Hujan turun sejak subuh. Butiran air mengetuk kaca jendela rumah kecil yang kini hanya dihuni dua orang. Aroma tanah basah menyelinap lewat celah ventilasi, bercampur dengan wangi teh hangat yang mulai kehilangan uap di atas meja makan.
Khansa Maurilla menatap jam dinding. Pukul enam lewat lima belas menit.
"Nayra, sudah bangun, Sayang?" panggilnya lembut.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah menuju kamar anaknya. Pintu berwarna putih itu terbuka perlahan. Di dalam, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun masih memeluk boneka kelinci lusuh. Di dinding kamar tergantung sebuah foto keluarga yang belum sempat diturunkan.
Foto itu memperlihatkan tiga orang yang sedang tersenyum. Khansa, Malik, dan Nayra. Tatapan Khansa berhenti beberapa detik di sana. Dulu, ia selalu mengira senyum dalam foto bisa bertahan lebih lama daripada kenyataan. Ternyata? Tidak bisa!
"Nak," panggil Khansa lembut.
Nayra membuka matanya perlahan. "Hari ini sekolah?"
"Iya," sahut Khansa tersenyum.
"Papa datang?"
Pertanyaan itu membuat dada Khansa sesak. Ia mengusap rambut putrinya. "Papa sedang sibuk." Jawaban yang sama. Jawaban yang sudah terlalu sering Khansa ucapkan.
"Oh." Nayra mengangguk pelan, lalu turun dari tempat tidur tanpa banyak kata. Anak sekecil itu ternyata sudah belajar menyembunyikan rasa kecewa.
Setelah mengantar Nayra ke sekolah, Khansa bergegas menuju ke kafe sederhana tempat ia bekerja paruh waktu sebagai kasir. Pekerjaan itu jauh dari impiannya. Namun, tagihan listrik tidak pernah peduli pada impian seseorang. Begitu pula uang sekolah.
Ia mengenakan celemek cokelat sambil tersenyum kepada pelanggan. "Selamat pagi!” sapanya.
"Pagi! Hazelnut latte satu!" jawab pelanggannya ramah.
"Baik, ditunggu sebentar!"
Tangan Khansa bergerak cekatan, tetapi pikirannya melayang ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat senyumnya memudar. Bu Ratna. Mantan ibu mertuanya.
Khansa menarik napas sebelum menjawab, "Halo, Bu."
Suara di seberang terdengar dingin. "Kamu sengaja, ya?"
"Maksud Ibu?" tanya Kansha bingung.
" Malik bilang, kamu minta tambahan uang sekolah Nayra."
Khansa memejamkan matanya. "Saya hanya mengirim rincian biaya."
"Kamu pikir anakku mesin pencetak uang?" sinis Bu Ratna.
"Saya tidak pernah meminta lebih," sanggah Khansa.
"Jangan berpura-pura! Sejak dulu kamu memang pintar memainkan perasaan!" kali ini Bu Ratna membentaknya.
Ponsel dalam genggamannya terasa semakin berat. "Bu, yang saya perjuangkan hak Nayra."
"Kamu memperjuangkan uang, Kansha!"
Klik. Sambungan terputus.
Khansa menatap layar ponselnya beberapa saat. Dadanya sesak, tetapi air matanya tidak jatuh. Ia sudah terlalu sering menangis untuk kata-kata seperti itu.
Di gedung perkantoran yang menjulang tinggi di pusat kota, Malik Danendra baru saja menyelesaikan rapat. Setelan abu-abu yang dikenakannya tampak rapi. Wajahnya tetap tenang. Setidaknya dari luar.
"Paket untuk Pak Malik." Sekretaris meletakkan sebuah map. Di dalamnya terdapat laporan pembayaran nafkah. Malik membaca sebentar.
"Lunas?" tanya Malik.
"Belum, Pak."
"Kenapa?"
"Bagian keuangan menunggu persetujuan Ibu Celine," terang sekretarisnya.
Malik menatap sekretarisnya. "Istri saya?"
"Iya, Pak."
Belum sempat ia mengatakan sesuatu, pintu terbuka. Celine masuk sambil membawa dua gelas kopi. "Aku dengar soal transfer itu."
Malik menerima kopinya. "Itu urusan Nayra."
"Aku tahu," ucap Celine tenang. "Jumlahnya terus bertambah."
"Itu kewajibanku."
"Aku tidak melarang," ucap Celine lagi, duduk di depan meja. "Hanya saja kita juga sedang menata kehidupan baru."
Malik mengangguk pelan. Ia memahami kekhawatiran istrinya. Celine bukan perempuan yang haus harta. Ia hanya takut masa lalu suaminya tidak pernah benar-benar selesai. "Aku tidak pernah mengabaikan rumah ini."
"Aku percaya." Celine tersenyum tipis. "Kadang aku hanya merasa, dan aku selalu datang setelah cerita terindahmu selesai."
Malik tidak segera menjawab. Sejak menikah lagi, ia melihat keraguan di mata perempuan yang kini menjadi istrinya.
***
Bel sekolah berbunyi. Anak-anak berlarian memenuhi halaman. Nayra berdiri sendiri di dekat gerbang. Seorang anak laki-laki menghampirinya. "Ayahku bilang orang tuamu cerai,” katanya.
Nayra diam lagi.
"Kata Mama, ibumu suka minta uang," ejek anak itu.
Nayra menggenggam tali tasnya. "Itu bohong!"
"Kalau bohong, kenapa ayahmu tinggal sama perempuan lain?" sinis anak laki-laki itu.
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada dorongan kecil yang diterimanya.
Guru piket segera datang melerai. "Nayra."
Gadis kecil itu menunduk. "Boleh Ibu telepon Mama?"
Guru piketnya mengangguk.
Sore hari, Khansa tiba di sekolah dengan napas memburu. "Nayra!"
Putrinya langsung memeluk pinggang ibunya. Tangannya dingin. "Mama."
"Ada apa?" tanya Khansa lembut.
"Mereka bilang Mama jahat." Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan Khansa. Ia berlutut hingga sejajar dengan wajah anaknya.
"Lihat Mama," ucapnya.
Nayra mengangkat kepalanya.
"Mama tidak sempurna."
"Iya."
"Mama tidak pernah berhenti menyayangimu."
Nayra mengangguk sambil menghapus air matanya."Aku percaya Mama."
Hanya empat kata. Namun, cukup membuat Khansa bertahan satu hari lagi.
***
Malam hari datang bersama gerimis. Rumah kecil itu kembali sunyi. Khansa memeriksa isi dompetnya. Uang yang tersisa tidak banyak. Ia membuka aplikasi bank. Saldonya hampir habis. Transfer nafkah bulan ini belum masuk.
Ia menghela napas panjang. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Tok. Tok. Tok. Di depan rumah berdiri seorang kurir. "Bu Khansa?"
"Iya."
"Ada surat untuk Ibu."
Amplop cokelat tanpa nama pengirim. Begitu pintu tertutup, Khansa segera membukanya. Di dalam hanya ada selembar fotokopi. Sebuah tangkapan layar percakapan lama. Nomor pengirim tidak dikenal. Pesannya pendek. "Perceraianmu bukan terjadi karena perselingkuhan."
Jantung Khansa berdegup lebih cepat. Di bawah kalimat itu terdapat satu pesan yang sebagian sudah dihapus. "Jangan beri tahu Malik. Kalau dia tahu siapa yang menghapus pesan Khansa malam itu, semuanya akan berakhir."
Tangan Khansa gemetar. Ia yakin. Percakapan itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Seseorang pernah menghapus pesan atas namanya, dan mungkin, sejak hari itulah rumah tangganya mulai runtuh.