


oleh Rina22 · 99 Bab
Seorang wanita muda, Rianti yang melarikan diri setelah 10 tahun menikah dengan seorang miliarder teknologi, tiba-tiba menyadari bahwa suaminya bernama Raynald telah menanamkan perangkat pemantauan revolusioner di otaknya yang memungkinkan dia melacak setiap gerakannya. Ayah Rianti yang sakit keras menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Rianti, setelah mengetahui tidak bisa menemui Rianti dikarenakan Raynald tidak ingin Rianti berkumpul bersama keluarga termasuk ayah Rianti, Handoko. Sebagai anaknya, Rianti ingin menemui Handoko. Rianti diam-diam kabur dan akhirnya Raynald datang membawa pulang dengan paksa. Keluarga Handoko mencegah sehingga terjadi keributan besar keluarga Handoko. Akankah hubungan Rianti, ayahnya Handoko dan suami Psycho menjadi harmonis?
Bab. 01. Mencoba Lari Dari Suaminya
Di tengah acara ulang tahun anniversary dirinya dan suami, perasaan gelisah seorang istri cantik ketika ada keraguan dalam diri.
‘Apa aku harus lari sekarang, begitu banyak penjagaan di sini’. Rianti berpikir sambil melihat ke arah kanan dan kiri, dia menarik nafas berat. Dia merasakan tidak akan bisa kabur dari suami psikonya itu.
“Apa yang sedang kamu cari Sayang? Harus kamu bahagia, aku lihat kamu sangat gelisah?” ucap Raynald mengelus pipi Rianti, Rianti hanya diam menatap Saja Raynald. Kemudian mengedipkan mata.
“Aku hanya merasa asing di tengah keramaian. Aku merindukan ayahku. Bolehkah aku bertemu dengan ayahku?” jawab Rianti, Raynald mengeras rahangnya.
“Aku sudah bilang padamu, jangan pernah mengingat pria tua itu. Dia tidak menginginkan kehadiranmu!” makinya yang berbisik.
“Tapi, dia ayahku. RAY. Ayah mertuamu,“ jawab Rianti dengan mata memerah dan Raynald memegang tangan keras sehingga menyebabkan kemerahan di tangan Rianti. Rianti sedikit meringis kesakitan. Raynald melihat hal itu, barulah dia melepaskan genggaman tangannya.
“Hari ini aku lepaskan, jangan harap kamu bisa lari dariku Rianti!” tekan Raynald.
“Aku tahu, pelayan ayahmu meneleponmu memintamu kembali menjenguk ayahmu. Walaupun ayahmu mewariskan semua harta miliknya tapi semua itu kamu akan menanggung semua beban hutang ayahmu. Kamu tidak akan sanggup menanggung semua itu. Pada akhirnya akulah yang kamu andalkan” tekan Raynald sambil membisikkan di telinga Rianti, dan pura-pura mengecup pipi dihadapan semua orang.
Rianti teringat saat itu dia yakin saat menerima telepon dari pak Surya, dia sudah yakin Raynald tidak ada dirumah dan pengawal pribadi Raynald pun tidak ada saat itu. Rianti heran dan kaget saat itu dia bertelepon di area tidak ada CCTV.
Rianti terdiam, kemudian menatap Raynald sebentar lalu memalingkan muka dan berjalan menuju tempat minuman, Rianti mengambil jus dan menenggak hingga kandas. Dalam pikiran saat ini hanya ada ayahnya dan bagaimana cara dia menemui ayah. Hati Rianti sangat takut akan tekanan Raynald tadi. Rianti ingat janji yang diberikan pada paman pelayan ayah. Rianti menarik nafas kasar.
“Bagaimana ini?” ucap Rianti pelan.
“Bagaimana mana apa maksudmu?” jawab seorang perempuan cantik nan seksi itu, dia itu sekretaris Raynald juga teman Raynald saat kecil. Rianti tersentak kaget melihat ke arah suara tadi
“Emh, bukan apa-apa. Kamu cantik hari ini” ucap Rianti mengalihkan pembicaraan.
“Terima kasih, selamat anniversary yang ke tiga. Kapan kamu akan mempunyai anak dengan Raynald?” ucap Silvia dengan mata menatap tajam, Rianti hanya diam kemudian tersenyum.
“Aku kemarin dan Raynald program bayi kembar. Tinggal menunggu kehadiran bayi kami,” jawab Rianti tersenyum sambil mengangkat gelas jus. Silvia tersenyum sinis juga mengangkat gelasnya.
“Ya, aku harap. Karena kalau kamu tidak mempunyai keturunan banyak wanita yang bisa melahirkan anak Raynald termasuk aku,” ucap Silvia dengan sedikit menekan kata-katanya membuat Rianti tersenyum tipis.
“Aku yakin kamu bisa. Kamu banyak kesempatan bersama Raynald,“ jawab Rianti kemudian menaruh gelas jus yang sudah habis Rianti minum. Silva tersenyum dan tertawa.
“Hahaha … aku yakin bisa kita lihat ya, Rianti, ” teriak Silvia membuat beberapa tamu melihat ke arah Silvia, namun Rianti tidak menghiraukan Silvia kemudian berjalan ke arah toilet hotel.
Di dalam toilet, Rianti membasuh muka dan menatap pantulan dirinya di kaca, menarik napas dan terdengar suara telpon dari ponsel Rianti. Rianti ragu sejenak dia melihat ke kanan dan ke kiri tidak ada orang ataupun CCTV, barulah dia menerima panggilan itu.
“Nona, cepatlah kemari. Saya sudah di depan hotel, saya rasa aman. Nona di mana sekarang?” ucap pak Surya di dalam mobil, Rianti terdiam kemudian menarik nafasnya.
“Baik Paman, aku ada di toilet sekarang. Aku akan lewat belakang. Paman tunggu aku di belakang, jangan sampai ada CCTV nya,” jawab Rianti pelan.
“Baik, Nona. Saya akan segera memarkirkan mobil di belakang,” ucap pak Surya lalu terdengar suara telpon dimatikan Rianti, pak Surya segera melajukan mobil masuk ke parkiran belakang.
Sepuluh menit kemudian, Rianti sudah sampai ke tempat parkiran. Dia melihat mobil milik, yang disewa pak Surya. Lalu mendekati mobil tersebut. Pak Surya yang melihat Rianti datang segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rianti.
“Ayo, cepat paman. Aku takut Raynald mencari aku!” ucap Rianti panik. Pak Surya melihat itu segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil.
“Nona, tuan besar saat ini tinggal di kediaman saya. Saat ini, mansion tuan sudah dipenuhi beberapa pengawal tuan Raynald,” ucap Pak Surya melihat ke arah Rianti dari kaca mobil. Rianti yang sedang memainkan kuku jari tangan terdiam dan menarik nafas berat.
“Begitu tidak ingin, Raynald aku menemui ayahku, “ lirih Rianti, pak Surya mengernyitkan alis.
“Untungnya nona, sebelum tuan Raynald datang dan para pengawal, tuan besar sudah saya bawa ke rumah saya di kampung . Saya yakin tuan Raynald tidak akan tahu, “ ucap pak Surya kembali, Rianti melihat ke arah pak Surya dan mengangguk.
“Terima kasih Paman, sudah menjaga dan merawat ayahku. Aku anak yang tidak berbakti pada ayah. Aku menyesal paman. Apa yang Raynald lakukan paman disana? Apa yang paman bilang?” jawab Rianti, pak Surya menatap tajam.
“Nona saat itu saya tidak ada di mansion tuan besar, saat itu istri saya akan mengambil beberapa barang nona untuk dibawa ke kampung saya, saya menunggu istri saya di dekat mansion dalam mobil yang saya sewa, “ ucap pak Surya, Rianti menjadi heran ‘apa mobil ayah diambil Raynald?’ pikiran Rianti bertanya-tanya.
“Nona, Nona “ ucap pak Surya membangunkan Rianti dari lamunan. Rianti tersentak matanya mengerjap.
“Oh, iya. Maaf Paman. Aku heran apa yang diinginkan Raynald sekarang?” ucap Rianti. Pak Surya terdiam namun ingat pesan Tuan besar untuk membuat Rianti bahagia dan tidak menjelekkan tingkah suaminya yang menguasai mansion dan perusahaan ayah Rianti.
“Ya saya tahu, tuan Raynald sedang berusaha membantu tuan besar untuk memulihkan perusahaan tuan besar yang mau bangkrut. Tuan Raynald mengakuisisi perusahaan dan membantu urusan rumah juga beberapa pekerjaan di mansion diawasi langsung tuan Raynald, “ jawab pak Surya membuat Rianti mengernyitkan alisnya.
‘Rasanya tidak mungkin Raynald bersikap seperti itu, mungkin dia berharap ayah Rianti kehilangan perusahaan dan mansionnya apa mungkin karena dirinya dia melakukan semua itu?’ Rianti memijat kepala menjadi pusing memikirkan hal itu.
“Nona tidak usah risau memikirkan tuan Raynald. Aku rasa dia melakukan semuanya karena dia menyayangimu. Tuan besar pun tidak berkomentar dia tidak melarang tuan Raynald. Tuan besar sangat mempercayai tuan Raynald, “ ucap pak Surya kembali, Rianti mengangguk tidak berkata-kata lagi.
“Aku percaya akan hal ini, aku rasa dia melakukan untukku, “ jawab Rianti melihat kearah pemandangan di jendela mobil.
Sementara di dalam pesta Anniversary, Raynald melihat ke seluruh ruangan hotel, tidak melihat di mana Rianti, istrinya.
“Di mana dia?”
“Cepat cari istriku!“

Rina22
12 Pengikut · 2 Novel