


oleh Eliyona · 135 Bab
Raras adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki suami super pelit. Setiap bulan, Raras hanya diberi jatah sekadar makan. Sementara kebutuhan rumah bukan hanya soal makan. Suatu ketika, saat jatah beras habis dan suaminya belum pulang, ketiga anak Raras menangis. Ia terpaksa keluar rumah. Berharap uluran tangan tetangga. Namun, tak satu pun tetangga yang terketuk hatinya. Raras memutuskan pulang. Berusaha menenangkan ketiga anaknya. Meminta mereka tidur. Berbohong akan menyiapkan makan. Saat ketiganya tidur, Raras melangkah ke kamarnya. Ia terkejut saat mendapati uang yang berserak di atas kasur. Tanpa pikir panjang, ia langsung menggunakannya. Mengira uang itu dari suaminya. Nyatanya saat sang suami pulang, jawabannya membuat Raras tercekat.
"Bu, aku lapar," rengek Arkana pada Raras ibunya.
"Aska juga, Bu. Lapar."
Rintihan pilu anak-anaknya membuat Raras bingung. Seharian mereka memang belum makan. Perutnya sendiri melilit. Berbunyi lirih seperti ada sesuatu yang merayap dari dalam. Namun, ia masih bisa menahan.
Berbeda dengan bocah kecilnya, Aska, si sulung sampai bersungut, “Kita belum makan dari tadi siang, lho, Bu.”
“Iya,” timpal Arkana sambil menunjuk adik bungsunya, Arimbi yang terlihat meminum cairan putih. Bukan susu, tapi air sisa tajin yang direbus dengan tebu. “Arimbi enak, sudah makan sore. Sekarang minum air tebu. Ibu pilih kasih!"
"Sabar," ucap Raras, suaranya sedikit mengeras. "Habis ini Ibu masak."
Arkana menatap wajah ibunya, merengut. "Kapan?”
"Sebentar lagi." Raras menelan ludah. "Sekarang kalian tidur dulu. Ibu mau ke warung Mbak Jumi. Beli minyak tanah.”
Aska menggeleng pelan. "Takut, Bu. Sudah malam. Nanti ada demit kebo ngintip.”
“Kamu ini ngomong opo toh, Le?” Raras mengernyit. “Kamu ini kan kakak. Mbokya, jangan bikin takut adik-adikmu dengan cerita bohong."
“Aku dikasih tahu Tomi, Bu. Katanya di hutan belakang rumah kontrakan, ada setan berkepala kebo. Suka makan anak-anak.”
Balasan Aska membuat Raras mencebik. “Setan itu nggak ada. Itu cuma cerita karangan si Tomi. Sudah! Kamu jaga adikmu. Ibu mau ke Mbak Jumi dulu.”
Raras bersiap akan melangkah keluar saat tiba-tiba angin menyusup. Suara pintu terdengar seperti desah perlahan.
"Bu, dengar nggak?" bisik Arkana refleks memeluk pinggangnya. “Itu setan kebo, Bu, yang diceritakan Mas Tomi.”
Raras menajamkan telinga. Memang ada suara gesekan, seperti karung diseret di atas tanah. Lalu berhenti. Tak mau terpengaruh, ia menepis tangan Arkana. "Itu cuma angin," balasnya. "Kalian masuk kamar, pakai selimut. Tutup mata kalau takut. Kalian kan bertiga. Nggak ada yang perlu ditakutkan.”
“Kami ikut saja.” Aska mewakili adik-adiknya. “Daripada sendiri.”
“Kalian kan bertiga!” Suara Raras sedikit tinggi. “Kalian lapar, ndak?!”
“Lapar, Bu,” balas ketiganya kompak.
“Ya, sudah. Kalau lapar, menurut saja. Ibu ke luar dulu. Mumpung belum tengah malam.”
Aska, Arkana dan Arimbi mengangguk. Lalu masuk kamar. Melihat anak-anaknya mulai menurut, Raras menghela napas lega. Ia melangkah menuju pintu utama.
Begitu dibuka, malam menyambut dengan bau tanah basah yang aneh, menyengat.
Meski demikian, Raras tak gentar demi perut yang harus diisi.
Raras terus berjalan, melewati jalan setapak desa yang sunyi. Langkahnya terdengar mengentak, saking heningnya suasana malam Desa Embonggudel.
Biasanya, jam segini masih ada suara orang bercakap, pintu terbuka, atau radio kecil bersenandung. Malam ini berbeda. Semua rumah tertutup. Jendela-jendela gelap. Bahkan hewan ternak yang biasa dibiarkan pun tak ada. Bulu kuduk Raras tiba-tiba berdiri. “Kenapa sepi begini,” gumamnya, menelan ludah.
Angin berembus dingin, menyapu tengkuk. Raras merapatkan kain ke tubuh. Setiap kali melangkah, ia merasa seperti sedang diperhatikan. Bukan dari satu arah saja, melainkan seperti berasal dari segala arah. Ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Kosong. Hanya sunyi yang menekan dada.
Sampai di depan sebuah rumah yang menyatu dengan warung, Raras berhenti.
Sama seperti yang lain, rumah itu terlihat senyap. Hanya lampu gantung yang masih menyala redup.
Ia mendekat, mengetuk pintu.
“Assalamualaikum, Mbak Jumi.”
“Seperti suara si Raras.” Terdengar suara bisik dari dalam.
Sejenak Raras menghela napas. “Saya memang Raras, Mbak. Maaf mengganggu malam-malam, bisa tolong buka pintu?” pintanya, sopan.
Tak ada bunyi langkah. Hanya suara dari balik pintu yang membuatnya merasa aneh. “Mau Raras atau bukan, aku nggak akan buka pintu. Ini malam satu suro. Di desa ini, kalau satu suro, rumah harus sudah ditutup saat jam delapan. Sebelum kebonya datang.”
“Mbak bicara apa? Saya nggak ngerti,” sergah Raras, napasnya mulai pendek.
“Sudah, kamu pulang saja. Mungkin karena kamu baru pindah sini, jadi nggak tahu. Besok saja tak jelaskan. Sekarang kamu pulang, sebelum kebo nylamur jadi orang.”
“Anak-anakku lapar, Mbak. Aku butuh ….”
“Oh, jadi kamu mau utang lagi?” potong Mbak Jumi tajam. “Tidak bisa! Sudah cukup utangmu di warungku. Baru dua bulan pindah, tapi sudah numpuk utang kayak wafer.”
Raras terdiam. Dadanya sesak. Tanpa kata, ia berbalik. Namun, sebelum melangkah pergi, matanya tanpa sadar melirik sudut pintu. Tampak sebuah kendi kecil berisi bunga, dupa, dan kertas bertuliskan arab gundul.
Kadung kesal dan bingung, Raras mengabaikannya. Ia melangkah menuju arah rumah.
Sepanjang perjalanan kembali, Raras memikirkan cara supaya anak-anaknya bisa makan. “Beras habis, besok pagi bagaimana?” gumamnya lirih.
'Kamu ibu yang gagal, Ras,' bisik hatinya. 'Sudah tahu Andik pelit, masih juga bertahan.'
Ia menghela napas, menahan perih. Sisi hati ingin pisah, tapi bagian lain memilih bertahan. Alasan demi anak.
Langkah Raras terseret di atas tanah lembap. Jalan setapak terasa lebih panjang dari saat ia berangkat. Angin menggesek dedaunan, mengirim bunyi seperti bisikan.
Jujur, Raras takut. Bulu kuduknya, meremang. Rasanya ia tak lagi bisa abai seperti di awal. Kata ‘malam satu suro’ yang digaungkan Mbak Jumi, mulai memengaruhinya.
Apalagi saat ia mengingat benda mirip sesajen di sudut pintu. Banyak pertanyaan berkutat di kepalanya mengenai Desa Embonggudel yang menurutnya unik.
Di desa ini, listrik belum masuk. Lokasinya jauh dari pusat keramaian. Tepatnya berada di tengah hutan. Tidak ada pasar. Kalau mau ke pasar desa terdekat, harus melewati hutan lebih dulu.
Pikirannya bergelayut jauh. Ke waktu pertama kali Andik mengajaknya pindah ke Desa Embonggudel.
“Mbah kan sudah meninggal,” kata Andik kala itu.
“Mbahmu itu … yang rumahnya di tengah hutan itu?”
Andik mengangguk. “Iya. Besok kita pindah ke sana."
“Lho apa tidak apa-apa, Mas?”
“Tak apa. Rumahnya sudah lama kosong kok. Ada kali sebulan. Kata Bulek Tatik, daripada kosong, nanti malah jadi suwung. Lebih baik kita yang menempati.”
“Aku nggak enak, Mas.”
“Tak apa. Kita kan belum punya rumah sendiri. Pakdhe dan Bulek kasihan. Makanya kita disuruh menempati. Daripada tinggal di kontrakan sempit."
Raras diam. Menimbang usulan sang suami. Andai bisa memilih, ia akan memilih tinggal satu atap dengan ayah dan ibunya.
“Di desa biaya hidup murah,” lanjut Andik, “kau jadi bisa hemat biaya hidup. Nggak seperti di kota, di desa uang lima puluh ribu bisa cukup sebulan.”
“Hah?” Raras melongo. “Masa iya lima puluh ribu sebulan?”
“Iya. Mbah Jo jatahnya lima puluh ribu sebulan.”
“Tapi kan dia sendirian, Mas. Aku anak tiga lho. Seminggu lima puluh ribu dari Mas saja, sudah membuatku pusing ngatur. Anak-anak sampai nggak jajan.”
“Wes, stop! Jangan jadi istri yang kufur nikmat. Kalau kamu pintar, pasti bisa nabung. Buktinya di tiktok seliweran. Sepuluh ribu di tangan istri yang tepat. Kamu lima puluh ribu lho, masih saja sambat.”
Kalau sudah berdebat begitu, Raras memilih diam.
Andik melanjutkan, “Lagian utangmu di sini menumpuk. Aku heran, kok bisa kamu utang banyak begitu? Buat apa?”
Raras menjelaskan, “Itu kredit motor, Mas, saat baru pertama menikah. Aku pikir, itu bisa jadi tabungan.”
“Tapi ternyata, malah ilang motornya toh? Ditarik leasing. Sudah gitu, masih ditagih karena kurang,” potong Andik kesal. “Makanya kita pindah ke desa. Supaya nggak dikejar penagih utang. Biar bisa hidup tenang.”
Tak bisa menyanggah, Saras akhirnya hidup di Desa Embonggudel. Desa yang membuatnya kaget, karena terkesan ketinggalan zaman. Masuk desa pertama kali, Saras merasa seperti masuk mesin waktu. Ke zaman kemerdekaan.
“Mbak!”
Raras tersentak. “Astaga!”
Menoleh kaget. Di belakangnya muncul sosok pria asing. Parasnya tampan, tegap, pucat.
“Kamu siapa?” Raras menatap pria itu dari ujung atas ke bawah. “Apa Mas penduduk Embonggudel juga?”
“Saya Maesan. Dan saya bukan penduduk sini. Kebetulan saya kemalaman. Apa saya bisa minta tolong?” Maesan mendekat.
Raras melangkah mundur setapak. Takut.
“Minta tolong apa?” tanyanya waspada.
“Tenggorokan saya kering. Apa saya boleh minta minum?”
Raras menelan ludah, gugup karena pria itu sungguh rupawan. “Minum?”

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel