnya, lautan manusia berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing, ada yang berpelukan erat karena rindu, ada pula yang bergegas menyeret koper dengan wajah penat. Namun, bagi Maya, detik itu terasa berjalan dalam gerak lambat.
“Aku tidak melepaskannya, Bu. Aku hanya memindahkannya ke tempat di mana warna-warna impianku bisa bernapas,” jawab Maya lembut, berusaha menepis getar ragu yang sempat mencuat di dadanya sendiri.
“Paris itu mahal, Maya. Hidup mandiri sebagai fotografer independen bukanlah hal yang mudah ditaklukkan hanya dengan tekad bulat.”
“Aku tahu, Bu. Doakan aku.”
Sambungan itu terputus seiring deru pengumuman keberangkatan penerbangan Garuda Indonesia menuju Charles de Gaulle, Paris. Maya menutup ponselnya, memasukkannya ke dalam saku mantel wol tebal berwarna arang yang sudah ia kenakan sejak dari tanah air.
Perjalanan panjang selama belasan jam di dalam kabin pesawat telah menyisakan rasa penat yang merayap di setiap ruas tulangnya. Udara Jakarta yang lembap dan akrab kini resmi tertinggal di belakang, digantikan oleh antisipasi dingin yang menusuk kulit begitu ia melangkah keluar dari lambung pesawat.
Bandara Charles de Gaulle menyambutnya dengan atmosfer khas Eropa barat, efisien, dingin, dan dipadati oleh para pelancong berwajah lelah. Maya menyeret kopernya menuju pintu keluar, matanya awas mengamati papan petunjuk arah. Ia telah menyewa sebuah apartemen kecil di kawasan Belleville, sebuah distrik multikultural yang terkenal dengan lorong-lorong seni grafiti dan harga sewa yang masih ramah di kantong seorang fotografer pemula.
Setibanya di apartemen mungil di lantai empat itu, Maya langsung merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur lipat yang berderit pelan. Kamar itu sederhana, jendelanya langsung menghadap ke deretan loteng bangunan tua bergaya Haussmann dengan cerobong asap besi tempa yang menjulang kelabu. Bau cat dinding yang baru bercampur dengan aroma debu tipis menghiasi ruangan tersebut. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin tampak sempit dan muram. Namun, bagi Maya, ruangan ini adalah kanvas kosong pertama dari lembaran hidupnya yang baru.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam pusaran adaptasi yang melelahkan. Paris di penghujung musim semi bukanlah kota yang ramah bagi mereka yang terbiasa dengan terik matahari tropis. Langit sering kali berubah menjadi kelabu tebal dalam hitungan menit, menurunkan gerimis halus yang memaksa Maya membenamkan separuh wajahnya ke dalam selendang kasmir setiap kali ia keluar untuk memotret.
Sebagai seorang fotografer independen, mata Maya adalah aset paling berharga. Ia tidak tertarik pada gemerlap menara besi atau kafe-kafe mewah yang dipenuhi turis berdandan rapi. Ketertarikannya justru terpikat pada sisi-sisi tersembunyi Paris, seorang kakek tua yang membaca koran di bangku taman Luxembourg dengan mantel wol usang, seorang gadis kecil yang mengejar burung dara di halaman Katedral Notre-Dame, atau pantulan cahaya lampu jalanan pada genangan air hujan di trotoar Rue de Rivoli.
Setiap pagi, ritual Maya selalu sama. Ia menyeduh secangkir kopi hitam pekat di atas kompor gas portabel kecil, memasukkan beberapa gulung film hitam-putih ke dalam tas ransel kanvasnya, menyampirkan kamera Leica tua peninggalan sang kakek di bahunya, lalu melangkah keluar tanpa arah pasti. Kamera itu adalah jangkar emosionalnya, satu-satunya warisan berharga yang mengingatkan pada alasan mengapa ia rela menempuh ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran.
Di balik kebebasan yang ia dambakan, kesepian perlahan merayap masuk tanpa diundang. Menghabiskan malam seorang diri di kamar apartemen yang sunyi, mendengarkan derit angin yang menembus celah jendela tua, membuat Maya kerap mempertanyakan keputusannya. Apakah keputusannya ini adalah bentuk keberanian sejati atau sekadar kebodohan kaum muda yang terlalu mendewakan idealisme? Pertanyaan itu sering kali berputar di kepalanya hingga menjelang subuh.
**
Suatu sore di akhir pekan, ketika awan mendasari cakrawala dengan warna kelabu pekat yang mengancam, Maya memutuskan untuk berjalan-jalan ke kawasan Montmartre. Distrik perbukitan itu selalu menawarkan dinamika visual yang menarik bagi kameranya. Ia menyusuri jalanan berbatu yang menanjak, melewati pelukis jalanan yang sibuk menawarkan jasa sketsa wajah kepada para pelancong yang berlindung di bawah payung warna-warni.
Udara semakin dingin. Rintik hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi lensa kameranya yang segera ia lindungi dengan tangan. Maya mempercepat langkahnya, mencari tempat berteduh terdekat sebelum badai kecil benar-benar tumpah dari langit Paris. Di ujung sebuah jalan sempit yang diapit oleh toko buku antik dan kafe bernuansa kayu tua, matanya menangkap papan nama kecil berayun ditiup angin. Café de l’Aube.
Tanpa pikir panjang, Maya mendorong pintu kayu kafe tersebut. Bunyi lonceng kecil bergemerincing menyambut kedatangannya, berpadu dengan aroma harum biji kopi panggang dan kue pai apel hangat yang langsung menghangatkan indra penciumannya. Suasana di dalam kafe terasa temaram dan tenang; hanya ada segelintir pengunjung yang duduk di sudut ruangan, tenggelam dalam bacaan atau lamunan masing-masing.
Maya memilih sebuah meja bundar kecil di dekat jendela kaca yang basah oleh tetesan air hujan. Ia melepas mantelnya yang basah di bagian bahu, lalu meletakkan ransel kanvas dan kameranya di atas kursi kosong di sebelah. Sambil menunggu pelayan datang, ia menatap keluar jendela. Tetesan air hujan membentuk pola garis-garis yang abstrak di kaca, mengaburkan pemandangan jalanan di luar sana menjadi sapuan warna-warna buram yang artistik.
“Pemandangan yang bagus untuk sebuah potret kesunyian, Nona.”
Sebuah suara bariton yang tenang mendadak memecah lamunan Maya. Ia menoleh dengan cepat. Di samping mejanya, seorang pria berpostur tinggi dengan mantel wol hitam panjang berdiri tegak. Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan karena terpaan angin luar, sementara mata hijaunya menatap lurus ke arah meja Maya dengan kilatan rasa ingin tahu yang sopan. Tangannya memegang sebuah cangkir keramik putih yang mengepulkan uap tipis.
Maya mengerjap beberapa kali, terkejut karena kehadirannya tidak ia sadari sama sekali. “Maaf?” ucapnya pelan, menggunakan bahasa Inggris beraksen khas Asia Tenggara yang terdengar jelas di tengah kesunyian kafe.