“Kualifikasi Anda luar biasa, Elodie Vasseur. Lulusan terbaik, pengalaman organisasi yang mentereng, dan hasil tes kemampuan menulis yang melampaui standar. Namun, mohon maaf, posisi jurnalis investigasi ini sudah terisi oleh kandidat internal.”
Elodie Vasseur menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang berusaha ia jaga tetap tenang, meskipun hatinya terasa seperti dihantam palu godam. Ini adalah kali kedua puluh dalam tiga bulan terakhir ia mendengar kalimat yang sama, atau setidaknya, variasi dari kalimat penolakan yang membosankan.
Ruangan kantor yang dingin dengan pendingin ruangan yang menyala terlalu kuat itu mendadak terasa menyesakkan. Elodie meremas map cokelat di pangkuannya hingga jemarinya memutih.
“Boleh saya tahu, Pak, apa yang kurang dari portofolio saya? Saya sangat serius ingin membangun karier di bidang jurnalisme yang kredibel, bukan sekadar penulis lepas untuk kolom gaya hidup,” tanya Elodie, mencoba mempertahankan nada bicara yang profesional meski suaranya sedikit bergetar.
Pria paruh baya itu menghela napas, melepas kacamata bacanya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi kulit yang mewah.
“Dengar, Elodie. Dunia media saat ini bukan lagi tentang idealisme murni. Kami butuh nama besar, koneksi, dan seseorang yang sudah paham seluk-beluk industri ini dari dalam. Anda terlalu, murni. Mungkin Anda bisa mencoba di media-media lokal, atau mungkin majalah gaya hidup untuk sementara waktu?”
Elodie hanya bisa tersenyum kecut saat ia bangkit dari kursi. “Terima kasih atas waktunya, Pak.”
Ia melangkah keluar dari gedung pencakar langit di pusat Paris itu dengan langkah gontai. Udara sore di luar gedung terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, dan tidak sedingin realitas yang menghantamnya. Elodie Vasseur, gadis yang dulu begitu yakin bahwa kebenaran adalah satu-satunya tujuan dalam menulis, kini merasa dunianya sedang runtuh.
Sejak kepindahannya ke Paris untuk mengejar mimpi, Elodie telah menghabiskan tabungannya untuk hidup sederhana di apartemen sempit yang hanya cukup untuk menampung satu tempat tidur dan sebuah meja kerja kecil. Ia telah melamar ke harian-harian besar, majalah berita politik, hingga portal berita investigasi yang ia kagumi. Namun, setiap pintu yang ia ketuk seolah tertutup rapat, menyisakan derit sunyi yang mengejek ambisinya.
Ia berjalan menelusuri trotoar yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu kota mulai menyala, memantul di genangan air seperti serpihan berlian yang palsu. Baginya, Paris selalu menjanjikan romansa dan peluang, kini kota ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar. Ia teringat kata-kata ayahnya di Yogyakarta sebelum ia berangkat.
“Jadilah penulis yang berani, Elodie, karena dunia tidak akan pernah kekurangan orang yang bisa berbohong.”
Kalimat itu terngiang di kepalanya, ironis sekali. Bagaimana ia bisa menjadi berani jika untuk sekadar masuk ke meja redaksi saja ia sudah ditolak?
Elodie berhenti di sebuah kedai kopi kecil untuk memesan segelas the hangat. Ia mengeluarkan ponselnya yang sudah retak di bagian sudut layarnya. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan balik. Hanya notifikasi dari portal berita yang memamerkan kehidupan mewah seorang pesohor di sampul majalah Aura.
Aura. Majalah itu adalah antitesis dari segalanya yang ia percaya. Di matanya, majalah itu adalah lambang kedangkalan, tempat di mana berita tentang warna tas selebritas jauh lebih penting daripada isu-isu sosial yang mendesak. Namun, di saat-saat putus asa seperti ini, ia mulai bertanya-tanya, apakah ia terlalu keras kepala? Apakah idealisme yang ia pegang justru menjadi beban yang menenggelamkannya ke dasar jurang pengangguran?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
“Elodie Vasseur. Kami melihat lamaran Anda yang terselip di arsip HRD. Saya tidak mencari jurnalis idealis, saya mencari asisten yang cukup cerdas untuk memahami bahwa dunia ini tidak bekerja berdasarkan prinsip moral yang Anda pelajari di universitas. Jika Anda masih butuh uang dan tidak takut pada pekerjaan yang akan membunuh ego Anda, datanglah ke kantor majalah Aura besok pukul 08.00 pagi. Jangan terlambat.”
Pengirimnya hanya tertulis ‘Sophie Valois’.
Jantung Elodie berdegup kencang. Sophie Valois adalah nama yang ditakuti sekaligus disegani di seluruh industri media Prancis. Ia adalah legenda hidup, pemimpin redaksi Aura yang dikenal memiliki standar yang hampir mustahil untuk dipenuhi. Beberapa rumor menyebutkan bahwa ia pernah memecat seorang staf hanya karena salah meletakkan jenis bunga di mejanya.
Elodie menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu, tetapi bukan dalam bentuk yang ia bayangkan. Menjadi asisten Sophie Valois berarti terjun langsung ke dalam dunia yang ia benci, dunia yang ia anggap dangkal dan penuh kepura-puraan.
Ia teringat saldo di rekening banknya yang hanya tersisa untuk kebutuhan hidup dua minggu ke depan. Ia teringat betapa lelahnya ia berpura-pura baik-baik saja di depan teman-temannya. Ia tidak punya pilihan lain. Ambisinya menuntut pengorbanan, dan mungkin, pengorbanan itu adalah kehormatannya sendiri.
Elodie menarik napas panjang, mencoba menekan segala keraguan yang bergejolak di dadanya. Ia mengetik balasan singkat, “Saya akan datang.”
***
Malam itu, Elodie tidak bisa tidur. Ia mondar-mandir di apartemennya, mencoba membayangkan apa yang akan terjadi besok. Apakah ini langkah awal untuk merangkak naik menuju puncak karier yang ia impikan, atau justru sebuah langkah awal menuju kehancuran jati dirinya?
Tepat saat ia hendak mematikan lampu, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sama muncul di layar, membuat sekujur tubuhnya menegang. “Satu hal lagi, Vasseur. Jika Anda terlambat satu menit saja dari waktu yang saya tentukan, jangan repot-repot untuk datang, karena pintu Aura akan terkunci selamanya bagi Anda, dan bersiaplah, karena besok adalah hari di mana hidup Anda yang tenang akan berakhir.”
Elodie mematung. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia baru saja menerima peringatan dari malaikat maut. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Tidak ada jalan untuk kembali. Ia telah menapakkan kaki di tangga pertama lift yang akan membawanya naik, atau mungkin, menjatuhkannya ke jurang yang paling dalam.
Pagi itu, saat ia melangkah masuk ke lobi megah gedung Aura, ia merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam kandang singa yang lapar, dan di balik pintu kaca di lantai atas, ia tahu Sophie Valois sudah menantinya dengan tatapan yang siap menghancurkan.