


oleh Bunda Viviana · 37 Bab
Pertemuan yang tanpa disengaja di sebuah klub malam, membuat hati yang kosong terisi oleh benih cinta terlarang. Wanita itu bernama Zahra, perempuan cantik yang telah bersuami, namun, nekat membagikan cintanya dengan pria lain. Karena kesalahannya, perempuan itu meregang nyawa di tangan suaminya yang bernama, Aftar. Perselingkuhannya terendus oleh sang suami, tubuh Zahra menjadi bagian potongan kecil-kecil, dimutil*si oleh suaminya dengan begitu sadis. Dibalik Kematian Zahra, menjadi titik kebahagiaan buat seseorang, dan menertawakan kebodohan wanita itu yang telah menelan mentah-mentah fitnahnya. Siapakah sosok yang telah menanam jarum dalam kehidupan Zahra? Dan apakah Aftar akan mendapatkan hukuman yang sepantasnya, sesuai perbuatannya?
Sore itu, Aftar pria tampan yang berumur 28 tahun, baru saja pulang dari kerjanya, sebagai seorang pelaut. Pria itu akan membuat kejutan malam ini untuk istrinya, sebagai tanda cintanya.
Aftar, telah memesan seseorang untuk merias kamar tidurnya bersama sang istri.
"Apakah sudah siap?" tanya pria itu pada seorang wanita, dengan tersenyum bahagia.
Wanita itu mengangguk, "Sudah, Pak."
"Ini bayaran kamu. Terima kasih sudah membantu saya!" Aftar, memberi sebuah amplop kepada wanita itu bentuk pembayaran atas jasa wanita tersebut.
"Baik. Terima kasih ya, Pak," ujar wanita tersebut, dan berlalu dari hadapan Aftar berjalan keluar dari rumah itu.
Aftar, melangkah gembira menuju kamar yang telah dirias dengan begitu cantik.
Pria itu tersenyum puas, melihat kamar tidurnya dan istri sudah terhias seperti keinginannya. Di atas kasur, sudah ada bunga-bunga yang ditaburkan menyerupai malam pengantin baru, menciptakan suasana romantis yang menyentuh hati.
Semua ini ia lakukan untuk menyambut jantung hati yang masih berada di tempat kerjanya. Aftar, tidak sabar menunggu kepulangan sang istri, hatinya terlalu berdebar menanti detik-detik itu tiba.
Pria itu telah merindukan Zahra selama masa tugasnya, dan kejutan ini adalah ungkapan rasa cintanya yang tulus.
Aftar melirik jam dipergelangan tangannya, sebentar lagi istrinya akan tiba di rumah.
Aftar mendekati tirai, lalu menyibak kain itu sambil melirik ke arah luar akan tanda-tanda kepulangan sang istri. Tak lama kemudian, Aftar melihat mobil Zahra memasuki pekarangan rumah.
Dengan senyuman mengembang di bibirnya, pria itu bisa merasakan detak jantungnya semakin kencang, gembira karena akan segera bertemu istrinya yang sudah lima bulan lebih tidak ia sentuh.
Segera Aftar berjalan ke ruang tamu, lalu bersembunyi di balik pintu, bersiap-siap untuk memberikan kejutan begitu sang istri memasuki rumah.
Begitu Zahra membuka pintu, Aftar langsung meloncat keluar dari persembunyiannya, dengan senyum lebar dan tangan terbuka lebar menyambut kepulangan Zahra.
"Surprise!" serunya gembira.
Namun, bukan senyum kebahagiaan yang diperlihatkan oleh sang istri, melainkan sebuah keterkejutan.
Wanita cantik yang memiliki mata lentik, dan juga bibir yang seksi, mundur beberapa langkah atas kepulangan sang suami yang tiba-tiba pulang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Apa kamu kurang senang dengan kepulanganku ini?" tanya Aftar, menuntut kejelasan atas raut wajah sang istri.
Zahra segera memperbaiki mimik wajahnya, lalu memasang senyum semanis mungkin di depan sang kepala rumah tangganya.
"Bukan tidak suka dengan kepulangan kamu, Sayang. Tapi, aku terharu atas kejutan ini." Segera Zahra memeluk sang suami.
Pria itu tak memperbesarkan lagi masalah yang sempat berpikir yang bukan-bukan pada istrinya, dan segera menyambut pelukan sang istri.
Pria itu merasa sedikit bersalah karena telah berprasangka buruk, lalu segera meminta maaf.
"Maafkan aku karena sudah berpikir yang bukan-bukan sama kamu tadi."
"It's oke, Sayang. Aku juga minta maaf karena membuat kamu curiga dengan expresi wajahku yang terlalu syok."
"Hehe ... sengaja aku ingin membuat kejutan untuk kamu."
"Aku sangat merindukanmu," bisik Zahra, dengan suara bergetar dalam pelukan sang suami.
"Aku juga merindukan kamu, Sayang."
Aftar, merasakan kehangatan cinta mereka yang tak pernah pudar. Pria itu terlalu mencintai istrinya seluas samudra cinta.
"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Aftar, memegang tangan sang istri dengan mesra.
Zahra mengikuti langkah sang suami, tanpa ada kalimat penolakan terhadap sang suami. Mereka berdua memasuki kamar, Zahra menutup mulutnya dengan tangannya. Expresinya menunjukkan betapa ia terpukau melihat suasana romantis yang Aftar siapkan untuknya.
Bunga-bunga yang bertaburan di atas kasur, cahaya lilin yang berkelap-kelip, membuat Zahra merasa seperti malam pertama kembali sebagai suami istri.
"Ini untuk kita, Mas?"
Aftar mengangguk, "Iya. Ini aku persiapkan khusus untuk kita."
Aftar memegang tangan istrinya, membawanya ke tepi kasur dengan alunan musik romantis.
"Aku mencintaimu, Sayang," ucapnya tulus, menatap dalam ke mata istrinya yang bersinar.
Zahra tersenyum, membalas tatapan sang suami dengan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, Mas. Terima kasih untuk malam ini," jawabnya lembut.
Malam itu, mereka berdua merayakan kembali cinta yang telah lama terpendam, menyatukan kembali hati yang selama ini terpisah oleh jarak dan waktu.
Kejutan yang aftar berikan seolah menjadi titik balik dalam kehidupan mereka, mengingatkan betapa berharganya cinta yang mereka miliki satu sama lain.
Pria itu tertidur pulas di atas ranjang, lelah setelah aktivitas panas yang mereka lakukan bersama. Zahra duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah sang suami yang tertidur pulas.
Tiba-tiba, ponsel miliknya berdering. Ia segera meraih tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya, melihat nama si pemanggil yang tertera di layar. (Aron)
Hatinya berdebar, takut saja suaminya terbangun dari tidurnya. Segera Zahra melangkah pelan menuju balkon kamar mereka, berjalan mengendap-endap sambil menoleh ke belakang beberapa kali, memastikan Aftan masih tertidur.
Ketika sampai di balkon, dia menutup pintu kaca dengan hati-hati, lalu mengangkat ponselnya ke telinga.
[ Hallo, ] bisik Zahra, dengan suara serak, jantungnya berdegup kencang menerima panggilan dari pria itu.
Zahra menatap langit-langit malam yang penuh dengan bintang, berusaha menenangkan diri sebelum melanjutkan percakapan dengan orang di ujung sambungan telepon.
[ Hallo, Sayang? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Apakah kau baik-baik saja? ] suara pria diseberang telepon terdengar khawatir.
Zahra menarik napas panjang, mencoba mengendalikan perasaannya yang kacau.
[ Aku baik-baik saja. Maaf, suamiku ada di rumah, ] jawabnya dengan suara pelan, takut suaranya akan kedengaran oleh Aftar. Di balkon itu, angin malam yang sepoi-sepoi membelai wajah wanita itu, menambah rasa cemas yang mulai mendera hatinya.
Dia takut jika pria yang masih tertidur itu tahu apa yang sedang terjadi, takut jika suaminya itu mengetahui rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
[ Aku terlalu merindukanmu, cepatlah temui aku! ]
Aron, memaksa Zahra untuk segera menemuinya. Zahra berusaha keras untuk menolak pria yang sudah lama mengisi hatinya dengan cinta terlarang.
[ Sabar dulu dong! Maksimal satu minggu, setelah suamiku berangkat kerja lagi seperti biasanya baru kita akan ketemu lagi, ] jawab Zahra, berusaha menenangkan pria yang tak sabar itu untuk segera menemuinya.
Suara pria di ujung telepon yang menguasai perasaannya, membuat wanita itu merasa kian berat menjalani hari-hari dengan suaminya yang masih mencintainya dengan tulus.
Pria yang menjadi alasan Zahra tidak bisa menghentikan godaan yang merajai pikirannya itu.
[ Rindu berat itu tidak enak rasanya. Pokoknya aku mau kamu besok temui aku di apartemenku, tanpa ada bantahan apapun! ] ujar pria itu keras, tapi, manja, menuntut Zahra untuk segera menemui dan memenuhi hasrat terpendamnya.
Zahra menggigit jarinya, bingung harus bagaimana menghadapi situasi yang sangat sulit itu. Hatinya terbelah antara suami yang ia cintai dan pria yang telah menggoda hatinya.
Aftar sudah terbangun dari tidurnya sejak tadi, ia sempat mendengar obrolan istrinya dengan seseorang yang diyakini sebagai teman prianya.
Hatinya marah, tapi, ia tidak menunjukkan kemarahannya malam itu. Aftar menghampiri sang istri dan berpura-pura tidak tahu tentang obrolan tadi.
"Sayang!"
Aftar memanggil istrinya, Zahra segera menutup panggilan telponnya, jantungnya berdegup kencang takut Aftar akan memergokinya yang sedang menerima telepon dari pria lain.
Bersambung ....

Bunda Viviana
6 Pengikut · 2 Novel