


oleh dhex zyun · 13 Bab
Bagaimana rasanya jika menjalani kehidupan rumah tangga yang hampir tidak memiliki komunikasi antar suami-istri? Bahkan seorang istri yang tidak dipercaya oleh suaminya sendiri untuk mengatur keuangan. Nisa hamil untuk pertama kalinya dan hari-harinya selalu dalam bayang-bayang ingin makan rujak. Karena suaminya yang pelit bin perhitungan, membuat Nisa harus menahan diri dari keinginannya di masa ngidam. Mulai saat itu dengan kesabaran dan penuh perjuangan, Nisa selalu berusaha untuk memenuhi apa yang diinginkannya seorang diri. Nisa tidak ingin tergantung pada suaminya yang pelit.
"Akkkhh! Sakit, Mas!" rengek seorang wanita yang merasa kesulitan bernapas.
"Kamu pikir aku ada waktu hanya untuk menuruti keinginan bodohmu itu?" ujar lelaki di hadapannya dengan penuh penekanan.
"Iy-iya, Mas. Ma-maaf."
Nisa memohon, dia pun memegang lehernya ketika suaminya sudah melepaskan cengkeraman tangannya. Menggosoknya pelan dan menghirup oksigen dengan sangat rakus.
Belum hilang rasa sakit, Nisa kembali berjingkat kaget mendapati Aryo menendang kursi dengan sangat keras hingga ambruk.
Lelaki tersebut pun kini memilih pergi meninggalkan rumah kontrakan kecilnya yang dia sewa hampir 3 bulan lalu dan membiarkan Nisa, sang istri, masih berada di posisinya semula.
Tampak tak acuh dan tidak lagi menengok ke belakang sama sekali. Pergi keluar melewati halaman rumah, membawa motor dengan kecepatan tinggi.
"Mas Aryo," ringis Nisa pelan. Ia tidak habis pikir mengapa suaminya begitu marah hanya karena dirinya merajuk meminta rujak.
Saat ini Nisa tengah hamil. Entah mengapa tiba-tiba kemarin dia membayangkan memakan rujak, alangkah enaknya. Memikirkan hal itu sampai-sampai membuat Nisa hampir meneteskan air liurnya.
Karena kemarin ia tidak berhasil mendapatkannya dari Aryo yang hanya mengiyakan saja, akhirnya Nisa mencoba memintanya lagi hari ini. Bukan rujak yang didapatkan, justru Nisa malah mendapatkan kekerasan.
Nisa beranjak dari tempatnya berada, sejak tadi dirinya terpojok di dinding dekat dapur. Lehernya pun sampai sekarang masih terasa sakit. Sungguh Nisa merasa ketakutan melihat Aryo seperti kehilangan kendali hingga dirinya sedikit shock.
Setelah membenarkan letak kursi yang menjadi korban kekesalan Aryo tadi, dia berjalan pelan ke arah meja makan dan duduk di sana. Tangannya menuangkan air dari dalam teko ke dalam gelas, kemudian meminumnya beberapa teguk meskipun dengan sedikit kesusahan, tetapi dipaksakannya.
Pandangan Nisa menerawang jauh, tangannya bergerak mengelus perutnya yang mulai buncit dengan lembut.
"Sabar ya, Sayang."
Detik ketiga Nisa tersenyum, dia tidak boleh sedih karena kata orang itu akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Ibu hamil harus selalu bahagia, begitu katanya.
Bukan tanpa alasan hanya karena soal rujak Nisa sampai memintanya pada Aryo untuk membelikannya, sebab semua urusan keuangan dipegang oleh Aryo, sedangkan Nisa tidak diberikan hak untuk mengelola keuangan sama sekali.
Jika ingin apa-apa dan membutuhkan apa-apa, maka Nisa harus melaporkan kepada Aryo terlebih dahulu agar mendapatkan uang, itu pun juga tidak langsung diberikan. Terlebih akan diberikan dengan catatan, menurut Aryo itu perlu dan penting.
Nisa memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk istirahat siang. Akhir-akhir ini ia memang merasa sedikit kelelahan. Mungkin efek dari kehamilannya tersebut, siapa tahu dengan istirahat dapat meredam keinginannya untuk memakan rujak.
"Sudahlah, lupakan soal rujak," batin Nisa.
Baru memejamkan mata beberapa menit, terdengar ketukan pintu dari luar.
"Sepertinya ada tamu," gumam Nisa. Nisa pun mengurungkan niatnya untuk istirahat.
"Iya, sebentar," sahut Nisa sambil memakai sandal jepitnya, kemudian buru-buru keluar untuk melihat siapa yang datang ke rumah di siang bolong seperti sekarang ini.
Kalau suaminya tidak mungkin mengetuk pintu. Aryo pasti langsung masuk begitu saja karena memang pintu tidak dikunci, kecuali malam hari maka Nisa akan menguncinya sebelum tidur.
"Nisaaaa!" panggil seseorang dari luar. Nisa segera mengenali suara tersebut.
"Eh, Mama. Ayo masuk, Ma," ajak Nisa yang memang pintunya terbiasa tidak ditutup rapat.
Perempuan paruh baya yang bernama Ratih tersebut pun mengikuti anaknya masuk.
"Duduk, Ma." Nisa mempersilakan, Ratih pun duduk di kursi yang dimaksudkan.
"Tumben ke sini, Ma. Sendirian pula," ujar Nisa sambil tangannya menuangkan air putih untuk sang ibu. Kemudian menyuguhkan minuman tersebut di atas meja.
Tidak ada apa pun yang bisa disuguhkan selain air putih, Nisa memang tidak stok makanan ataupun cemilan. Hidup di rumah kontrakan sungguh sangat sederhana dan serba irit. Mengingat Aryo sangat perhitungan.
Kini keduanya duduk berhadapan.
"Tadi papa kamu bawa mentimun banyak banget dari Juragan Pardi. Hanya sortiran, tapi masih bagus dan masih layak untuk dikonsumsi," ucap Ratih sambil meletakkan kantong plastik ukuran besar di atas meja di hadapannya.
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat.
"Kebetulan saja hari ini Mama sedang tidak sibuk, makanya Mama sengaja ke sini mengantarkannya langsung padamu," sambung Ratih.
"Wah, banyak banget, Ma. Ini bisa dibikin rujak, jus, dan disayur," sahut Nisa setelah memeriksanya.
Mentimun-mentimun tersebut masih sangat bagus, hanya saja bentuknya tidak beraturan. Biasanya yang dijual adalah yang bentuknya tegak lurus dan mulus.
Selain mentimun, ternyata Ratih juga memasukkan beberapa mie instan, gula dan teh. Nisa sangat bersyukur, ibu kandungnya itu masih perhatian padanya meskipun Nisa sudah menikah.
"Iya, kamu buat aja nanti sesuai seleramu. Daripada di rumah Mama, gak ada yang makan, kan?" sahut Ratih. Nisa mengangguk senang, dia membayangkan akan membuat rujak nanti, walaupun hanya mentimun saja.
"Ohh, ya. Suamimu mau ke mana? Tadi naik motor ngebut. Mama berpapasan di jalan, sepertinya terburu-buru sampai-sampai dia tidak menegur Mama." Ratih menceritakan menantunya tersebut.
Bukannya menjawab, Nisa malah kembali teringat kejadian di rumah beberapa menit yang lalu, membuat hatinya kembali bersedih.
"Nisa? Kalian baik-baik aja, kan?" panggil Ratih yang melihat gelagat anaknya tampak seperti melamun.
Panggilan Ratih berhasil menyadarkan Nisa.
"Ehhh iya, Ma. Mungkin Mas Aryo sedang terburu-buru, Ma, makanya Mas Aryo gak lihat Mama tadi. Soalnya tadi Mas Aryo setelah menerima telepon langsung pamit pergi, mungkin ada panggilan kerja, Ma," sahut Nisa terpaksa berbohong.
Padahal Nisa sendiri juga tidak tahu ke mana suaminya akan pergi. Yang Nisa tahu, Aryo pergi dalam keadaan marah karena dirinya.
"Ohh, mungkin saja begitu. Kamu tidak perlu pikirkan soal pekerjaan suamimu, biar dia usaha sendiri. Yang paling penting kamu fokus saja sama kandungan kamu, udah hampir 6 bulan, kan? Jadi rencananya mau selamatan di rumah Mama? Atau di rumah mertua kamu?" tanya Ratih lagi.
Ratih masih ingat percakapan beberapa minggu lalu saat Ratih menyinggung slametan pada Aryo, tentu saja saat Ratih sedang berkunjung di rumah kontrakan anaknya bersama suaminya. Aryo rupanya mengatakan akan mengadakan acara tujuh bulanan di rumah orang tuanya, sebab itu sudah menjadi perintah orang tua Aryo jauh-jauh hari.
"Kata Mas Aryo acaranya di rumah Mama Sarmila, Ma. Lagian masih sebulan lagi, Mas Aryo dan keluarganya sudah mencatat tanggalnya, tapi Nisa belum diberitahu. Nanti Nisa tanyakan lagi kapan tanggalnya, Ma," jawab Nisa.
"Baiklah, Mama tunggu kabarnya, ya. Jangan sampai Mama terlambat mengetahui. Mama juga harus mempersiapkan semuanya, meskipun acaranya bukan di rumah Mama," pesan Ratih.
Nisa mengangguk.
"Ya sudah, Nak. Mama mau pulang dulu," ucap Ratih kemudian meminum air putih di hadapannya hingga tinggal separuh.
"Mama kok buru-buru pulang, baru juga sampai di sini," protes Nisa. Nisa masih merindukan sosok mamanya itu setelah tiga bulan tinggal di kontrakan, banyak waktu yang dia habiskan tanpa ada mamanya.
Ratih meletakkan gelas di tempatnya semula.
"Maafkan Mama, lain kali Mama akan lebih lama lagi mainnya, sekalian ajak Papa juga. Siang ini ada acara arisan di tempat Bu Endang. Makanya Mama harus pulang sekarang takut ketinggalan," tutur Ratih.
Ratih merogoh kantong gamisnya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ini buat beli susu cucu Mama, ya." Ratih langsung menyodorkan pada tangan Nisa.
Nisa menggeleng.
"Gak usah, Ma. Uangnya buat kebutuhan Mama dan Papa aja," tolak Nisa. Semakin keras Nisa berusaha menolak, seperti biasa Ratih pun semakin tegas memberikannya.
Pada akhirnya Nisa menyimpan uang tersebut di saku roknya. Ratih pun undur diri meninggalkan rumah kontrakan Nisa tersebut.
Baru hendak masuk ke dalam kamar kembali, Nisa mendengar pintu digedor dengan keras.
"Aryo, keluar!" teriak seseorang yang suaranya terdengar lantang dan pemiliknya seorang lelaki.

dhex zyun
3 Pengikut · 1 Novel